HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 206 MAKAN PAGI HAPPY


__ADS_3

"Kalian makanlah. Aku nunggu di lobby," kata Lintang.


"Lho, kenapa begitu?" tanya Tania.


"Layanan makan di hotel ini khusus untuk tamu. Dan untuk satu kamar hanya bisa maksimal dua orang," jawab Lintang.


"Terus kalau Mbak Lintang mau makan?" tanya Tania lagi.


"Nanti bakal kena charge tambahan," jawab Lintang.


Widya hanya menyimak saja. Sebab diapun tak tahu peraturan hotel sedetail itu.


"Udah, Mbak Lintang ikut aja. Nanti gampang aku bayar lagi," ucap Tania.


"Enggak usah, Tania. Lagian sayang uangmu. Aku juga udah bosen dengan menu makanan di sana. Kan tiap hari aku ikut memasak," sahut Lintang.


"Lintang. Kamu kan perlu juga sarapan. Ingat anak dalam perut kamu," ucap Widya perlahan.


Widya jelas tidak tega membiarkan Lintang yang sedang mengandung harus menahan lapar.


"Enggak, Bu. Lintang makan di cafe dekat lobby saja. Lintang kadang agak mual dengan aroma masakan itu." Lintang tetap menolak.


Beberapa saat terkahir ini, Lintang memang sering merasa mual saat memasak daging-dagingan di dapur hotel.


Biasanya Lintang akan memakai masker saat memasaknya, atau menyerahkan masakan itu pada temannya. Dan Lintang akan mengerjakan yang lainnya.


"Memangnya ada cafe di dekat lobby?" tanya Widya.


"Ada, Bu. Tenang aja. Lintang bisa makan roti dan susu di sana," jawab Lintang.


"Ya udah kalau begitu. Mbak Lintang bawa uang?" tanya Tania.


"Bawa Tania. Tenang aja. Udah sana. Lintang juga mau kembali dulu ke kamar paman. Soalnya makan pagi di sini hanya sampai jam sepuluh saja. Nanti kalau mereka terlambat, sayang kan?"


Tania dan Widya mengangguk. Lalu mereka menuju room service yang ditunjukan Lintang.


Lalu Lintang naik lagi ke kamar Danu. Siang ini Lintang juga akan mengajukan surat pengunduran dirinya. Lintang akan resign sesuai kemauan Widya.


Padahal karier Lintang di hotel ini cukup menjanjikan. Gajinya pun tidak kecil.


Tapi Lintang juga memang harus mengambil keputusan ini secepatnya. Sebelum teman-temannya tahu kalau dia sedang hamil. Sementara mereka juga tahu kalau Lintang belum menikah.


Lintang sampai di depan kamar Danu. Lalu mengetuknya perlahan.


Kebetulan Danu dan Eni sudah selesai bertarung di bawah kucuran air shower. Meski sangat menyenangkan, tapi tenaga keduanya yang telah berumur, menjadikan acara itu tak bisa berlangsung lama.


Danu membukakan pintu.


"Lintang. Masuk." Danu mempersilakan Lintang masuk.


Eni masih mengenakan handuk di tubuhnya.


"Ada apa, Mbak? Mana Tania dan ibumu?" tanya Eni.

__ADS_1


"Mereka lagi makan pagi, Bi. Paman dan bibi cepatlah ke sana. Makan pagi cuma sampai jam sepuluh saja," jawab Lintang.


"Lho, kamu kenapa enggak sekalian makan?" tanya Eni.


"Enggak apa-apa, Bi. Lintang hanya lagi enggak kepingin sarapan aja. Kepinginnya cuma makan roti dan minum susu," jawab Lintang.


Akhir-akhir ini selera makan Lintang juga sering hilang. Dan biasanya saat seperti ini, dia memaksakan dirinya mengkonsumsi roti dan susu. Kadang juga buah atau puding.


"Owh, ya udah. Nanti kita beli roti sama susu buat kamu," ucap Danu.


Danu merasa sangat kasihan melihat Lintang yang hamil tanpa suami. Danu bertekad akan siap menjaga Lintang selama kehamilannya.


Bahkan nanti setelah anak Lintang lahir pun, dia dan Eni sepakat untuk mengurusnya. Biar Lintang kembali bekerja seperti sekarang.


Hal itu baru saja dibicarakan Danu dan Eni, setelah mereka olah raga pagi di kamar mandi.


"Iya, Paman. Terima kasih. Nanti Lintang cari sendiri di bawah," ucap Lintang.


Lintang merasa trenyuh juga bahagia. Karena paman dan bibinya sangat baik padanya, meskipun mereka tahu Lintang hamil tanpa suami.


