HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 274 MASIH BELUM YAKIN


__ADS_3

"Iya, Mbak...! Sebentar!" seru Danu dari dalam kamar.


Danu buru-buru turun dari tempat tidur.


"Ayo, Bu. Beresin pakaianmu," ucap Danu. Dia pun segera merapikan pakaiannya sendiri.


Dengan malas Eni pun beranjak dari tempat tidur. Lalu merapikan juga pakaiannya.


Meski baru jalan setengah main, tapi tenaga Eni sudah mulai berkurang. Badannya terasa lemas.


Danu yang sudah rapi duluan, membantu Eni merapikan pakaian.


Eni menatap wajah Danu. Lalu tangannya menghapus sisa lipstiknya di bibir Danu.


Tadi Danu menyambar bibir Eni yang berlipstik tebal, hingga terhapus sempurna.


"Belepotan, ya?" tanya Danu.


Eni menggeleng pelan. Sisa lipstiknya di bibir Danu sudah berhasil dibersihkannya, meski tak terlalu bersih.


"Ke kamar mandi aja. Basuh pakai air, biar bersih," ucap Eni pelan.


Danu mengangguk. Tapi dia juga kasihan melihat istri tercintanya terlihat lemas.


Bukan lemas karena kecapekan, tapi lemas karena hasratnya down seketika.


"Aku ambilin minum, ya?"


Eni mengangguk.


Danu pun bergegas keluar kamar dan menuju dapur. Ternyata Widya pun sedang berada di sana. Dia sedang mengambilkan air putih untuk Lintang.


Tadi Widya naik taksi online dari rumahnya. Tapi karena kondisi Lintang yang sedang berbadan dua, mengakibatkannya sedikit lemas kalau terlalu banyak aktifitas.


"Udah tau mau berangkat, masih sempat-sempatnya main. Emang semalam enggak dapet jatah?" tanya Widya.


Danu cuma nyengir saja.


"Ditanya malah nyengir. Kamu itu udah tua, Danu. Kegiatan olah raga gituannya diatur dong. Jangan asal ada kesempatan main terkam aja," ucap Widya.


Danu kembali nyengir. Lalu mengambil paksa gelas yang dipegang Widya.


"Eh, itu buat Lintang! Kalau kamu mau minum, ambil sendiri!" ucap Widya.


"Buat Eni, Mbak. Dia butuh cairan!" sahut Danu sambil berjalan meninggalkan dapur.


"Emang cairanmu kurang?" ledek Widya.


"Belum sempet keluar!" sahut Danu sambil terus berjalan.


"Hhmm. Dasar tua-tua pada maniak. Enggak tau waktu banget!" gerutu Widya.


"Nih, Bu." Danu memberikan gelas air putih pada Eni.


"Makasih, Pak," sahut Eni yang sudah duduk di atas tempat tidur dengan lemas.


Eni meminum setengah. Setengahnya lagi dia berikan pada Danu.

__ADS_1


"Abisin kamu aja, Bu," tolak Danu. Bukannya dia tak mau menghabiskan. Tapi Danu berpikir, nanti dia bisa ngambil lagi.


Eni menggeleng. Kebiasaan Eni, tak bisa menghabiskan sesuatu sendirian sementara suaminya tercinta pasti juga membutuhkan minum.


Danu menatap Eni penuh cinta. Lalu mengecup keningnya dengan lembut.


Glek.


Glek.


Cuma dua tegukan, isi gelas yang tinggal setengah langsung kandas.


"Keluar, yuk," ajak Danu. Tangannya dia berikan pada Eni. Agar Eni bisa berpegangan.


Eni pun langsung menyambut, dan beranjak berdiri.


Pasangan paling harmonis itu segera keluar dari kamar. Tangan kanan Danu masih memegangi gelas. Di tangan kirinya melendot dengan mesra, istri tercinta yang sangat setia padanya.


"Udah kayak pengantin baru aja!" komentar Widya begitu melihat mereka berjalan dengan mesra.


Danu terkekeh. Sementara Eni yang masih gamang, hanya tersenyum tipis.


Danu mendudukan Eni di kursi. Perlakuan Danu yang sangat memanjakan Eni, membuat Lintang merasa iri.


Hebat, bibi Eni. Bisa memiliki suami yang sangat menyayangi. Meskipun bibi tak bisa punya anak, tapi kasih sayang paman, tak pernah berkurang.


Sementara dia? Dia sedang hamil anak dari lelaki yang tak pernah peduli padanya. Pada calon anaknya sekalipun.


Batin Lintang menangis, mengingat nasib dirinya. Nasib buruk yang sangat pahit dirasakan.


