HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 52 KECEWA


__ADS_3

Widya dan Eni bergantian menunggui Tania yang akhirnya tertidur.


Danu hanya mondar mandir saja di ruang tamu. Padahal di luar beberapa orang yang dibayar oleh Eni sibuk membereskan tenda dan meja kursi bekas hajatan tadi siang.


"Mau kopi, Pak?" Eni menawari Danu kopi. Karena biasanya saat sedang banyak pikiran, Danu akan meminta di buatkan kopi.


"Boleh," jawab Danu singkat.


Eni bergegas ke dapur membuatkan kopi. Eni juga sangat kalut melihat keponakannya yang sedang depresi.


"Ini, Pak." Lalu Eni duduk sambil memperhatikan suaminya yang masih mondar mandir.


"Assalamualaikum!"


Eni dan Danu terkejut dengan kedatangan Tono dan seorang centengnya yang bernama Tajab.


"Wa...alaikumsalam" jawab Eni dan Danu bersamaan.


"Mana istriku?" tanya Tono tanpa basa basi.


"A...ada. Tapi dia sudah tidur," jawab Danu gemetaran. Dia khawatir Tono akan memaksa membawa Tania.


Sedangkan kondisi psikis Tania sedang terguncang.


"Di mana?" tanya Tono. Matanya langsung tertuju pada kamar Tania yang tertutup.


Dan tanpa basa basi lagi, Tono langsung membuka kamar Tania.


Dilihatnya Tania tidur dengan selimut tebal. Dan di sampingnya tertidur juga Widya.


"Ngapain gajah itu tidur di sana?" tanya Tono.


Eni tercekat. Mulutnya terasa terkunci.


"Dia...menunggui Tania. Badan Tania sedang demam." Danu berbohong agar Tono tak mengganggu tidur Tania.


"Suruh keluar si Widya. Aku akan menemani istriku tidur!"


"Ta...tapi Tania sedang demam. Sebaiknya besok saja. Biarkan...Tania istirahat dulu." Sebisa mungkin Danu mencegah Tono tidur di kamar Tania.


"Aku mau sekarang!" seru Tono.


Eni yang sedari tadi diam, akhirnya membuka mulutnya.


"Bersabarlah sampai besok. Lagi pula kalian tidak bisa menikmati malam pertama, karena Tania masih demam."


"Baiklah. Besok pagi-pagi aku akan menjemput istriku. Jangan berani menghalangi lagi. Atau kalian akan menanggung akibatnya!"


Tono langsung melangkah pergi diikuti oleh centengnya.


Eni dan Danu bernafas lega. Setidaknya malam ini Tono tidak mengganggu Tania dulu.


"Bagaimana ini, Pak?" tanya Eni.


"Sudahlah. Kita pikirkan besok saja."


"Tapi, bagaimana kita menjelaskannya pada Tania besok pagi?" tanya Eni makin panik.


"Jangan panik begitu, Bu. Aku malah jadi gak bisa mikir." Danu menyeruput kopinya lalu menyalakan rokok.

__ADS_1


"Besok biar mbak Widya yang kasih pengertian pada Tania. Semoga Tania bisa menerima kenyataan."


Danu menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke atas.


Otaknya benar-benar buntu. Danu sangat menyesali kebodohannya dulu yang akhirnya mengorbankan Tania.


Sementara Rendi yang baru tiba di rumah langsung masuk ke kamarnya.


Rendi tadi tak langsung pulang. Dia mampir dulu ke sebuah cafe langganannya untuk sekedar menenangkan pikirannya.


Sari yang memang sedari siang tadi menunggu anak lelakinya pulang, langsung menyusul Rendi ke kamarnya.


"Ren! Rendi! Buka pintunya, Nak! Mama mau bicara!" teriak Sari sambil menggedor-gedor pintu kamar anaknya.


Sari sudah tidak sabar ingin taju kemana Rendi membawa Tania tadi siang.


Rendi membuka pintu kamarnya. Sari langsung menyerobot masuk.


"Rendi! Katakan pada Mama kemana kamu membawa Tania!"


"Ke hotel!" Jawab Rendi singkat.


Mata Sari terbelalak mendengar jawaban anaknya. Sari bisa membayangkan apa yang dilakukan anaknya dengan Tania.


"Ka...kalian melakukannya?" tanya Sari.


"Iya! Kami telah melakukannya!"


"Gila kamu, Rendi!" Seru Sari. Dia tak menyangka anaknya akan senekat itu.


"Papa yang membuat Rendi jadi gila, Ma!" Seru Rendi.


Sari menghela nafasnya. Lalu duduk di tempat tidur anaknya.


"Bukan! Tania bukan istri papa! Tania hanya dipaksa untuk menerima dinikahi papa!"


"Iya. Mama tau, Nak. Tapi bagaimana pun, mereka sudah menikah." Suara Sari melemah saat mengucapkan kalau Tania dan suaminya sudah menikah.


