HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 194 MENIKMATI MANDI DI BATH TUB


__ADS_3

Tania meletakan ponselnya di atas sofa. Lalu meminta kartu akses kamar Eni.


Danu dan Eni mengikuti Tania menuju ke kamar mereka.


Sampai di depan kamar, seperti yang dilakukan Danu tadi, Tania pun memasukan kartu akses itu. Dalam hati was-was. Jangan sampai dia tidak bisa melakukannya juga.


Karena sejujurnya Tania baru tahu cara membukanya dari Lintang tadi. Dan dia belum mencobanya sendiri.


Tapi mungkin karena Tania yang konsentrasi dalam membukanya, atau karena faktor keberuntungan, pintupun terbuka.


"Silakan, Bi." Tania bernafas dengan lega.


Eni dan Danu bergegas masuk. Tania meletakan kartu itu di dalam kotak sensor lampu, agar lampu-lampu kamar bisa menyala.


"Tania tinggal ya, Bi. Bibi sama paman mandi. Jadi kalau nanti mbak Lintang jemput, kita udah siap," ucap Tania.


"Nanti buka pintu kamarnya gimana?" tanya Eni dengan khawatir.


"Kalau dari dalam, ya tinggal buka aja. Tapi kalau mau keluar, jangan lupa bawa kartunya. Nanti kalian enggak bisa masuk kamar lagi," jawab Tania.


Eni mengangguk mengerti. Meski tetap ada kekhawatiran dalam hatinya. Khawatir kalau tidak bisa membuka pintu kamarnya lagi.


Eni menutup pintu kamarnya perlahan. Bukan takut rusak, tapi takut pintunya benar-benar terkunci dan dia tidak bisa keluar kamar.


Padahal pintu harus benar-benar terkunci biar tak ada orang lain masuk.


Danu sudah terlentang di atas tempat tidur, sambil merentangkan kedua tangannya.


"Pak. Mandi. Nanti kita mau jalan-jalan," ucap Eni.


"Kamu ajalah dulu. Aku masih kepingin tiduran." Danu memejamkan matanya yang terasa mengantuk.


Maklum dia menyetir nonstop sendirian. Dan sejak datang tadi, belum sempat istirahat.


"Mandi dulu aja. Biar badan juga lebih terasa enak dan segar," ucap Eni lagi.


Danu tak mempedulikan omongan Eni. Dia tetap saja merem.


"Ish! Dasar pemalas!" gerutu Eni.


Eni meletakan tas tangannya di atas tempat tidur, lalu mulai membuka pintu kamar mandi.


Eni tak melihat ada bak mandi atau ember. Hanya ada dua buah wastafel berjejer. Lalu ada satu ruangan lagi yang disekat dengan dinding dan pintu dari kaca tebal dan buram.


Eni membukanya perlahan. Ternyata masih ada sekat lagi.


"Busyet. Banyak amat pintunya. Ini apa lagi isinya?" gumam Eni. Lalu membuka pintu itu. Ternyata closet.


Hh! WC-nya duduk begini lagi. Bakalan enggak bisa BAB nih. Gumam Eni dalam hati.


Eni yang terbiasa BAB di WC jongkok, merasa kesulitan dengan WC duduk.


Mana enggak ada embernya buat tempat cebok, lagi. Eni terus saja menggerutu, sebab dia tak akan puas kalau cebok pakai selang. Malah merasa risi.


Eni menutup pintu closet, lalu membuka pintu satunya. Di sana adalah tempat mandi. Hanya ada satu keran juga shower.

__ADS_1


Tak ada ember seperti yang Eni harapkan. Tapi ada bath tub.


"Hiih...Lumayan, ada tempat berendamnya. Kayak di kamar mandi rumahnya majikanku dulu," gumam Eni.


Lalu dengan gaya sok elegan, Eni melangkah masuk ke dalam bath tub.


"Eh, aku belum lepas baju." Eni berceloteh sendiri. Lalu mulai melepaskan semua bajunya.


Di dalam kamar mandi itu ada kaca cermin besar yang hampir mengelilingi ruangan. Dari cermin itu Eni bisa melihat dirinya yang sudah polos.


"Ih, ternyata bentuk badanku udah enggak karu-karuan."


Eni berlenggak lenggok sambil memperhatikan bentuk tubuhnya, dan lemak yang sudah muncul di mana-mana.


"Hiih! Ternyata lemakku banyak banget!"


