HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 236 MODUS


__ADS_3

Monica keluar dari rumah Rendi dengan kesal. Dia merasa sangat dendam pada Sri.


"Dasar pembantu sialan! Pembantu gila! Awas aja kamu, Sri! Aku akan balas semua perlakuan kamu!" rutuk Monica sepanjang jalan.


Monica memesan taksi online. Dia mau memulai aksinya.


"Dengan Ibu Monica?" tanya driver, saat Monica membuka pintu mobil.


"Iya! Dan jangan panggil Ibu. Aku bukan ibumu!" sahut Monica dengan geram. Lalu masuk ke dalam mobil.


"Oh iya, maaf. Saya panggil Non saja, ya," sahut driver.


Monica pun menyahut dengan kesal, "Terserah!"


Si driver menatap Monica dari spion.


Seksi sekali. Sayangnya judes. Ucap si driver dalam hati.


Lalu si driver memberikan senyuman terbaiknya, meski hanya lewat kaca spion.


Tentu saja Monica tak melihatnya. Dia lagi kesal. Meski di otaknya banyak rencana yang bakal dia lakukan hari ini.


Semoga rencanaku hari ini berjalan lancar. Harap Monica dalam hati.


"Ke pasar Anyar ya, Non?" tanya driver mencoba memulai pembicaraan lagi.


"Kan udah jelas di aplikasinya. Masih nanya juga!" jawab Monica masih dengan nada kesal.


Driver kembali tersenyum. Dia tak mau terpancing emosi pada sikap ketus Monica.


Sayangnya cantik dan seksi. Kalau laki, gue suruh turun sekarang juga, lu! Batin driver.


Driver yang bernama Yusuf, kembali menebarkan senyuman.


Itu tadi kan, rumah majikannya Sri. Apa dia tamu di sana? Kenapa dia keliatan marah banget? Batin Yusuf, teman sekolah Sri dulu, yang sekarang rajin chatingan sama Sri.


Jalanan pagi menjelang siang itu, masih macet. Padahal para pekerja dan anak-anak sekolah, rata-rata sudah sampai di tempatnya.


"Non Monica tamunya bu Sari?" tanya Yusuf untuk menghilangkan kejenuhan.


"Kok kamu kenal bu Sari?" tanya Monica dengan tidak sopan. Padahal Monica tahu, kalau tampang Yusuf jauh lebih tua darinya.


"Saya kebetulan teman ibu Sari," jawab Yusuf berbohong. Soalnya kalau menjawab dia teman dekatnya Sri, pembantu rumah tangga di sana, rasanya sangat tidak berkelas. Begitu pikir Yusuf.


Monica terkejut tapi juga senang mendengarnya. Dipikir memang benar Yusuf adalah teman mamanya Rendi.


Monica membuka lagi aplikasi ojeg online di ponselnya. Di sana tertulis nama Yusuf. Dan tak sengaja, Monica juga melihat foto Yusuf.


Yusuf.


Lumayan juga wajahnya. Belum terlalu tua. Bahkan dari wajah, kelihatannya usianya jauh di bawah Sari. Tebak Monica dalam hati.


"Teman apa sama bu Sari?" Monica mulai terpancing.


Glek!


Kena deh gue. Kirain enggak akan nanya sampai ke situ. Yusuf segera mencari ide jawaban.

__ADS_1


"Mm...Teman nongkrong aja," jawab Yusuf.


Dari chatnya dengan Sri, Yusuf tahu kalau Sari punya sebuah komunitas grup musik tertentu. Dan kata Sri, Sari sering nongkrong dengan teman-teman komunitasnya itu.


"Memangnya bu Sari sering nongkrong?" Monica malah tidak tahu menahu soal itu.


"Kadang-kadang. Kami suka nonkrong di cafe sambil berdendang lagu lawas," jawab Yusuf, masih sesuai cerita dari Sri.


"Lagu lawas?" Monica memperhatikan lagi wajah Yusuf lewat aplikasi ojeg online-nya.


"Iya. Kenapa? Heran ya, kalau saya penyuka tembang-tembang lawas?" tanya Yusuf.


Monica mengangguk. Lalu nekat melihat tampang asli Yusuf lewat kaca spion.


"Dari orang tua saya. Kebetulan kedua orang tua saya musisi," jawab Yusuf lagi, mengarang bebas.


Toh, Monica enggak akan mencari tahu tentang kedua orang tuanya. Pikir Yusuf.


"Oh, pantesan. Saya Monica. Calon istrinya Rendi. Anaknya bu Sari," aku Monica.


"Oh ya? Hebat dong, bakal jadi menantu juragan batik," puji Yusuf.


Ah, sialan. Malah dia sudah mau jadi menantunya bu Sari. Bisa dikemplang sama Sri kalau aku nekat mendekati.


