HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 230 KENEKATAN RENDI


__ADS_3

Tania selesai menceritakan kisah hidupnya selama ini. Baik Lintang maupun Mike yang sudah tahupun sampai meneteskan air mata.


Kisah hidup Tania benar-benar sangat haru biru. Dan membuat siapapun yang mendengar ikut menangis.


"Aku enggak nyangka segitu berat permasalahan hidupmu. Aku pikir, kamu orang yang sangat beruntung, Tania," ucap Lintang.


"Aku beruntung karena bisa memiliki Rendi, Mbak. Meskipun perjuangan kami masih sangat panjang. Entahlah....semoga kami bisa melewati semuanya bersama," sahut Tania.


"Aamiin," sahut Lintang dan Mike bersamaan.


"Aku selalu mendoakanmu, Tania. Semoga kamu bisa melaluinya bersama Rendi," ucap Mike.


Satu-satunya sahabat Tania sejak SMA dulu. Dan masih tetap baik sampai sekarang.


"Terima kasih, Mike. Aku juga berdoa semoga kamu dan Dito selalu bahagia. Tak sampai mengalami cobaan seperti aku dan Rendi. Berat dan menyakitkan banget," sahut Tania.


"Tapi yakinlah, kamu kuat dan bakal bisa melewati semuanya. Jangan ragu buat minta bantuan kami, kalau kamu membutuhkan," sahut Mike juga.


"Enak banget ya, kalian. Bisa bersahabat segitu baiknya. Enggak kayak aku. Aku selalu merasa sendiri." Wajah Lintang langsung berubah mendung.


Mike menghampiri Lintang.


"Mbak Lintang. Mulai sekarang, kita bisa bersahabat. Aku mau kok jadi sahabat Mbak Lintang."Mike menggenggam tangan Lintang.


Mata Lintang berbinar.


"Iya, Mbak. Dari dulu kita kan sudah dekat. Tapi Mbak Lintang malah kerja di luar kota," imbuh Tania.


"Makasih Mike. Tania. Mulai sekarang, aku akan terus ada di kota ini. Sambil membesarkan calon anakku ini." Lintang mengelus perutnya yang masih rata.


Mike terkesiap mendengarnya.


"Maksud Mbak Lintang?" tanya Mike bingung.


"Aku lagi hamil, Mike," jawab Lintang.


"Hah...! Hamil...?" tanya Mike tak percaya sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan.


Lintang mengangguk. Lalu menceritakan kisahnya sampai akhirnya hamil.


"Ya ampun...! Kurang ajar banget itu laki-laki. Kalau aku, udah aku hajar lelaki macam itu!" ucap Mike berapi-api.


"Paman Danu udah menghajarnya sampai babak belur, Mik," ucap Tania.


"Oh ya? Baguslah. Terus gimana?" tanya Mike.


"Mau dihajar kayak apapun, kalau memang tak ada niat untuk bertanggung jawab ya percuma saja. Aku juga enggak mau kalau dia menikahiku cuma untuk status saja," ucap Lintang.


"Iya bener, Mbak. Buat apa nikah kalau ujung-ujungnya cerai juga. Kasihan anaknya nanti. Cuma punya status tapi tak dapat kasih sayang dari bapaknya," timpal Tania.


"Iya. Aku setuju. Kalau udah melahirkan nanti, Mbak Lintang kan bisa kerja lagi. Buat apa ngemis-ngemis tanggung jawab dari orang yang tak bertanggung jawab!" Mike pun mendukung keputusan Lintang untuk mengasuh calon anaknya sendiri.

__ADS_1


Karena kini Lintang tak hanya sendiri. Banyak orang-orang baik di sekitarnya.


Lintang memeluk pinggang Mike yang duduk di sandaran tangan sofa.


Mike pun membalas memeluk kepala Lintang dengan erat.


Mike yang hanya anak tunggal dan ditinggal kerja jauh oleh kedua orang tuanya, jadi merasa punya keluarga.


Dan saat Rendi melempar tongkatnya ke tembok dengan keras, mereka bertiga terjengit. Suaranya terdengar sampai ke telinga mereka.


"Ada apa itu?" tanya Tania. Dia langsung berdiri.


Mike melepaskan pelukannya pada Lintang dan menghampiri Tania.


"Kamu di sini aja, Tania. Biar aku yang cari tau," ucap Mike.


"Tapi, Mik...." Tania terlihat sangat khawatir.


"Ini demi keselamatan kamu, oke...!"