Eni bergidig sendiri. Lalu kembali masuk ke dalam bath tub.


Dengan sedikit pengetahuan yang didapatnya dari rumah mantan majikannya, Eni bisa menggunakan bath tub itu dengan benar.


Lalu, dengan santainya Eni berendam.


"Hhmm. Enak sekali aromanya." Eni menghirup wewangian dari aroma teraphi di kamar mandi itu, sambil memejamkan matanya.


"Aku mau merekamnya, ah. Buat kenang-kenangan dan bukti, kalau aku pernah mandi di bath tub."


Eni berdiri lalu mengambil ponsel yang tadi dikantonginya di celana.


Lalu Eni menyetel mode video untuk mulai merekam adegan mandinya di bath tub.


Eni melihat ke sekeliling ruangan. Tetap tak menemukan tempat buat meletakan ponselnya.


Akhirnya Eni hanya memeganginya saja dengan tangan kirinya. Tangan kanannya asik melumurkan busa sabun ke tubuhnya.


Eni juga berlagak seperti youtuber yang sedang membuat video konten. Dia menunjuk ke seluruh ruangan, dengan badan masih terbenam di dalam bath tub.


Setelah puas merekam, Eni mulai menggosok beberapa anggota tubuhnya sampai merasa bersih.


"Ah...Ternyata enak sekali jadi orang kaya. Bisa mandi dengan santai, tanpa di buru-buru."


Eni menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata. Dia benar-benar menikmati suasana.


Danu menggeliat saat mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Lalu sambil mengucak matanya, Danu membukakan pintu.


Widya berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ada apa, Mbak?" tanya Danu yang masih belum ngumpul nyawanya. Matanya pun masih setengah terpejam.


"Kamu belum mandi?" Widya malah balik bertanya.


"Belum, Mbak. Aku masih ngantuk," jawab Danu sambil menguap.


"Kita kan mau jalan-jalan. Sebentar lagi Lintang datang menjemput," ucap Widya.


Danu berjalan masuk lagi, dan kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur empuk.

__ADS_1


Widya hanya menghela nafasnya. Dia kasihan juga pada Danu yang menyetir sendiri tadi.


"Eni mana?" tanya Widya.


"Enggak tau. Mungkin mandi," jawab Danu yang masih mencoba mengumpulkan nyawanya.


"Ya udah. Kamu juga buruan mandi. Nanti aku panggil lagi, kalau Lintang sudah datang." Widya keluar dari kamar Danu dan kembali ke kamarnya sendiri.


Danu bangkit dan ke kamar mandi.


Sama seperti Eni tadi, Danu pun kebingungan setelah membuka pintu kamar mandi.


"Lah, di mana istriku?" Danu melihat pintu kaca, lalu membukanya.


"Hadeh, banyak amat pintunya."


Danu membuka lagi pintu, yang ternyata pintu tempat closet.


Lalu membuka pintu satunya. Danu melihat Eni lagi merebahkan kepalanya di bath tub dengan mata terpejam.


"Bu! Bu!" panggil Danu.


Eni hanya diam saja. Karena Eni ternyata sudah terlelap.


Danu mendekat.


"Ya... Dia molor di sini. Bu! Bangun! Kamu kira ini kasur?" Danu mengguncang tubuh Eni yang terendam busa.


Eni membuka matanya.


"Eh, Pak. Kamu mau berendam juga?" tanya Eni.


"Kamu berendam malah tidur!" ucap Danu.


"Habisnya nyaman banget. Sini kalau kamu mau, Pak." Eni beringsut ke samping. Memberi tempat untuk Danu.


"Emangnya aku anak bayi?" Danu menolaknya.


"Sekali-kali jadi bayi kan enggak apa-apa, Pak," sahut Eni.


Danu menatap bahu Eni yang terbuka dan basah. Naluri lelakinya langsung mencuat.


Lalu Danu melangkahkan kakinya masuk ke dalam bath tub.


"Eh, lepas dulu bajunya. Nanti kotor air busanya!" ucap Eni.


Danu pun langsung melucuti pakaiannya. Dan tanpa aba-aba lagi, Danu langsung masuk ke dalam bath tub.


"Sini di sampingku aja, Pak. Jangan di atasku." Eni menahan tubuh Danu yang akan naik ke atasnya.


"Susah kalau di situ," sahut Danu.


"Ish!"


"Ah....!"

__ADS_1


Danu langsung tancap gas.


__ADS_2