HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 218 BASA BASI DANU KETAHUAN


__ADS_3

Danu pun ngobrol sambil ngopi dan merokok tentunya, di rumah Tono sampai malam.


Tono memberikan aturan pada anak buahnya, untuk tidak minum minuman keras di rumahnya.


Kalau sampai ketahuan melanggar, bisa dipastikan bakal dipecat oleh Tono.


Dan demi kelangsungan hidup, para anak buah Tono mematuhinya.


Asih yang ditunjuk Tono untuk memgawasi mereka. Karena Tono tahu kalau Asih tak suka Yahya minum.


Pekerjaan para anak buah Tono, masih seperti yang dulu. Menagih hutang. Usaha Tono itu masih berlangsung. Tapi sekarang Tono menurunkan lagi bunganya.


Tono sadar kalau yang dilakukannya selama ini sangat memberatkan para peminjam uangnya. Dan Tono juga melarang mereka menggunakan kekerasan.


Sebenarnya Tono ingin berhenti sebagai rentenir. Tapi kasihan anak buahnya. Mereka bakal jadi pengangguran.


"Udah malam, gue balik dulu ya," pamit Danu.


"Yaelah, belum juga malem, Bro. Kayak anak perawan aja lu!" sahut Diman.


"Anak perawan jaman sekarang aja pulangnya subuh!" ucap Wardi.


"Itu anak perawan apa kuntilanak? Udah ah, gue mau balik dulu. Man, anterin gue pulang!" ucap Danu.


"Eh, kalah lu ama jelangkung! Jelangkung aja datang kagak dijemput pulang kagak diantar!" sahut Diman.


"Sekate-kate lu! Gue disamain ama jelangkung. Buruan anterin gue!" Danu tetap memaksa.


"Naik apaan? Motornya Yahya bannya bocor. Motor gue tadi dibawa juragan Tono ke rumah bu Sari!" sahut Diman.


"Elu kagak punya motor, War?" tanya Danu pada Wardi.


"Dia mah modal dengkul doang!" jawab Diman.


"Sialan lu! Motor elu juga punyanya juragan Tono!" sahut Wardi.


Danu mengambil kunci mobil Tono yang tadi ditaruhnya di atas meja.


"Nih! Pake ini aja!" Danu melemparkannya ke arah Diman. Dengan sigap, Diman menangkapnya.


"Gila lu! Ketahuan juragan, bisa kena marah kita!" ucap Diman.


"Kagak. Gue nanti yang tanggung jawab. Tenang aja, ada Tania. Tono mana berani marah!" sahut Danu dengan percaya diri.


"Ye....dia pake Tania buat tameng lagi!" Diman menepuk jidatnya.


Danu cuma meringis aja.


"Ya udah, ayo. Kalau nganterinnya pake mobil, gue juga mau!" Diman langsung berdiri.


"Mang Yahya mau ikut?" Danu menawari Yahya. Maksudnya, biar pulangnya lagi Diman enggak sendirian.


"Aku ikut!" Asih yang kebetulan mau keluar melihat mereka, langsung maenyahut.


"Ngapain ikut, Bu?" tanya Yahya.


"Aku kepingin ketemu sama neng Tania, Pak. Boleh kan, Dan?" Asih bertanya pada Danu.

__ADS_1


"Sebentar aku telpon. Tanianya udah tidur apa belum," jawab Danu.


Baru saja Danu mau mencari nomor telpon Tania, Eni menelponnya. Danu menghela nafasnya. Pasti Eni bakalan ngoceh karena dia tidak pulang-pulang.


"Hallo, Bu," ucap Danu.


"Kok lama banget, Pak?" tanya Eni. Suara Eni diluar ekspektasi Danu.


Eni bersuara lembut, enggak kayak kaleng rombeng.


"Iya, Bu. Nunggu ada motor, tadi. Ini malah mbak Asih minta ikut. Katanya kangen sama Tania. Tanianya udah tidur belum, Bu?" tanya Danu.


Danu memanfaatkan Asih, biar dia enggak kena marah Eni.


Asih berdecak sambil geleng-geleng kepala.


"Sebentar, aku liat dulu. Tadi sih masuk ke kamar," jawab Eni.


Eni yang sudah berada di kamar pun, bergegas ke kamar Tania.


Tania belum tidur. Dia masih bermain game di ponselnya.


"Ada apa, Bi?" tanya Tania melihat Eni masuk ke kamarnya.


"Mbak Asih katanya kepingin ke sini. Kangen sama kamu katanya," jawab Eni.


"Kapan?" Tania langsung beranjak dari posisinya tiduran.


