HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 190 MENIKMATI SUASANA ROOF TOP


__ADS_3

"Terus Paman merokoknya di mana?" tanya Danu dengan kesal.


Bagi Danu, mau semewah apapun kamarnya, kalau enggak boleh merokok, enggak asik.


"Nanti Lintang kasih tau tempatnya. Di luar ada roof top tempat merokok," jawab Lintang.


"Aduh...mau merokok aja, repot amat!" ucap Danu.


"Ayo, Lintang tunjukan tempatnya," ajak Lintang.


"Apa di sana ada kopi?" tanya Danu. Karena bagi Danu, enggak asik juga merokok tanpa ngopi.


"Paman bisa bawa kopi dari kamar. Lintang buatkan, ya."


Danu mengangguk. Dia memang sudah ingin sekali minum kopi sambil merokok.


Lintang langsung membuatkan secangkir kopi buat Danu. Eni memperhatikannya dengan cermat. Dia juga ingin bisa membuatkannya untuk Danu.


"Ini Paman." Lintang memberikan secangkir kopi untuk Danu.


Danu menerimanya, lalu menghirup aroma kopi yang terasa menggelitik hidung.


"Ayo kita ke smooking area," ajak Lintang.


"Jauh enggak?" tanya Eni.


"Enggak, Bi. Masih di lantai ini juga," jawab Lintang.


Eni mengangguk.


"Ya udah, Bibi ikut," ucap Eni.


Lintang mengangguk. Lalu melangkah keluar kamar. Danu dan Eni mengikuti.


Sampai di roof top, Eni kembali terpukau. Dia bisa melihat pemandangan kota dari atas ketinggian.


"Wouw....pemandangannya bagus banget!" ucap Eni.


Eni langsung mengambil ponselnya.


"Mbak Lintang, tolong fotoin kami." Eni menyerahkan ponselnya pada Lintang.


"Boleh. Ayo, mau foto di mana?" tanya Lintang.


Eni melihat ke sekelilingnya.


"Di sana!" Eni menunjuk sudut roof top yang didesain indah. Sengaja dibuat spot untuk berfoto.


"Ayo, Pak," ajak Eni pada Danu.


Danu sudah duduk di sebuah bangku dan mengeluarkan lagi rokoknya.


"Nanti aja sih, Bu. Aku mau merokok dulu," tolak Danu.


"Ish. Merokoknya nanti aja!" Eni mengambil paksa rokok Danu, dan meletakannya di atas meja.


"Ayo buruan!" ajak Eni.


"Kamu aja deh, yang foto. Aku malas!" tolak Danu lagi. Dia memilih tetap duduk sambil merokok dan ngopi.

__ADS_1


"Ish! Menyebalkan!" ucap Eni dengan bibir monyong.


"Ya udah, Bibi aja. Paman biarin merokok dulu," ucap Lintang menengahi.


Eni mengangguk setuju.


Dalam hati Eni, ngapain mikirin Danu. Orang yang di otaknya hanya ada rokok dan kopi saja.


Eni pun memgikuti Lintang menuju ke spot foto di sudut roof top.


Lintang bergaya seperti photografer profesional. Dia mengarahkan Eni untuk bergaya.


Eni pun bagaikan seorang model cantik, bergaya dengan berbagai macam pose.


Klik.


Klik.


Klik.


Danu memperhatikannya dari tempatnya duduk, sambil senyum-senyum.


Istriku terlihat senang sekali. Dia sangat menikmati suasana. Batin Danu sambil tersenyum.


Hhh! Andai saja aku punya uang yang sangat banyak, aku ajak dia ke planet mars. Biar dia lebih senang. Batin Danu lagi. Meski Danu tak pernah tahu bagaimana kondisi di planet mars yang sebenarnya.


Setelah puas berpose, Eni mendekati Danu.


Lintang masih berada di sudut roof top. Dia berdiri memandang jauh ke depan.


Sebuah pemandangan yang menyejukan mata. Melihat keramaian kota di atas ketinggian gedung, dengan cahaya temaram senja yang menyejukan.


Lintang hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. Dan menahan air matanya yang tiba-tiba ingin keluar.


Lintang kembali ke arah Danu dan Eni. Keceriaan dan keluguan mereka yang kadang terlihat konyol, mampu menghibur hatinya.


