
Danu dan Eni pun terpaksa pulang.
Dengan mata mengantuk, Danu menyetir mobil Tono.
"Ati-ati nyupirnya, Pak. Entar nabrak, lagi," ucap Eni mengingatkan Danu.
"Iya. Ini juga udah ati-ati." Danu membawa mobilnya Tono pelan. Dia takut juga nyerempet di jalan. Bisa kena semprot Tono kalau sampai mobilnya lecet.
Eni yang sudah ngantuk juga, tak banyak bicara. Dia sebisa mungkin menahan rasa kantuknya.
Hingga mereka sampai di rumah. Dan Diman masih saja tidur dengan nyenyak.
"Pak. Ini orang mau dibiarin tidur di luar apa dibangunin? Biar tidur di kamar belakang?" tanya Eni.
Rumah pemberian Tono itu punya dua kamar. Yang belakang mereka siapkan buat Tania, kalau sewaktu-waktu pulang.
"Biarin aja di luar. Entar dia ngiler lagi, di kasurnya Tania!" sahut Danu.
Lalu Danu segera masuk ke kamarnya. Eni mengunci pintu rumahnya dan membiarkan Diman tetap tidur di luar.
Eni masuk ke kamar mandi dulu. Dari tadi dia menahan rasa kebelet pipisnya.
Eni juga tak lupa membersihkan wajahnya lagi.
Sejak membuka usaha salon kecil di kios pemberian Tono, Eni jadi rajin membersihkan wajah. Biar tetap terlihat kinclong katanya.
Selesai membersihkan wajah, Eni berganti dasternya yang tadi lagi.
"Ah, malah enggak jadi ngantuk. Gara-gara kena air sih," gerutu Eni.
Tapi Eni naik juga ke tempat tidur. Mencoba untuk memejamkan matanya. Tapi tetap saja tidak bisa.
Apalagi suara dengkuran Diman sangat keras, terdengar sampai ke kamar Eni. Kamar Eni berada di bagian depan. Tepat di sebelah Diman Tidur.
"Pak. Bangun! Aku enggak bisa tidur!" Eni mengguncang bahu Danu.
"Tinggal merem aja, susah amat sih, Bu!" Danu beralih menghadap ke tembok.
"Itu suara kebo ngorok kenceng banget!" ucap Eni.
"Udah, enggak usah didengerin!" sahut Danu.
"Tapi tetep kedengeran!" Eni berusaha menutupi kepalanya dengan bantal.
Danu malah ikut mendengkur.
Eni semakin tak bisa tidur. Dia hanya membolak balikan badannya saja.
Sebenarnya bukan hanya karena berisik suara dengkuran Diman dan Danu, tapi perasaan Eni yang sedang kalut.
Eni terus saja memikirkan Tania. Iya kalau Tania ada di rumahnya Mike, kalau enggak ada?
Sampai hampir pagi, Eni tetap saja tak bisa tidur. Pikirannya kalut. Ingin rasanya buru-buru pagi dan kembali mencari Tania.
Menjelang pagi, Danu terbangun. Dia kebelet pipis.
__ADS_1
"Lho, kamu belum tidur, Bu?" tanya Danu.
"Enggak bisa tidur, Pak. Aku kepikiran Tania," jawab Eni.
"Udah enggak usah dipikirin. Besok kita cari lagi. Tania udah gede, enggak mungkin ilang," ucap Danu.
"Awas, minggir dulu. Aku mau pipis." Danu menyingkirkan tubuh Eni.
Eni malah bangun dan duduk di pinggiran tempat tidur. Matanya sudah memerah karena belum juga bisa tidur.
Danu kembali dari kamar mandi. Lalu menatap Eni yang lagi duduk sambil melamun.
Dasarnya otak Danu ngeres, bukannya menatap wajah istrinya yang lagi sedih, dia malah menatap bagian dada Eni yang menggantung di balik dasternya.
Danu menelan ludahnya. Lalu duduk di sebelah Eni. Maksudnya mau *****-*****.
Eni menyandarkan kepalanya di bahu Danu. Dia ingin mencari kenyamanan di sana.
Eni berharap, Danu membelai punggungnya atau kepalanya dengan lembut. Sambil mengucapkan kalimat-kalimat yang menyejukan hati.
Tapi yang didapat Eni malah tangan Danu yang perlahan-lahan mendekati bagian dadanya.
"Ih! Apaan sih!" Eni menepiskan tangan Danu dengan kasar.