Suatu saat kan berarti Monica bakal jadi majikannya Sri. Yusuf pun termakan ocehan Monica.


"Ya begitulah. Namanya juga jodoh," sahut Monica dengan bangganya.


"Belum jodoh kalau janur kuningnya belum melengkung," ucap Yusuf. Dia masih ingin mencari peluang.


"Jangan panggil, Pak lah. Aku kan juga belum tua-tua amat," protes Yusuf.


Ish! Nyebelin. Masa aku harus memanggilnya mas? Enak aja.


"Oh iya. Bang Yusuf," sahut Monica dengan bete.


Abang tukang bakso! Batin Monica.


"Nah, begitu lebih enak didengarnya." Yusuf tersenyum senang.


Satu langkah. Batin Yusuf.


Monica melengos ke samping. Pandangannya menembus kaca jendela dan menerawang jauh.


Aha...!


Sepertinya dia bisa jadi jembatan buat aku meluluhkan hati mamanya Rendi nih. Tiba-tiba Monica mendapatkan ide cemerlang.


"Bang Yusuf udah lama kenal bu Sari?" pancing Monica.


Yusuf tersenyum. Dia yang juga sedang memancing Monica, merasa kailnya mulai disenggol.


"Lumayan lama," jawab Yusuf.


Padahal Yusuf baru pertama kali ketemu Sari. Itupun saat Sari dan Rendi serta Mila menaiki taksi online-nya.


Yes! Bagus sekali. Monica pun tersenyum senang.

__ADS_1


"Kalau menurut Bang Yusuf, bu Sari itu orangnya bagaimana?" tanya Monica.


Monica berpikir, mungkin dari jawaban Yusuf, dia bakal dapat ide cara menaklukan Sari.


Yusuf setengah mati berusaha mengingat wajah Sari. Juga cerita dari Sri tentang Sari.


"Mm...dia orangnya sangat baik. Tapi sedikit judes," jawab Yusuf.


Waktu itu Yusuf melihat Sari yang sedang sedih karena kondisi Rendi saat baru pulang dari rumah sakit. Jadi wajar saja kalau wajah Sari terlihat judes.


Dan sayangnya Yusuf tak sempat memperhatikan Monica yang juga ada di depan rumah sakit.


"Ah, tidak...tidak. Itu cuma nampaknya aja. Tapi orangnya baik kok." Yusuf meralat omongannya.


Yusuf tak memungkiri itu. Sebab saat itu Sri memberinya uang untuk bayar tagihan taksinya, lebih. Dan kata Sri, ambil saja kembaliannya.


Baik? Kok dari awal ketemu denganku, dia tak pernah ramah? Tanya Monica dalam hati.


Jelas saja tak ramah, Monica sendiri kurang sopan. Dan bajunya selalu kurang bahan.


"Sama Non Monica baik juga, kan?" tanya Yusuf basa basi.


Mestinya Yusuf paham, namanya sama calon menantu, pastinya baik.


"Baik banget. Dia type calon mertua idaman!" jawab Monica.


Idaman dari hongkong! Gerutu Monica.


"Iya." Yusuf menelan kekecewaan. Bakal gagal modusnya pada Monica.


"Sekarang Non Monica mau menemui bu Sari di tokonya?" tanya Yusuf.


Dia sudah menemukan satu cara lagi. Dan berharap, di sisa waktu yang tinggal beberapa menit lagi, modusnya berhasil.


"Iyalah. Aku kan calon pewaris toko batiknya. Aku mau belajar mengelolanya. Ya...meskipun aku masih kuliah, tapi enggak salah kan, kalau belajar langsung," jawab Monica mengada-ada.


Wouw. Kalau yang model beginian sih biasanya mahasiswi yang enggak bener. Mana ada anak kuliahan bajunya minimalis begitu. Yang ada dosennya enggak konsen ngajar. Batin Yusuf.


"Tapi kalau jam segini, biasanya bu Sari tidak di tempat," ucap Yusuf asal aja. Monica percaya sukur, enggak percaya juga nanti udah tidak ketemu lagi.


"Masa?" Monica malah mempercayai ucapan Yusuf.


Yusuf mengangguk.


"Aduh. Salahku juga enggak janjian dulu. Kalau sekarang menghubungi bu Sari, enggak enak." Padahal Monica tak pernah tahu nomor telpon Sari.


"Iya. Nanti malah mengganggu. Gimana kalau kita jalan dulu?" ajak Yusuf. Iseng-iseng berhadiah.


"Jalan kemana?" tanya Monica.


"Ya, kemana kek. Non Monica maunya ke mana?" Yusuf balik bertanya.


"Mm...terserah Bang Yusuf, deh," jawab Monica pasrah.


Yes!


Yusuf bersorak dalam hati, penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2