"Sekarang. Sekalian nganter pamanmu," jawab Eni.


"Iya. Enggak apa-apa, Bi. Tania belum ngantuk, kok. Tania juga kangen sama bik Asih," sahut Tania.


"Hallo, Pak," panggil Eni.


"Gimana, Bu?" tanya Danu yang nunggu jawaban Eni.


"Iya, Tanianya mau nunggu, Pak," jawab Eni.


"Ya udah. Kalau begitu, kita ke sana sekarang." Danu menutup telponnya.


"Ayo, Mbak. Mumpung Tanianya belum tidur," ajak Danu pada Asih.


"Aku ganti baju dulu sebentar." Asih langsung lari masuk ke dalam.


"Terus gue sendirian dong di rumah?" tanya Wardi.


"Kan ada Tajab," jawab Yahya.


"Yaelah...Dia mah udah kayak mayat hidup! Susah diajak ngomong!" sahut Wardi.


"Bentaran doang. Kagak kayak anak perawan yang pulangnya subuh!" Diman mengembalikan omongan Wardi tadi.


Wardi hanya menepuk jidatnya.


Apes, deh. Seharian dipingit kayak calon pengantin. Batin Wardi.


Tapi kalau Wardi juga ikut, kasihan Tajab. Dia belum bisa apa-apa sendiri. Ngomong aja masih susah, karena bagian rahangnya juga terluka. Jadi sakit katanya kalau buat membuka mulut terus-terusan.

__ADS_1


Setelah Asih siap, mereka pun berangkat mengantarkan Danu pulang.


Di tengah jalan, Asih minta berhenti.


"Mau ngapain, Bu?" tanya Yahya yang duduk di sebelah Asih.


"Beli makanan dulu. Buat oleh-oleh," jawab Asih.


"Enggak usah repot-repot, Mbak. Tadi Eni juga udah beli banyak oleh-oleh di jalan. Kita kan abis pergi dari luar kota," tolak Danu.


"Tapi aku kan enggak enak, kalau datang enggak bawa apa-apa," sahut Asih.


"Halah, kayak mau dateng ke rumah pejabat aja. Udah, enggak usah repot-repot!" Danu tetap menolaknya.


Danu pernah diceritain Tania kalau Yahya dan Asih bekerja di rumah Tono, tanpa bayaran sama sekali.


Jadi Danu menolak Asih beli buah tangan.


Asih pun terpaksa menurut. Meskipun dalam hati tetap merasa tidak enak.


Sementara di rumahnya, Eni dan Tania bersiap menyambut kedatangan Asih.


"Tania, kamu siapin air panas buat bikin teh ya. Bibi lupa belum ngisi termos. Bibi mau cari gorengan dulu di depan," ucap Eni.


"Iya, Bi. Sebentar Tania ambilin uang." Tania berniat ke kamarnya mengambil uang buat beli gorengan.


"Enggak usah. Pake uang Bibi aja. Uang kamu disimpan." Eni langsung ngeloyor pergi.


Uang yang dari Tono juga masih banyak kok. Lagian malu juga, apa-apa dibayarin anak. Aku kan juga masih bisa cari uang sendiri. Batin Eni sambil naik motor.


Tak lama setelah Eni pulang dari beli gorengan, Danu dan rombongan datang.


"Neng Tania....!" Asih langsung menghampiri Tania dan memeluknya dengan erat.


"Bibi kangen banget sama Neng Tania." Seperti seorang ibu yang baru ketemu anaknya, Asih menangis sesenggukan.


"Iya, Bik. Saya juga kangen sama Bibik," sahut Tania membalas pelukan Asih.


Setelah puas memeluk, Asih melepaskan Tania.


Tania menyalami Yahya.


"Apa kabar, Mang?" tanya Tania.


"Baik, Neng," jawab Yahya.


Yahya juga sangat kangen pada Tania. Tapi kalau memeluknya, jelas Yahya tidak berani.


Tania juga menyalami Diman. Orang yang dulu sering dilihatnya berkeliaran di rumah Tono.


Eni sibuk menyiapkan makanan dan minuman buat mereka. Beberapa cangkir teh dan gorengan pinggir jalan.


"Udah, enggak usah repot-repot Mbak Eni!" ucap Asih basa basi.


"Enggak repot kok. Cuma ada ini. Maklum kita baru pulang jalan-jalan. Tadi di sana malah enggak sempat beli oleh-oleh," sahut Eni.


Asih melirik ke arah Danu.

__ADS_1


Danu cuma nyengir sambil garuk-garuk kepala.


__ADS_2