"Apa Mama menerima pernikahan mereka? Rendi tidak, Ma! Rendi akan meminta papa segera menceraikan Tania. Atau Rendi akan membawa Tania pergi jauh!" Ancam Rendi.


"Ren. Jangan berbuat nekat. Ikhlaskan Tania. Mama juga sedang mencoba mengikhlaskan papa kamu, Nak."


Sari menangis sesenggukan. Dalam hatinya sangat sakit. Sakit dengan tingkah suaminya yang semakin menggila.


Dan semakin sakit lagi saat tahu anaknya telah meniduri istri papanya sendiri.


"Mama tak perlu menangis. Orang seperti papa, tak pantas untuk ditangisi." Rendi mendekat dan membelai punggung mamanya.


Sari menyandarkan kepalanya di bahu anaknya. Tangisnya tak juga reda.


"Ma. Percayalah sama Rendi. Rendi akan membuat mereka bercerai. Dan Rendi akan mengembalikan papa pada Mama."


Sari menggeleng.


"Kenapa, Ma?" tanya Rendi.


Sari menghapus air matanya.


"Mama akan mengikhlaskan papamu, Nak. Mama sudah terlalu sakit hati pada papamu. Meskipun nantinya papamu menceraikan Tania, dia akan mencari perempuan-perempuan lain untuk dinikahinya," sahut Sari masih sesenggukan.

__ADS_1


"Terserah Mama. Rendi tak bisa memaksa. Rendi juga malu punya papa seperti itu. Mama setuju kan kalau nanti Rendi menikahi Tania?"


Rendi menggenggam tangan mamanya.


"Tidak, Ren. Masih banyak perempuan lain yang lebih baik dari Tania."


Sekarang giliran Rendi yang menggeleng.


"Tidak, Ma. Rendi akan tetap menikahi Tania. Karena...maaf, Ma... Rendi yang sudah mengambil keperawanan Tania."


Sari menatap wajah anaknya. Seluruh persendiannya terasa lemas.


"Kenapa kamu lakukan itu, Ren?"


"Karena Rendi sangat mencintai Tania. Dan Rendi tak ikhlas kalau papa yang mengambil keperawanan Tania," jawab Rendi.


"Bagaimana kalau papamu tau apa yang telah kamu lakukan pada Tania?" Sari khawatir suaminya akan mengamuk.


Karena meskipun badan Tono kecil, tapi kalau sedang marah tenaganya sangat luar biasa.


"Biar saja. Biar papa tau, dan mengembalikan Tania pada Rendi."


"Ren. Cobalah membuka hatimu untuk perempuan lain. Tania bukan perempuan satu-satunya di dunia ini. Masih banyak yang lainnya. Tolong, Ren. Jangan kecewakan Mama," pinta Sari.


"Mama tak bisa memaksakan itu pada Rendi, Ma. Rendi tak bisa mencintai perempuan lain selain Tania."


Sebenarnya Sari merasa bangga karena anak lelakinya bisa mencintai perempuan sedalam itu.


Tapi Sari juga tak ingin anaknya bakal menikah dengan janda dari papanya.


Pasti akan sangat memalukan. Seorang anak menikah dengan bekas istri bapaknya.


"Ren. Lupakan Tania, ya? Mama mohon."


Sari terus saja meminta Rendi untuk meninggalkan Tania. Tapi Rendi tetap menolak.


"Ren. Carilah perempuan lain. Dan Mama akan memberikan semua yang Mama miliki buat kamu."


Rendi tetap menggeleng. Dia tak butuh harta. Dia hanya butuh Tania.


"Tidak, Ma. Rendi tetap akan menikahi Tania. Mama juga tolong pahami perasaan Rendi."


"Ren. Kamu anak Mama satu-satunya. Tolong jangan kecewakan Mama. Mama sudah cukup kecewa dengan papamu." Sari kembali menangis.


Sari menyesali takdirnya yang harus selalu dikecewakan oleh orang-orang terdekatnya.


Rendi trenyuh melihat mamanya yang terus menangis. Tapi dia juga tak bisa meninggalkan Tania.


"Rendi harus bertanggung jawab, Ma. Karena telah mengambil keperawanan Tania."


"Itu gampang, Ren. Mama akan membayar Tania untuk itu. Kamu tak perlu khawatir dan tak perlu merasa bertanggung jawab."


Bagai tersambar petir di siang bolong. Rendi terkejut mendengar perkataan mamanya.


"Ma! Tania tidak semurah itu! Jangan Mama bersikap seperti papa yang bisa melakukan apapun dengan uang!"


Rendi berlari keluar dari kamarnya. Rendi sangat kecewa dengan mamanya.


"Rendi...!" teriak Sari sambil mengejar anaknya.

__ADS_1


Tapi sayangnya Rendi sudah lebih dulu menaiki motor sportnya dan melaju kencang meninggalkan rumah mamanya.


Sari terduduk lemas di pintu rumahnya. Tangisnya pun semakin kencang.


__ADS_2