HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 183 KEHEBOHAN ENI


__ADS_3

"Gimana kalau kita berangkat sekarang aja?" tanya Danu setelah Tono pulang.


Eni baru saja menaruh uang yang diberikan oleh Tono di lemari kamarnya.


"Jangan ngaco, kamu! Aku juga belum nyiapin baju," jawab Widya.


"Kan bisa aku antar ambil baju. Atau sekalian berangkat, mampir dulu rumahmu, Mbak," sahut Danu.


"Lagian kita kan pakai mobilnya Tono. Kalau mundur-mundur, enggak enak kan? Entar malah kelamaan pakainya," lanjut Danu.


"Boleh juga, Pak. Aku sih tinggal masuk-masukin baju aja di tas. Bereslah." Eni menyetujui ide Danu.


"Tania gimana?" tanya Widya.


"Biar aku yang bilang, Mbak. Yang penting Mbak Widya setuju dulu," jawab Eni.


"Ya udah deh. Aku nurut aja. Tapi aku telpon Lintangnya dulu." Widya membuka ponselnya, mencari nomor anaknya, Lintang.


"Hallo, Lintang," sapa Widya.


"Iya, Bu. Ada apa? Tumben tiba-tiba telpon?" tanya Lintang di sana. Karena biasanya Widya akan mengirim pesan chat dulu sebelum telpon. Dan mereka akan janjian biar bisa ngobrol lama.


"Ini, Lintang. Ibu kepingin bawa Tania sama paman dan bibimu jalan-jalan ke kota kamu. Kamu sibuk enggak?" tanya Widya.


"Enggak, Bu. Biasa aja. Ke sini aja. Kapan?" tanya Lintang.


"Mereka maunya sekarang jalan. Gimana?" tanya Widya.


"Sekarang? Mendadak sekali?" tanya Lintang lagi.


"Iya. Nanti Ibu ceritain deh, kalau kita udah ketemu," jawab Widya.


Selama ini Widya tak pernah menceritakan tentang Tania pada Lintang. Widya tak mau kalau Lintang malah kepikiran dan mengganggu konsentrasinya bekerja.


Suatu saat pernah Lintang menanyakan soal ponsel Tania yang tak bisa dihubungi. Widya cuma menjawab kalau Tania memang jarang mengaktifkan ponselnya.


Karena kesibukannya, Lintang tak lagi menghubungi Tania. Dan itu membuat Widya lega. Tak harus berbohong soal Tania.


Widya sendiri pun selalu menceritakan yang baik-baik saja, kalau Lintang bertanya soal Tania di telpon.


"Ya udah, Bu. Hubungi Lintang kalau sudah mau sampai. Ini Lintang masih di hotel. Lintang tutup dulu ya, Bu," sahut Lintang.


Widya pun menutup telpon setelah Lintang lebih dulu menutupnya.


"Gimana, Mbak?" Eni dari tadi menunggu keputusan Widya.


"Enggak apa-apa, kata Lintang. Kita bisa berangkat sekarang. Kamu bilang ke Tania, En. Biar siap-siap juga," sahut Widya.


Dengan senang hati, Eni menuju ke kamar Tania.

__ADS_1


Tania sendiri sedang mengetik pesan buat Rendi.


"Tania. Kita berangkat sekarang, yuk," ajak Eni. Lalu Eni duduk di tepi pembaringan Tania.


"Kemana, Bi?" Tania malah bertanya. Dia sedang fokus mengetik pesan balasan pada Rendi. Meski nomor ponsel Rendi sedang tidak aktif.


"Ke kota. Jalan-jalan. Gimana sih, kamu?" Eni jadi bingung dengan Tania yang lupa.


"Sekarang?" tanya Tania.


"Iya. Kata pamanmu, biar kita enggak kelamaan pakai mobilnya Tono. Gimana, kamu mau kan?" tanya Eni.


Tania menghela nafas dan berpikir sebentar.


"Apa enggak terlalu mendadak, Bi?" tanya Tania.


"Enggaklah. Kan kita udah rencanain dari kemarin. Lagian mumpung Rendi belum pulang dari rumah sakit. Kamu juga bisa chat lagi, di jalanan nanti," jawab Eni.


Eni berusaha mencari alasan biar Tania mau diajak jalan sekarang. Eni sudah ngebet kepingin jalan-jalan ke luar kota.


"Ya udah, deh. Tania nurut," sahut Tania.


Tania tak tega menolak keinginan bibinya. Sebab kelihatannya Eni sangat berharap bisa jalan-jalan ke kota.


Sebenarnya Tania malas pergi-pergi di saat Rendi masih terbaring di rumah sakit.


