HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 31 PINGIN KESOHOR TAPI TAKUT TEKOR


__ADS_3

Danu pulang ke rumahnya. Di pangkalan tidak ada teman nongkrong. Semua sedang narik. Beberapa sedang dicarter ibu-ibu pengajian.


"Pak! Tania pergi!" seru Eni dengan wajah pucat.


"Pergi kemana?" tanya Danu agak tegang.


"Aku tidak tau, Pak. Tadi Rendi datang dan Tania memaksa Rendi membawanya pergi jauh!" sahut Eni.


"Kamu bagaimana sih, Bu? Kenapa kamu biarkan?" Danu mulai gusar.


"Tania menangis meraung-raung, Pak. Dia terus memaksa Rendi!" Eni tak mau disalahkan.


"Tapi mestinya kamu bisa mencegahnya!"


"Aku tidak sanggup, Pak!" Eni sudah hampir menangis karena dibentak suaminya.


"Terus kalau dia tidak kembali bagaimana? Kamu tau rumah Rendi?" tanya Danu dengan wajah memerah.


"Kata Rendi rumahnya di komplek perumahan tempatku kerja dulu. Di blok 1 kalau tidak salah."


Eni berusaha mengingat-ingat perkataan Rendi waktu itu.


"Ya sudah. Kita tunggu sampai abis isya. Kalau mereka belum juga pulang, kita samperin rumahnya."


"Sekarang bikinkan aku kopi. Di pangkalan tidak ada teman ngopi," pinta Danu.


Eni bergegas membuatkan kopi buat suaminya. Dia tidak mau suaminya makin marah.


"Pak, nanti antarkan aku ke tukang rias dan tukang catering. Aku mau membayar DP-nya," ucap Eni sambil meletakan kopi di meja.


"Apa mereka mau terima orderannya? Waktunya kan sudah mepet?"


"Kalau ada duitnya sih, apa yang tidak bisa Pak? Kalau perlu aku bayar lunas!" sahut Eni penuh percaya diri. Sebab dia memang sudah dikasih uang oleh Tono.


"Ya sudah. Aku ngopi dulu." Danu menyeruput kopinya lalu menyulut rokok.


"Aku siap-siap dulu, Pak." Eni masuk ke kamarnya.


"Mau siap-siap apa dandan? Itu juga sudah rapi!"


Eni sekarang memang selalu berpakaian rapi dan memoles wajahnya meski tipis-tipis.


Dia ingin terlihat seperti majikannya dulu. Walau pun di rumah tapi tidak kucel.


Eni mencari pakaiannya yang terbaik. Dia mau tampil seperti orang-orang kaya saat pesan catering nanti.


Biar mereka melayaninya dengan baik. Karena biasanya begitu, orang berduit pasti akan dinomor satukan.


"Busyet! Mau kondangan, Bu?" tanya Danu melihat istrinya berdandan menor.


"Sudah diam saja kamu, Pak! Kita tuh mesti tampil seperti orang kaya. Biar mereka mau melayani kita dengan baik," sahut Eni.


Dia membetulkan roknya yang agak kusut karena terlalu lama dilipat di lemari.


"Orang kaya gak perlu begitu juga kali, Bu. Yang penting kamu bawa uang segepok, kasih ke mereka. Selesai!"


Danu menghisap rokoknya lagi.

__ADS_1


Iya juga. Tampil menor kalau kagak punya duit ya sama saja. Pikir Eni kemudian.


"Ah, sudahlah. Sudah terlanjur. Ayo berangkat! Entar kesorean keburu mereka tutup!" ajak Eni.


Eni berjalan ke pintu. Memang mesti begitu kalau mengajak suaminya pergi. Harus diburu-buru. Kalau tidak, bakalan sampai sore baru jalan.


"Yaelah. Baru juga sebatang. Kopi juga belum abis," gerutu Danu, lalu menenggak habis kopinya.


"Merokok kan bisa nanti sambil jalan. Biasanya juga begitu," omel Eni, lalu mengunci pintu rumahnya.


Mereka berjalan ke tempat parkiran angkotnya. Eni menggandeng tangan Danu.


Entah mengapa sejak banyak duit, Eni jadi pingin bermesraan terus dengan suaminya.


Di rumah pun Eni selalu berdandan. Apalagi di kasur, jangan ditanya. Eni menservis suaminya habis-habisan sampai suaminya loyo.


"Cie...kayak pengantin baru saja, Mbak! Gak bakalan ilang itu suaminya!" ledek seorang perempuan gempal tetangga Eni.


Eni hanya tersenyum ke arahnya sambil terus menggenggam tangan suaminya.


"Lepasin kenapa sih, Bu. Malu diliatin orang," ucap Danu pelan.


"Biarin. Biar mereka pada iri liat kemesraan kita," sahut Eni tak kalah pelan.


"Mau kemana, Mbak?" tanya tetangga lain yang dilewati Eni dan Danu.


