HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 77 MISI SUKSES


__ADS_3

Mike mulai merias wajah Tania. Dia hapus air mata Tania dengan jarinya. Dan tak terasa Mike ikut meneteskan air mata.


Mereka berdua saling pandang tanpa ada satupun yang bersuara. Berpura-pura tak saling kenal.


Mike terus merias wajah Tania, sambil sesekali membelai wajah Tania. Membuat Tania makin sedih.


Mike juga melihat ke perut Tania. Perut itu masih rata.


Kata Dito, Tania sedang hamil. Tapi kenapa perutnya masih rata? Apa Tania kurang gizi? Hingga anak dalam kandungannya enggak berkembang? Tanya Mike dalam hati.


Aku harus tahu kebenarannya. Tapi bagaimana aku menanyakannya pada Tania?


Tono sudah selesai menelpon. Dia mendekat, lalu menatap Tania yang sedang dirias oleh Mike.


"Kenapa kamu menangis?" Tono melihat air mata mengalir di pipi Tania.


Tania buru-buru menyekanya.


"E....Enggak. A...aku cuma kelilipan. Iya, kelilipan bedak," jawab Tania berbohong.


Tono juga melihat Mike mengeluarkan air mata.


"Dan kamu? Kenapa kamu juga menangis?" tanya Tono pada Mike.


"Oh, maaf. Saya lupa membawa kacamata. Mata saya alergi," jawab Mike asal.


Tono percaya saja. Lalu mengangguk-angguk.


"Mbak Tania ini istri Bapak?" Mike mencoba membuka percakapan dengan Tono.


Tono menatap Mike. Mike sengaja tersenyum genit agar Tono mau menjawab pertanyaannya.


"Iya. Kenapa?" tanya Tono.


Sebenarnya Tono ingin menjawab tidak. Tapi tidak enak, karena ada Tania. Takutnya Tania protes.


"Enggak apa-apa, Pak. Cuma mau nanya aja. Kalian sudah lama menikah?" tanya Mike lagi. Mike sedang berusaha mencari cara agar bisa menanyakan tentang kehamilan Tania.


"Belum. Baru beberapa bulan ini," jawab Tono lagi.


"Wah, masih pengantin baru nih. Masih hangat-hangatnya kata orang. Mbak Tania sudah isi?" tanya Mike pada Tania.


Tania hanya menggeleng.


"Yang rajin bikin. Biar bisa cepet jadi," ucap Mike.


Tania melotot ke arah Mike. Dia ingin mengatakan pada Mike kalau selama ini tak pernah disentuh oleh Tono, tapi itu jelas tak mungkin.


Bahkan Tania ingin menanyakan pada Mike, kabar tentang Rendi. Tapi tak ada kesempatan, karena Tono masih berdiri di dekat Mike.


"Cepat sedikit meriasnya. Aku mau pergi. Tinggalkan nomor telponmu, biar aku mudah menghubungimu kalau Tania mau membeli," ucap Tono.


"Iya, Pak. Sebentar lagi selesai. Gimana Mbak Tania, enak dipakainya? Enggak gatal kan, kulitnya?" tanya Mike.


"Enggak. Enak banget di kulit. Mbaknya udah lama jadi sales kosmetik ini?" tanya Tania yang penasaran kenapa Mike sampai jadi sales. Karena setahu Tania, Mike anak orang kaya.

__ADS_1


Saat menjelang kelulusan, Mike juga sudah berencana akan kuliah.


Tania tak tahu kalau Mike sedang menyamar. Dan hanya ingin ketemu Tania.


"Belum Mbak. Baru masa training," jawab Mike.


Saat Tono melihat ke arah lain, Mike memberi tanda pada Tania agar tak menanyakan lagi tentang dirinya.


Tania mengangguk mengerti.


"Udah?" tanya Tono yang sepertinya sudah tak sabar.


Karena tak mau ketahuan, Mike memilih menyudahi acara meriasnya.


"Udah, Pak. Boleh saya minta nomor telponnya Mbak Tania aja?" pinta Mike.


"Tania enggak punya hape. Jadi sebaiknya kamu saja yang meninggalkan nomor hapemu. Nanti aku yang akan menghubungi," sahut Tono.


Ooh, jadi Tania enggak punya hape? Kok bisa? Apa dia tak boleh pegang hape lagi? Tanya Mike dalam hati.


"Baiklah, Pak. Kalau begitu, simpan nomor hape saya." Lalu Mike menyebutkan nomor hapenya.


