
Eni pun semakin bangga menggandeng Mike.
"Masih ada kuenya, Bu?" tanya Eni pada Yanti pemilik warung.
"Masih banyak. Pilih aja yang mana. Eh, tadi Mbak Eni bukannya udah beli banyak?" tanya Yanti.
"Iya. Ini anakku kepingin lagi. Mau dibawa pulang katanya," jawab Eni.
Yanti menatap Mike. Lalu berganti menatap Eni.
Anak? Gak ada mirip-miripnya. Batin Yanti.
Para tetangga baru, tahunya Eni punya anak satu saja. Yaitu Tania.
Itupun waktu itu, Eni bilang ke para tetangga barunya, kalau Tania baru saja datang dari kampung halamannya. Karena kemarin-kemarin Tania tinggal di sana.
"Ini anak yang nomor berapa?" tanya Yanti bingung. Karena kalau dilihat dari wajahnya, usianya tak jauh berbeda dengan Tania.
"Waduh...saya lupa kasih nomor, Bu," jawab Eni seenaknya.
"Ampun deh. Memangnya pemain bola?" Yanti menepok jidatnya.
Eni cuma nyengir tanpa rasa bersalah.
"Ayo, Mike. Pilih aja mana kue yang kamu mau," ucap Eni.
Yanti memgambilkan nampan kecil untuk tempat kue, sebelum dihitung dan masuk ke dus.
Dengan semangat Mike memilih kue-kue yang diingininya. Tanpa mencicipi, hanya melihat bentuknya saja, Mike sudah yakin kalau kue-kue itu rasanya enak.
Eni membiarkan Mike mangambil banyak. Terlalu banyak malag. Apalagi setahu Eni, Mike hanya tinggal berdua dengan Dito.
Kalau enggak habis sekarang, kan jadi basi. Apa mereka berdua sanggup ngabisinnya? Atau mau dikasihkan ke orang lain lagi?
Eni hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Khawatir Mike malah tersinggung.
"Udah nih, Tante." Mike menyerahkan nampan yang sudah penuh dengan kue.
Oh, keponakannya. Manggilnya aja tante. Batin Yanti.
Tapi cantik banget. Beda dengan tantenya yang bawel dan ndeso. Yanti kembali menatap Eni dan Mike bergantian.
"Udah, dihitung. Malah ngeliatin aku aja." Eni menepuk lengan Yanti.
"Eh, iya. Bukan ngeliatin mba Eni. Tapi ngeliatin keponakannya. Cantik banget," sahut Yanti.
Meski sebenarnya lebih cantik Tania, tapi karena Mike tampil modis dan lebih terlihat glowing, jadi sekilas terlihat lebih cantik Mike.
"Keponakan aku mah cantik-cantik, Bu Yanti," ucap Eni dengan sombong.
"Tadi katanya anak?" Yanti membalikan omongan Eni.
__ADS_1
"Keponakan sama anak, apa bedanya?" tanya Eni.
"Ya jelas beda lah. Kalau keponakan itu anaknya saudara. Kalau anak kan lahir dari kandungan kita sendiri," jawab Yanti.
Degh.
Eni merasa tersinggung. Dia memang tak pernah merasakan punya anak sendiri. Tapi bagi Eni, baik Tania maupun Lintang, bahkan Mike sekalipun, sudah dia anggap anak sendiri.
"Sama aja!" sahut Eni untuk menguatkan dirinya sendiri.
Eni merasa kesal.
Yanti pun hanya mengangkat bahunya. Dia yang tahunya Eni hanya punya satu anak, pasti sangat merindukan anak lainnya.
Beda dengan dirinya yang memiliki setengah lusin anak. Urusan keponakan tak pernah dipikirkannya.
"Udah, berapa semuanya?" tanya Eni dengan suara masih terdengar kesal.
"Semua jadi..." Yanti melihat angka di kalkulatornya. Lalu menyebutkan jumlahnya.
"Biar Mike yang bayar sendiri, Tante," ucap Mila sambil menahan tangan Eni yang mau mengambil uang dari kantong celana.
"Biar aja, Tante yang bayar." Eni tetap ingin membayarnya.
"Eh, jangan. Ini kan pilihan Mike semua. Jadi biar Mike yang bayar." Mike buru-buru mengambil uang di tas selempangnya.
Mike tak mau merepotkan Eni. Apalagi dari dulu tahu kalau kehidupan mereka jauh dari kehidupannya.
"Wah, uangnya baru motongin ya, Neng?" tanya Yanti. Dia meraba uang Mike yang masih kaku dan belum ada bekas lipatannya.
