
Tania dan Eni hanya mematung, dengan mulut menganga. Tania menangkup mulutnya dengan satu tangan.
Widyapun hanya bisa terdiam. Seluruh persendiannya terasa lemas. Air matanya kembali mengalir deras.
Widya sangat terpukul. Sangat miris dengan apa yang terjadi pada Lintang.
Dulu dia meminta cerai dari suaminya, bapaknya Lintang, karena dia telah menghamili wanita lain. Sekarang malah anaknya sendiri hamil dengan lelaki bersuami.
Dulu Widya pernah melabrak wanita yang mengaku hamil dengan suaminya. Lalu sekarang, bagaimana kalau istri dari lelaki itu melabrak Lintang?
Kepala Widya mendadak berdenyut.
"Kenapa kamu lakukan itu, Lintang?" tanya Widya perlahan setelah dia mampu menguasai emosinya.
"Maafkan Lintang, Bu. Lintang khilaf. Lintang terjebak, Bu," jawab Lintang sambil terus menangis.
"Dia menjebakmu?" tanya Widya.
Lintang menghapus air matanya.
Tania berinisiatif memberikan segelas air putih untuk Lintang dan Widya.
Setelah semua bisa tenang, barulah Lintang bisa menceritakan dengan tenang juga.
Lintang mengenal Haryo di tempat kerjanya. Di hotel yang kini keluarganya menginap.
Lintang sudah tahu kalau Haryo sudah punya istri. Istri Haryo adalah adik dari Yana. Resepsionis di hotel tempatnya bekerja.
Suatu saat Haryo menceritakan tentang masalah rumah tangganya.
Flash back.
"Lin, nanti malam kamu ada acara enggak?" tanya Haryo saat itu.
"Enggaklah. Jomblo macam aku, kalau udah pulang kerja ya tidur. Mau apa lagi?" jawab Lintang.
"Kalau begitu, ikut aku yuk ke cafe. Ada yang mau aku ceritain sama kamu," ajak Haryo.
Karena Lintang memang tak punya acara, dia mau menerima ajakan Haryo. Dan mereka pun janjian ketemu di sebuah cafe.
Sebelum ke cafe, Lintang pulang dulu ke kosannya untuk mandi dan ganti baju.
Sampai di cafe, Haryo sudah duduk sambil merokok di sudut ruangan. Pemandangan yang tak pernah dilihat oleh Lintang selama dia mengenal Haryo.
Mungkin karena Lintang hanya bertemu dan ngobrol dengan Haryo saat di hotel. Dan peraturan hotel, tak boleh ada karyawan yang merokok di area hotel.
Lintang hampir tak pernah nongkrong dengan teman-temannya. Selesai bekerja, dia akan langsung pulang ke kos dan tidur.
__ADS_1
Lintang menghampiri meja Haryo. Ternyata di atas meja, bukan hanya ada rokok, tapi ada juga botol minuman keras.
Lintang mulai merasa tak nyaman. Tapi karena selama ini dia mengenal Haryo sebagai pribadi yang baik, Lintang tetap duduk di sofa. Bersebelahan dengan Haryo. Karena di dekat meja itu, hanya ada satu sofa saja.
"Mau minum apa kamu, Lin?" tanya Haryo. Aroma alkohol menguar dari mulutnya.
"Memangnya di sini ada minuman apa aja?" Lintang balik bertanya.
"Banyaklah. Sebentar."
Haryo memanggil seorang waiter dengan melambaikan tangannya. Waiter itu datang menghampiri.
"Iya, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya waiter itu.
"Ini istriku mau pesen minum. Silakan, Sayang. Kamu mau minum apa?" Haryo menatap ke arah Lintang.
Lintang terhenyak mendengarnya.
Istriku? Gila apa? Sejak kapan aku jadi istrinya? Apa jangan-jangan Haryo sudah mabuk? Batin Lintang.
Reflek Lintang melihat ke arah botol minuman keras. Terlihat isinya tinggal setengah.
Fix, Haryo sudah mulai mabuk. Lintang mulai jaga jarak dengan Haryo.
Lalu Lintang menyebutkan nama minuman yang akan dipesannya. Biar bagaimanapun, Lintang yang bekerja sebagai chef di hotel berbintang, paham mana minuman yang mengandung alkohol, mana yang tidak.
"Udah ini aja, Kak?" tanya waiter.
Lintang mengangguk.
"Kadang-kadang aja. Kalau lagi banyak masalah," jawab Haryo.
"Memangnya seberapa banyak masalah kamu? Sampai kamu melampiaskan dengan minuman," tanya Lintang.