Tapi demi membahagiakan keluarganya, Tania menurut saja.


"Bi! Kita di sana berapa hari?" tanya Tania dengan suara kencang. Sebab Eni sudah sampai di luar kamarnya.


"Terserah kamu! Bibi nurut!" seru Eni.


Eni tetap melangkah ke kamarnya. Dia mau buru-buru membereskan pakaiannya juga pakaian Danu.


"Lho, gimana sih ini? Kok malah terserah aku?" gumam Tania.


Tapi Tania tetap memasukan beberapa pakaiannya ke dalam tas yang dipakainya saat kabur dari rumah Tono.


Sementara Eni, heboh dengan bawaannya yang sangat banyak. Dua koper besar, dia isi full.


"Bu. Banyak amat bawaannya? Kita cuma mau main, bukan mau pindahan!" Danu terkesiap melihat dua koper besar yang sudah terisi pakaian.


Belum lagi satu tas kotak yang juga besar. Dan beberapa tottebag lagi.


"Udah, kamu diem aja. Siapa tau Tania mau lama di sana!" sahut Eni.


"Lha kalau di sananya kelamaan, gimana kita makannya, Bu? Masa iya kita numpang hidup sama Lintang," tanya Danu.


Danu sadar kalau mereka berdua tidak punya cukup uang, selain uang dari Tono tadi.

__ADS_1


"Ya diirit-irit toh, Pak. Uang dari Tono kan juga cukup banyak," jawab Eni.


"Lagian mobil Tono kan, enggak mungkin juga kita pakai kelamaan, Bu?" Danu tetap berusaha mencegah Eni bawa barang terlalu banyak.


"Eh, Pak. Mending pakaiannya lebih-lebih, daripada kurang. Repot nanti. Memangnya kamu mau, pinjam bajunya Lintang?" Eni tetap ngeyel.


"Ya enggak gitu juga, Bu. Kan kamu bisa numpang nyuci baju di tempatnya Lintang," sahut Danu.


"Pak. Kita itu mau healing. Kamu tau enggak sih, artinya healing?" tanya Eni.


Danu menggeleng. Bahkan istilahnya saja baru dia dengar dari Eni kemarin.


Hhh! Eni mendengus dengan kesal.


"Makanya, gaul dong, Pak! Jangan ngumpulnya ama sopir angkot mulu!" omel Eni.


"Aku kan memang sopir angkot, Bu! Masa suruh bergaul sama emak-emak repelita!" sahut Danu asal.


"Repelita...! Sosialita, Pak! Hhh!" Eni makin kesal pada Danu.


"Terserah kamu deh, apa namanya. Pokoknya yang kayak begitu.!" Danu tak mau disalahkan.


"Ish! Ngeselin nih, orang! Bukannya belajar kek, biar enggak katrok!" omel Eni lagi.


"Heh! Kalian ngapain sih? Malah ribut aja, dari tadi!" Kini giliran Widya yang siap ngomel.


"Itu mas Danu, Mbak. Ngeselin. Bisanya cuma komplain aja. Kayak emak-emak pelanggan salon yang salah servis!" sahut Eni.


Pasalnya, Eni sering dikomplain pelanggannya karena dia suka keliru memberikan servis pada mereka.


"Siapa yang komplain? Aku kan cuma nanya, ngapain kamu bawa barang sebanyak itu!" Danu menunjuk tas-tas dan dua koper yang sudah tergeletak di lantai.


Widya melihat ke arah tas-tas itu.


"Kamu mau bawa sebanyak ini, En?" tanya Widya dengan mata terbelalak.


Dengan tanpa rasa bersalah, Eni mengangguk.


"Nanti kita mampir ke salon juga, ambil kompor portable dan panci kecil buat bikin kopi sama mie instan di jalan. Kita juga nanti belanja mie instant sama kopi dan makanan lain," ucap Eni.


"Terus mau kamu taruh dimana, barang-barangmu?" tanya Widya.


"Di bagasi mobillah, Mbak. Mau dimana lagi," jawab Eni. Dia malah bingung dengan pertanyaan Widya.


"Enggak bakalan muat kalau barang-barang kamu masuk semua! Yang ada barang-barangmu masuk mobil, kitanya jalan kaki!" sahut Widya dengan kesal.


"Lha terus, ini gimana? Aku udah capek-capek masukinnya?" tanya Eni.


"Keluarin semua! Bawa satu koper aja! Tanpa tas lain, titik!" Widya langsung pergi meninggalkan kamar Eni.

__ADS_1


"Ish. Gitu dilarang. Gini dilarang. Enggak asik banget!" gerutu Eni.


Danu pun ikutan keluar dengan senyum kemenangan.


__ADS_2