
Rendi sudah kelimpungan karena Tania tidak juga bisa di temuinya. Sementara mamanya sudah mulai menyiapkan makan malam untuk mereka yang dipesannya dari catering langganan.
"Ma. Tania belum juga bisa dihubungi." Mamanya melotot ke arah Rendi.
"Coba kamu datangi rumahnya!" Sari menekan suaranya.
"Sudah berkali-kali, Ma. Tapi rumahnya tertutup rapat. Biasanya mereka selalu ada di rumah."
"Terus bagaimana makanan ini? Mama sudah pesan yang istimewa lho."
Sari memandangi makanan yang sudah disusunnya di meja makan.
"Entahlah, Ma. Rendi jadi khawatir. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Tania."
Hmm, dasar bucin! Sudah di-php masih saja dibela. Sari hanya bisa memandang jengah ke arah anaknya.
"Ya sudah. Mama panggil saja teman-teman komunitas Mama. Biar makanan ini enggak mubadzir."
"Terserah Mama deh." Rendi masuk ke kamarnya dengan perasaan tak menentu. Lalu pergi lagi untuk mencari Tania.
Sari lalu mengundang teman-temannya di grup whatsapp.
Sari mengirim foto makanan yang sudah disusunnya dengan rapi dulu.
Yang lapar merapat. Pesta dadakan di rumahku. Sekarang!
Itu caption untuk foto makanan yang diposting Sari.
Langsung teman-teman Sari berebut komen.
Gak usah banyak komen. Gas keun!
Setelah mengetik komen di grup, Sari segera mandi dan berdandan ala-ala anak alay. Karena teman komunitas yang dipanggil oleh Sari bukan dari rombongan pengajian atau teman arisan. Tapi dari sebuah komunitas musik.
Ya, Sari aktif di komunitas musik disela kesibukannya.
Bukan musik anak-anak muda yang genjrang-genjrong saja. Tapi musik lagu lawas.
Meski anggota komunitas mayoritas sudah berumur, jangan tanya kalau soal penampilan.
Mereka lebih heboh dari anak-anak muda. Bukan cuma heboh dipenampilan, tapi juga heboh di acara kopdarnya.
Ya jelas saja, karena mereka kan menang modal. Rata-rata mereka dari kalangan berduit.
Bukannya membeda-bedakan anggota, tapi mereka yang merasa tongpes, mundur teratur dari komunitas.
Karena seringnya mereka kopdar di tempat-tempat makan yang mahal.
Bagi Sari itu semua sekedar untuk menghiburnya. Karena hidupnya yang sering kesepian sejak suaminya jarang pulang ke rumah, bahkan bolak-balik menikah lagi.
Selepas maghrib, beberapa teman Sari benar-benar datang. Tak cuma ibu-ibu, bapak-bapak pun ikut gabung.
"Hey, ayo pada masuk gaes!" ajak Sari dengan gaya alay, pada teman-temannya.
__ADS_1
Setelah yang perempuan melakukan cipika cipiki, mereka semua masuk ke bagian belakang rumah Sari yang didesain outdoor.
Lilin-lilin sudah dinyalakan. Sari memang mengkonsep makan malamnya ala 'candle light dinner'.
"Wow! Romantis banget. Pesta apaan, Sar?" tanya salah seorang teman Sari.
Meski sudah tua-tua, mereka sepakat untuk memanggil hanya nama saja. Tanpa embel-embel pak, bu, mas, atau mbak. Bahkan jeng yang terkesan sangat lebay.
"Udah, gak usah banyak tanya! Yang penting kita makan!"
Sari tak mau menceritakan yang sebenarnya. Malu kalau sampai teman-temannya tahu, anaknya yang paling ganteng diantara anak teman-temannya, di php-in pacarnya.
"Wah, jangan-jangan setelah ini Sari bakal mantu nih!" ucap yang lain.
Lalu beberapa malah berselfie sebelum mereka menyentuh makanannya.
"Entar dulu, Rudi! Kita belum puas foto-fotonya!"
Orang yang dipanggil Rudi tertawa terbahak-bahak.
"Dasar emak-emak alay! Tinggal makan aja malah sibuk selpa-selpi. Kasihan makanannya entar nangis, kelamaan dimakannya. Iya gak, Sar?"
Sari hanya mengangkat bahunya. Karena dia juga sering melakukan hal itu.
Sementara Rendi, masih saja sibuk mencari keberadaan Tania. Dia masih saja melewati rumah paman Tania, berharap pintu rumah itu terbuka.
