HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 26 TERSANGKUT RETSLETING


__ADS_3

Ponsel Rendi berbunyi. Dito sahabatnya yang menelpon.


"Ngapain sih ini anak, pagi-pagi udah telpon," gerutu Rendi.


"Eh, gak boleh begitu. Siapa tau penting." Sari yang melihat nama Dito di layar ponsel anaknya, menasehati.


Rendi menjauh dari mama dan papanya.


"Apaan sih lu, pagi-pagi udah gangguin gue aja!" Rendi langsung ngomel-ngomel pada sahabatnya.


"Yaelah. Sensi amat sih lo!" Dito menjawab dari seberang sana.


"Udah buruan bilang. Gue banyak urusan ini!"


"Iya dodol! Gue juga baru mau bilang. Elo bisa jemput kesini kagak?" tanya Dito dengan nada memelas.


"Kemana?"


Lalu Dito menceritakan kalau ban motornya bocor. Dia berada tidak jauh dari rumah Rendi.


"Kampret lu ah. Timbang gitu aja lu minta tolong gue. Lu pikir gue tukang tambal ban?"


"Tolongin gue, Ren. Tukang tambal bannya jauh. Bete kan kalau gue mesti dorong motor sendirian?" Dito mulai dengan aksi memelasnya.


Dia tahu persis kalau sahabatnya yang satu ini, walaupun tengil tapi tidak tegaan.


"Ya udah, Sharelok! Gue ke sana sekarang!"


Dengan senang hati Dito mengirimkan share lokasinya.


Dasar kampret. Pagi-pagi udah ngerepotin orang. Gumam Rendi.


Sementara papa Rendi yang masih penasaran dengan keinginan anaknya, berusaha mencari informasi tentang calon istri Rendi pada istrinya.


"Apa Rendi serius dengan keinginannya menikah?" tanya papa Rendi pada istrinya.


"Iya. Memang kenapa? Mau dibarengkan sekalian dengan pernikahanmu?" sahut Sari dengan sengit.


Sari masih saja menyindir suaminya yang mata keranjang. Dan berniat menikah lagi untuk yang kesekian kalinya.


"Ma, Rendi pergi dulu ya. Ada urusan sama Dito," ucap Rendi pada mamanya setelah dia selesai menerima telpon Dito.


"Iya, Sayang. Jangan lupa nanti bawa Tania ke rumah. Mama pingin kenal," sahut Mamanya. Suaranya sengaja dikeraskan agar suaminya mendengar.


"Pasti, Ma. Nanti Rendi bawa Tania ke sini. Assalamualaikum, Ma. Pa, Rendi pergi dulu," pamit Rendi dan langsung meraih kunci motor dan jaket kulitnya.


"Kenapa kamu menyetujui keinginan Rendi, Ma? Rendi kan masih kecil?" tanya papanya Rendi.


"Memang kenapa kalau Rendi masih kecil? Bukankah calon istrimu juga masih kecil?" sahut Sari.


"Itu beda, Ma!"


"Apanya yang beda? Sama-sama kecil kan? Udah, ah. Aku mau ke pasar dulu. Sekalian nyiapin baju buat acara lamarannya Rendi!"


Sari semakin senang meledek suaminya.

__ADS_1


"Tunggu dulu, Ma!"


"Apa lagi? Aku sudah kesiangan!" sahut Sari sambil terus berjalan keluar rumahnya.


Suaminya terus mengikuti.


"Ma! Apa kamu sudah kenal dengan calon istrinya Rendi?"


Sari menoleh pada suaminya yang terus mengikutinya.


"Belum. Makanya tadi aku minta Rendi membawanya ke sini," jawab Sari, lalu menstater motor matic kesayangannya.


"Kapan?" suaminya masih saja penasaran.


Sari hanya mengangkat bahunya, lalu melajukan kendaraannya.


Papanya Rendi kesal karena rasa penasarannya tak terjawab.


Dasar istri penyakitan! Kalau bukan karena Rendi, sudah aku ceraikan kamu dari dulu.


Gumam papa Rendi dalam hatinya.


Sari memang menderita penyakit di rahimnya. Setiap kali berhubungan badan, bagian intinya akan mengeluarkan darah. Dan dia akan merasakan kesakitan yang luar biasa.


Dokter sudah menyarankan untuk operasi. Tapi Sari menolaknya karena takut.


Akhirnya Sari hanya melakukan terapi saja di tempat-tempat pengobatan alternatif. Walau pun tak membuahkan hasil yang memuaskan.


Itu salah satu penyebab dia tidak mau lagi melayani suaminya. Dan menjadikan alasan suaminya untuk mencari kepuasan di luar dengan menikahi perempuan-perempuan lain.


