HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 145 AZAB YANG MENAKUTKAN


__ADS_3

"Bu....!" Danu langsung meraih tubuh Eni yang sudah tergeletak di lantai.


"Eni....!" seru Widya. Dia pun langsung mendekati Eni.


"Mba....Eni gimana?" tanya Danu kebingungan. Dia tak bisa lagi menahan tangisnya.


"Bawa ke kamar tamu," ucap Asih. Dia segera berjalan ke kamar tamu.


Danu mengangkat tubuh Eni dan membawanya ke kamar itu.


"Aku carikan minyak angin!" Asih segera ke kamarnya, mencari minyak angin.


"Ini." Asih kembali ke kamar tamu, dan memberikannya pada Widya.


Danu masih memegangi tangan Eni sambil terus menangis.


"Udah jangan cengeng! Ini semua kan juga salah kamu! Nyesel kan?" ucap Widya.


Bukan bermaksud membuat Danu semakin sedih, tapi Widya ingin agar Danu menyadari kesalahannya. Menikahkan Tania dengan Tono yang suka berganti-ganti perempuan.


"Iya, Mba....Aku salah....Aku menyesal....!" sahut Danu sambil menangis.


"Menyesal sekarang udah enggak ada gunanya. Sekarang yang harus kamu lakukan, cari Tania sampai ketemu. Dan pastikan dia enggak ketularan si Tono!" ucap Widya, sambil membalurkan minyak angin di beberapa bagian tubuh Eni.


"Bagaimana kalau sampai Tania ketularan?" tanya Danu sambil terisak.


"Ya itu tanggung jawab kamu. Kamu harus mengobatinya sampai sembuh!" jawab Widya.


"Uangnya dari mana, Mba?" tanya Danu.


"Kenapa kamu tanya aku? Kan kamu yang selama ini makan duitnya Tono! Jual tuh semua pemberian Tono, buat pengobatan Tania!" jawab Widya.


"Iya, Mba. Aku akan jual semuanya. Demi kesembuhan Tania," sahut Danu. Lalu menghapus air matanya. Dia bertekad akan mencari Tania sampai ketemu.


Diman keluar dan duduk di teras rumah Tono. Pikirannya melayang ke semua kejadian di rumah ini.


Diman bergidig ngeri. Betapa Sang Maha Kuasa kalau sudah mengeluarkan azabnya, sangat menakutkan. Dan bisa menghancurkan siapa saja.


Diman bersyukur dia tak sempat icip-icip tubuh Linda. Karena bisa dipastikan Linda tertular penyakit itu.


Dan Tajab?


Diman jadi kasihan pada Tajab. Tajab yang sudah beberapa kali menggarap Linda. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.


Asih mencari Diman. Dia mau menanyakan keberadaan suamknya.


"Man, suamiku dimana?" tanya Asih.


"Yahya dapat tugas dari bu Sari, menunggui juragan Tono selama dirawat di rumah sakit," jawab Diman.


"Waduh!" Asih terperanjat juga cemas.


"Enggak usah khawatir! Laki elu kagak bakalan diperkosa sama juragan Tono! Hahaha," ledek Diman.

__ADS_1


"Ngaco aja lu, kalau ngomong!" sahut Asih.


"Lah, kan emang bener begitu. Elu kuatir kan, kalau laki lu ketularan?" tanya Diman.


Asih mengangguk.


"Penyakit itu kagak bakalan nular, kalau kita kagak berhubungan badan ama orangnya. Paham?" Diman bergaya kayak orang yang paling paham saja.


Asih mengangguk. Dia cukup lega dengan penjelasan Diman. Meski di hatinya masih ada rasa khawatir. Sebab Yahya adalah miliknya satu-satunya. Setelah anak semata wayangnya meninggal.


Setelah Eni siuman, Danu meminta Diman mengantarnya pulang.


"Elu kagak nyariin Tania lagi?" tanya Diman di jalan.


"Nyariin, lah. Emangnya elu mau nganterin?" tanya Danu.


Dia berharap Diman mau mengantarnya pakai mobil Tono.


"Gue sih mau mau aja. Pake mobil ini juga kagak apa-apa. Juragan kan lagi di rumah sakit. Lagian ini juga misinya, nyariin Tania sampai ketemu. Tapi elu ada duit kagak? Buat beli bensinnya?" tanya Diman.


Danu menoleh ke belakang. Melihat ke arah Eni yang masih terduduk lemas.


"Gimana, Bu?" tanya Danu.


Eni mengangguk.


