HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 33 GAGAL CHECK IN


__ADS_3

"Pak, tadi di dalam aku ketemu sama pemilik toko batik di pasar, yang kita pernah ke sana," ucap Eni pada suaminya, saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Hmm."


"Kok cuma Hmm saja sih, Pak?"


"Ya terus aku mesti bagaimana?" tanya Danu.


"Namanya bu Sari, Pak. Tadi dia yang membantu memilihkan menunya. Aku kan tidak begitu paham soal begituan. Terus aku undang saja bu Sari, hari minggu besok."


Eni bercerita dengan menggebu-gebu.


"Memangnya dia mau datang?" tanya Danu lagi.


"Bu Sari bilang, besok diusahakan. Soalnya dia juga ada acara besok sore. Dia akan menjamu calon menantu di rumahnya."


Eni menenggak air mineral suaminya sebelum meneruskan ceritanya.


"Besok sore, calon menantunya akan datang ke rumahnya. Hebat ya Pak, cuma mau kedatangan calon mantu saja sampai dipesankan makanan di catering."


"Eh, Pak. Katanya juga, calon mantu dan anaknya itu baru saja lulus SMA. Tapi mereka minta dinikahkan secepatnya," lanjut Eni.


"Memangnya sudah mlendung duluan?" tanya Danu.


"Ih, kamu kalau komentar asal bunyi saja. Tapi aku enggak tau juga sih, Pak. Hehehe," sahut Eni.


"Lha itu kamu malah gak tau. Memang ada alasan lain kalau anak baru lulus SMA dinikahkan? Kecuali...Tania."


Danu berubah sedih mengingat keponakannya yang terpaksa juga dia nikahkan.


"Pak. Aku kok jadi kasihan sama Tania. Nasibnya apes amat ya, itu anak? Coba jadi menantunya bu Sari. Katanya nanti calon mantunya bakal dikasih toko batik juga."


Eni ikutan sedih.


"Ya sudah garis takdirnya, Bu. Dia ikut kita dari kecil, orang tuanya ngilang entah kemana. Sekarang harus menanggung hutang kita."


Danu menatap nanar ke depan. Laju angkotnya pelan.


Danu dan Eni saling berdiam diri. Bukan saling menyalahkan. Tapi mereka sama-sama sedih dengan nasib keponakannya.


Sementara Rendi melajukan motornya pelan juga. Dia masih bimbang dengan permintaan Tania.


Bukan tidak punya uang untuk membayar hotel, tapi Rendi belum pernah sekali pun chek in di hotel, tanpa orang tuanya.


"Kenapa kita cuma muter-muter saja, Ren?" tanya Tania. Dia merasa dari tadi Rendi hanya berputar-putar saja.


"Aku tidak tahu di mana hotel yang aman buat anak seusia kita, Ayang," jawab Rendi.


"Maksudnya?"


"Kalau kita chek in di hotel pasti akan dimintai KTP. Sedangkan aku belum punya KTP walau pun umurku sudah sembilan belas lebih," sahut Rendi.


"Kok kamu belum punya KTP? Aku saja sudah lho. Waktu itu pak RT di tempatku yang membuatkan," ucap Tania.

__ADS_1


"Pak RT di tempatku kan malas. Tidak mau mengurusi keperluan warganya. Maklum RT komplek. Mereka sibuk dengan pekerjaannya sendiri."


Rendi masih melajukan motornya perlahan.


"Apa pakai KTP-ku saja?" ucap Tania.


"Terus kalau ditanya tentang hubungan kita bagaimana?" tanya Rendi lagi.


"Ya bilang saja kita sudah menikah. Suami istri. Begitu kan maksudmu?"


"Buku nikahnya?"


Tania semakin bingung. Mau check in di hotel saja susah amat. Mesti ditanya ini itu. Padahal kan bayar.


"Terus gimana, dong?" tanya Tania dengan sedih.


"Ke rumahku saja, yuk. Kita bisa ngobrol di kamarku. Aman kalau di sana. Apalagi jam segini mamaku belum pulang. Pembantuku juga lagi cuti," ucap Rendi.


"Memang mama kamu kerja dimana?" tanya Tania.


"Mamaku punya toko batik di pasar. Kapan-kapan aku ajak kamu ke sana. Kamu bisa pilih batik manapun yang kamu suka," ucap Rendi.


Tania jadi ingat cerita bibinya yang membeli batik di pasar. Jangan-jangan bibinya beli batik di toko mamanya Rendi.


"Ya sudah terserah kamu, Ren," sahut Tania pasrah.


Rendi melajukan motor menuju ke rumahnya.


