HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 269 YANG PENTING BAHAGIA


__ADS_3

"Om....!" Dito terkejut melihat Danu yang tiba-tiba sudah ada di dekat mereka.


Tania hanya bersikap biasa saja. Sebab dia tahu kalau Danu memang ada di dalam kamar.


Tania hanya menghapus bening di matanya, agar tak pecah dan mengalir menjadi air mata.


"Kamu mau mempengaruhi Tania, biar mempercayai Rendi?" tanya Danu.


Tania menoleh pada Danu. Dia tak mengira kalau Danu akan menanyakan hal itu.


Bahkan Tania juga tak berpikir kalau Danu masih meragukan Rendi.


"Saya tidak bermaksud mempengaruhi Tania, Om. Hanya membuka fakta saja tentang Rendi," jawab Dito.


"Fakta apa? Fakta bahwa Rendi sudah meniduri wanita yang sudah ditiduri banyak lelaki?" Mata Danu menyorot Dito dengan tajam.


Mati aku! Jangan-jangan om Danu dengar omonganku tadi, dan berpikiran negatif tentang Rendi. Batin Dito.


"Om. Rendi tidak seperti itu. Saya tau persis bagaimana dia," jawab Dito membela Rendi.


Dito sudah sangat hafal dengan kelakuan Rendi sejak SMA. Meskipun dia suka bersenang-senang dengan wanita, bahkan berganti-ganti pacar, tapi tak satupun yang pernah ditidurinya.


Kalau dengan Monica, memang Dito tak paham. Sebab Dito tau track record Monica seperti apa.


Monica gampang dibawa oleh siapapun yang disukainya. Dan semua akan berakhir di atas tempat tidur.


Tapi Dito tetap yakin kalau Rendi tak mau melakukannya. Rendi tak semurah itu, memasukan senjatanya ke lubang yang dimiliki banyak lelaki.


"Oh ya? Memangnya kamu satpamnya? Yang selalu mengikuti kemana pun dia pergi. Atau selalu mengintip apapun yang dilakukannya?" serang Danu.


Dito tercekat.


Demikian juga Tania. Baru kali ini Tania mendengar kemarahan Danu dan omongan pedas darinya.


"Saya memang bukan cctv yang selalu memantaunya, Om. Tapi setidaknya, dari sifat keseharian Rendi, saya yakin kalau Rendi tak seburuk itu." Dito tetap membela Rendi.


"Tak seburuk itu? Lalu apakah yang dulu pernah dilakukannya dengan Tania, sesaat setelah Tania ijab qobul, bisa dibenarkan?" Danu terus saja menyerang.


"Paman!" seru Tania.


Tania tak menyangka kalau Danu mengungkit lagi hal yang pernah dilakukannya dengan Rendi waktu itu.


"Maaf, Om. Itu dilakukan Rendi, karena dia kecewa pada papanya. Dan Rendi ingin memiliki Tania selamanya. Rendi tak rela kalau Tania disentuh oleh lelaki lain. Meskipun itu suami sah Tania!" Dito pun terus membela Rendi.


"Banyak alasan kamu!" sergah Danu. Sebab Danu sudah mulai kehilangan kata-kata lagi.


"Paman. Kenapa Paman ungkit-ungkit hal itu? Apapun yang pernah kami lakukan dulu, Tania iklas, Paman. Rendi tak pernah memaksa. Tania yang rela memberikannya pada Rendi. Karena Tania juga tak mau disentuh lelaki lain!" ucap Tania.

__ADS_1


"Kamu itu. Rendi bukan suami kamu. Dia tak berhak apapun atas diri kamu. Paham?" Danu menyalahkan Tania yang malah menyerahkan diri pada Rendi.


"Om. Mungkin sekarang begini aja. Kita buktikan kalau anak yang dikandung Monica adalah hasil perbuatan Rendi. Saya pun tak akan membiarkan Rendi lari dari tanggung jawabnya!" ucap Dito.


Tania menatap Dito. Dalam hatinya dia berharap kalau pengakuan Monica bohong belaka.


Karena kalau benar, maka selesailah hubungannya dengan Rendi. Sia-sia semua pengorbanan dan perjuangan mereka.


Tania pun tak ingin Rendi lari dari tanggung jawabnya sebagai calon bapak dari anak Monica.


Dalam hati Dito pun was-was. Jangan sampai anak yang dikandung Monica benar-benar anak Rendi.


"Bagaimana cara kamu membuktikannya?" tanya Danu menantang Dito.


Dito kembali tercekat. Dia berpikir setengah mati bagaimana caranya. Sebab ide itu baru saja terbersit di kepalanya.