Danu dan Eni cepat-cepat bersiap. Mereka juga merasa sangat lapar. Karena energi mereka terkuras untuk olah raga tadi.


Tak sampai sepuluh menit mereka bersiap. Eni pun tak merias wajahnya dulu. Dia sudah kepingin makan di hotel berbintang ini.


"Pasti menunya enak-enak ya, Mbak," ucap Eni sembari berjalan mengikuti Lintang menuju tempat makan.


"Iya, Bi. Semoga Bibi dan paman cocok dengan masakannya," sahut Lintang.


"Kalau enak, ya pasti cocoklah," sahut Danu.


"Halah, pamanmu masakan warteg aja dia doyan. Masa masakan di hotel berbintang enggak mau," ucap Eni.


Danu hanya nyengir saja.


"Itu Paman. Bibi. Tempat makannya. Tunjukan kartu akses kalian ke penjaga di sana. Kalian bisa bebas memilih makanan." Lintang menunjuk ke room service.


"Bayar enggak kalau makannya lebih banyak?" tanya Danu.


Lintang tersenyum.


"Enggak, Paman. Semuanya gratis. Makan sepuasnya. Asal tidak dibawa keluar," jawab Lintang.


"Tania dan ibumu masih ada di sana?" tanya Eni.


"Kelihatannya masih. Mereka baru sekitar lima belas menit yang lalu." Lintang melihat ke jam tangannya.


"Nanti sekalian bilangin ke ibu. Tunggu di kamar aja dulu. Lintang mau sekalian mengurus surat pengunduran diri. Lintang akan kembali ke kamar sebelum jam dua belas siang," ucap Lintang lagi.


"Oh iya, Paman. Bibi. Tanyakan juga pada Tania. Kalau memang mau keluar dari hotel haru ini, bersiaplah sebelum jam dua belas siang. Biar enggak kena chas tambahan. Atau mau pindah ke hotel lain, nanti Lintang carikan," tambah Lintang.


"Iya, Mbak. Jangan banyak-banyak ngomongnya. Nanti Bibi lupa," sahut Eni sambil nyengir.


"Huu...dasar kamu sudah tua! Jadi pikun!" ledek Danu.

__ADS_1


"Memangnya kamu paham, apa yang dikatakan mbak Lintang barusan?" tanya Eni.


Danu hanya garuk-garuk kepalanya saja. Lintang pun hanya tersenyum. Dia lupa kalau paman dan bibinya ini kadang lemot.


"Udah sana. Makan dulu biar bisa ingat omongan Lintang tadi." Lintang pun ikutan meledek keduanya.


Eni tersipu malu. Otaknya memang sering lemot kalau lagi lapar.


"Ayo, Pak." Eni menarik tangan Danu.


Sampai di dalam ruang makan, mereka mencari keberadaan Tania dan Widya.


Tania dan Widya masih asik dengan makanannya.


"Wah, kayaknya enak banget. Di mana ngambilnya?" tanya Eni begitu melihat makanan yang ada di depan Tania.


"Di sana, Bi. Ambil aja." Tania menunjuk ke arah meja tempat tadi dia mengambil makanannya.


"Anterin Bibi, dong. Bibi malu," pinta Eni.


"En, Tania lagi makan," sergah Widya.


"Enggak apa-apa, Bude. Nanti makannya bisa diterusin lagi." Tania berdiri dan mengantar Eni juga Danu mengambil makanan.


"Wuih! Kayaknya enak-enak banget," ucap Danu melihat banyaknya jenis makanan yang disajikan.


"Ambil secukupnya aja, Paman," ucap Tania.


"Lho, memangnya enggak boleh kalau ambil banyak?" tanya Danu.


"Boleh. Tapi kalau nanti Paman kekenyangan, kan enggak bisa ambil makanan lainnya," jawab Tania.


Masuk akal. Danu manggut-manggut.


Lalu mulai mengambil makanan yang disukainya.


"Paman mau minum apa?" tanya Tania.


"Kopi ada?" Danu balik bertanya.


Tania mengangguk. Lalu pergi ke meja tempat kopi dan memesankan dua kopi latte.


Setelah puas mengambil makanan, Danu dan Eni bergabung dengan Widya.


Tak lama, Tania datang dengan dua cangkir kopi latte dengan gambar wajah kucing di atasnya.


"Wouw. Cantik sekali kopinya. Jadi sayang minumnya," ucap Eni kagum.


"Kalau sayang, ya udah, liatin aja kopinya. Enggak usah diminum!" sahut Widya.


"Ish. Tania difoto dulu dong kopinya. Nanti kirim ke hape Bibi," ucap Eni.


"Jangan, Tania. Entar kucingnya melet lho," ucap Widya.

__ADS_1


Mereka pun tertawa ngakak.


__ADS_2