
"Diman...! Gila lu!" teriak Widya. Tubuhnya menabrak jok belakang yang diduduki Diman.
Eni pun sama. Tubuhnya menabrak jok yang diduduki Danu.
"Mana Tania, Pak?" seru Eni.
"Itu tadi yang menyeberang!" Danu menoleh ke belakang. Tempat di mana dia melihat sosok Tania.
Semua pun menoleh ke belakang. Sayangnya suasana jalanan yang padat dan agak gelap, membuat mereka tak bisa melihat sosok Tania lagi.
"Mana? Enggak ada, Pak!" Eni bahkan membalikan tubuhnya menghadap ke belakang.
"Kamu lihat enggak, Man?" tanya Danu pada Diman.
"Kagak ngeh. Tadi sih emang liat ada motor nyebrang," jawab Diman.
Diman memang tak begitu hafal dengan sosok Tania. Maklum, dia jarang melihatnya. Kalaupun dia datang ke rumah Tono, Tania hampir tak pernah terlihat.
Beda dengan Linda yang selalu mengikuti kemana pun Tono pergi. Bukan cuma hafal wajah, tapi juga body Linda yang aduhay.
Bahkan seringkali body Linda jadi bahan fantasi liar Diman, saat dia self servis di kamar mandi.
"Ah, elu gimana sih? Kita tuh lagi nyariin Tania. Giliran keliatan anaknya, elunya main bablas aja!" omel Danu.
"Ya gue kagak ngeh, mau dibilang apa!" Diman membela diri.
Semua pun hanya bisa mendengus dengan kesal. Pencarian yang mestinya sudah dapat titik temu, malah berakhir zonk lagi.
"Udah sekarang gimana, nih?" tanya Diman sambil menepikan mobil.
"Gue turun sebentar deh. Coba gue jalan ke arah sono! Kali aja Tania berhenti di warung apaan kek!" sahut Danu.
"Kamu yakin itu Tania, Dan?" tanya Widya.
"Yaelah, Mbak. Masa aku lupa ama anak sendiri!" Danu bergegas membuka pintu mobil.
"Pak! Aku ikut!" Eni pun ikut membuka pintu mobil.
Widya yang sudah capek, memilih tetap di dalam mobil. Diman juga tetap menunggu di mobil.
"Ayo buruan!" ucap Danu.
Baru saja Danu dan Eni menutup pintu, sosok Tania muncul lagi di seberang dan kembali melewati mobil mereka.
"Itu! Itu, Tania! Kejar...!" seru Widya.
Diman pun langsung menginjak gas.
"Woy! Mau kemana kalian!" seru Danu yang baru akan melangkah.
Danu menarik tangan Eni buat mengejar mobil yang baru akan jalan.
Terpaksa Diman mengerem lagi mobilnya.
"Udah, buruan kejar! Tinggalin aja mereka!" seru Widya.
Diman jadi bingung. Mau nungguin Danu dan Eni, atau tetap injak gas.
"Jalan....!" teriak Widya tepat di telinga Diman.
__ADS_1
"Busyet! Pecah gendang telinga gue!" seru Diman.
Diman menuruti Widya daripada dia dianiaya oleh di dalam mobil.
"Woy! Tungguin!" Danu dan Eni berlari mengejar mobil. Tapi Diman sudah menginjak rem dan melaju mengikuti arah motor yang membawa Tania.
"Kemana dia, Mbak?" tanya Diman.
"Ya kan kamu yang di depan! Masa tanya ama aku!" Widya tak mau disalahkan karena mereka kembali kehilangan jejak Tania.
"Enggak kekejar, Mbak. Mereka jalannya cepet banget. Lagian mereka naik motor. Bisa aja masuk ke gang kecil," ucap Diman.
"Ah, payah! Jadi supir enggak ada pinter-pinternya!" sahut Widya dengan kesal.
"Aku kan mesti liatin jalanan. Mestinya Mbak Widya dong yang lihatin target!" Diman pun tak kalah kesalnya.
"Enak aja, nyalah-nyalahin orang! Entar kalau nabrak, aku juga yang disalahin!" oceh Diman.
"Terus aja, ngoceh...!" seru Widya kembali di telinga Diman.
"Iya, kagak! Pecah deh kuping gue!" Diman kembali menepikan mobil dan menggosok-gosok telinganya.
Danu dan Eni yang terengah-engah mengejar mobil, sampai juga di tempat Diman menepikan mobil.
Danu menggedor pintu mobil. Lalu membukanya sambil ngomel.
"Gila lu! Gue ditinggalin! Maksud lu, apa?"
"Tadi Tanianya lewat, Danu...!" seru Widya.