Tono pun segera menyimpannya. Mike sengaja menyebutkannya berkali-kali agar Tania mengingatnya.


"Aku simpan pakai nama apa, ya?" tanya Tono yang ingin tahu nama Mike.


Karena takut ketahuan, Mike menyebutkan nama lain.


"Lisa, Pak."


Tania menatap wajah Mike. Dalam hatinya bertanya, kenapa Mike memakai nama lain? Bukan namanya sendiri?


"Iya, Pak. Saya tunggu orderannya, ya?" sahut Mike.


Ternyata Mike belum puas dengan keberhasilan misinya. Dia ingin melihat seperti apa bagian dalam rumah yang ditempati Tania ini.


"Pak....boleh enggak saya numpang ke toilet. Sebentaaar aja...." pinta Mike dengan suara manja.


Tono menahan nafasnya. Apalagi tatapan Mike seperti mau menggodanya.


"Boleh. Ayo aku temani. Tania biar di sini aja nungguin tasmu," jawab Tono.


Mike berdecak pelan. Padahal Mike maunya Tania yang menemani. Biar ada kesempatan ngomong berdua.


"Makasih, Bapak." Mike melangkah duluan.


Tono agak kesal karena Mike berkali-kali memanggilnya bapak.


Kalau di depan wanita cantik, Tono merasa muda kembali. Dan paling tak suka kalau dipanggil bapak.


Tono tak bisa protes. Demi menjaga harga dirinya di depan Tania.


Sampai di ruang tamu, Tono menoleh ke belakang. Memastikan Tania tak melihatnya.


Lalu Tono segera mensejajari langkah Mike alias Lisa. Dan tanpa disangka, Tono merangkul bahu Mike.

__ADS_1


"Eh!" seru Mike. Mike berusaha melepaskan tangan Tono.


Tapi tangan Tono terlalu kuat. Dia malah menarik tubuh Mike hingga mereka terjatuh di atas sofa.


"Auwh!" Mike berteriak.


Tania mendengar teriakan Mike. Dia langsung berdiri, dan menyusul masuk.


Dipikirnya Mike jatuh.


"Mike...!" teriak Tania.


Tono yang melihat kehadiran Tania, langsung menghempaskan tubuh Mike yang ada di atasnya.


Mike terguling ke samping Tono. Rok spannya tersingkap. Mike buru-buru menutupi dengan kedua tangannya.


Tono yang sudah bangkit, menelan ludahnya melihat pemandangan indah di depan matanya.


Sialan! Dasar tua bangka sialan! Maki Mike dalam hati.


"Apa-apaan, kamu? Mau mencoba merayuku?" Tono malah menuduh Mike.


Tentu saja Mike tak terima. Dia yang ditarik, lalu dihempaskan. Kemudian dituduh. Di depan Tania pula.


Mike langsung berdiri. Dia dekati Tono dan menatap mata tua bangka yang menyebalkan itu.


Tania hanya bisa diam. Dia tak yakin kalau Mike yang bermaksud merayu suaminya. Meskipun Tania melihat dengan mata kepala sendiri, Mike ada di atas tubuh Tono.


"Sekali lagi kamu tuduh aku, aku habisi kamu!" Mike menunjuk wajah Tono.


"Kamu mau menghabisi aku? Yang benar saja!" sahut Tono. Dia paling benci mendengar ancaman.


Mike yang tak mau ribut, apalagi dia ada di dalam rumah Tono, berniat pergi.


Posisi Mike sangat tak memungkinkannya meneruskan persoalan ini. Dia takut di dalam rumah banyak bodyguard yang bisa saja mencelakainya.


Tono meraih tangan Mike. Dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Kamu harus minta maaf pada istriku atas kelakuanmu!" ucap Tono dengan ketus.


Mike menghempaskan tangan Tono dengan kuat hingga terlepas.


Lalu mendekati Tania. Mike menghela nafasnya sebelum dia memeluk Tania.


"Maafkan aku, Tania," ucap Mike.


Tania hanya diam saja. Tapi tangannya mendekap Mike dengan erat.


"Suami kamu brengsek. Aku akan mengatakannya pada Rendi," bisik Mike di telinga Tania.


Tania tercekat dan menahan nafasnya mendengar Mike menyebut nama Rendi.


Mike melepaskan pelukannya.


"Permisi!" ucap Mike. Lalu segera keluar dari rumah Tania.

__ADS_1


Dia tak mau ada kejadian lain lagi yang akan merugikannya. Toh, misinya sudah berhasil.


Tania masih terdiam sambil menatap kepergian Mike.


__ADS_2