"Banyak banget, Lintang. Kamu belum pernah berumah tangga. Jadi kamu tak pernah merasakannya," jawab Haryo.
Lintang mengangguk mengerti. Jangankan berumah tangga, untuk memulai menjalin hubungan yang serius saja, Lintang belum berani.
"Kamu kenal Yana, kan?" tanya Haryo.
Lintang mengangguk. Tapi dia tak mengerti, kenapa Haryo tiba-tiba menanyakan Yana.
"Istriku itu sifatnya sebelas dua belas dengan Yana. Borosnya minta ampun. Dikasih uang berapapun selalu kurang. Sementara, kamu tau sendiri kan, gajiku itu berapa?" Haryo memulai curhatnya.
Lintang hanya diam saja. Menyimak cerita Haryo tentang Yani, istrinya.
Kemudian waiter datang membawakan minuman pesanan Lintang.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Lintang.
Waiter itupun mengangguk dan pergi meninggalkan Lintang dan Haryo.
Lalu Haryo kembali menceritakan tentang sifat boros istrinya yang terlalu banyak menuntut, sambil sesekali menenggak minumannya.
"Udah, Haryo. Kamu udah terlalu banyak minum. Nanti kamu mabuk." Lintang menjauhkan botol minuman dan gelasnya.
"Enggak apa-apa. Aku kuat kok. Aku enggak akan mabuk, kalau hanya minum satu botol," sahut Haryo. Tapi suaranya sudah parau dan tatapan matanya sudah mulai nanar.
Lintang hanya menghela nafasnya. Lalu meminum minumannya sendiri.
Lintang merasa ada yang aneh dengan rasa minumannya. Di hotelnya, rasa minuman itu tidak ada pahit-pahitnya. Tapi ini ada sedikit rasa pahit.
Sebagai seorang chef, lidah Lintang sangat sensitif terhadap apapun yang masuk ke mulutnya.
Tapi Lintang masih berpikiran positif. Dia hanya mengira-ngira, mungkin si pembuat minumannya terlalu banyak memberikan satu bahan. Yang menurut pikiran Lintang, bisa menimbulkan rasa pahit.
Lintang kembali fokus pada Haryo. Haryo pun seperti mendapatkan angin segar. Dia kembali berceloteh. Menceritakan tentang keburukan istrinya.
Karena Lintang memang belum punya pengalaman apapun pada pasangan, dan juga usia Lintang yang dibawah Haryo, Lintang tak berani memberikan nasehat.
Lintang hanya mendengarkan cerita dari Haryo dengan serius. Dan tanpa sadar, Lintang kembali meminum minumannya hingga sisa setengahnya.
Saat itulah, Lintang merasakan kepalanya pening. Dunia seakan berputar-putar.
"Kamu kenapa, Lin?" tanya Haryo pura-pura. Padahal dia memang sengaja menyuruh waiter yang teman akrabnya, untuk memasukan obat perangsang di minuman Lintang.
"Enggak tau, kepalaku tiba-tiba pusing." Lintang memegangi kepalanya.
"Kamu mau pulang?" tanya Haryo, sambil ikut memegangi kepala Lintang.
Sentuhan Haryo itu malah membuat Lintang seperti orang yang mendapatkan angin segar.
Lintang malah menyentuh tangan Haryo dan menggenggamnya dengan erat.
Dan tanpa sadar, Lintang mendekatkan wajahnya pada Haryo. Dan tanpa sadar juga, mereka berciuman.
Hal yang belum pernah dilakukan oleh Lintang sebelumnya. Bahkan ciuman Lintang sangat buas.
Haryo yang merasa Lintang sudah masuk perangkapnya, membawa Lintang pulang ke tempat kos. Kebetulan tempat kos Lintang tak jauh dari cafe itu.
Lintang dibonceng oleh Haryo dengan motor. Di boncengan, Lintang mendekap tubuh Haryo dengan erat. Sambil tangannya memainkan perut Haryo.
Dan sampai di tempat kos Lintang yang sudah sepi, Haryo membimbing Lintang untuk masuk ke kamar.
Haryo pun ikut masuk dan mengunci pintunya dari dalam. Lintang yang sudah dipengaruhi obat, membuatnya lupa diri.
__ADS_1
Lintang pasrah saja saat Haryo mengambil kesuciannya. Dan malam itu, menjadi malam yang teramat sial bagi Lintang.
Dia telah dijebak oleh Haryo dan kehilangan kesucian yang selalu dijaganya selama ini.