
"Emang kamu denger, Tan?" tanya Dito tanpa malu-malu.
"Dengerlah. Stereo!" jawab Tania.
Bagi Tania yang sudah menikah, bicara seperti itu tak terlalu merasa tabu. Meskipun dia tak pernah melakukannya, selain dengan Rendi.
"Hahaha!" Dito tertawa ngakak.
Mike semakin malu saja.
Mike memang suka sekali teriak-teriak saat bercinta. Itu juga alasannya tak mau ada pembantu yang menginap di rumahnya, sejak dia mulai bercinta dengan Dito.
"Tan. Kamu kalau gituan teriak-teriak juga enggak?" tanya Dito. Dia lupa kalau Tania sudah bilang tak pernah melakukannya dengan Tono.
Mike menyenggol lengan Dito.
"Oh, maaf maaf. Aku lupa. Sabar ya, Tan. Nunggu Rendi sembuh dulu. Jangan main hajar aja. Hahaha." Dito mencoba menggoda Tania biar lupa dengan pertanyaannya tadi.
"Eh, tapi enggak apa-apa juga dia langsung dihajar. Jangan kalah sama Monica," lanjut Dito.
"Cewek gila disama-samain! Dia mah jangan masuk itungan, Tan," ucap Mike.
"Enggak ngira ya, Monica bisa segila itu. Padahal jaman SMA anaknya anteng, lho," ucap Dito.
"Gitu-gitu juga kamu pernah naksir kan, Yang?" sindir Mike.
"Kalau tau gila kayak gitu, ya jelas aku mundurlah. Liat tuh Rendi. Dia aja udah kagak mau. Apalagi sekarang udah ada Tania lagi. Iya enggak, Tan?" Dito melirik ke arah Tania.
"Ya moga-moga Monica enggak ganggu-ganggu lagi," sahut Tania.
"Bilang aku, Tan. Kalau Monica gangguin kamu. Dia kan enggak berani ama aku," ucap Mike.
"Kalau cuma Monica sih, aku juga enggak gentar, Mik. Masalahnya tuh, dia bisa mempengaruhi mamanya Rendi. Jadi mamanya Rendi semakin benci sama aku," sahut Tania.
"Hhmm. Giliran papanya Rendi udah baik, malah mamanya. Kayaknya kalian masih harus berjuang lebih keras, Tan," ucap Mike.
"Iya, Mik. Enggak kayak kalian yang jalannya mulus-mulus aja," sahut Tania.
"Yang sabar, Tan. Kalau kata orang bijak, akan indah pada waktunya." Dito ikut menyahut.
"Orang bijaknya cuma bisa ngomong doang. Coba kalau dia yang ngejalanin. Nangis, nangis deh!" ucap Mike dengan geram. Dia geram dengan nasib Tania yang tak ada manis-manisnya.
"Kok kamu yang senewen sih, Sayang. Tanianya aja santai, kok. Iya kan, Tania?" Dito kembali melirik Tania.
"Aku udah capek nangis, Dit. Aku nangis sampai guling-guling juga enggak merubah keadaan, kan?" sahut Tania.
"Iya bener, Tan. Terus apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Mike.
"Selanjutnya kita makaan....! Laper nih." Dito menepuk-nepuk perutnya sendiri.
__ADS_1
Tania tersenyum. Lalu mengambilkan priring buat Dito. Mike meraihnya, dan mengisi piring Dito dengan nasi goreng buatan Tania.
Dito langsung memakannya.
"Mm...! Enak banget. Enggak kalah sama nasi goreng restauran. Serius!" puji Dito. Dia lalu menyuapi Mike.
"Enak, kan?" tanya Dito pada Mike.
"He em," jawab Mike. Lalu dia mengambil piring sendiri. Sepertinya enggak ikhlas kalau cuma makan sedikit.
"Bisa gemuk kita, kalau Tania tinggal di sini," komentar Mike.
"Enak malah kalau kamu gemuk, Sayang. Empuk. Enggak usah pake kasur lagi," sahut Dito.
"Enak aja! Entar kamu ngelirik wanita lain, kalau aku gemuk!" sahut Mike.
"Ya enggaklah. Mana aku berani. Kamu aja galak banget!" Dito langsung menangkup mulutnya.
Tania hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya ini. Mereka itu pasangan yang sangat romantis. Tapi kadang juga lucu. Karena Dito orangnya kocak banget.
"Tan. Kamu juga makanlah. Masa cuma liatin kita aja," ucap Mike.
"Aku udah kenyang liatin kalian," sahut Tania. Padahal dia sedang memikirkan Rendi.