"Yaelah, Bu. Cuma pegang aja enggak boleh," ucap Danu.
"Kamu enggak tau apa, aku lagi sedih?" tanya Eni. Eni mendekap dadanya dengan tangan.
"Tau, Bu. Makanya aku mau menghiburmu," jawab Danu.
"Sstt! Jangan kenceng-kenceng suaranya. Nanti kedengeran Diman." Danu meletakan telunjuk di bibirnya.
Eni menghela nafasnya. Lalu membaringkan tubuhnya lagi. Eni tiduran membelakangi Danu sambil kedua tangannya terus melindungi bagian dadanya.
Danu ikut berbaring di belakang Eni. Dia peluk istrinya itu dengan erat.
Tangannya berusaha menggerayangi Eni.
"Bu, kamu pingin bisa tidur?" tanya Danu pelan di telinga Eni.
"Iya, Pak. Nanti pagi-pagi kan mau nyariin Tania lagi," jawab Eni.
"Pingin tau caranya?" tanya Danu.
Eni mengangguk.
"Kalau begitu, lepasin ini tangan kamu. Aku mau bikin kamu bisa tidur," ucap Danu.
Kalau urusan kepuasan di atas tempat tidur, Danu paling bisa ngakalin Eni.
Dan biasanya Eni akan menurut dan pasrah. Bahkan kadang menyerang dengan lebih buas.
Dan benar saja, Eni pun menurut. Dia lepaskan dekapannya.
Lalu Danu pun mulai beraksi.
__ADS_1
"Aahk...Pak....!" Baru digituin aja, Eni sudah mendesah.
Suara ******* Eni membuat Danu semakin naik. Dan hasrat Danu yang tadi sore tertunda, gara-gara Tono datang, kembali menggelora.
Danu bak singa lapar. Dia balik badan Eni. Lalu dia cabik-cabik daster Eni, hingga robek di beberapa bagiannya.
Eni tak protes. Meskipun dasternya jadi compang camping. Besok dia bakal minta ganti rugi. Minta dibeliin daster lagi yang baru.
Singa lapar melawan cat woman. Mereka saling mencabik. Saling menyerang, menerjang dan mengerang.
"Woy! Ngapain kalian di dalam!" teriak Diman yang ternyata mendengar suara erangan dan ******* mereka. Juga suara ranjang yang bergoyang.
"Pak. Si Kebo bangun," ucap Eni. Dia menghentikan pacuannya di atas tubuh Danu.
"Udah, biarin aja. Paling juga dia lagi ngigau," sahut Danu.
Eni kembali berpacu.
Dan suara pekikan kenikmatan dari Danu benar-benar sampai di telinga Diman.
"Woy! Jangan kenceng-kenceng! Berisik!" teriak Diman lagi.
Eni yang sudah kepalang tanggung, tak menggubris teriakan Diman. Dia terus saja memacu kudanya semakin cepat.
"Ayo, Bu...Lebih cepat lagi....Aku udah hampir keluar nih...terus, Bu.....terus.....!" teriak Danu.
"Bangsat lu, Danu! Malah dikencengin suaranya!" maki Diman.
Diman blingsatan sendiri. Otaknya jadi traveling. Suara dua manusia tak berperasaan itu semakin keras saja.
Diman jadi membayangkan dirinya ikut dalam permainan mereka. Seperti yang tadi dia bayangkan saat menceritakan Tono hidup serumah dengan dua istri.
Diman meraba senjatanya sendiri.
Sialan! Si entong malah bangun lagi! Gerutu Diman dalam hati.
"Heh! Danu! Bukain pintunya! Gue mau kencing!" teriak Diman sambil menggedor pintu rumah Danu.
Eni berhenti lagi. Sekalian dia juga mengambil nafas.
"Bentar! Lagi nanggung!" sahut Danu.
"Ayo, Bu....buruan... Enggak usah dengerin dia!" ucap Danu.
"Tapi, Pak...." Eni merasa ada yang tidak enak di bagian intinya.
"Apaan?" tanya Danu yang sudah hampir menyemprotkan laharnya.
"Kayaknya aku datang bulan, deh," jawab Eni sambil nyengir.
Mata Danu langsung melotot. Lalu tangannya meraba sela-sela bagian inti mereka yang menyatu.
Danu merasakan tangannya basah. Lalu mengangkat untuk melihatnya. Merah.
Hhh....! Danu langsung lunglay.
__ADS_1