HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 29 KETEMU ULET KEKET


__ADS_3

Rendi tidak jadi datang ke rumah Tania. Karena tiba-tiba mamanya minta diantar ke rumah temannya.


"Mama kan bisa berangkat sendiri. Hari ini Rendi ada janji dengan Tania. Kan Mama sendiri yang bilang pingin kenalan sama Tania."


Rendi ngomel panjang lebar karena mamanya membuatnya batal ketemu Tania.


"Besok lagi kan bisa, Sayang. Teman Mama ini baru pulang dari luar negeri. Kali aja Mama dapat oleh-oleh dari sana," sahut Sari yang tak mau acaranya digagalkan oleh Rendi.


"Kan acara Mama bisa besok lagi. Apalagi teman Mama baru pulang dari luar negeri. Pastinya capek kan, Ma."


Rendi tak mau kalah.


"Pokoknya Mama mau kamu nganterin Mama sekarang, titik!"


"Rendi telponin papa ya? Biar papa yang nganter Mama."


Rendi mencoba bernegosiasi.


"Enggak mau! Mama maunya sekarang! Kamu mau Mama merestui hubunganmu dengan Tania kan?" Rendi mengangguk pasrah.


"Udah ayo." Sari menarik tangan anaknya.


Rendi mengalah daripada mamanya nanti ngambeg dan tidak jadi merestui hubungannya dengan Tania.


Rendi mengendarai mobil mamanya. Hadiah ulang tahun dari papanya. Tapi sampai sekarang mamanya tidak bisa memakainya.


Kalau disuruh belajar menyetir tidak mau, alasannya malas.


Dan Sari lebih suka naik motor ke pasar daripada naik mobil. Parkirnya jauh, katanya. Pokoknya ada seribu satu alasan kalau disuruh pakai mobil sendiri.


Akhirnya Rendi yang sering memakainya. Mamanya pun tak pernah melarang.


Sementara di rumahnya, Tania yang sudah siap menunggu dijemput Rendi, mulai gelisah.


Rendi tidak juga datang. Tania membuka lagi chatnya dengan Rendi.


Rendi aktif satu jam yang lalu. Setelah mengirim pesan pada Tania, ponsel Rendi sudah tidak aktif lagi.


Tania mengirimkan pesan untuk Rendi. Centang dua. Berarti nomor Rendi aktif, tapi kenapa tak dibaca?


Tania tidak tahu kalau Rendi lupa mengabarinya saat mau mengantarkan mamanya. Dan sekarang malah ponsel Rendi ketinggalan.


"Ma, ponsel Rendi ketinggalan!" seru Rendi di mobil.


"Kamu ada-ada saja," sahut Sari.


"Kita balik lagi ya, Ma. Sebentar. Rendi lupa belum kasih kabar ke Tania," pinta Rendi.


"Ah, gak bisa. Kita udah jauh. Nanti saja pulangnya kamu bisa telpon Tania sepuasmu."


Sari menolak dengan keras keinginan anaknya.


"Mama egois." Rendi merajuk. Tapi Sari pura-pura tak mendengar.


Biasanya, apapun keinginan anaknya pasti akan dipenuhi.


"Alamatnya mana, Ma?" tanya Rendi setelah mereka hampir sampai ke jalan menuju rumah teman Sari.


"Jalan Mawar nomor 39 A. Paling sebentar lagi," jawab Sari.


"Mama sudah pernah ke rumahnya belum?" tanya Rendi.


"Sudah. Tapi Mama lupa. Soalnya sudah lama banget."


"Ya udah. Buka google map saja. Biar tidak nyasar."


Sari memberikan ponselnya pada Rendi.

__ADS_1


"Mama dong yang buka. Rendi kan lagi nyetir."


"Mama gak bisa bukanya," sahut Sari sambil meringis.


Rendi bersungut-sungut lalu meminggirkan mobilnya.


"Makanya belajar kenapa sih, Ma. Biar tidak gaptek." Ganti Rendi yang ngoceh.


"Mama kan sudah hafal jalan ke pasar Ren," sahut Sari dengan santainya.


Memang Sari tak pernah pergi jauh selain ke toko batiknya di pasar.


"Ah, Mama bisanya ngeles mulu. Kayak bajay."


"Sembarangan ngatain Mama kayak bajay!" Sari menoyor kepala anaknya.


"Lagian gak pernah nurut sama anaknya."


Rendi melajukan kembali mobilnya setelah menemukan rute di google map.


Hingga sampailah mereka di sebuah rumah besar. Rumah tua.


"Benar ini rumahnya, Ma?" tanya Rendi ragu-ragu.


"Sepertinya." Sari juga ragu menjawabnya.


"Katanya Mama pernah ke sini?" tanya Rendi lagi.


"Kan Mama bilang dulu. Dan dulu gak kayak gini rumahnya".


"Ya udah kita turun," ajak Rendi.


Sari pun turun walau ragu. Serem amat rumahnya, batin Sari.


"Assalamualaikum." Rendi mencoba memberi salam. Sari yang mengetuk pintunya.


"Waalaikumsalam," jawab sebuah suara cempreng dari dalam rumah.


Pakaiannya minimalis. Hanya mengenakan tank top dan hot pants.


