HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 217 NONGKRONG DI RUMAH TONO


__ADS_3

"Lintang bukan pelakor, Bu. Lintang tak pernah menginginkan ini semua. Lintang tak pernah mencintai Haryo. Kami hanya berteman biasa aja," sahut Lintang. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Makanya, biarkan aja semua berjalan sendiri. Kamu jangan menghubungi Haryo lagi. Ibu enggak mau kalau kamu dicap mengganggu rumah tangga orang," ucap Widya. Matanya pun mulai berembun.


"Kalau dia memang mau bertanggung jawab, biar atas kemauannya sendiri. Bukan karena terpaksa. Kalaupun dia mau lepas tangan, masih ada kami yang siap menerima anakmu. Jadi kamu enggak usah terlalu mikir, ya," lanjut Widya.


Lintang mengangguk. Tak terasa pipinya basah.


Danu masuk kembali ke mobil.


"Ya....kok nangis sih? Paman kan cuma sebentar." Danu memberikan botol air mineral pada Lintang.


Danu mengira Lintang menangis karena dia kelamaan datangnya. Danu menganggap Lintang masih seperti balita yang dulu diasuhnya.


Lintang mengapus air matanya, lalu menerima botol dari Danu.


"Paman kelamaan sih. Lintang udah kehausan," ucap Lintang berbohong.


Lintang tak mau Danu ikutan sedih dengan apa yang telah menimpanya.


Lintang tak tahu kalau Danu menyembunyikan kesedihannya dalam hati. Dan sekarang Danu ingin membahagiakan Lintang yang pastinya sangat terluka.


Danu kembali melajukan mobil. Rumah Widya tak jauh lagi. Karena memang jarak rumahnya dan rumah Widya tak terlalu jauh. Kalau naik motor, bisa lewat jalan pintas dan lebih dekat.


"Kamu mau mampir dulu, Dan?" tanya Widya setelah sampai di depan rumahnya.


"Enggak, Mbak. Entar malah kemalaman," jawab Danu.


"Paman, besok Tania suruh main kesini, ya. Nemenin Lintang," ucap Lintang sebelum turun.


"Iya. Besok Tanianya Paman anterin kesini," sahut Danu.


Setelah Widya dan Lintang turun, Danu melanjutkan perjalanan ke rumah Tono. Rumah yang pernah ditempati Tania.


Sampai di depan rumah mewah itu, seperti biasanya, pintu gerbangnya terkunci rapat.


Danu turun dari mobil dan menekan bel.


Dan tak lama, Yahya datang.


"Eh, kamu. Ada apa?" tanya Yahya. Dia lupa nama Danu. Yang diingatnya, Danu adalah paman Tania.


"Bukain pintunya, Mang. Aku mau balikin mobilnya Tono," jawab Danu.


Yahya mengangguk. Lalu merogoh kantong celananya mengambil kunci gerbang.


Yahya selalu mengantongi kuncinya, biar kalau harus membuka gerbang, enggak kesulitan nyariin kunci.


Danu pun kembali ke mobil dan membawanya masuk ke halaman rumah Tono.


Di teras rumah Tono, ada Diman, Wardi dan Tajab yang duduk di atas kursi roda.


Danu menghampiri mereka.

__ADS_1


"Hey! Dari mana aja lu, Bro?" tanya Diman. Dia yang paling akrab dengan Danu. Karena pernah bersama mencari Tania.


"Healing!" jawab Danu dengan sombong.


"Healing! Belagu, lu!" sahut Diman.


Danu cuma nyengir saja.


"Lu belum sembuh, Jab?" tanya Danu pada Tajab.


Danu juga kenal dengan Tajab. Karena dulu Tajab sering mendatangi kontrakannya dengan Tono.


Tajab menggeleng pelan. Sebab kepalanya masih di perban.


"Lama dia mah sembuhnya. Liat aja kepalanya pecah kayak gitu!" ucap Diman seenaknya.


Tajab menatap sinis ke arah Diman. Tajab tak bisa lagi berbuat seenaknya seperti dulu. Karena kondisinya yang masih lemah dan butuh bantuan teman-temannya.


"Man, Tononya ada?" tanya Danu pada Diman.


"Kagak ada. Dia di rumah bu Sari. Kalau lu mau ketemu, ke rumah bu Sari aja!" jawab Diman.


Hah...! Ke rumah bu Sari? Bisa habis aku dibantainya. Batin Danu.


"Enggak ah. Males! Gue taruh di sini aja mobilnya. Entar gue telpon Tono," sahut Danu.