"Hah? Yang bener, Mbak?" tanya Eni yang baru saja masuk.
"Iya. Makanya kita langsung tancap gas!" sahut Diman dengan kesal.
"Tanyain, noh! Sama kakak elu! Kuping gue sampe mau pecah, diteriakin!" Diman menunjuk Widya dengan kepalanya.
"Ya kalau nungguin kalian masuk lagi, bakalan ilang jejaknya Tania," sahut Widya tak mau disalahkan.
"Udah kan, denger sendiri?" Diman pun tak mau disalahkan.
"Hhh! Lepas lagi deh!" gerutu Danu sambil menyandarkan badannya ke jok.
"Kira-kira kemana ya, mereka?" tanya Eni.
"Kayaknya masuk jalan kecil itu deh!" Diman menunjuk jalan kecil yang hanya cukup buat lewat satu mobil.
"Sebentar-sebentar. Kalau kagak salah, itu jalan menuju komplek perumahannya si Mike. Temannya Tania!" ucap Danu.
Maklum saja, dia supir angkot yang biasa kelayapan di jalanan. Jadi agak paham jalan-jalan kecil.
"Kalau memang bener, berarti Tania ada di rumahnya Mike, dong!" sahut Eni.
"Bisa jadi!" sahut Diman.
"Berarti si Mike membohongi kita! Kurang ajar tuh, anak!" umpat Widya.
"Tadi juga gue lihat sepintas, yang boncengin Tania mirip orang yang bukain pintu gerbang rumahnya Mike," ucap Diman asal. Padahal dia lupa dengan wajah Dito.
Diman bukan cuma lupa, tapi enggak begitu memperhatikan saat Dito membukakan pintu gerbang buat Eni dan Widya.
__ADS_1
"Bener enggak, Mbak?" Diman meminta dukungan dari Widya.
"Sekilas sih iya. Tapi aku juga kurang memperhatikan. Soalnya dia membelakangi kita," jawab Widya.
"Hhh! Gimana sih! Pada enggak jelas!" gerutu Danu.
"Udah, kita datangi aja rumahnya Mike. Siapa tau, Tania benar-benar ada di sono," ucap Eni.
"Kalau si Mikenya bohong lagi?" tanya Diman.
"Kita masuk maksa masuk aja. Cari sampe ketemu di dalem rumahnya!" jawab Eni.
"Oke. Sekarang kita ke sono." Diman langsung cari jalan memutar untuk sampai ke jalan utama komplek perumahannya Mike.
"Berdoa, En. Moga-moga Tania benar-benar ada di sana," ucap Widya.
"Iya, Mbak. Ini juga lagi berdoa," sahut Eni.
"Berdoa apaan? Dari tadi matamu kemana-mana," ucap Widya.
"Yaelah, Mbak. Aku kan berdoa dalam hati. Tapi mata tetap fokus ke depan," sahut Eni.
"Sambil liatin warung minuman dong, Mbak. Aku haus banget nih," pinta Diman.
"Cckk! Elu itu, ada-ada aja!" Danu berdecak kesal.
Di sebuah kios rokok kecil, Diman menepikan mobil.
"Gue turun dulu. Beli minuman." Tanpa menunggu jawaban, Diman turun dari mobil.
Diman mengambil satu botol teh dingin. Lalu menenggaknya habis.
"Nih, Mpok. Ambil kembaliannya!" ucap Diman sambil memberikan uang lima ribuan.
"Mana ada kembaliannya. Uangnya pas gitu, kok," ucap pemilik kios.
Diman cuma nyengir, lalu kembali ke mobil.
"Mana minumannya?" tanya Danu.
"Udah gue abisin, lah." Diman kembali menyalakan mesin mobil.
"Bukannya beliin buat gue juga!" gerutu Danu.
"Ya elu, kagak bilang. Malah ngomel aja!" sahut Diman membela diri.
Mobil terus melaju ke komplek perumahan Mike.
Jantung Eni sudah dag dig dug. Dan tangannya siap membuka pintu mobil.
"Tuh, tuh, gerbang kompleknya!" Eni menunjuk ke arah pintu gerbang besar.
"Iya, udah tau!" sahut Diman.
Di pos satpam, mobil mereka diberhentikan.
"Mau kemana, Pak?" tanya seorang satpam dengan sopan.
"Kami mau ke rumah Mike yang bukan artis!" jawab Danu lantang.
__ADS_1
"Ooh, mbak Mike. Tuh, mobilnya baru aja keluar!" Satpam itu menunjuk sebuah mobil yang baru saja keluar dari gerbang, di seberang mobil mereka.
"Aduuh! Telat lagi deh kita!"