
"Siapa, Bro?" tanya Dito. Matanya mengikuti mata Rendi dan Tania yang kembali mencari keberadaan Monica.
"Monica!" jawab Rendi.
"Monica?" Dito benar-benar ikut mencari keberadaan Monica.
"Siapa, sayang?" Mike yang ikut mendekat, bertanya pada Dito.
"Monica!" jawab Dito.
"Hah...! Si Mon-mon? Mana?" Mike ikutan menatap ke arah Monica menghilang.
"Tau...! Aku juga belum liat," jawab Dito.
"Tadi dia di sana, Mik," sahut Tania.
Tania dan Rendi sempat melihat sosok Monica sekilas. Tapi sesaat kemudian, Monica kabur. Hilang diantara kerumunan banyak orang.
Mike melihat ke arah yang ditunjuk Tania. Jelas saja Monica sudah tak ada lagi.
"Mau ngapain dia kesini?" tanya Mike.
Tania dan Rendi mengangkat bahunya.
"Darimana dia tau kalau kita ada disini?" tanya Dito.
Tania dan Rendi kembali kompak mengangkat bahu.
"Mungkinkah ada yang membocorkan rencana kita ini?" tebak Mike.
Tania menatap Mike.
Membocorkan pada Monica? Siapa? Dan apa untungnya? Tanya Tania dalam hati.
Tania juga berpikir, diantara orang-orang yang ikut piknik, tak ada yang mengenal Monica. Hanya Sri dan Mila.
Dan Tania tak yakin dua orang itu punya nomor kontak Monica. Bukankah mereka berdua tak menyukai Monica?
"Kayaknya gak ada. Siapa disini yang kenal ama Monica. Paling banter mbak Sri ama Mila. Mereka enggak mungkin bilang ke Monica," sahut Rendi.
"Ya udah. Anggap itu sebuah kebetulan aja. Ya, meskipun masih perlu dicurigai," ucap Dito.
"Siapa yang perlu dicurigai, sayang?" tanya Mike.
"Monica. Pasti ada maksud tertentu sampai dia ada di sini juga," jawab Dito.
"Coba aja kalau berani!" ucap Rendi dengan geram.
"Iya! Aku siap menghajarnya!" timpal Mike tak kalah geramnya.
Tania hanya diam saja. Dia juga sebenarnya geram juga pada Monica. Tapi masih bisa menyimpan emosinya. Dan mungkin nanti akan diluapkan pada saatnya.
"Kamu belum selesai makannya, sayang?" tanya Dito pada Mike.
Dito sendiri sudah selesai dari tadi. Dan Mike seperti tak ada kenyangnya. Meski ambilnya sedikit-sedikit, tapi semua makanan diicipnya.
Alasannya biar bisa ngerasain semua makanan yang ada.
"Belum. Hehehe." Mike nyengir tanpa rasa bersalah.
"Ya udah. Lanjutin. Tapi kalau badanmu nanti mekar, jangan heboh lho ya," ucap Dito.
Karena dari pengalaman, Mike akan sangat heboh kalau berat badannya naik, walau cuma satu kilo.
__ADS_1
"Ren. Aku kok kebelet pipis, ya," ucap Tania pelan pada Rendi.
Rendi kebingungan menjawabnya. Dalam hati kepingin sekali mengantar Tania cari toilet. Tapi apa daya kondisinya belum memungkinkan.
Kalau Tania mesti menuntunnya sampai dapet toilet, Tania bakalan ngompol di celana.
"Biar diantar Dito ya, sayang," sahut Rendi.
Bagaimana pun Rendi tak tega membiarkan Tania pergi nyari toilet sendirian.
"Tapi Mike?" tanya Tania tak enak hati.
Saat ini Dito sedang menunggui Mike makan. Dan beberapa kali membantu Mike mengambilkan makanan yang letaknya agak jauh.
"Mike biar di sini dulu. Lagian kan cuma ke toilet aja. Gak akan seharian, kan," jawab Rendi.
Tania mengangguk. Dia juga tak berani kalau harus nyari toilet sendirian. Apalagi tadi ada Monica di sekitar mereka.
Bukannya Tania takut pada Monica. Tapi Tania khawatir saat dia berada di dalam toilet, Monica berbuat iseng padanya.
"Dit! Dito!" panggil Rendi.
Dito duduk agak jauh dari Rendi dan Tania. Dito menemani Mike makan di tengah-tengah tikar.