"Yadi!"


"Iya, Pak." Dengan tergopoh-gopoh, Yadi mendatangi majikannya.


"Nih, bawa mobilku ke tempat cucian mobil. Nih uangnya!"


Yadi menerima kunci mobil dan selembar uang berwarna merah.


"Kalau saya cuci sendiri boleh tidak, Pak? Tapi uangnya buat saya. Istri saya nanti sore minta periksa kandungannya ke bidan." Yadi mencoba melaba.


Padahal Yadi tak pernah sekalipun memikirkan istrinya yang hamil anak ke limanya.


Jangankan memikirkan periksa ke bidan, Yadi saja tak pernah tahu usia kandungan istrinya.


Mampus! Batin papa Rendi. Bisa gagal pelampiasannya.


"Terserah kamu, Yadi! Tapi jangan di sini. Nanti halaman rumahku basah semua!" Akhirnya ada juga alasannya mengusir Yadi walau pun tak masuk akal.


"Iya, Pak. Saya cuci di halaman rumah saya saja," sahut Yadi. Dalam hatinya Yadi bingung dengan alasan majikannya.


Takut halaman rumahnya basah. Bukankah kalau hujan juga semua halamannya akan basah.


Yadi tak mau ambil pusing lagi. Dia segera membawa pergi mobil majikannya. Yang penting lembaran merah akan jadi miliknya. Bisa buat mentraktir bakso janda kembang incaran Yadi.


Yadi memang dipekerjakan sebagai tenaga serabutan. Kadang jadi tukang kebun, kadang jadi sopir pribadi. Kadang juga jadi jongos yang disuruh ini dan itu.

__ADS_1


Bagi Yadi yang butuh pekerjaan, apa saja dilakoni asal bisa dapat uang.


"Sri...!" Teriak sang majikan memanggil pembantu seksinya.


"Iya, Pak," sahut Sri, lalu menghampiri majikannya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


"Pijiti bahuku! Pegal sekali rasanya!" perintah sang majikan.


"Baik, Pak. Saya matikan kompor dulu," pamit Sri. Asik, bakal dapat uang tambahan, seru Sri dalam hati.


"Sri...! Buruan!"


Sri bergegas mendatangi majikannya lagi. Lalu mulai memijat bahu majikannya.


"Ke punggung, Sri."


"Iya, Pak." Tangan Sri dengan lincah turun ke punggung majikannya. Sengaja Sri juga menggesek-gesekan dua gunung kembarnya, biar majikannya greng.


"Kakiku, Sri." Sri pun menuruti semua permintaan majikannya.


"Duduk sini, Sri." Papanya Rendi menepuk sofa di sebelahnya.


Sri pun menurut. Papa Rendi mulai mencumbu Sri, setelah seluruh tubuhnya dipijat.


Sri menikmati cumbuan majikannya. Tumben sekali majikannya melakukan cumbuan dulu. Biasanya to the point.


"Sri...cumbu aku," pinta majikannya. Sri pun mencumbu majikannya sampai majikannya kelojotan dan merasa tidak tahan lagi.


Baru digituin aja udah mau keluar, gumam Sri dalam hati.


"Sri, buka celana dalammu," perintah majikannya. Papa Rendi sudah tidak bisa menahan lagi.


"Tapi...ini kan di ruang tamu, Pak." Sri takut nanti cairannya bercecer di sofa mahal milik majikannya. Bisa kena semprot oleh majikan perempuannya.


"Udah cepetan Sri, aku sudah tidak tahan." Papanya Rendi mulai membuka retsleting celananya.


Sri juga sudah memelorotkan ****** ********. Dan siap beraksi di atas tubuh majikannya.


Tapi tiba-tiba motor Rendi masuk ke pelataran rumah.


Sri buru-buru turun dari atas tubuh majikannya.


"Mas Rendi pulang, Pak!" ucap Sri, lalu menaikan lagi ****** ********. Dan berlari menuju dapur lagi.


Papa Rendi yang sudah merem melek, terpaksa menarik kembali retsletingnya.


Karena terburu-buru, beberapa bulu gondrongnya nyangkut di retsleting.


"Auwh!" teriak papa Rendi sambil meringis menahan perih.


Rendi yang datang bersama Dito, spontan berlari mendengar teriakan papanya.


"Ada apa, Pa?" tanya Rendi dengan terengah-engah. Diikuti Dito di belakangnya.


"Ti..dak apa-apa," sahut papa Rendi berusaha sekuatnya menahan perih.

__ADS_1


__ADS_2