Tania pun menatap paman dan bibinya dengan salut. Dengan segala keterbatasannya, mereka mampu mempertahankan rumah tangga.


Tapi Tania baru bisa berkhayal. Meskipun Rendi sangat mencintainya dan sudah ada di genggaman, tapi restu dari Sari belum juga menampakan lampu hijau.


"Aku taruh gelasnya dulu, Bu," ucap Danu.


Eni pun mengangguk.


"Biar Tania yang menaruhnya, Paman." Tania beranjak berdiri dan meraih gelas yang dipegang Danu.


Tania hanya ingin menunjukan baktinya sebagai anak yang pernah diasuh oleh mereka.


Danu pun memberikan gelasnya pada Tania.


"Kenapa, En? Masih lemes?" ledek Widya.


Eni tersipu malu.


"Berapa ronde tadi?" ledek Widya lagi.


Eni semakin tersipu. Wajahnya pun semakin merona.


"Ibu....!" sergah Lintang. Dia merasa tak enak mendengarnya.


"Iya. Maaf tadi aku gangguin. Kirain Rendi udah mau sampai. Enggak taunya masih lama," ucap Widya dengan santainya.


"Rendi kan nunggu mamanya berangkat dulu, Bude," sahut Tania yang sudah kembali lagi ke ruang tamu.

__ADS_1


"Tono ikut juga, Tan?" tanya Widya.


"Belum tau, Bude. Katanya Rendi belum sempat ngomong sama papanya," jawab Tania.


"Loh, bukannya mereka sekarang tinggal satu rumah?" tanya Widya lagi.


"Iya. Tapi kata Rendi, dari kemarin siang ada mamanya terus. Jadi Rendinya gak berani bilang," jawab Tania lagi.


"Bu Sari itu jadi orang kok keras banget, sih. Kayak batu aja!" ucap Widya menyesali sikap keras kepala Sari.


"Batu lama-lama juga bisa terkikis, Bu. Kalau kita mau bersabar," ucap Lintang.


"Iya. Tapi kasihan anaknya kan? Udah ngebet banget pingin nikah, masih saja dihalang-halangi," sahut Widya.


"Enggak ngebet kok, Bude. Orang Rendinya juga belum sembuh. Tania masih sabar nunggu," sahut Tania, pura-pura tenang.


Padahal dalam hatinya juga sangat khawatir. Sebab bagaimana pun, Rendi banyak yang mau. Takutnya lama-lama Rendi akan tergoda juga pada wanita lain.


"Sebentar lagi juga Rendi bakalan sembuh," ucap Eni yang dari tadi hanya diam.


"Iya. Pasti kalau Rendi sudah sembuh, dia akan lebih berjuang lagi. Sabar aja, Tania," ucap Lintang memberikan semangat pada Tania.


Tania hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Dalam hatinya berharap, semua akan indah pada waktunya.


"Dan moga-moga aja, tuh wanita sialan enggak jadi penghalang buat Tania dan Rendi," ucap Eni lagi.


"Siapa yang kamu maksud?" tanya Widya.


Lintangpun ikut penasaran.


"Kemarin. Ada temennya Rendi yang dateng ke sini." Lalu Eni menceritakan tentang Monica yang ngaku-ngaku hamil anak Rendi.


"Hah....!" Widya dan Lintang sama-sama terperangah.


"Iya, Mbak. Tapi aku enggak yakin, kalau si Monica itu benar-benar hamil anaknya Rendi," ucap Eni.


"Kalau iya, gimana?" tanya Danu.


Danu malah sebaliknya. Dia tidak yakin kalau alasan Rendi bisa dipercaya.


"Paman!" seru Tania.


Danu hanya mengangkat bahunya.


"Kalau Paman masih belum percaya pada Rendi, nanti kita bisa buktikan kalau anak yang dikandung Monica bukan anak Rendi!" ucap Tania dengan ketus.


"Kamu ini, Pak!" Eni memukul lengan Danu.


"Danu. Kamu mestinya kasih dukungan pada Tania. Bukan malah ikut-ikutan menuduh Rendi," ucap Widya.


Meski Widya baru mendengarnya, tapi Widya bisa mengambil kesimpulan kalau Monica hanya mengaku-ngaku saja.


Lintang menepuk-nepuk lengan Tania dengan lembut.


"Yang sabar, Tania. Semua akan ada jawabannya," ucap Lintang pada Tania.


Danu melihat wajah sedih Tania, jadi merasa tak enak.

__ADS_1


"Maafkan Paman, Tania. Paman hanya belum yakin saja," ucap Danu, lalu ngeloyor pergi.


__ADS_2