HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 176 MENGHIBUR TANIA


__ADS_3

Sari kembali ke rumah sakit, setelah mampu menenangkan hatinya yang tadi sangat panas.


Sari merasa marah karena Tono akan memberikan rumahnya pada Tania. Dan juga mendukung hubungan Tania dengan Rendi.


Dan kemarahan Sari dilampiaskan pada Tania. Termasuk juga keluarganya, yang dianggap matre.


Sari sengaja membawa-bawa nama Monica. Biar Tania sakit hati dan mundur dari Rendi.


Sari sama sekali tak respect pada Monica, sejak awal mengetahui Rendi berhubungan dengannya.


Sari mendiamkannya, karena kasihan pada Rendi yang tak juga bisa move on dari Tania.


Sari masuk ke kamar Rendi dengan pura-pura santai. Sari membawakan buah potong buat Rendi, yang dibelinya di minimarket depan rumah sakit.


"Ren, Mama bawa buah kesukaan kamu," ucap Sari.


Lalu Sari membuka thinwall tempat buah naga potong, kesukaan Rendi.


Rendi hanya diam saja. Dia lagi sangat kesal pada Sari.


"Nih, makan. Aak." Sari menyuapkan satu potong pada Rendi. Tapi Rendi menolaknya.


"Kenapa?" tanya Sari.


Rendi hanya diam saja.


"Ayo dimakan. Kata dokter, kamu harus banyak makan buah. Biar badan kamu cepet sehat jadi lukanya juga cepet sembuh," ucap Sari.


"Mama dari mana?" tanya Rendi dengan wajah penuh amarah.


Sari menatap wajah Rendi.


"Kamu kenapa?" Sari hendak menyentuh wajah Rendi. Tapi tangan Sari ditepis oleh Rendi.


Sari menghela nafasnya.


"Mama dari depan. Cari makan. Terus beli ini." Sari mengangkat thinwall yang dibawanya.


"Mama bohong!" ucap Rendi.


Sari kembali menatap wajah Rendi.


"Tania yang mengadu pada kamu?" Sari langsung menuduh Tania.


"Rendi dengar sendiri, Ma!" sahut Rendi.


"Ooh. Jadi dia merekam semua pembicaraan Mama?" tanya Sari.


"Tadi Rendi lagi telpon Tania. Dan Rendi yang menyuruh Tania tak mematikan telpon, waktu Mama datang ke sana!" jawab Rendi membela Tania.


"Iya, Mama dari sana. Kamu sudah dengar semuanya, kan?" tanya Sari. Dia mau tak mau mengaku.


"Kenapa Mama tega sekali mengatakannya pada Tania?" tanya Rendi.

__ADS_1


"Ren. Mama mengatakan, apa yang semestinya Mama katakan. Biar dia sadar!" jawab Sari.


"Sadar untuk apa?" tanya Rendi lagi.


"Ren. Tania akan mengambil semua harta papa kamu. Mama berusaha menyadarkannya. Biar harta papa kamu tak jatuh semua padanya!" jawab Sari.


"Memangnya kenapa kalau harta papa jatuh semua kepada Tania? Bukankah Tania juga istrinya papa? Sama seperti Mama?" tanya Rendi.


Rendi terpaksa mengatakan kalau Tania istri papanya. Meski hatinya merasa tak rela.


"Beda, Sayang. Beda. Jangan samakan Mama dengan dia," jawab Sari.


"Bedanya apa? Karena Mama istri pertama dan Tania istri kesekian?" Rendi tak tahu, Tono sudah menikah lagi berapa kali. Dan tak mengerti Tania istri yang keberapa.


"Ya. Itu salah satunya. Yang lainnya, karena Mama punya anak. Kamu Rendi. Kamu yang lebih berhak mewarisi harta papamu. Karena kamu anak satu-satunya," jawab Sari.


"Ma. Mewarisi itu kalau papa sudah meninggal. Kalau papa masih hidup, dia berhak memberikan hartanya pada siapapun. Termasuk pada Tania," sahut Rendi.


"Mama enggak akan rela. Dan Mama akan terus memperjuangkannya untuk kamu. Untuk anak-anakmu kelak!" ucap Sari.


"Anak-anak Rendi juga anak-anak Tania. Karena Rendi akan menikahi Tania. Jadi buat apa Mama repot-repot mempermasalahkannya?" tanya Rendi.


"Enggak! Mama tak akan pernah menyetujuinya! Dengar, Rendi. Mama enggak akan setuju. Titik!" Sari meletakan thinwallnya ke atas meja dengan kesal.


Dia tak berminat lagi menyuapi Rendi.


"Ma. Rendi tak akan mau menikah, kalau bukan dengan Tania. Titik!" balas Rendi dengan ketus.


