HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 111 OTAK JAHAT LINDA


__ADS_3

Asih menarik tangan Linda dengan kasar.


"Ayo cepetan!" bisik Asih dengan geram di telinga Linda.


Tania pura-pura menggandeng juga. Padahal dia pingin segera keluar dari kamar Tono. Tania takut kalau Tono memintanya tidur bersama, karena tak ada Linda.


"Bik. Aku masuk ke kamar," bisik Tania pada Asih. Lalu buru-buru masuk kamar dan menguncinya.


Tania sampai melupakan perutnya yang lapar dan acara memasak pastanya.


Asih membawa Linda ke kamar tamu.


"Selamat menikmati malam terakhirmu!" ucap Asih, lalu dia segera keluar dan mengunci pintunya dari luar.


"Hey! Jangan dikunci!" Linda langsung berlari meski badannya masih terasa lemas.


Tapi sayangnya, terlambat. Asih sudah berjalan pergi dari situ.


Linda menggedor-gedor pintu kamar tamu.


"Hey! Asih! Kurang ajar kamu! Bukakan pintunya!"


Linda terus saja berteriak sambil menggedor pintu. Tapi tak ada satu orangpun yang mempedulikannya.


"Dimana dia, Bu?" tanya Yahya.


"Di kamar tamu!" Asih memamerkan kunci pintunya pada Yahya, lalu mengantonginya.


Yahya hanya menghela nafas. Lalu pergi keluar, duduk di teras sambil menghabiskan kopi yang baru dibuatnya.


Asih mencari ponsel Yahya. Dia tadi ingat kalau Tania meletakannya di atas meja makan.


"Apa kebawa neng Tania, ya? Atau diambil sama...."


Asih langsung mencari Yahya di teras.


"Pak! Mana hapenya?" Asih mengulurkan tangannya.


Yahya menatap wajah Asih. Lalu dengan malas memberikan hapenya.


"Nih!"


Asih langsung meraihnya dan membawa masuk ke dapur.


Tadinya Yahya berniat akan menonton video hot Linda Tajab, nanti malam kalau Asih sudah tidur.


Tapi sayang, rencananya gagal. Yahya mengusap wajahnya dengan kesal.


Aku kan cuma pingin liat aja. Itupun si Linda mainnya dengan Tajab. Hh! Susah amat sih. Gerutu Yahya dalam hati.


Asih kembali melanjutkan acara masaknya. Semua bahan sudah disiapkan oleh Tania tadi. Sayang kalau tidak diteruskan.


Asih juga ingat kalau Tania tadi bilang lapar, sebelum kejadian itu.


Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan masakannya. Meski Asih belum pernah memasak pasta, tapi bagi Asih yang biasa di dapur, itu bukan pekerjaan yang susah.


Asih meyiapkannya di piring, lalu membawanya ke kamar Tania dengan segelas air putih.


Sampai di lantai dua, Asih malah ketemu Tono.

__ADS_1


"Mau dibawa kemana itu?" tanya Tono.


Asih menatap wajah Tono sekilas.


"Ke kamar Tania. Dia belum makan malam," jawab Asih.


"Bawa turun lagi! Aku juga lapar. Suruh Tania turun dan menemaniku makan!" perintah Tono.


"Baik, Pak." Asih mengangguk lalu membawa kembali makanannya ke bawah.


Tono sudah duduk di meja makan. Sementara Asih sibuk menyiapkan lagi pasta yang rencananya mau dia habiskan sendiri.


"Saya cuma masak ini, Pak. Tapi kalau mau tambah nasi putih, masih ada di magic com," ucap Asih.


"Udah. Ini aja cukup. Panggilkan Tania!"


Asih hanya mengangguk, lalu bergegas naik lagi.


"Neng! Neng Tania!" Asih mengetuk pintu kamar Tania.


"Iya, Bik!" Tania segera turun dari tempat tidurnya. Tak lupa menyimpan dulu ponsel yang barusan dia buka.


"Ada apa, Bik?" tanya Tania.


"Disuruh juragan Tono turun. Menemaninya makan malam," jawab Tania.


"Hhmm!" Tania mencebikan bibirnya.


"Suruh tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu." Tania yang hanya mengenakan kaos singlet, mendoublelinya dengan baby dol.


Lalu bergegas keluar dari kamarnya. Tania turun dan melewati kamar tamu.


Tania mendengar suara tangisan yang merintih-rintih. Sepertinya Linda sedang menangis, karena tak bisa keluar dari kamar.