"Bisa aja, si Ibu ini. Baru tadi ambil di ATM, Bu," sahut Mike.
"Isi ATM nya pasti banyak banget ya, Neng?" tanya Yanti lagi.
Kalau dia sendiri, boro-boro mau punya rekening, hasil jualannya akan habis keesokan harinya, untuk makan dan uang saku ke enam anaknya yang masih sekolah.
"Bu Yanti kepo amat, sih! Keponakan saya ini anak pengusaha sukses. Jadi uangnya tak berseri!" sahut Eni dengan ketus.
Eni kalau sudah tersinggung, susah untuk bisa berbasa basi lagi. Suaranya pasti akan ketus bahkan bisa jadi sangat pedas.
"Hebat ya, Mbak Eni. Punya saudara pengusaha sukses. Kenapa suaminya enggak kerja di perusahaan saudaranya aja?" Yanti malah terkesan menyindir Eni.
"Profesi orang kan beda-beda, Bu. Kalau semua jadi pengusaha, terus siapa yang jadi sopir angkot?" Eni berusaha membela diri.
"Iya, sih. Tapi itu bukan angkot sewaan, kan?" tanya Yanti sambil memberikan uang kembalian pada Mike.
"Bukanlah. Itu milik kami sendiri. Rumah juga bukan rumah kontrakan kayak begini!" sahut Eni makin pedas.
"Ayo pulang, Sayang!" Eni menarik tangan Mike biar buru-buru pergi dari warung kue milik Yanti.
"Kuenya?" tanya Mike.
__ADS_1
Saking emosinya, Eni sampai lupa kalau dus kuenya belum dibawa.
"Ambil sana!" Tak sadar Eni menyuruh Mike dengan ketus.
Mike yang sudah melangkah beberapa meter karena ditarik Eni, balik lagi.
"Silakan, Neng cantik." Yanti memberikan dus yang sudah dimasukan ke kantong plastik besar pada Mike.
"Terima kasih, Bu." Mike menerimanya dan buru-buru menyusul Eni.
Mike tak mau, Eni yang terlihat kesal malah kelamaan menunggunya.
"Tan. Monica pernah kesini?" tanya Dito sesaat setelah Mike ikut Eni beli kue.
Tania menatap wajah Dito, lalu mengangguk.
"Ngapain dia kesini?" tanya Dito pura-pura tak tahu.
Lalu Tania menceritakan maksud kedatangan Monica tadi.
"Kamu percaya omongan Monica?" tanya Dito.
Tania menggeleng.
Tania memang sama sekali tak percaya omongan Monica. Dia lebih percaya pada pernyataan Rendi, meski semua belum terbukti.
Diam-diam Danu yang ada di dalam kamar, ikut mendengarkan. Dia ingin tahu pembelaan dari Dito, yang diketahuinya sebagai sahabatnya Rendi.
"Kamu pingin tahu kehidupan Monica yang sebenarnya?" tanya Dito.
Tania mengangguk.
Selama ini Tania tak begitu paham dengan sepak terjang Monica. Yang dia tahu hanya Monica kuliah di kampus yang sama dengan Dito.
"Dia itu cewek gampangan. Yang deket ama dia bukan cuma Rendi. Jadi misalnya pun mereka pernah melakukan, dan Monica benar-benar hamil, dia harus bisa membuktikan kalau anak dalam kandungannya itu benar-benar anaknya Rendi," ucap Dito.
Danu yang juga mendengarnya, kembali membayangkan baju yang dipakai Monica tadi.
Benar juga omongan anak ini. Kalau si Monica itu wanita baik-baik, pasti pakaiannya pun akan lebih sopan. Bukan yang mengundang hasrat lelaki. Batin Danu.
"Waktu itu Rendi mau dideketi Monica, karena stres ditinggal kamu, Tan. Monica itu cuma pelampiasan aja bagi Rendi. Kamu bisa lihat sendiri kan, bagaimana Rendi berjuang untuk mendapatkanmu? Dia bela-belain terjun bebas sampai kaki dan tangannya patah!" lanjut Dito.
Tania mengangguk dengan mata mulai berkaca-kaca. Dia jadi ingat kembali peristiwa itu. Dimana Rendi jatuh dari pintu gerbang, di depan matanya.
"Aku...aku tak pernah meragukan Rendi, Dit," ucap Tania sambil menahan tangis.
Dito manggut-manggut.
Danu pun keluar dari kamar sambil berdehem.
Ehem!
__ADS_1