"Males apa takut, lu?" tanya Diman.


Tindakan Danu sudah benar. Kalau dia mendatangi rumah Sari, bisa dipastikan Sari akan melabraknya dan mengusik kehidupan Tania lagi.


"Ya udah, kalau gitu kita ngopi dulu aja. Yahya, Danu bikinin kopi tuh," ucap Diman pada Yahya.


Yahya mengangguk. Tapi bukan dia yang mau membuatkan kopi buat Danu.


"Bu...!" Yahya berteriak memanggil Asih.


"Iya, Pak!" Asih yang lagi nonton televisi, buru-buru keluar.


"Ada apa, Pak?" tanya Asih.


"Eh, ini bukannya paman neng Tania?" Asih menunjuk ke arah Danu.


"Iya, Mbak. Apa kabar?" Danu menyalami Asih.


"Hhh! Giliran perempuan aja, lu salamin. Kita kagak ada yang elu salamin!" ledek Diman.


"Ya udah, sini elu gue salamin. Mau cipika cipiki juga kagak?" balas Danu.


"Ih, najis! Emang gue laki apaan?" sahut Diman. Mereka pun tertawa bersama.


"Neng Tania apa kabarnya, Bang?" tanya Asih.


"Baik. Kita baru aja pulang jalan-jalan ke kota. Refreshing!" jawab Danu.

__ADS_1


"Lagu lu, Dan. Kayak orang kaya aja!" sahut Diman.


"Ye...lu kagak percaya. Kita malah menginap di hotel berbintang." Danu semakin menunjukan kesombongannya.


"Bintang berapa?" tanya Yahya.


Dulu kehidupan Yahya pun cukup baik. Saat liburan sekolah, Yahya dan Asih sering ke luar kota dengan almarhumah anak mereka dan menginap di hotel.


"Bintang tujuh! Hahaha." Diman kembali meledek Danu.


Tapi Danu tak mempedulikannya. Baginya sudah biasa saling mengolok-olok dengan teman.


"Sekarang Tania tinggal dimana?" tanya Asih pada Danu.


"Tinggal di rumah kami, Mbak," jawab Danu.


"Tania suruh main ke sini dong. Aku kangen banget sama dia," ucap Asih.


"Iya, Mbak. Nanti aku bilangin ke Tania. Moga-moga Tanianya mau. Tono juga udah baik kok, sama kita," sahut Danu.


"Iya. Udah tobat dia! Tobatnya telat!" ucap Asih. Lalu masuk mau membuatkan kopi untuk Danu.


"Telat juga mending, daripada enggak sama sekali," ucap Yahya.


"Iya. Tobat setelah banyak makan korban. Termasuk dirinya sendiri," ucap Wardi yang dari tadi diam saja.


"Dan lumayan juga kan elu, Kang. Dapat sekenannya. Hahaha," ucap Diman sambil ketawa lagi.


Wardi melirik ke arah Tajab. Sekenan yang udah diembat duluan oleh Tajab.


Wardi sempat memakai Linda saat mengantarnya pulang. Dan beberapa kali dia masih terus berhubungan dengan Linda.


Wardi baru memutuskan hubungan dengan Linda, setelah Diman memberitahukan kalau Tono kena penyakit kelamin. Dan tidak menutup kemungkinan, Linda kena juga.


"Dapet souvenir juga dari Linda ya, War." Yahya ikut menimpali.


"Souvenir? Souvenir apaan?" tanya Danu tak paham.


"Souvenir penyakit kelamin lah. Lu pikir kondangan? Dapat souvenirnya sendok sayur!" Diman tak henti-hentinya tertawa.


Diman merasa dirinya merdeka. Tidak kena penyakit dari Linda. Tidak juga luka parah seperti Tajab.


Danu pun ikutan terkikik. Mau ketawa keras, tidak enak sama Wardi. Karena dia tak begitu mengenalnya.


"Eh, kalau Tania ketularan juga enggak, ya?" tanya Diman.


Danu langsung terdiam. Bagaimanapun, Danu merasa khawatir, kalau sampai Tania ketularan.


"Kalau neng Tania, aku jamin aman. Mereka kan enggak pernah tidur bareng. Apalagi setelah Linda datang. Mereka pisah kamar!"


Asih menjawab sambil membawakan kopi untuk Danu.


Danu pun bernafas lega. Dan berharap, semoga Tania benar-benar tidak ketularan.

__ADS_1


__ADS_2