Rendi menelan ludahnya. Cleguk.


Jiwa tengilnya meronta. Tapi karena ada mamanya, Rendi sekuat mungkin menahan diri.


"Ingat, Ren. Elo udah punya Tania," bisik hati Rendi.


Rendi memalingkan wajahnya dari tubuh mulus di depannya, yang hanya di bungkus baju minimalis.


"Cari siapa, Tante?" mata gadis itu tak lepas dari sosok Rendi yang tinggi tegap, berkulit putih bersih.


"Apa benar ini rumah Isma?" tanya Sari.


"Isma bibi saya, Tante" jawab gadis itu.


"Oh. Alhamdulillah. Berarti kita tidak salah alamat. Ismanya ada?" tanya Sari lagi.


Sari mengerutkan keningnya karena gadis yang di depannya, bukannya mendengarkan pertanyaannya, malah matanya menatap anak lelakinya tanpa kedip.


Sari melambaikan tangan di depan wajah gadis itu, hingga si gadis tersentak dan tersipu malu.


"Oh, maaf Tante. Ada. Bibi saya ada. Sebentar saya panggilkan."


Lalu si gadis melangkah setengah berlari memanggil bibinya.


"Bi! Bibi! Ada tamu!" seru gadis itu di depan sebuah kamar.


"Kamu ngapain sih teriak-teriak? Siapa?" tanya seorang perempuan seumuran Sari dan bertubuh sintal.

__ADS_1


"Perempuan. Sama anaknya. Ganteng banget anaknya," ucap si gadis kegirangan.


"Ish. Kamu tuh, gak bisa lihat cowok ganteng," sahut bibinya, lalu menoyor kepala keponakannya.


Perempuan bernama Isma itu segera keluar menemui tamunya.


"Sari...!"


"Isma...!"


Mereka pun berpelukan dan cipika cipiki. Saking senangnya ketemu, sampai melupakan ada dua pasang mata yang saling memandang.


"Ayo masuk! Duduk. Duduk!" ucap Isma.


"Eh, si ganteng ini anakmu, Sar?" Sari menoleh pada Rendi yang masih diam di tempatnya tadi.


"Iya. Sini Sayang. Mama sampai lupa kalau datang sama anak Mama," ucap Sari mengajak anaknya duduk.


"Kenalin, Is. Ini anakku satu-satunya. Namanya Rendi. Dia baru saja lulus SMA."


"Oh. Gantengnya." Mata Isma pun tak lepas dari wajah ganteng Rendi.


Sari sampai berdehem karena bibi dan keponakan itu sama-sama melotot kagum ke arah anaknya.


"Oh, maaf Sar. Abis anakmu ganteng banget sih. Pasti papanya juga ganteng ya?" tanya Isma.


Sari dan Rendi saling berpandangan. Lalu demi menjaga kehormatan keluarga, dengan kompak mereka menganggukan kepala.


"Oh iya. Kenalin ini keponakanku. Namanya Rani. Dia baru saja naik kelas tiga SMA."


Gadis yang bernama Rani langsung mengulurkan tangannya pada Rendi. Dengan percaya diri, dia menggenggam tangan Rendi dengan erat.


"Rendi," ucap Rendi sambil berusaha melepaskan tangannya.


"Rani. Kamu buatkan minuman buat tamunya Bibi."


Rani melepaskan tangan Rendi dengan kesal. Bibinya mengganggu saja.


Rani segera membuatkan minuman. Cepat-cepat dia membuatnya, biar punya kesempatan bertemu Rendi lagi.


Rani secepat kilat membawa dua minuman ke depan dan menyuguhkannya.


Sengaja dia membungkuk di depan Rendi agak lama, biar isi dalam tank topnya terlihat oleh Rendi.


Rendi menelan ludahnya. Cleguk.


Rendi membayangkan milik Tania yang tak sebesar itu saja bisa membuatnya mabuk kepayang. Apalagi yang ada di depannya.


Ah. Rendi memalingkan wajahnya. Tidak! Aku tak boleh menatapnya.


Rani menegakan kembali badannya. Dia merasa pancingannya berhasil, Rendi pasti sudah melihat miliknya.


Lalu dengan gaya centilnya, Rani ikut nimbrung obrolan mereka.


Dan perlahan-lahan duduk di sebelah Rendi. Dia sengaja memepet tubuh Rendi agar isi tank topnya menempel di lengan Rendi.


Rendi yang merasakan dua benda kenyal menggesek-gesek lengannya jadi gerah.


Sari melirik anaknya yang gelisah.


"Ada apa?" tanya Sari pelan di telinga anaknya.


"Ini ma. Ada dua pepaya di lenganku," jawab Rendi pelan juga.


Sari langsung melotot ke arah Rani. Lalu bertukar posisi duduk dengan Rendi.


Rani beranjak dari duduknya. Dan hendak pindah ke sebelah Rendi lagi.

__ADS_1


Haduh, ini cewek udah kayak ulet keket. Saking kesalnya Sari karena anak lelakinya terus digoda, Sari berpamitan pada Isma.


Dia tak sudi anaknya tercemar oleh ulet keket macam Rani di depan matanya.


__ADS_2