Apa Rendi sudah makan di rumah sakit? Kalau enggak ada orang, terus siapa yang menyuapinya?
Baru saja dipikirin, Rendi menelpon Tania. Tania buru-buru menerimanya.
Tania merubah mode telponnya ke video call. Katanya Rendi kangen.
"Cie....yang udah bisa video call...! Hajar teroos...!" ledek Dito.
Tania memberikan ponselnya pada Dito. Biar bisa langsung ngeledek Rendi. Jangan cuma suaranya saja.
"Heh! Buruan sembuh, lu. Hajar Tania. Entar keburu diembat orang lain lagi!" ledek Dito.
"Enak aja. Ya gue hajarlah yang berani ngembat Tania!" sahut Rendi.
"Makanya lu cepet sembuh. Gimana bisa menghajar orang, kalau kaki elu masih kayak gitu!" Dito terus meledek Rendi. Meskipun maksud utamanya, menyemangati Rendi.
"Iya sabar, Dodol! Udah mana Tania. Gue kangennya ama Tania. Malah elu mulu yang nongol!" sahut Rendi.
"Tania lagi makan, noh!" Dito mengarahkan kamera ke Tania.
"Ya udah, gue mau lihat Tania makan. Eneg gue kalau liatin elu makan!" sahut Rendi.
"Gue dong, makan disuapin ama Mike. Aak...!" Dito membuka mulutnya, meledek Rendi. Mike pun langsung menyuapinya.
"Bodo ah! Gue mau Tania. Balikin hapenya ke Tania!" ucap Rendi dengan kesal.
__ADS_1
Dito memang paling seneng kalau bikin Rendi kesal. Dito belum berhenti meledek, kalau Rendi belum marah-marah.
"Kissbye dulu dong ama gue." Dito tak juga mau mengembalikan ponsel Tania.
"Idih! Najis!" sahut Rendi.
"Udah sih, Yang. Kasih hapenya ke Tania. Durasi mereka kan terbatas," ucap Mike.
"Iya juga, ya. Nih, Tan. Entar keburu mamanya dateng, lagi!" Dito mengembalikan ponsel Tania.
"Nah, gitu dong. Jangan dikasihkan ke Dito. Eneg aku lihat wajahnya!" Rendi sengaja mengeraskan suaranya.
"Eneg-eneg juga, elu sukanya nyariin gue mulu!" sahut Dito.
"Sstt! Udah, ah. Kasih dong kesempatan mereka ngomong!" Mike menyenggol tangan Dito biar diam.
"Iya. Aak lagi dong." Dito kembali membuka mulutnya. Padahal di piringnya sendiri masih ada nasi goreng.
"Tania, nanti kamu mau pulang ke rumah pamanmu jam berapa?" tanya Rendi.
"Terserah gue yang mau nganterinlah!" Dito kembali menyahut.
"Eh si dodol! Nyaut mulu kalau ada orang ngomong!" Rendi kembali kesal pada Dito.
"Biarin! Mulut-mulut gue!" sahut Dito.
"Udah, ah...! Ayo abisin dulu makannya. Kalau udah, kita anterin Tania. Jangan sampai keluarga Tania nggerebek kita di sini lho," ucap Mike.
"Nggerebek gimana, Yang?" tanya Dito.
"Lha, kalau mereka lapor polisi? Kan kita yang dituduh menyembunyikan Tania," jawab Mike.
"Iya juga, ya. Ayo cepetan, Tan. Yang penting keluarga kamu tau dulu, kalau kamu di sini. Soal kamu mau tinggal di sini, itu gampang!" Dito buru-buru menghabiskan makanannya.
Rendi pun segera mematikan ponselnya, karena Tono masuk ke kamarnya.
Selesai makan, Tania mencuci dulu piring bekas makannya.
"Udah, Tan. Tinggal aja. Entar juga ada yang beresin. Kamu siap-siap aja," ucap Mike
"Sebentar. Nanggung." Tania yang sudah biasa mencuci bekas makannya, merasa risi kalau meninggalkannya begitu saja. Apalagi di rumah orang lain.
Begitu Tania selesai dan sudah bersiap, mereka langsung berangkat ke rumah Danu.
Danu dan Eni juga Widya yang tidur di rumah Danu, sudah bersiap juga kembali ke rumah Mike. Mereka rencananya mau naik angkotnya Danu.
Saat mereka sudah di teras, Tania dan Mike juga Dito sampai juga di halaman rumah kecil Danu.
Danu, Eni dan Widya terbelalak melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Tania...!"