"Mau ke tukang rias dan catering. Datang ya, minggu besok. Aku mau mantu," sahut Eni dengan senyum merekah.


"Undangannya mana?" tanya si ibu itu.


"Gak usah pakai undangan. Soalnya dadakan," jawab Eni dengan santai.


"Jangan-jangan anaknya hamil duluan. Makanya mendadak dinikahkan," bisik si ibu itu kepada ibu-ibu lain di sebelahnya.


Eni yang sempat mendengar, sontak menghentikan langkahnya. Dilepasnya tangan Danu. Lalu berbalik arah.


"Eh! Sembarangan saja kalau ngomong! Kalau tidak mau datang ya sudah. Jangan bikin gosip!"


Eni berteriak sambil berkacak pinggang. Danu yang melihat tingkah istrinya langsung berbalik juga dan menarik tangannya.


"Sudah-sudah. Jangan diladeni mereka."


Danu terus menarik tangan istrinya.


"Ngapain sih kamu, Bu. Malu-maluin saja," ucap Danu pelan.


Dia juga tidak mau suaranya terdengar telinga tetangga-tetangga yang rempong.


"Lagian mereka asal ngomong saja. Pingin aku kruwes-kruwes mulutnya," sahut Eni dengan kesal.


"Makanya, jawab seperlunya saja kalau mereka nanya-nanya. Kamu juga sih yang suka pamer."


Bukannya membela istrinya, Danu malah ngoceh.


"Dibelain kek, istrinya. Malah ngomel!"


Eni merengut. Danu melirik ke arah istrinya yang wajahnya ditekuk, lalu tersenyum sendiri.

__ADS_1


"Untung di sini. Kalau di rumah, sudah aku naikin kamu, Bu," gumam Danu gemas melihat Eni cemberut.


"Kayak kuat aja. Baru satu ronde saja sudah KO," sahut Eni dengan mulut yang masih manyun.


"Sembarangan! Nanti aku beli obat kuat. Biar kamu nyaho!" Danu tak mau disepelekan oleh istrinya. Eni hanya memonyongkan mulutnya.


Mereka sudah sampai di parkiran angkot. Danu menstaternya. Eni dengan gaya elegan, naik ke angkot sambil membayangkan dia naik ke mobil sedan yang berkilau.


"Biasa saja kali Bu, naiknya. Naik angkot saja kayak naik limosin!" ucap Danu sebal melihat tingkah istrinya yang sok kaya.


"Biarin kenapa sih, Pak. Aku kan mau belajar jadi orang kaya!" sahut Eni tak mau diprotes.


"Terserah kamu deh. Tapi nanti kalau ada yang lihat dan ngomong gak enak lagi, jangan marah ya?"


"Enggak akan marah! Tapi aku jambak rambutnya!" sahut Eni dengan gagah berani.


Danu tergelak mendengarnya. Dasar istrinya gak pernah mau kalah sama orang lain.


Jangankan dengan orang lain, dengan Danu suaminya saja selalu ingin menang sendiri.


Tapi Danu sangat menyayangi istrinya. Meski istrinya tak bisa memberikannya anak.


"Kita kemana dulu ini?" tanya Danu yang sudah melajukan angkotnya.


"Ke tukang rias dulu. Dia kan bukanya di ruko, kalau kesorean takutnya udah tutup," sahut Eni sambil menschrool medsosnya.


"Oke siap baginda Ratu," sahut Danu meledek istrinya.


"Ratunya udah cantik gini, Rajanya kagak pernah mandi," sahut Eni tanpa melihat ke suaminya.


"Sembarangan. Tadi pagi aku sudah keramas, Bu"


"Keramas kalau habis bertempur doang."


"Tiap hari, Bu. Kamu kan menyerangku setiap hari." Danu tergelak.


"Servis spesial, Pak. Mana ada coba istri seumuran aku yang masih hot."


Obrolan mereka terus berlanjut sampai di ruko milik perias pengantin kenamaan.


"Siapa yang mau menikah, Bu?" tanya si ibu tukang riasnya.


"Anak saya, Bu. Masa saya sih?" sahut Eni.


Danu melotot ke arah istrinya yang dianggapnya kurang sopan. Eni hanya nyengir saja.


"Oke. Silakan ibu memilih mau pakai model yang mana. Ini ada contoh beserta harganya."


Si ibu perias memberikan sebuah album besar yang berisi foto-foto pengantin.


Eni melongo melihat harga riasan yang sangat fantastik.


Gila! Mahal bener! Bisa tekor kalau begini.


Danu yang memperhatikan istrinya menahan ketawanya.


"Makanya jangan sok kaya, Bu. Jadi orang kaya itu tidak murah," bisik Danu.

__ADS_1


Eni memandang suaminya dengan tatapan memelas. Dia berharap ada solusi dari suaminya biar dia tetap bisa kesohor tapi tidak tekor.


__ADS_2