"Cari Tania sampai ketemu, Pak. Berapapun biayanya, aku akan usahakan," jawab Eni.


"Iya. Nanti aku bantu kalau cuma buat beli bensin," sahut Widya. Dia juga sangat berharap Tania diketemukan, bagaimanapun caranya.


"Iya. Aku nemenin Eni," jawab Widya.


"Lu siap kan, Bro?" tanya Danu pada Diman.


"Siap, Bos!" jawab Diman.


Dia juga tak ada kerjaan. Tono masuk rumah sakit. Tidak ada yang bisa dikerjakannya.


Soal menunggui Tajab, itu biar tugasnya Wardi. Dia mending memilih nyariin Tania bersama Danu. Bisa jalan-jalan dan cuci mata.


Sementara Sari tadi langsung kembali ke kamar rawat Rendi. Wajahnya sangat menggambarkan kesedihan.


"Gimana, Ma? Papa sakit apa?" tanya Rendi.


Sari menghela nafasnya dalam-dalam.


"Papamu kena....penyakit kelamin. Sifilis," jawab Sari.


"Hah...?" Rendi terperanjat mendengarnya.


"Mama juga kaget. Tapi itulah hukuman buat papamu yang suka ganti-ganti perempuan. Mungkin salah satu dari mereka ada yang membawa penyakit itu. Nempel deh, di burung papamu!" ucap Sari dengan kesal.


Meskipun ada rasa kasihan pada Tono, tapi Sari juga kesal. Dia juga bakalan malu, punya suami terkena pengakit seperti itu.

__ADS_1


"Terus papa udah sadar?" tanya Rendi.


"Udah. Udah dipindahin ke kamar rawat inap," jawab Sari. Padahal dia belum melihatnya sendiri.


"Kenapa Mama enggak nungguin papa aja?" tanya Rendi. Dia berharap Sari menunggu di sana. Dan Tania yang akan menunggunya.


"Ah, biarin aja anak buahnya yang nungguin. Ngapain Mama nungguin papamu? Kemarin-kemarin waktu sehat, dia juga enggak peduli sama Mama!" jawab Sari.


Rendi hanya bisa diam. Bagaimanapun, mamanya pasti sangat sakit hati pada papanya.


"Mama juga tadi diperiksa darahnya di lab," ucap Sari.


"Lho, kok?" tanya Rendi tak mengerti.


"Kata dokter, buat memastikan aja. Padahal Mama udah bilang, kalau kita sudah tak berhubungan badan selama hampir sepuluh tahun," jawab Sari.


Degh!


Lalu bagaimana dengan Tania?


Benarkah apa yang dikatakan Tania, kalau dia tak pernah berhubungan badan dengan papanya?


Bagaimana kalau Tania berbohong padanya?


Berbagai macam pertanyaan tentang Tania, muncul di kapala Rendi.


Tapi Rendi tak mau membicarakan pada mamanya. Dia tahu kalau mamanya tak pernah menyetujui hubungannya dengan Tania.


"Ren. Kenapa kamu enggak menyuruh Monica kesini? Kan bisa menunggui kamu," tanya Sari.


Rendi kembali terperanjat. Dia tak mengira mamanya malah menanyakan tentang Monica.


Padahal selama ini mamanya tak suka dengan Monica. Bahkan ingin dia meninggalkan Monica dan cari wanita lain.


"E....Enggak, Ma. Mm...Monica lagi sibuk...ujian!" jawab Rendi tergagap.


Ah...untung mama tak punya nomor telponnya Monica. Batin Rendi.


Rendi sudah bertekad melupakan Monica. Dia mau fokus pada kesembuhannya dan rencana kabur bersama Tania.


Tapi bagaimana kalau Tania tertular penyakit itu?


Ah, aku enggak peduli. Toh, pasti akan bisa disembuhkan.


Apapun kondisi Tania, aku akan menerimanya. Dan seandainya Tania berhubungan dengan papa, itu pasti bukan kemauannya.


Rendi terus saja meyakinkan dirinya sendiri. Dia tak mau goyah oleh apapun.


Sari sendiri merasa heran, kenapa Rendi tak menanyakan Tania lagi?


Walaupun dalam hati juga merasa senang. Mungkin memang Rendi sudah bisa melupakan Tania.


"Ya udah. Kalau begitu, biar Monica fokus dulu dengan ujiannya," jawab Sari.

__ADS_1


Hh! Sari menghela nafas lega. Tak ada Tania. Tak ada Monica juga.


Dua wanita yang tak diinginkan Sari menemani anaknya kelak.


__ADS_2