HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 239 TONO MULAI LEMAH


__ADS_3

Siang itu Tono bergegas pulang setelah check up di rumah sakit. Dia akan memenuhi janjinya mempertemukan Rendi dengan Tania.


Kali ini mereka ketemuannya di rumah Danu. Seperti keinginan Rendi.


Rendi ingin melihat rumah Danu yang baru. Juga biar Tania tidak perlu pergi keluar. Cukup Rendi yang mendatangi.


Tono pun menurut saja. Kini apapun akan Tono lakukan demi kebahagiaan Rendi dan Tania.


Dan kali ini Mila diajak serta. Tono khawatir terjadi sesuatu lagi dengan Rendi.


Mila pun dengan senang hati. Karena dia bisa keluar rumah. Dan di jalan nanti dia bisa cuci mata.


Di rumahnya, Tania dan Eni sudah menyiapkan makanan untuk menyambut tamu istimewanya. Meski kali ini cuma Rendi dan Tono saja. Tapi bagi Tania, Rendi adalah tamu spesialnya.


Widya dan Lintang tak ikut bergabung. Hari ini Widya berniat mengecek kandungan Lintang. Memastikan kondisi janinnya.


Tono melajukan mobilnya ke rumah Danu. Kebetulan rumah Danu ada di pinggir jalan. Meski bukan jalan utama. Tapi setidaknya memudahkan Rendi masuk. Tak perlu jalan masuk-masuk gang.


Danu keluar membantu Rendi turun dari mobil. Mila dan Tania hanya menjaga saja. Karena sebenarnya Rendi menolak dibantu oleh siapapun.


Rendi ingin bisa melakukannya sendiri. Dia tak mau hidupnya ketergantungan pada orang lain. Meskipun pada Tania atau kedua orang tuanya.


Dan setelah turun dari mobil, Rendi meminta untuk jalan sendiri. Dengan tongkat penyangga yang baru dibelikan lagi oleh Tono. Karena yang kemarin bengkok.


Tania pun hanya mendampingi Rendi saja. Berjalan di sebelahnya, sambil berjaga-jaga kalau Rendi jatuh.


"Kamu udah lama menungguku?" tanya Rendi.


"Enggak apa-apa, Ren. Walaupun lama, aku akan tetap menunggumu. Aku yakin kamu bakal datang juga," jawab Tania.


Tania sangat percaya pada Rendi. Apalagi dengan semua pengorbanan dan perjuangan Rendi.


"Aku masak spesial buat kamu, Ren. Kamu belum makan, kan?" tanya Tania.


"Belum, Sayang. Kamu masak apa?" Rendi merasa sangat senang, karena Tania memanjakannya.


"Lihat aja nanti. Yuk." Tania memegangi lengan Rendi. Lalu menariknya agar berjalan lebih cepat.


"Jangan cepat-cepat, Sayang. Kakiku masih belum terbiasa," ucap Rendi.


"Oh, maaf." Tania lupa kalau Rendi masih belajar berjalan lagi dengan normal. Tania pun melepaskan tangannya.


Mila yang melihatnya hanya mengangkat bahu. Dia maklum karena Tania bukanlah perawat sepertinya, yang paham kondisi kesehatan Rendi.


"Sabar, Sayang. Sebentar lagi aku bakal bisa berlari lagi." Rendi terkekeh. Sengaja agar Tania tak merasa bersalah.


Tania hanya mengangguk saja. Dia malu karena tak bisa memaklumi kondisi Rendi.


Tania dan Eni tadi sudah menyiapkan makanan di meja tamu. Karena ruang makan mereka terlalu sempit.


"Ayo kita langsung makan aja," ucap Eni, setelah Rendi duduk.

__ADS_1


"Kalian makanlah. Aku masih harus kembali ke rumah sakit. Aku akan mengambil obat di sana," ucap Tono.


Tadi di rumah sakit antriannya panjang. Dan setelah selesai ketemu dokter, Tono pulang dulu. Dia menyerahkan resep obatnya dulu. Baru kembali lagi untuk mengambilnya.


Tono tak mau Rendi terlalu siang perginya ketemu Tania. Karena waktu mereka sangat terbatas.


Sebelum jam empat sore, Rendi harus sudah kembali. Biar Sari tidak ngomel-ngomel.


"Papa enggak makan dulu?" tanya Rendi.


"Papa mau ambil obat dulu di rumah sakit," jawab Tono.


"Makanlah dulu. Obatnya kan bisa nanti lagi," sahut Danu.


