
Hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di pantai tempat dimana dulu Rendi pernah membawa kabur Tania. Dan mereka berdua melakukan hubungan yang terlarang.
Tania menatap jalan masuk ke pantai yang masih dihafalnya. Bahkan letak hotel dimana mereka pernah melakukan dosa besar itupun, Tania masih mengingatnya dengan jelas.
"Kamu masih mengingatnya?" tanya Rendi sambil menggenggam tangan Tania dengan erat.
Tania hanya mengangguk dalam diam. Ingatannya melayang ke beberapa bulan yang lalu. Bahkan sudah hampir satu tahun berlalu.
Rendi semakin erat menggenggam tangan Tania.
"Kita mau parkir dimana, Mas Rendi?" tanya Yadi.
"Cari parkiran yang paling dekat dengan pantai aja, Pak," jawab Rendi.
"Siap," ucap Yadi. Dia pun mulai menyusuri lokasi wisata yang sangat indah, meski cuaca sudah mulai panas.
"Wah...indah banget pantainya," gumam Mila. Seumur hidup baru kali ini Mila pergi ke pantai.
Mila yang hanya hidup di sebuah panti asuhan sederhana, tak pernah merasakan yang namanya healing ke pantai.
Paling banter dia dan teman-temannya diajak pergi ke taman kota yang tak jauh dari panti.
Mereka akan berjalan kaki bersama-sama dan bermain sepuasnya di taman.
"Kamu belum pernah ke pantai, Mil?" tanya Tania yang mendengar gumaman Mila.
"Belum. Mana ada anak panti piknik ke pantai," jawab Mila.
Tania jadi berpikir, kasihan sekali Mila. Mungkin kalau dia dulu tak diasuh oleh paman dan bibinya, nasibnyapun tak beda dengan Mila.
Tetangga pasti akan mengirimnya ke panti asuhan. Karena dia diterlantarkan kedua orang tuanya.
"Kok ngelamun, sayang?" tanya Rendi.
"Eh. Enggak kok." Tania terkesiap, lalu berusaha bersikap biasa saja.
"Ngelamunin apa?" Rendi tak percaya pada jawaban Tania.
"A...Aku enggak ngelamun kok," jawab Tania tergagap.
Rendi tersenyum. Dalam hati masih berpikir pasti ada yang membuat Tania tak enak hati, sampai akhirnya hanyut sekejab dalam lamunan.
"Ya udah, kita turun yuk," ajak Rendi pada Tania.
Yadi sudah mendapatkan tempat parkir yang nyaman dan dekat dengan pantai, sesuai keinginan Rendi.
Mobil Dito pun ikut parkir di sebelah mobil Rendi.
"Kasihan tuh, yang belum pernah main ke pantai. Pasti udah pingin lari-larian di pinggir pantai," lanjut Rendi.
"Ya iyalah," sahut Mila. Dia sudah bete berlama-lama di mobil.
__ADS_1
"Jangan ke tengah-tengah, Mil. Entar diseret ama ratu pantai selatan lho," ucap Rendi.
"Hah...!" Mila melongo.
Dia jadi ingat dengan cerita mistis yang berkembang di masyarakat, tentang ratu pantai selatan.
Hiih...! Mila bergidig ngeri. Dalam bayangannya, ratu pantai selatan itu sangat kejam. Dia akan menyeret siapapun yang diingininya, lalu memangsanya hidup-hidup.
"Ayo turun," ucap Yadi.
Sri pun turun dan mencoba membantu Tania yang sedang membantu Rendi turun.
"Enggak usah, Mbak. Biar Tania aja," tolak Rendi. Bukan apa-apa, Rendi cuma merasa tak nyaman saja kalau ditolong banyak orang.
"Iya, Mbak. Biar aku saja," ucap Tania.
Tania merengkuh lengan Rendi dengan posisi hampir memeluk.
Rendi merasa sangat bahagia. Kekasih hatinya begitu perhatian padanya.
Mila juga ikut senang. Majikannya yang ganteng maksimal, mendapatkan wanita yang sangat lembut dan cantik seperti Tania.
Meskipun kesempatannya mendapatkan Rendi sirna. Tapi bagi Mila, tak apa. Dia cukup tahu diri untuk tak berharap lagi.
Kecuali kalau dengan Monica. Aku berani bersaing. Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan Rendi. Batin Mila.
Setelah Rendi turun, giliran Yadi yang membantu Mila keluar dari mobil. Bukan merengkuh Mila seperti yang dilakukan Tania pada Rendi.
