HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 61 SISA ANAK


__ADS_3

Selepas maghrib, Tono baru kembali ke rumahnya. Tono yang berprofesi sebagai rentenir, hari ini harus mendatangi orang-orang yang berhutang padanya dan banyak menunggak.


"Di mana istriku?" tanya Tono pada Asih dan Yahya penjaga rumahnya.


"Ada di kamarnya, Juragan," sahut mereka bersamaan.


Tono naik ke lantai dua di mana dia mengurung Tania seharian.


Tono membuka pintu kamar yang dikuncinya dari luar.


Tania yang baru saja selesai sholat maghrib, langsung melipat mukenanya.


Tono mengulurkan tangannya pada Tania. Dengan perasaan was-was, Tania mencium tangan Tono.


Lalu dia duduk di sofa menjauh dari Tono. Tono menatap Tania penuh semangat. Karena malam ini dia akan menikmati keperawanan istrinya.


"Aku mandi dulu." Lalu Tono masuk ke kamar mandi. Tania hanya menatapnya sekilas.


Bayangan Tono yang nanti akan menidurinya, membuat Tania tegang.


Bagaimana dia akan tidur dengan orang yang dia benci. Terlebih Tono adalah bapak dari kekasihnya.


Tak lama Tono keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk.


Tania menundukan wajahnya. Malu melihat lelaki hanya memakai handuk saja.


"Ambilkan aku baju tidur di lemari, Cantik."


Tania menatap sebentar ke arah Tono, lalu mengambilkan baju tidurnya Tono.


"Mana ****** ********? Apa kamu maunya aku tak memakai ****** *****?" goda Tono.


Tania buru-buru mengambilkan ****** ***** untuk Tono.


Tania mengulurkan ****** ***** itu ke arah Tono. Tapi Tono malah menarik tangannya, hingga Tania jatuh ke pelukannya.


"Aakh!" jerit Tania. Lalu dia segera menangkup buah dadanya dengan kedua tangannya.


Tono yang sudah berhasil memeluk Tania, langsung menciumi leher Tania yang terekspos karena Tania mencepol rambutnya ke atas.


Tania berusaha melindungi lehernya dari serangan Tono. Tapi Tono terus saja menyerangnya.


Bahkan Tono menciumi telinga Tania hingga dia kegelian. Tania berusaha melindungi bagian tubuhnya yang di ciumi oleh Tono.


"Jangan menghindar. Aku suami kamu. Aku berhak atas tubuh kamu."


Tapi Tania malah berhasil lepas dari pelukan Tono. Lalu dia berlari ke belakang sofa. Membuat Tono gemas.


Tono jadi ingat dengan anaknya, Rendi. Saat kecil dulu, Rendi selalu lari menjauh bahkan kadang bersembunyi kalau Tono hendak menciuminya.


Ingat Rendi, Tono ingat kembali kalau Rendi pernah membawa kabur Tania. Dan mereka tertangkap basah sedang ada di hotel.

__ADS_1


Jangan-jangan Rendi sudah....


Tono berusaha menepis pikiran kotornya. Tidak mungkin Rendi melakukannya. Anaknya itu tak akan berani berbuat mesum pada perempuan.


Tono mengaitkan ikatan handuknya lagi yang hampir terlepas.


Dia kejar Tania yang berada di belakang sofa. Tania kembali berlari menjauh.


Kejar-kejaran pun tak terelakan. Hingga membuat nafas Tono terengah-engah.


"Sudah, Tania. Nafasku sudah tidak kuat lagi. Nanti aku tak bisa memuaskanmu."


Tania malah bergidig ngeri.


Tono berjalan perlahan mendekati Tania. Dan Tania berlari lagi.


"Ayolah, Tania. Aku suami kamu. Layani aku malam ini. Puaskan aku. Aku juga akan memuaskanmu." Tono mengulurkan tangannya ke arah Tania.


"Tidak! Aku tidak mau!" teriak Tania.


"Lalu apa mau kamu, hah?" Tono ikut berteriak yang membuat nyali Tania menciut.


"Aku....Aku mau pulang!" seru Tania.


"Pulang katamu? Ingat, Tania! Aku sudah membelimu dengan harga sangat mahal! Semua keinginan kamu dan orang tua angkatmu sudah aku penuhi! Apa kamu ingin mereka aku jebloskan ke penjara dengan tuduhan pemerasan? Bahkan aku bisa saja menjebloskanmu sekalian!"