"Mungkin langkah pertamanya...." Dito berpikir sejenak.


"Kita pertemukan Rendi dengan Monica. Dari situ bisa ketahuan mana yang bohong, mana yang enggak," lanjut Dito.


Degh!


Tania terkesiap.


Mempertemukan lagi Rendi dengan Monica? Bagaimana kalau Monica merayu Rendi lagi? Bagaimana kalau benar anak yang dikandung Monica adalah anak Rendi?


Bukan hanya pertanyaan, tapi juga ketakutan. Bagaimanapun, Tania tetap takut kehilangan Rendi.


"Kalau itu belum berhasil? Bukan berarti anak dalam kandungannya Monica bukan anak Rendi, kan?" Danu masih saja berpikiran negatif tentang Rendi.


Sebenarnya itu hanya ketakutan Danu saja. Danu takut juga kalau sampai Tania tak berjodoh dengan Rendi.


Danu bisa membayangkan hidup Tania akan kembali hancur. Tania pasti akan sangat kecewa dan terluka.


"Nanti kita pikirkan lagi cara lainnya, Om. Saya juga ingin mengungkap ini semua. Jangan sampai hubungan antara Tania dan Rendi selalu dibayang-bayangi Monica," jawab Dito.


Tania mengangguk mengerti. Dan berdoa dalam hati, semoga apa yang dikhawatirkan pamannya tak terjadi.


"Serius amat? Lagi pada ngomongin apaan, sih?" tanya Mike yang sudah pulang membeli kue.


Eni hanya diam. Dia masih kesal pada Yanti. Eni merasa Yanti telah meledeknya karena tak punya anak.


Padahal tak ada satu orangpun yang tahu kalau Eni belum pernah punya anak. Yang mereka tahu, Eni hanya punya anak Tania.


"Udah selesai beli kuenya, Sayang?" tanya Dito pada Mike.


"Udah. Nih." Mike memperlihatkan plastik kresek berisi dus kue.

__ADS_1


"Wajah kamu kenapa, Bu?" tanya Danu pada Eni.


Mike melirik Eni sekilas. Tania dan Dito pun reflek menatap ke arah Eni.


"Enggak apa-apa!" jawab Eni ketus.


"Enggak apa-apa kok mukanya dilipet gitu," ucap Danu.


"Emangnya pakaian, dilipet!" Eni masuk ke kamarnya. Dia lagi kehilangan mood buat bercanda.


Padahal tak ada yang mengajaknya bercanda. Danu, Tania dan Dito tadi lagi membicarakan masalah serius. Sampai Tania hampir menangis.


"Tania, besok jadi kan rencana healingnya?" tanya Mike pada Tania.


"Tergantung Rendi. Aku sih nurut aja. Kalian ikut, kan?" tanya balik Tania.


Mike menoleh ke arah Dito. Seperti biasanya, meminta persetujuan dari Dito.


Dito pun mengerti apa yang dimaui Mike. Lalu mengangguk setuju. Mike tersenyum senang.


"Iya. Kami ikut juga," jawab Mike.


"Kalian bawa mobil sendiri, kan?" tanya Tania lagi.


"Iyalah. Masa mau empet-empetan di mobilnya Rendi. Mbak Sri sama Mila kan juga ikut," jawab Mike.


"Boleh enggak kalau paman dan bibi nanti ikut di mobil kalian?" tanya Tania.


"Boleh banget. Mobil kita kan luas. Bisa muat banyak. Bude kamu sama mbak Lintang, diajak aja sekalian." Mike malah jadi ingat dengan Lintang. Sahabat barunya, meski baru sekali bertemu.


"Apa enggak merepotkan?" tanya Eni.


Begitu mendengar kata healing dan mereka mau diajak juga, rasa bete Eni pada Yanti langsung hilang.


Mike menoleh ke arah Eni.


"Enggak lah, Tante. Malah kita senang kalau rame-rame," jawab Mike.


"Pak! Kita besok healing!" seru Eni pada Danu.


"Iya, aku denger, Bu. Gak usah kenceng-kenceng napa, ngomongnya? Kayak aku budeg aja!" protes Danu. Suara Eni melengking di dekat telinganya.


"Hehehe. Maaf, Pak. Abisnya, Ibu seneng banget," sahut Eni.


"Iya, deh. Terserah kamu, Bu. Yang penting kamu bahagia," ucap Danu.


Eni kembali nyengir. Tak ada lagi muka kusut kayak pakaian yang belum disetrika.

__ADS_1


__ADS_2