Mike berlari ke pintu dan perlahan-lahan membukanya. Lalu perlahan pula keluar. Mike mengendap-endap seperti maling.


Dari atas tangga, Mike mendengar perdebatan mereka.


"Rendi! Apa-apaan, kamu?" teriak Sari.


"Biar Rendi enggak bisa jalan sekalian! Atau Mama mau Rendi mati saja?" tanya Rendi.


"Jangan gila kamu, Rendi!" sahut Sari.


Tangan kanan Rendi menarik paksa perban yang masih membalut tangannya.


Sreet!


Semua orang terbelalak melihatnya.


Sebagai tenaga medis, Mila berlari ke arah Rendi. Dia mencoba menghentikan aksi Rendi. Karena itu sangat membahayakan.


Luka-luka dan bekas jahitan di tubuh Rendi belum kering. Dan bisa saja kembali berdarah.


"Jangan, Maa Rendi. Hentikan. Ini sangat bahaya!" ucap Mila sambil memegangi tangan Rendi.


"Biarkan, Mila. Lepaskan!" Rendi menepiskan tangan dan tubuh Mila. Hingga Mila terjengkang.


"Auwh!" seru Mila.


"Rendi....jangan, Sayang! Oke...Mama mengalah. Mama mengalah!" Akhirnya Saripun tak bisa berbuat apa-apa melihat Rendi nekat.


"Mengalah apa? Mama bisa pegang janji, Mama?" tanya Rendi.


Luka di tangan Rendi terlihat berdarah lagi. Eni sampai tak kuasa melihatnya. Dia memeluk Danu yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Mike yang sudah turun pun melihat adegan itu dengan mata terbelalak.


Segitu nekatnya Rendi? Mike membekap mulutnya sendiri.


"Iya. Mama janji. Mama janji, Sayang. Udah, ya. Jangan lakukan lagi," sahut Sari sambil menangis.


Tono membantu Mila berdiri. Karena Mila jatuh tepat di depannya.


Ternyata Tania dan Lintang pun ikut turun dan melihat adegan itu. Melihat Tania di belakangnya, Mike berusaha menahan Tania yang mau menghampiri Rendi.


"Lepasin, Mike. Lepasin!" Tania berusaha melepaskan pelukan Mike sambil menangis.


"Rendi...! Rendi...!" Tania memanggil-manggil Rendi sambil terus menangis.


Rendi menoleh ke arah Tania. Lalu dengan sekuat tenaganya Rendi berusaha menghampiri Tania.


"Tania....!" Tangan Rendi berusaha menggapai Tania yang masih jauh dari jangkauannya.


Rendi pun jatuh di dekat kaki Sari.


"Rendi...!" seru Sari.


Sari langsung menunduk hendak menolong Rendi. Tapi Rendi menepiskan tubuh Sari.


Rendi tak mau lagi peduli pada Sari. Meskipun Sari adalah mamanya sendiri.


Melihat Rendi terjatuh, Mike pun melepaskan tubuh Tania. Dan spontan Tania berlari mendekati Rendi.


"Rendi....!"


Tania bersimpuh dan memeluk Rendi dengan erat. Tangisnya kembali pecah. Tania tak kuasa melihat Rendi terluka lagi.


Rendi pun memeluk Tania dengan erat.


"Tania, jangan tinggalkan aku, Sayang!" ucap Rendi sambil terus memeluk Tania.


"Aku enggak akan kemana-mana, Sayang." Tania menciumi kepala Rendi.


Tono pun tak kuasa melihatnya. Air matanya berlinang membasahi pipi. Dua kali dia melihat perjuangan Rendi yang begitu besar untuk mendapatkan Tania.


Tono pun menghampiri dan memeluk keduanya dengan erat.


Sari masih terpaku di tempatnya. Meski tadi Sari telah berucap, tapi egonya masih belum ikhlas.


Hanya air matanya saja yang menunjukan hati nuraninya. Sari tak bisa membendung air matanya.


Rumah Tono seakan banjir air mata. Bahkan seorang Tajab yang terkenal bengis pun, menitikan air matanya.


Mila mendekat. Dia melihat tetesan darah dari luka Rendi.


"Pak. Boleh saya obati lukanya mas Rendi," ucap Mila sambil menyentuh punggung Tono.

__ADS_1


Tono pun melepaskan pelukannya. Lalu menyingkir. Begitu juga Tania. Dia melepaskan pelukannya.


"Ada yang bisa bantu saya mengangkat mas Rendi?" pinta Mila.


__ADS_2