Tania menarik kursi di depannya.


Tono menatap wajah Tania dengan tajam. Tania melengos, lalu dia mengambilkan pasta untuk Tono.


"Nih. Cepetan makannya. Aku sudah ngantuk," ucap Tania sambil meletakan piring isi pasta di depan Tono.


Tono masih diam. Dia menunggu Tania mengambil juga. Baru setelah Tania menyuap pastanya, Tono pun segera memakannya.


Sayup-sayup terdengar suara tangisan Linda. Meski jaraknya cukup jauh, tapi suasana malam yang hening, membuat tangisan Linda, bisa terdengar.


Tania hanya menatap Tono sebentar.


"Asih!" panggil Tono.


"Iya, Pak." Asih yang sedang membersihkan dapur segera mendekat.


"Kamu kunci pintu kamar tamu?" tanya Tono.


"Iya, Pak," jawab Asih sambil menunduk.


Asih takut kalau disalahkan oleh Tono. Soalnya tadi Tono tak menyuruhnya mengunci pintu.


"Sekarang buka. Bawa dia kesini. Aku mau bicara padanya!"


"Baik, Pak." Asih bergegas ke kamar tamu.

__ADS_1


Ceklek!


Asih mendorong pintu yang rupanya terganjal. Linda duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya di pintu. Tentu saja sambil terus menangis tersedu-sedu.


Linda tersentak, lalu segera berdiri.


"Keluar! Ditunggu juragan Tono di ruang makan!" ucap Asih dengan kasar.


Menurut Asih, inilah kesempatan membalas rasa kesalnya pada Linda.


Linda segera menghapus air matanya, lalu berjalan keluar. Asih mengikutinya dari belakang.


Sampai di ruang makan, Linda langsung geram, melihat Tania sudah ada di sana menemani Tono makan.


Tania hanya bersikap biasa saja. Baginya Linda sudah bukan siapa-siapa lagi. Besok pagi dia bakal angkat kaki dari rumah ini.


Meski Tania berpikir, enak sekali jadi Linda. Bisa keluar dari rumah Tono yang bagai penjara bagi Tania.


"Beib...!" panggil Linda.


"Duduk!" Tono menunjuk kursi di sebelah Tania.


Dengan kesal, Linda menurut. Karena dalam hatinya dia berharap bisa duduk di sebelah Tono.


"Besok pagi siapkan semua pakaianmu. Aku akan memulangkanmu," ucap Tono. Dia mengulang omongan di kamarnya tadi.


"Tapi, Beib..."


"Enggak ada tapi-tapian. Apa kamu mau aku jebloskan ke penjara?" tanya Tono.


Linda langsung menggeleng. Dia membayangkan dinginnya lantai penjara sebagai alas tidurnya.


Linda bergidig ngeri.


"Maafkan aku, Beib. Tajab yang memaksaku," ucap Linda. Dia mulai mengarang cerita.


"Aku tidak peduli siapa yang memulai! Kalian sama saja, dasar pelacur!" bentak Tono.


Tania hanya mendengarkan sambil menghela nafasnya.


Linda menundukan kepala. Lalu kembali menegakannya.


"Oke, kalau kamu mau memulangkan aku, aku terima. Tapi pulangkan juga dia!" Linda menunjuk Tania dengan dagunya.


"Memulangkan Tania? Apa hakmu menyuruhku? Lagi pula, aku tak akan pernah memulangkannya. Apapun yang terjadi!" sahut Tono.


Tania mulai geram pada Linda. Dia pasti akan mengarang cerita lagi.


"Oh ya? Lalu bagaimana kalau dia juga melakukan kesalahan yang sama sepertiku?" tanya Linda.


Kesalahan? Kesalahan apa? Gila ini perempuan! Gumam Tania dalam hati.


"Tania bukan pelacur sepertimu!" Tono malah membela Tania.


"Bukan pelacur katamu?" Linda menatap wajah Tono dengan tajam.


Tono mendengus kesal. Dia jadi teringat saat memergoki Tania di kamar hotel dengan Rendi.


Dan Tono mendapati Tania yang sudah tak lagi perawan.

__ADS_1


"Tadi siang di mall, dia kencan dengan Rendi. Rendi anakmu kan?" Linda mulai membuka kejadian tadi siang.


"Apa?" Mata Tono melotot seperti mau lepas.


__ADS_2