
"Siapa Tania, Ren?" tanya Monica.
Rendi masih terdiam. Dia masih memikirkan omongan Dito barusan. Untuk apa mereka mau membahas lagi soal Tania?
"Bukan siapa-siapa. Hanya teman," jawab Rendi dengan tenang.
Rendi yakin kalau Monica tidak mengenal Tania, meski pernah satu sekolah. Karena di SMA Tania tidak populer.
"Ooh. Kirain mantan pacar kamu," sahut Monica.
Degh!
Bukan cuma mantan pacar, tapi calon istri. Batin Rendi.
Rendi hanya mendengus.
Sementara di rumah Tono, Tania hanya diam saja di dalam kamarnya. Dia sudah pasrah apapun yang akan terjadi padanya.
Sampai siang Tania hanya bisa menahan lapar. Untung menghilangkan rasa laparnya, Tania minum air putih sebanyak-banyaknya.
"Pak. Kasihan neng Tania. Dia belum makan siang lho," ucap Asih pada Yahya.
"Ya mau bagaimana lagi, Bu. Kamarnya kan dikunci. Mau kasih makan lewat mana?" Yahya pun tak bisa berbuat apa-apa.
"Pak. Kayaknya di dekat gudang ada banyak kunci. Mungkin ada kunci cadangannya," ucap Asih yang pernah melihat banyak kunci dijadikan satu.
"Oh iya, Bu. Kenapa aku enggak kepikiran, ya?" Yahya segera berjalan ke lemari dekat gudang. Lalu membuka lacinya.
Dan benar saja. Di sana ada banyak kunci yang dijadikan satu, dan diikat dengan kawat. Asih juga melihatnya, karena dia mengikuti Yahya ke sana.
"Kuncinya kira-kira yang mana ya, Bu?" Yahya melihat satu persatu kunci itu. Bentuk kunci itu sama semua.
"Kita coba aja satu persatu, Pak," jawab Asih.
"Tapi bagaimana kalau ketahuan juragan Tono? Bisa habis kita," tanya Yahya ketakutan.
"Kalau kita enggak bilang, ya enggak akan tau, Pak. Di rumah ini kan enggak ada CCTV-nya," sahut Asih.
"Ya udah. Kita jaga rahasia. Kasihan anak orang, nanti mati di kamarnya." Yahya segera naik ke lantai dua diikuti Asih.
Satu persatu Yahya mencoba memasukan anak kunci yang dipegangnya.
Tania terkejut mendengar suara orang di depan pintu kamarnya. Dan sepertinya orang itu akan membuka pintu.
Tania yang sedang duduk di sofa, segera mendekat ke arah pintu.
Ya, ada orang yang sedang berusaha membuka pintu kamarnya. Tania menahan nafasnya.
__ADS_1
"Siapa itu?" tanya Tania dari dalam kamar.
"Pak, itu suara neng Tania," ucap Asih pelan.
"Jawab aja, Bu. Enggak apa-apa," sahut Yahya.
"Ini bik Asih, Neng. Lagi nyoba bukain pintunya. Biar neng Tania bisa keluar!" seru Asih dengan suara kencang biar Tania mendengar.
Tania bernafas lega. Dia pikir orang yang akan berbuat jahat padanya.
Pada percobaan yang kelima, Yahya baru berhasil menemukan kuncinya.
"Neng Tania....!" seru Asih. Dia kasihan melihat wajah Tania yang sudah memucat. Tadi pagi Tania hanya makan sedikit.
"Bik Asih...!" Tania mendekat dan memeluk Asih.
"Tenang, Neng. Kami akan menolongmu. Ayo cepetan turun. Neng Tania makan dulu. Wajahmu sudah pucat." Asih menuntun Tania turun dan menuju ruang makan.
"Pak, kamu berjaga-jaga. Siapa tau juragan Tono pulang," perintah Asih.
"Tenang aja, Bu. Pintu gerbang dan pintu depan kan dikunci. Juragan Tono enggak mungkin bisa masuk," sahut Yahya.
"Tapi dia kan bawa kunci cadangan, Pak." Asih tetap khawatir.
"Juragan Tono kalau pulang biasanya membunyikan klakson. Minta dibukain pintu gerbangnya," sahut Yahya dengan yakin.