"Gimana, Paman mau foto juga?" tanya Lintang, setelah berada di dekat mereka.


"Enggak ah. Masa Paman harus berpose kayak bibi kamu. Emang Paman lelaki apaan?" tolak Danu.


Danu memang sering menolak untuk di foto. Apalagi selfie bersama Eni yang menurut Danu bergaya lebay.


"Ya udah, begini aja. Bibi minggir. Paman tetap duduk sambil menghadap meja. Lintang ambil fotonya dari kejauhan. Seolah-olah Paman enggak tau kalau lagi difoto."


Lintang mengarahkan sedikit gaya Danu, biar terkesan elegan. Lalu menjauh. Eni pun ikut menyingkir.


Lintang mengambil foto Danu dari berbagai sudut, meski dengan gaya yang hampir sama.


"Sekali lagi, Paman! Madep sini!" perintah Lintang.


Danu pun menurut. Dia menoleh menghadap ke arah Lintang.


Klik.


Klik.


Lintang tersenyum puas. Dia bisa mengambil foto Danu, yang meskipun sudah berumur tapi masih kelihatan gagah.


Lintang juga ingin Danu bisa senang saat melihat hasil jepretannya barusan.

__ADS_1


Lintang selain pandai memasak, juga gape memotret. Salah satu hobby yang sering dia salurkan saat gabut, dengan hanya modal ponsel smartnya.


Lintang kembali mendekat ke arah Danu.


"Nih, lihat hasilnya, Paman." Lintang memperlihatkannya pada Danu.


Eni pun ikut mendekat.


Dimulai dari foto-foto Eni yang sangat memukau, meski Eni bukan seorang model. Lalu foto Danu yang terkesan cool dan elegan.


"Hah...!" Danu sampai melongo melihat hasil jepretan Lintang.


Danu juga seakan tak percaya, dirinya bisa seperti model iklan laki-laki yang sering dilihatnya di iklan televisi.


"Bagus kan, Paman?" tanya Lintang.


"Bagus banget. Iya kan, Bu?" Danu menoleh pada Eni.


Eni mengangguk. Dalam hati berpikir, kalau suaminya benar-benar seganteng itu, bisa digilai banyak wanita.


Ah, tapi Eni segera tersadar saat melihat wajah asli Danu. Masih tetap sama. Meski terlihat masih gagah, tapi enggak terlalu menarik wanita lain.


"Bibi kok malah melamun?" tanya Lintang pada Eni.


"Eh, enggak. Bibi cuma lagi mengagumi foto paman kamu," jawab Eni sedikit berbohong.


Lintang mengangguk.


"Kalian masih mau di sini? Atau mau kembali ke kamar?" tanya Lintang.


Lintang sendiri juga ingin menemui ibunya di kamar Tania.


"Gimana, Pak?" tanya Eni pada Danu.


"Kalau kamu mau balik ke kamar, balik aja. Aku di sini dulu. Ngapain di kamar, enggak boleh merokok juga," jawab Danu.


"Memangnya kamu mau tidur di sini?" tanya Eni.


"Ya enggak, Bu. Nanti aku ke kamar kalau udah puas merokok," jawab Danu.


"Ya udah, aku temani. Aku juga enggak mau di kamar sendirian," sahut Eni.


Padahal ada rasa khawatir meninggalkan Danu sendirian. Karena tiba-tiba ada dua orang wanita cantik memasuki area roof top itu.


"Kalau begitu, Lintang ke kamar ibu dulu. Ini kartu kamar kalian." Lintang memberikan kartu akses pada Eni. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa kamu enggak istirahat aja di kamar, Bu?" tanya Danu.


Mata Danu pun sekilas melihat dua wanita cantik dengan pakaian minimalis duduk tak jauh darinya.


"Matanya dikondisikan, Pak! Apa mau aku culek?" ancam Eni.


Danu cuma nyengir. Dalam hati berkata, tau aja nih orang. Aku kan pingin lihat yang bening-bening juga.


Setelah menghabiskan rokok dan kopinya, Danu mengajak Eni kembali ke kamar mereka.


Menurut Danu, enggak ada untungnya juga berlama-lama di situ. Karena Eni terus saja mengawasinya kayak penjaga ujian.


Eni tersenyum puas, karena Danu tak bisa cuci mata. Lalu berjalan kembali ke kamar sambil menggandeng tangan Danu dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2