HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 272 SALAH KOSTUM


__ADS_3

Pagi itu Tania sudah terlihat rapi dan cantik. Dia sudah siap saat nanti Rendi menjemput.


Danu juga sudah rapi. Dia duduk di teras sambil ngopi dan seperti biasanya, sebatang rokok menyala di ujung jarinya.


Eni masih sibuk dengan make up-nya. Dia ingin selalu terlihat wah, dengan penampilan cetar membahana.


Tania berjalan ke teras. Lalu duduk di sebelah Danu.


"Bude sama mbak Lintang kok belum datang ya, Paman?" tanya Tania.


"Mungkin budemu masih sibuk masak. Tau sendiri kan bude kamu. Kalau punya niat masak, hebohnya melebihi orang mau hajatan," jawab Danu.


"Kalau kata Rendi, mestinya enggak perlu masak, Paman. Nanti kita cari resto di sana. Yang tempatnya bagus. Bisa buat foto-foto juga," ucap Tania.


Rupanya Eni pas keluar dari kamarnya dan sedang mencari Tania, hanya sekedar untuk menilai penampilannya.


"Resto buat foto-foto? Yang tempat dan makanannya instagramable?" tanya Eni tiba-tiba.


Tania dan Danu langsung menoleh.


"Apaan itu instan...." Danu tak bisa melanjutkan kalimatnya. Kata-kata Eni terlalu asing di telinganya.


"Instagramable, Paman. Artinya bagus buat foto-foto terus di posting di medsos," jawab Tania. Berusaha memberikan penjelasan pada Danu.


"Memang apa gunanya?" tanya Danu masih belum paham. Kalau medsos Danu sedikit paham. Tapi manfaatnya? Bagi Danu tak ada manfaatnya sama sekali.


"Manfaatnya apa, Bi? Tolong jelasin ke paman," pinta Tania pada Eni.


"Biar orang-orang tau kalau kita pernah ke sana kayak yang lainnya," sahut Eni.


"Mau pamer gitu, maksudnya?" tanya Danu.


"Bukan pamer, Pak. Biar orang enggak menganggap kita remeh. Enggak pernah pergi kemana-mana. Kuper kayak kamu!" jawab Eni yang malah meremehkan Danu.


"Enak aja ngatain aku kuper. Aku emang enggak tau yang gitu-gitu. Tapi kalau soal angkot dan kendaraan, aku jagonya." Danu pun membela diri.


"Makanya biar tau macam-macam, gaul dong!" ucap Eni.


"Bi...!" Tania berusaha meredam omongan Eni.


"Kalau aku gaul, kamu pasti marah, Bu," ucap Danu.


"Ya marah lah. Kamu kan gaulnya di warung kopi janda gatel itu!" sahut Eni.


"Yang penting kan gaul, Bu. Kalau semua orang gaulnya ke tempat-tempat yang mahal, terus yang masuk ke warung kopi siapa?" tanya Danu.


Pertanyaan yang bikin Eni melengos kesal. Karena Danu selalu punya kalimat konyol untuk menjawab setiap pertanyaan Eni.


"Kalau kamu enggak mau ikut, ya udah. Tunggu di rumah aja!" sahut Eni dengan kesal.

__ADS_1


"Tunggu di rumah sendirian? Mending aku nongkrong di warungnya mbak Yayuk," ucap Danu yang semakin membuat panas kuping Eni.


Yayuk adalah janda kembang yang ditinggal kabur suaminya, dan akhirnya demi untuk menyambung hidup, dia membuka warung kopi.


Jelas saja warung kopinya laris manis. Selain harganya yang aman di kantong, pelayanannya Yayuk pun sangat ramah. Bikin para lelaki betah berlama-lama nongkrong di warungnya.


"Enak aja! Enggak! Nanti kamu aku kunciin di dalem rumah!" sahut Eni dengan ketus.


"Yaelah, Bu. Kejam amat! Emangnya aku kucing apa, pake dikunciin di dalem rumah biar enggak lepas," ucap Danu dengan memelas.


"Daripada nanti kamu lepas ke warungnya si Yayuk!"


Eni melengos, lalu masuk ke dalam rumah lagi. Tania hanya bisa memandangnya sambil tersenyum.


Bagi Tania hal seperti itu sudah biasa didengarnya. Dari sejak Tania kecil. Danu dan Eni biasa meributkan hal-hal receh. Tapi tak lama kemudian, mereka akan baikan lagi.