"Pak, ngumpet. Itu bukannya Rendi?" ucap Eni pelan, takut didengar orang lain. Eni mengajak suaminya ngumpet saat matanya menangkap sosok Rendi melintas di gang menuju rumahnya.
Danu lalu ngumpet di balik pilar rumah tetangganya itu. Diikuti mata tetangganya yang menatap mereka keheranan.
Setelah Rendi tak terlihat lagi, baru mereka keluar dari persembunyian dan segera pamit pulang.
Bukan pulang ke rumah sendiri, tapi pulang ke rumah kakaknya Danu.
Di tengah jalan mereka kembali ketemu dengan Rendi.
"Pak. Itu Rendi. Ngapain dia muter-muter di sini terus?"
"Jangan-jangan dia masih terus menunggu kita, Bu."
"Iya, Pak. Bagaimana ini pak? Besok kita kan mesti kembali ke rumah?" Eni mulai panik.
"Lihat besok aja lah, Bu. Yang pasti Tania jangan dibawa pulang dulu. Tengah malam baru kita ambil."
"Terus kalau kita ketemu Rendi, kita kasih alasan apa?"
Eni memaksa suaminya untuk terus berfikir.
"Sudahlah, Bu. Jangan bikin kepalaku makin puyeng!"
Danu melajukan angkotnya dengan cepat. Dia juga tidak mau melihat sosok Rendi lagi, yang kini mereka rasakan seperti melihat sosok hantu gentayangan.
"Soal ini jangan kasih tau Tania, Bu. Nanti dia malah kepikiran."
__ADS_1
Danu mengingatkan istrinya yang sering keceplosan.
"Iya, Pak. Tenang saja."
"Tenang...tenang. Mulutmu kan kadang gak ada remnya."
"Sembarangan aja kalau ngatain orang! Kamu pikir mulutku itu angkot?"
Eni tak terima dengan perkataan suaminya. Dan perdebatan mereka terus saja berlanjut hingga sampai di depan rumah Widya.
Begitu melihat Tania dan Widya duduk di teras, mereka langsung berhenti saling mengatai.
"Kalian itu hobinya ribut terus. Gak malu udah mau punya mantu!" ucap Widya yang sempat mendengar mereka masih berdebat saat turun dari angkot.
"Itu adikmu, Mbak. Masa aku dikatain mulutku gak ada remnya?" Eni mengadu pada kakak iparnya.
Danu menepuk jidatnya. Kalau diterusin bakalan bocor juga mulut istrinya.
Danu langsung menyeret tangan Eni dan membawanya ke dalam.
"Apa sih, Pak? Sakit tanganku!" Eni berusaha menepiskan tangan suaminya.
"Daripada bocor mulutmu? Udah, aku bikinin kopi!"
Eni yang masih kesal pada Danu memanyunkan mulutnya, tapi tetap patuh membuatkan kopi buat suaminya itu.
"Tuh lihat paman dan bibimu, Tania. Meski mereka tiap hari kerjaannya ribut terus, tapi mereka bisa mempertahankan rumah tangganya. Kamu juga mesti begitu nantinya. Apapun yang terjadi, pertahankan rumah tanggamu." Widya mulai lagi memberikan ceramah pada keponakannya.
"Setiap rumah tangga pasti ada masalah. Tapi jangan jadikan masalah itu alasan untuk berpisah. Jangan sampai kamu menyesal kalau suamimu sudah kabur." tambahnya.
Tania menunduk. Padahal dia mengharapkan Tono segera menceraikannya setelah ijab qobul.
Tania rela jadi janda muda, asal dia tidak harus hidup dengan suaminya yang sudah tua.
"Bude, boleh Tania tanya sesuatu?" ucap Tania agak ketakutan.
"Tanya apa?"
"Tapi Bude jangan marah, ya?"
Widya mengangguk lalu mengernyitkan dahinya, menatap keponakannya.
"Kenapa suami Bude dulu kabur?" tanya Tania lirih.
"Itu lain soal, Tania. Mantan suami Bude kabur dengan perempuan lain. Dan itu terjadi bukan hanya sekali. Tiga kali!"
Widya mulai berapi-api menceritakan soal mantan suaminya.
"Yang pertama Bude masih bisa memaklumi. Mungkin dia lagi khilaf. Yang kedua dia janji tak akan melakukannya lagi. Ternyata masih ada yang ketiga. Mending Bude tutup pintu aja!"
Tania manggut-manggut meski belum begitu paham maksud omongan budenya.
Yang Tania paham hanya, dia bisa menuntut cerai suaminya yang hobinya kawin cerai.
__ADS_1