"Ya udah. Sekarang Neng Tania makan dulu. Seadanya, ya Neng. Belanjaan di dapur abis. Juragan belum kasih uang belanja lagi," ucap Asih.
Perut Tania sudah sangat keroncongan. Dari tadi dia hanya mengisinya dengan air putih.
"Pak, kunci cadangannya tadi dipisahkan aja. Bapak yang simpan. Biar gampang nyarinya," ucap Asih.
"Iya, Bu. Tenang aja. Nih." Yahya memperlihatkan kunci yang sudah dilepasnya dari kawat.
"Tumben kamu pinter, Pak," puji Asih.
Biasanya Yahya cuma bisa menurut saja apa yang dikatakan orang lain. Tak pernah punya inisiatif sendiri.
"Bik. Bagaimana ya, caranya biar aku bisa keluar dari rumah ini?" tanya Tania sambil makan.
"Memangnya Neng Tania mau kemana?" tanya Asih. Dia paham kalau Tania mungkin jenuh, setiap hari di rumah terus. Tidak boleh kemana-mana.
"Kabur, Bik," jawab Tania.
"Apa?" Mulut Asih sampai ternganga.
Yahya pun tak kalah terkejutnya.
__ADS_1
"Jangan, Neng. Itu sangat bahaya. Neng Tania kan tau kalau juragan Tono, anak buahnya banyak. Pasti Neng Tania bakal ketangkep lagi," ucap Asih.
"Iya, Neng. Dan nanti, kami yang bakal dimarahin. Bahkan bisa jadi dipecat. Karena dianggap tak becus menjaga Neng Tania," sahut Yahya.
"Bener, Neng. Kalau dipecat dari sini, kami mau kerja apa? Cari kerja sekarang susah," tambah Asih.
Tania menghela nafasnya. Benar juga. Pasti yang akan kena marah, Asih dan Yahya.
Tapi Tania juga sudah tak tahan tinggal di rumah mewah ini. Tania sudah tidak betah dikurung terus.
Apalagi sikap Tono tak pernah baik padanya.
Setelah selesai makan, Asih mengajak Tania masuk lagi ke kamarnya. Dan dia janji, nanti malam akan membukakan pintunya lagi sebelum Tono pulang.
Asih pun membawakan Tania makanan kecil.
"Ini disimpan yang rapi. Jangan sampai ketahuan kalau juragan Tono masuk kamar ya, Neng."
Tania mengangguk. Dia merasa seperti tahanan. Bahkan orang di dalam penjara pun masih dikasih makan dengan layak.
Asih mengunci kembali pintu kamar Tania. Tania hanya memandang sedih ke pintu yang sudah dikunci.
Tania menghela nafasnya, lalu melangkah ke sofa sambil membawa satu stoples makanan kecil.
Tania merenung. Apa aku harus membunuh si tua bangka itu saja? Toh, hidup di sini dan di penjara sama saja. Sama-sama dikurung.
Tapi apa aku tega? Sedangkan waktu dia jatuh ke kolam dan sakit saja aku enggak tega.
Terus aku harus bagaimana? Selamanya hidup dikurung seperti ini? Aku bakal mati sia-sia.
Paman dan bibi kenapa tak pernah mencariku ya? Apa yang dikatakan si tua bangka itu, sampai mereka tak pernah ke sini.
Apa dia mengatakan kalau aku sudah mati? Atau mengancam mereka lagi kalau berani mencariku ke sini?
Tania berjalan ke arah balkon. Dia memikirkan bagaimana caranya agar bisa sampai di bawah sana, lalu keluar dan melompati pagar besi yang tinggi itu?
Ah, apa aku bisa? Bagaimana kalau gagal dan aku ketangkap lagi?
Kalau minta tolong bik Asih dan mang Yahya, jelas enggak mungkin. Mereka tak mau membantu karena takut.
Tania mencoba melangkahi pagar balkon yang tak terlalu tinggi.
"Hhmm. Bisa," gumam Tania. Dia sudah ada di luar pagar balkon.
Tapi sayangnya, tak ada lagi pijakan. Mau tak mau Tania harus melompat biar bisa sampai bawah.
Tania melihat ke bawahnya. Hanya hamparan batu kerikil yang cukup tajam.
__ADS_1
Hiih...! Tania bergidig ngeri. Lalu kembali melangkahi pagar balkon.
Tania menghela nafasnya. Ternyata aku tak punya nyali untuk loncat.