Tubuh Tania bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Kenapa pamannya harus berhubungan dengan lintah darat macam begini?


Tania luruh ke lantai. Tangisnya menyayat hati. Dia tak bisa lagi menolak Tono yang sudah menjadi suaminya.


Tono yang sudah terlanjur marah, menarik paksa tangan Tania dan dihempaskannya ke tempat tidur.


Tania hanya bisa diam. Lari pun tak akan ada gunanya. Karena Tono pasti akan menggunakan hutang pamannya sebagai senjata untuk mengancamnya.


Melihat Tania diam saja, membuat Tono merasa Tania sudah siap melakukannya.


Tono langsung menaiki tubuh Tania.


Tania masih diam. Tak berani menolak ataupun teriak. Bahkan Tania meredam tangisnya. Hanya airmata yang mengalir tanpa henti.


Dia hanya bisa pasrah. Toh sekarang atau nanti, Tono tetap akan menuntut haknya.


Dan Tania terus memejamkan matanya menahan rasa sakit di hatinya.


Tania membayangkan wajah Rendi yang pastinya jijik melihatnya sedang ditiduri lelaki lain.


Hingga saat Tono tak menemukan apa yang dicarinya.


Tono menyudahi kegiatannya. Dan dia membalik tubuh Tania.


Tono tercengang dengan apa yang dilihatnya.Tak ada bercak darah sedikitpun. Spreinya masih bersih, tak ada noda darah.

__ADS_1


Tono langsung turun dari tempat tidur. Tania menatap wajah Tono yang memerah karena amarah.


"Tania! Katakan siapa yang telah mengambil keperawananmu?" teriak Tono.


Tania hanya diam saja.


"Jawab! Jangan cuma diam! Aku akan habisi orang yang berani mengambil hakku!" Tono terus berteriak memaksa Tania bicara.


Karena Tania tak juga mau membuka mulutnya, Tono menarik tangan Tania hingga Tania terduduk.


"Siapa yang sudah melakukannya padamu?" Tono mengguncang tubuh Tania.


"Katakan, Tania. Katakan siapa yang telah melakukannya?" suara Tono semakin keras.


Tania menatap wajah Tono dengan tajam.


"Katakan. Siapa orangnya?" Tono bertanya lagi dengan suara lebih kencang.


"Rendi," jawab Tania sambil menundukan wajahnya.


Tono terpaku di tempatnya.


"Jangan bohong kamu!" Tono mengguncang lagi bahu Tania.


Tono tak percaya. Karena setahunya, Rendi anak yang baik. Pacaranpun tak pernah. Apalagi sampai melakukan perbuatan terlarang.


"Aku tidak bohong. Rendi yang telah melakukannya. Aku mencintai Rendi. Rendi juga mencintaiku," sahut Tania lirih.


Tiba-tiba tangan Tono melayang ke pipi Tania.


Plak!


Sebuah tamparan dari Tono mengenai pipi mulus Tania.


Tania tidak menangis. Tidak juga menjerit. Tania masih menahan perasaannya. Tania sudah pasrah apapun yang akan dilakukan Tono padanya.


Semua adalah salahnya. Bukan...tapi salah takdirnya. Takdir yang membuat Tania harus menikah dengan lelaki yang tak pernah dicintainya.


Tono memakai pakaiannya dan keluar dari kamar. Tono merasa kecewa karena hanya mendapatkan sisa dari anaknya.


Tania pun turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Tania meluapkan semua perasaannya. Dia menangis sejadi-jadinya.


"Kenapa aku harus menerima ini semua? Kenapa? Kenapa aku tak bisa bahagia dengan Rendi?" Tania bertanya pada dirinya sendiri.


"Rendi! Maafkan aku! Aku sangat mencintai kamu, Rendi!" Tania terus menjerit memohon maaf pada Rendi.


Suara Tania tak bisa didengar oleh siapapun. Disamping Tania telah mengunci pintunya, Tania juga menyalakan keran air.


Suara jeritannya membaur dengan suara air dari keran.

__ADS_1


Setelah puas menangis dan berteriak, dibasuhnya seluruh tubuh dengan kucuran air dari shower. Airmatanya terus mengalir bersamaan dengan air yang mengucur dari shower.


__ADS_2