"Mau aku peluk?" ledek Yadi.
"Ish...Apaan sih? Aku bisa sendiri!" sahut Mila dengan ketus.
"Ya kali aja kamu iri sama mas Rendi,"ucap Yadi dengan santainya.
Jelas saja Mila cemberut. Lalu berusaha turun sendiri.
"Kalian kalau mau jalan-jalan, silakan. Aku sama Tania mau ke sana," ucap Rendi. Lalu menunjuk ke arah sebuah gubug di pinggir pantai yang tak jauh dari parkiran.
"Makanannya gimana, Mas Rendi?" tanya Sri.
"Kalian bawa makanan?" tanya Rendi pada Sri.
"Iya. Tadi pagi-pagi saya dan Mila masak buat makan kita di sini," jawab Sri.
Rendi menghela nafasnya.
"Kan udah aku bilang, Mbak. Kita healing terus kita makan di restauran di sana itu." Rendi menunjuk ke sebuah restauran yang agak jauh.
Tapi dari kejauhan, sudah terlihat betapa indahnya pemandangan di sekitar restauran itu.
Sri dan Mila berpandang-pandangan.
__ADS_1
"Saya pikir, kalau kita semua makan di sana...pasti akan banyak sekali habisnya. Jadi...kita berinisiatif untuk membawa makanan sendiri. Nanti di sana kita tinggal pesan minumnya saja," sahut Sri.
Alasan yang logis. Mila pun mengangguk, mengiyakan.
"Mana bisa begitu, Mbak. Bisa bangkrut kalau semua pengunjungnya begitu," ucap Rendi.
"Kok bangkrut? Kita kan pesan minumannya?" tanya Sri tak mengerti.
"Mbak Sri pikir, pihak restauran enggak membayar karyawan untuk melayani pengunjungnya?" jelas Rendi.
Sri diam berpikir. Begitu juga Mila. Sedangkan Yadi, asik memperhatikan orang-orang yang lalu lalang.
Mereka juga membawa banyak perbekalan dari mobil dan berjalan ke arah pantai.
Ada yang membawa kotak makanan. Ada yang membawa tikar, bahkan ada juga yang membawa ban. Sepertinya mereka siapkan untuk mandi di pantai.
"Mbak. Di restauran manapun, melarang pengunjung membawa makanan sendiri dari luar," lanjut Rendi.
Sri dan Mila manggut-manggut. Meski dalam hati mereka masih merasa belum menerima alasan Rendi.
"Tapi kalau kalian sudah terlanjur membawa makanan, ya udah. Kita nanti makannya di pinggir pantai aja. Ke restaurannya dicansel," ucap Rendi tak sungguh-sungguh. Dia hanya ingin meledek Sri dan Mila.
Hhmm...! Mila langsung melengos sambil cemberut. Sri pun hanya menelan ludahnya saja.
Sri dan Mila jadi merasa menyesal. Sudah capek-capek masak, malah enggak jadi makan di restauran.
Tania menyenggol lengan Rendi. Rendi pun menoleh ke arah Tania.
"Ada apa, sayang?" tanya Rendi.
Tania memberi kode pada Rendi dengan dahunya yang diarahkan ke Sri juga Mila.
"Enggak, sayang. Kita tetap ke sana. Aku cuma meledek mereka," bisik Rendi di telinga Tania.
Tania tersenyum mengerti. Rendi memang orangnya suka iseng. Siapapun bakal diledekinnya. Apalagi kalau yang diledekin baper. Rendi jadi lebih bersemangat lagi.
"Heh, Bro! Kita mau kemana nih?" tanya Dito yang sudah sampai di dekat Rendi.
"Terserah elu mau kemana! Gue mah ama Tania mau pacaran!" sahut Rendi dengan entengnya.
"Maksud lu? Kita kesini cuma nganterin kalian pacaran doang?" tanya Dito lagi.
"Yoi!" jawab Rendi.
"Ayo sayang. Kita kesana," ajak Rendi pada Tania. Tanpa menghiraukan tatapan kesal dan tak mengerti dari Dito.
"Dasar kampret!" maki Dito.
Kalau saja Rendi tidak sedang sakit, pasti Dito sudah melemparkan sepatunya ke arah Rendi.
Dimaki seperti itu, bukannya marah. Rendi malah tergelak sambil terus menggandeng tangan Tania.
__ADS_1