Rendi membawa masuk Tania ke rumahnya yang besar. Hampir tiga kali lipat rumah kontrakan paman Tania.


"Bukan rumahku. Tapi rumah mamaku," sahut Rendi.


Tania tersenyum bangga. Karena Rendi bukan orang yang suka menyombongkan kekayaan orang tuanya.


Di dinding ruang tengah terpampang foto Rendi dan juga foto mamanya yang dibingkai sendiri-sendiri.


"Foto papamu kok gak ada, Ren?" tanya Tania.


"Papaku gak pernah mau di foto," sahut Rendi.


Padahal foto papanya sudah di buang semua sama mamanya. Kecuali foto pernikahan yang ada di dinding kamar mamanya.


"Oh. Kok sepi?" tanya Tania lagi.


"Kan sudah aku bilang tadi, mamaku baru pulang sore nanti menjelang maghrib. Kadang juga sampai malam kalau lagi ngurus barang datang. Mbak Sri lagi cuti. Ada juga pak Yadi di kebun belakang," sahut Rendi.


"Papamu?" tanya Tania.


"Kapan-kapan aku ceritain soal papaku," sahut Rendi. Lalu menarik tangan Tania untuk naik ke lantai dua.


"Ini kamarku. Suatu saat akan jadi kamar kita."


Glek.

__ADS_1


Tania menelan ludahnya.


"Masuklah. Aku ambil minuman dulu di bawah."


Rendi turun lagi, dan Tania melangkah masuk ke kamar Rendi yang ukurannya sangat besar.


Ada kamar mandi di dalam kamarnya. Ada televisi yang ukurannya dua kali lipat televisi di rumahnya.


Dan sebuah spring bed ukuran jumbo yang bisa buat loncat-loncat. Tania duduk di tepi ranjang yang sangat empuk itu.


AC yang terus menyala meski penghuninya pergi, membuat hawa di kamar cukup dingin.


Enak banget jadi orang kaya. Batin Tania.


Rendi masuk ke kamarnya sambil membawa dua kaleng minuman dingin. Lalu meletakannya di meja kecil.


"Dito sering ke sini. Biasanya kami main play station," ucap Rendi.


Dito. Tania ingat Dito dulu sering sekali mengajak Tania pergi, tapi selalu ditolaknya.


"Kamu bisa main PS?" tanya Rendi.


Tania menggeleng. Yang Tania tau, PS itu permainan anak lelaki.


"Mamamu tidak marah kalau aku ada di sini?" tanya Tania.


"Tidak, Ayang. Malah mamaku kepingin kenalan sama kamu. Besok sore rencananya mama mau adakan acara penyambutan buat kamu di sini," ucap Rendi.


"Acara penyambutan?"


"Iya. Menyambut calon menantunya. Mama sudah merestui hubungan kita. Mama cuma kepingin kenal sama kamu. Kalau foto kamu, mama sudah tau. Mama juga sudah tau kalau pamanmu hanya sopir angkot. Dan mama tidak masalah," ucap Rendi.


Tania merasa bersalah dengan Rendi dan mamanya. Beberapa hari lagi, mereka akan dikecewakannya. Karena calon menantunya menikah dengan lelaki lain.


"Kok melamun?" tanya Rendi.


Tania menatap wajah Rendi. Ingin tersenyum tapi sangat sulit.


Rendi mengambil kaleng minuman lalu memberikannya satu pada Tania, setelah dibukakannya.


"Minumlah. Adanya cuma ini. Atau kamu mau yang lain? Nanti aku pesankan."


"Tidak. Ini saja, Ren," sahut Tania.


"Aku kesepian di rumah. Papaku jarang pulang. Pulang pun hanya sebentar lalu pergi lagi. Mamaku sibuk mengurus toko batiknya."


Rendi mulai bercerita.


"Itu alasannya kenapa aku kepingin kita segera menikah. Biar aku ada yang menemani. Mama sudah setuju. Kata mama, nanti kamu bisa bantu-bantu mama di tokonya, kalau bosan di rumah. Mama juga janji akan membukakan kita toko batik yang lebih besar buat kehidupan kita nantinya."


Rendi membaringkan tubuh di ranjang empuknya.


Lalu meraih tubuh Tania hingga berbaring juga di sebelahnya.

__ADS_1


"Kamu mau kan, menikah denganku? Menemani aku sampai kita sama-sama tua dan akhirnya kita mati?" tanya Rendi.


Tania tak mampu menjawab. Matanya menatap ke langit-langit kamar Rendi. Dan sebulir air mengalir dari sudut matanya.


__ADS_2