HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 240 PERDEBATAN BATIN


__ADS_3

Eni buru-buru mengambil tas dan merapikan penampilannya. Sejak membuka salon dan kursus kecantikan sebelumnya, Eni selalu berusaha menjaga penampilan.


Hal itu yang sering membuat Danu uring-uringan. Karena tak jarang, banyak pasang mata lelaki iseng mengagumi Eni.


Pastinya lelaki dari kalangan bawah seperti mereka. Bukan lelaki kelas atas yang seleranya tinggi.


Sampai rokok Danu hampir habis sebatang, Eni yang katanya cuma ambil tas, tak juga keluar dari kamar.


"Bibi kok lama banget, Paman?" tanya Tania yang sudah selesai memberesi meja dibantu Mila.


"Enggak tau. Ketiduran kali," jawab Danu.


"Coba deh, Paman liat," ucap Tania. Dia merasa tak enak juga pada Rendi dan Mila.


"Ya, bentar." Danu menghisap rokoknya yang tinggal satu hisapan lagi.


"Ya ampun, Bu. Katanya cuma ambil tas?" tanya Danu melihat Eni sudah ganti baju.


Dan di atas tempat tidur sudah banyak berserakan baju-baju lain.


"Iya, ini juga udah selesai." Eni kembali mematut dirinya di kaca.


"Kita cuma mau ke rumah sakit ambil obat, Bu. Bukan mau kondangan!" ucap Danu. Dia lihat dandanan Eni yang menor dengan alis cetar membahana.


"Emangnya kalau ke rumah sakit enggak boleh rapi?" sahut Eni.


"Itu mah bukan rapi, tapi terlalu menor. Entar dikira kamu mau among tamu!" Danu sudah terlihat bete dengan penampilan Eni.


"Ish!" Eni mendengus dengan kesal.


Danu sering sekali komplain dengan penampilan Eni yang dianggap terlalu berlebihan.


Eni keluar mengikuti Danu. Tania hanya geleng-geleng kepala melihat penampilan Eni.


Mila sampai melotot tak percaya.


Busyet tuh orang. Mau ambil obat aja kayak orang mau ke acara resepsi pengantin. Batin Mila.


Eni mengenakan bawahan batik dengan atasan blouse formal. Tas tangan yang serasi dengan warna blouse-nya. Juga sandal jingle yang cukup tinggi.


Rendi pun hanya menatap sambil menahan senyuman.


"Ayo, Pak. Buruan," ucap Eni tanpa rasa bersalah.


"Ayo pak buruan...Aku udah siap dari tadi. Tau gini, tadi bikin kopi dulu!" gerutu Danu.

__ADS_1


Eni menatap Danu dengan heran. Seolah Danu yang terlalu lebay.


"Kalian mau nitip apa? Sekalian kita keluar," tanya Eni.


"Enggak, Bi. Ambil obatnya saja Tono saja," sahut Tania.


"Eh, pak Tono maksudku." Tania meralat ucapannya dengan malu.


Tania terbiasa menyebut Tono tanpa embel-embel pak. Meski terdengar kurang ajar bagi yang tak tahu persoalannya.


"Ya udah. Nanti Bibi belikan buah aja. Tadi lupa kan kita enggak nyiapin buah," ucap Eni sambil berlalu.


"Kamu itu, lama amat sih dandannya. Orang kita perginya cuma naik angkot aja, kayak mau pergi naik mobil mewah." Danu masih saja menggerutu di depan rumah.


Tapi sayangnya Eni tak peduli.


Tania berlari ke depan.


"Paman. Kalian naik mobilnya...pak Tono aja. Nih, kuncinya." Tania menyerahkan kunci mobil Tono.


Barusan Rendi yang menyuruhnya. Tak tega Rendi melihat Eni yang sudah berdandan rapi, cuma naik angkot saja. Meskipun angkot Danu tergolong baru dan bersih.


"Tuh, Pak. Kita naik mobil mewah. Hehehe." Eni tersenyum senang.


"Omongan adalah doa," ucap Eni sambil jalan menuju mobil Tono.


"Maksudnya?" tanya Danu tak paham.


"Tadi kan kamu bilang sendiri. Katanya aku dandannya lama, kayak mau naik mobil mewah. Terkabul kan, omongan kamu? Enggak sia-sia aku dandan kayak begini." Eni merasa menang.


"Hhh!" Danu mendengus sambil membuka pintu mobil Tono.