Disana bergerombol wanita-wanita. Cuma Dito yang laki-laki. Demi Mike, Dito rela ngumpul bareng emak-emak.
Dito menoleh.
"Apaan?" tanya Dito.
"Sini!" Rendi melambaikan tangannya.
"Bentar ya, sayang. Rendi manggil," pamit Dito pada Mike.
"Enak ya, Mik?" tanya Lintang.
Nafsu makan Lintang pun tak kalah besarnya dari Mike. Tapi itu wajar saja. Kan Lintang memang sedang hamil.
Pada beberapa ibu hamil, punya nafsu makan yang lebih besar dari biasanya. Dan beberapa yang lain, banyak juga yang kehilangan nafsu makannya.
"Enak banget, Mbak. Bude pinter banget sih masaknya," puji Mike.
Sri yang dari tadi memperhatikan Mike makan dengan lahap, langsung protes.
"Itu bukan masakannya mbak Widya, Mike," ucap Sri.
"Loh...memangnya ini siapa yang masak?" tanya Mike.
"Tuh, orangnya." Sri menunjuk Mila yang juga lagi makan masakan Widya.
"Mila?" tanya Mike tak percaya.
Sri mengangguk.
Mila yang mendengarnya tersenyum bangga.
"Kamu bisa masak juga, Mil?" tanya Mike.
Mila yang mulutnya penuh makanan hanya mengangguk sambil nyengir.
"Kirain kamu cuma bisa gantiin perban doang," ucap Mike menyangsikan kepiawaian Mila di dapur.
"Pengalaman hidup di panti katanya. Dulu kan dia tinggal di panti asuhan," sahut Sri sesuai cerita dari Mila.
__ADS_1
"Ooh. Baru tau," ucap Mike.
"Ada apaan?" tanya Dito setelah menghampiri Rendi.
"Dit. Tolong antar Tania ke toilet, ya," pinta Rendi pada Dito.
"Oh. Oke. Ayo, Tan," ajak Dito.
"Eh, bentar. Aku bilang ama ibu negara dulu. Entar dia nyariin," ucap Dito. Lalu kembali ke tengah-tengah tikar.
"Sayang. Aku antar Tania ke toilet dulu, ya," ucap Dito pada Mike.
"Ya," sahut Mike singkat. Mulutnya sedang penuh makanan.
Dito pun kembali pada Tania. Tania sudah siap jalan.
"Tungguin sampai selesai, Dit. Gue kuatir. Ada Monica kan di sekitar sini," ucap Rendi.
"Beres. Gue tungguin sampai besok juga," sahut Dito.
"Eh, elu cuma nganter ke toilet. Bukan nganter Tania tidur!" ucap Rendi.
"Hahaha. Iya, bro. Gue juga tau!" sahut Dito sambil tertawa ngakak.
Tania mengikuti langkah Dito yang berjalan di depannya.
"Eh, kampret! Tanianya jangan ditinggalin!" seru Rendi.
Rendi benar-benar merasa khawatir. Karena tau sifat Monica yang bisa saja nekat.
Tanpa menjawab, Dito pun menghentikan langkahnya. Dia menunggu Tania yang masih berjalan di belakangnya.
"Toiletnya sebelah mana, Dit?" tanya Tania.
"Aku juga belum tau, Tan. Entar aku tanya ke warung itu, deh." Dito menunjuk ke sebuah warung.
Setelah mendapatkan info tentang letak toilet, Dito mengajak Tania ke sana.
"Ati-ati, Tan. Kayaknya jalannya licin," ucap Dito. Dia melihat jalan menuju toilet yang basah.
Tania mengangguk. Lalu berjalan perlahan-lahan.
"Aku nunggu di sini, ya," ucap Dito.
Tania kembali mengangguk. Rasa kebelet pipisnya semakin tak bisa ditahan.
Tania pun buru-buru masuk ke salah satu kamar kecil yang terbuka. Beberapa yang lainnya tertutup.
Dito menunggu Tania dengan sabar. Dia maklum kalau lama. Namanya juga wanita. Jangankan ke toilet, nyisir rambutpun lama.
Hampir lima belas menit Dito menunggu, barulah Tania muncul lagi.
Bener kan, lama banget. Dasar wanita. Pipisnya keluar apa aja sih! Batin Dito.
Sreet...!
Tepat di depan Dito, Tania terpeleset. Reflek Dito meraih tubuh Tania. Dan tubuh mungil Tania langsung berada dalam pelukan Dito.
Cekrek.
Cekrek.
Cekrek.
__ADS_1