Eni kembali masuk ke kamarnya. Dia pun kembali mematut diri di depan cermin.


Eni lupa dengan niatnya semula yang ingin mendengar komentar Tania tentang penampilannya.


"Hhh! Gara-gara ngomelin mas Danu, aku jadi lupa nanya ke Tania," gumam Eni.


"Tania...! Tania!" teriak Eni dari kamarnya.


"Tania. Tuh dipanggil bibimu. Sana buruan. Entar ngamuk lagi," ucap Danu.


"Paman takut nanti dikunciin di rumah, ya..." ledek Tania.


Tania terkikik. Lalu melangkah masuk ke kamar Eni.


"Iya, Bi!" sahut Tania dengan keras juga. Padahal jaraknya ke kamar Eni tinggal beberapa langkah lagi.


"Enggak istri, enggak anak, sama aja. Sukanya kongkalikong! Hhh...!" gerutu Danu.


Lalu Danu menyeruput kopinya dan kembali menyulut rokoknya yang hanya tinggal beberapa batang.


"Ada apa, Bi?" tanya Tania.


Tania hanya berdiri di ambang pintu. Dia melihat penampilan Eni yang semakin cetar lagi daripada tadi.


"Bibi mau kondangan?" tanya Tania dengan polosnya.


"Kok kondangan sih? Hari ini kita kan mau healing. Kamu lupa ya," sahut Eni.


Tania menggeleng. Tak mungkin Tania lupa. Dia saja sudah rapi dan siap dijemput Rendi.


"Ya udah kalau enggak lupa. Sini!" Eni melambaikan tangannya meminta Tania mendekat.


"Kirain Tania, Bibi mau mampir kondangan dulu," ucap Tania sambil berjalan mendekati Eni.

__ADS_1


"Mana ada kondangan. Kalau pun ada, pasti aku cansel!" sahut Eni.


"Udah, sekarang Bibi mau Tania ngapain?" tanya Tania. Biasanya Eni akan meminta tolong pada Tania, cuma sekedar membetulkan retsleting atau bagian belakang bajunya yang tak terlihat olehnya sendiri.


"Coba kamu lihat penampilan Bibi. Udah oke belum," pinta Eni.


Tania kembali melihat penampilan Eni dari atas sampai ke bawah.


"Gimana?" tanya Eni. Eni melenggok-lenggokan badannya. Seolah dia adalah model yang sedang fitting baju.


"Bagus. Bagus banget," jawab Tania.


"Nah. Gitu dong," ucap Eni dengan bangga.


"Bagus, Bi. Tapi sayangnya saltum," ucap Tania.


"Apaan itu saltum?" Eni tak paham dengan kata-kata Tania.


"Salah kostum," jawab Tania.


Eni mengerutkan keningnya.


"Kok salah kostum? Emangnya Bibi pakai kostum badut, apa?" Setahu Eni, kata kostum itu hanya untuk pakaian badut atau pakaian karnaval.


"Ya Bibi mau healing ke tempat terbuka. Tapi pakaian Bibi kayak orang mau kondangan. Itu kan namanya salah kostum, Bi," jawab Tania.


"Bibi kan pingin terlihat rapi dan cantik. Kayak kamu." Eni menowel dagu Tania.


"Rapi dan cantik iya. Tapi Bibi juga harusnya bisa menempatkan diri. Kalau rapi dan cantik kayak gini, yang ada di sana Bibi diketawain orang," sahut Tania.


"Terus, Bibi mesti pakai baju apa?" tanya Eni.


Eni merasa kecewa karena bakal gagal niatnya pamer baju barunya ke medsos.


"Mau Tania bantu cariin?" tanya Tania.


Eni pun mengangguk pasrah.


Tania berjalan ke arah lemari pakaian Eni. Begitu membuka pintunya, Tania geleng-geleng kepala.


Di dalam lemari itu banyak sekali tumpukan baju milik Eni. Kalau dilihat dari warnanya yang masih bagus, kelihatannya itu bukan baju-baju lama.


Tania mencari satu persatu dengan menaikannya sedikit ke atas.


Sampai akhirnya Tania menemukan satu stel pakaian yang menurutnya cocok dipakai Eni.


"Ini, Bi." Tania memperlihatkannya pada Eni.


Eni membelalakan matanya.

__ADS_1


"Baju i....ini?"


__ADS_2