Tania hanya mengangguk ke arah Tono. Dia masih kikuk untuk bicara dengan Tono.


Akhirnya Tono pun menurut.


Baru saja Tono melangkah mau duduk, langkahnya oleng.


Dengan sigap Danu menangkap tubuh Tono.


"Papa!" teriak Rendi.


"Enggak apa-apa. Papa baik-baik aja," ucap Tono agar Rendi tenang. Meskipun kepalanya sedikit berputar.


Mila menghampiri Tono. Lalu membantunya duduk.


Meski Mila kadang suka ceroboh, tapi dalam menghadapi pasien, dia sangat sabar.


Dan bagi Mila, Tono pun dianggapnya sebagai pasien. Meskipun meskipun dia hanya dibayar untuk merawat Rendi.


Tono mengangguk pelan.


"Obatnya tinggal ambil saja, kan?" tanya Mila lagi.


Tono pun hanya mengangguk-angguk kecil.


"Om Danu nanti bisa bantu mengambilkan? Biar pak Tono istirahat aja," pinta Mila pada Danu.


"Bisa. Nanti aku ambilkan," sahut Danu.


"Biar aku antar, Pak. Nanti kamu di sana bingung," ucap Eni.


Danu jarang berurusan dengan yang ribet-ribet. Tahunya dia cuma angkot, cari penumpang dan ngopi di pangkalan saja.


Danu nyengir. Tadi dia mengiyakan karena merasa tidak enak kalau menolak. Sedangkan satu-satunya lelaki yang sehat hanya dia.


"Ya udah. Sekarang kita makan dulu," ucap Eni.


Tania mengambilkan nasi untuk Rendi. Dia melayaninya bak seorang istri.

__ADS_1


Begitu juga Mila. Dia yang melayani Tono makan. Mila merasa kasihan pada kondisi Tono. Berkali-kali Tono merasa seperti sesak nafas.


"Tadi dokter bilang gimana?" tanya Mila khawatir.


"Aku harus istirahat," jawab Tono.


"Kalau begitu, manfaatkan anak buah kamu aja buat nganter kemana-mana. Jangan nyopir sendiri," ucap Danu.


Danu pun merasa tak tega membayangkan orang setua Tono, penyakitan pula, membawa mobil kemana-mana sendiri.


"Mereka juga punya tugas lain. Uhuk...uhuk!" jawab Tono lalu terbatuk-batuk, hingga makanan di mulutnya muncrat.


"Papa...!"


Rendi hampir saja lupa kalau dia juga masih tak berdaya. Untungnya Tania yang duduk di sebelahnya, segera menahan lengan Rendi.


Mila buru-buru mengambilkan air putih dan tissue. Lalu membantu Tono minum dan mengelap mulutnya yang belepotan.


"Pak Tono selesai makan, rebahan dulu ya. Nanti bangun lagi kalau obatnya sudah ada," ucap Mila.


Tono mengangguk pelan. Lalu dadanya kembali terasa sesak. Nafasnya terdengar berat.


Tono memberi tanda pada Mila agar makannya disudahi.


Mila mengangguk mengerti.


"Bawa ke kamarku aja, Mila," ucap Tania.


Mila mengangguk.


"Dimana kamarmu?" tanya Mila.


Tania beranjak dan berjalan ke kamarnya. Dia mau membereskan dulu barang-barang yang ada di atas tempat tidurnya.


Danu membantu Mila menggandeng Tono menuju ke kamar Tania yang kecil. Jauh lebih kecil meski dibandingkan dengan kamar tamu di rumah Tono.


Sampai di kamar Tania yang sudah buru-buru dibersihkan, Tono direbahkan.


Kepalanya agak naik agar Tono bisa bernafas dengan lega. Dan setelah Tono merasa nyaman, Danu dan Mila serta Tania keluar. Memberi kesempatan pada Tono untuk istirahat.


"Om Danu bisa sekarang ambil obatnya?" tanya Mila.


"Iya, bisa," jawab Danu. Padahal dia baru saja mau menyalakan rokoknya.


"Udah, merokoknya nanti aja di jalan!" ucap Eni. Dia paham sekali kebiasaan Danu kalau selesai makan.


"Satu ya, Bu. Sambil nunggu kamu siap-siap." Danu berusaha bernegosiasi demi sebatang rokok.


"Siap-siap apaan? Tinggal ambil tas aja, kok." Eni memang sudah rapi sejak selesai masak.


"Iya, Paman. Ini nanti biar Tania aja yang beresin," ucap Tania yang semakin membuat mulut Danu asem.

__ADS_1


__ADS_2