"Itu lebih bagus! Kamu tak usah menikah sekalian!" ucap Sari.


Rendi menghela nafasnya dengan kasar.


Sari sangat keras kepala. Sama seperti Tono dulu, saat akan menikahi Tania.


Dan sepertinya sifat keras kepala Sari dan Tono, menurun ke Rendi.


Rendi juga bersikeras untuk tetap menikahi Tania, dengan atau tanpa persetujuan Sari.


Rendi membuka ponselnya lagi. Dia mengecek aplikasi chat Tania. Masih belum aktif.


Tania kehabisan batre ponselnya. Dan dia lupa mengechasnya.


Di kamarnya, Tania sedang bersedih. Sampai dia melupakan ponselnya.


Lagi pula Widya menunggui Tania di kamar. Dia takut kalau Tania kembali depresi seperti saat awal menikah dengan Tono.


"Tidurlah Tania. Biar kamu bisa lebih tenang," ucap Widya. Dia merasa sangat kasihan pada Tania.


Tania hanya diam saja. Dia merasa sangat sedih dengan nasibnya. Nasib percintaannya dengan Rendi yang selalu banyak rintangan.


"Tania. Jangan terlalu memikirkan masalahmu. Soal jodoh, sudah ada yang mengaturnya. Kalau Rendi memang jodohmu, nanti pasti ada jalannya," ucap Widya lagi.


Tania hanya menghela nafasnya yang terasa sangat sesak.

__ADS_1


"Bude kan sudah bilang. Jangan memaksakan keadaan. Jalani semua satu persatu. Sekarang, fokus dulu dengan perceraianmu dengan Tono. Biar Rendi juga fokus dulu dengan kesembuhannya," lanjut Widya.


"Bude tak tahu apa yang Tania rasakan sekarang. Sakit sekali, Bude!" sahut Tania.


"Iya. Bude tau. Makanya Bude di sini. Menemani kamu," sahut Widya.


Untuk sementara Widya memutuskan tinggal di rumah Danu dulu. Dia tak tega meninggalkan Tania.


Widya juga khawatir dengan Danu. Dia tak mau Danu sampai melakukan hal nekat.


Widya paham betul sifat adiknya yang suka berbuat nekat tanpa memikirkan akibatnya.


Seperti saat Danu terlilit hutang pada Tono, yang akhirnya mengorbankan Tania.


Meski sampai sekarang, Widya tak pernah tahu alasan sebenarnya, kenapa Danu dan Eni bisa terjebak hutang yang sangat banyak pada Tono.


Widya hanya tahu, kalau penghasilan Danu dan Eni tak cukup untuk menafkahi Tania.


Makanya Widya masih bisa memaafkan mereka berdua. Karena memang tak mudah menafkahi anak. Apalagi Tania semakin dewasa, tentunya butuh biaya yang tidak sedikit.


Eni masuk ke kamar Tania. Dia duduk di tepi tempat tidur. Di sebelah Tania.


Eni meraih tubuh Tania dan mendekapnya. Tania pun menyandarkan kepalanya di bahu Eni.


Hal seperti inilah yang sering dilihat oleh Widya. Dan Widya merasa kasih sayang Eni pada Tania begitu besar.


Membuat Widya juga sangat menyayangi Eni. Meski Eni hanyalah adik iparnya.


"Danu mana, En?" tanya Widya.


"Tidur, Mbak. Di kamar," jawab Eni.


"Jaga dia, En. Biar enggak nekat lagi," ucap Widya.


"Iya, Mbak," sahut Eni. Pasti dia akan selalu menjaga suaminya.


"Tania. Gimana kalau kita jalan-jalan ke kota. Tempat mbak Lintang bekerja. Buat refresing," ajak Widya.


Widya berpikir mungkin dengan refreshing, Tania bisa melupakan masalahnya. Apalagi Lintang, anaknya sangat baik. Pasti dia bakal mau menghibur Tania.


"Iya, Mbak. Aku mau. Nanti kita menginap di hotelnya mbak Lintang, ya," sahut Eni.


Dia pernah mendengar cerita dari Lintang, tentang hotel tempatnya bekerja. Menurut Eni, itu sangat menyenangkan.


"Memangnya kamu punya uang?" tanya Widya.


"Enggak. Memangnya bayar?" tanya Eni dengan polosnya.


"Kamu pikir itu hotel nenek moyangmu, apa!" sahut Widya.


"Waduh, kalau nenek moyangku enggak punya hotel, Mbak. Nenek moyangku kan seorang pelaut!" sahut Eni sambil nyengir.


Widya menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


Dasar adik ipar gila!


__ADS_2