Eni masih dengan percaya diri dan rasa tak berdosa, naik ke mobil juga. Matanya menatap ke luar, seolah ingin agar orang-orang melihatnya naik mobil mewah.


Danu melirik tak suka. Menurut Danu, Eni sering sekali tebar pesona. Ingin orang lain melihat dan memujinya.


Danu merasa ada yang berbeda pada sikap Eni. Dulu Eni sangat sederhana dan tak begitu peduli dengan penampilan. Apalagi omongan orang.


Tapi sekarang, dia sangat menjaga penampilan dan ingin selalu jadi pusat perhatian. Walaupun bagi sebagian orang, penampilan Eni terlalu norak. Kadang malah salah kostum.


"Lain kali, jangan pakai pakaian kayak begini, dong. Malu-maluin aja!" protes Danu.


"Kok malu-maluin sih? Kau kan pingin keliatan rapi, Pak." Eni tak terima dibilang malu-maluin.


"Rapi tuh enggak begini juga. Biasa aja, kenapa sih!" Danu tetap tak suka.

__ADS_1


"Kalau biasa namanya enggak rapi. Memangnya kamu. Kemana-mana cuma pake kaos aja!" Eni memalingkan wajahnya ke samping.


Eni merasa tak ada yang salah dengan penampilannya. Malah dia menyalahkan Danu yang tak pernah mau berubah.


Sebenarnya sejak dulu, Eni selalu ingin terlihat wah. Tapi karena situasi dan kondisi yang tak memungkinkan, Eni pun pasrah pada keadaan.


Dan sekarang setelah dia merasa ada kesempatan, kenapa enggak dia manfaatkan.


Uang ada, walaupun tak setebal uang pengusaha sukses. Mobil, meskipun cuma angkot, juga ada.


Eni sendiri sudah pandai berdandan setelah mengikuti kursus kecantikan. Apa lagi yang kurang mendukung?


"Terus, aku mesti samaan kayak kamu, kapai baju batik? Kapelan? Biar keliatan kompak?" sindir Danu.


"Couple, Pak!" Eni membetulkan kata-kata Danu.


"Ash! Terserah aku mau bilang apa! Mulut-mulutku sendiri, kok!" Danu mulai kesal pada Eni yang dianggapnya sok pinter.


"Ya udah, kalau enggak mau dibetulin omongannya. Jangan protes sama penampilanku, dong. Badan-badanku sendiri, kok!" Eni pun terpancing.


"Terus, kalau badan-badan kamu sendiri, kamu mau seenaknya gitu? Ingat! Kamu itu istriku. Kalau aku enggak ridho, Yang di atas sana juga enggak ridho!" Danu mengikuti ucapan ulama-ulama yang sering di dengarnya lewat toak masjid, sambil tangannya menunjuk ke atas.


"Loh, kok pake bawa-bawa Yang di atas sana, sih? Apa urusannya? Aku kan enggak mengumbar aurat! Liat dong, mana ada pakaianku yang terbuka!" Eni memutar badannya ke kanan dan ke kiri.


"Kamu selalu saja menjawab omonganku. Dosa tau! Istri yang membantah omongan suaminya!" Danu makin geram.


"Malah bawa-bawa dosa. Emang dosa, kalau istri pingin dandan, buat nyenengin suaminya? Emang kamu lebih seneng kalau aku cuma pakai daster kumal?" Eni merasa tak terima dikatai Danu.


Danu menghela nafasnya dengan kasar.


Hhh! Kalau enggak lagi nyetir gini, udah aku tinggal nongkrong di pangkalan. Bisa cuci mata lihat emak-emak....


Danu diam sesaat.


Kayaknya aku kuwalat nih. Aku sering mengagumi wanita lain yang terlihat cantik, apalagi seksi. Dan sekarang istriku...


Danu menepuk jidatnya sendiri.


Ngapain aku marah-marah, ya? Harusnya aku bangga pada istriku ini. Tapi gimana kalau dia banyak yang naksir? Nanti dia lupa lagi, kalau punya suami.


Danu melirik sekilas ke arah Eni. Wajah Eni yang tadi ceria, kini berubah mendung.


Eni pun sedang bergelut dengan perasaannya sendiri.


Dosakah kalau aku ingin terlihat cantik? Aku hanya ingin orang mengatakan, istrinya Danu sekarang cantik, ya.

__ADS_1


__ADS_2