HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 215 RENCANA RAHASIA RENDI


__ADS_3

Mereka semua turun dari mobil.


"Ini rumah siapa?" tanya Lintang.


"Rumah paman kamu," jawab Widya.


Lintang mengangguk. Dalam hati memuji Danu yang akhirnya bisa punya rumah sendiri. Bukan kontraktor yang sering berpindah rumah kontrakan.


"Hebat paman dan bibi. Akhirnya bisa punya rumah sendiri. Enggak ngontrak-ngontrak lagi," puji Lintang.


Eni menatap Danu. Lalu menatap Widya.


"Ayo masuk. Ini rumah kami, Mbak Lintang. Kecil, tapi udah enggak ngontrak lagi," ucap Tania mengajak Lintang masuk.


Tania tahu pasti paman, bibi dan budenya bingung menanggapi omongan Lintang.


Karena rumah ini adalah pemberian Tono. Karena mereka menikahkannya dengan bandot tua itu. Bukan dari hasil kerja keras mereka.


Mereka pun masuk mengikuti Tania dan Lintang. Lalu duduk di sofa empuk yang dibeli Eni.


"Mbak Lintang mau tiduran dulu? Ayo, di kamar Tania," tanya Tania.


Tania khawatir kalau Lintang kecapekan di perjalanan.


"Enggak, Tan. Nanti aja," tolak Lintang.


Lintang mengedarkan pandangannya ke seisi rumah. Lintang kagum dengan selera paman dan bibinya yang sekarang sudah berubah. Bukan lagi selera kampungan dalam menata rumah.


Rumah mereka bergaya minimalis seperti yang sedang in. Malah rumah Widya kalah bagusnya. Meskipun rumah Widya lebih besar.


"Mbak Lintang mau minum?" tanya Eni. Sebagai tuan rumah yang baik, Eni merasa harus menawari Lintang. Meskipun Lintang keponakannya sendiri.


"Enggak, Bi. Nanti kalau Lintang haus, bisa ambil sendiri," tolak Lintang.


Lintang merasa tidak enak kalau harus dilayani Eni sebagai bibinya. Sementara kondisi mereka juga sama-sama capek.


"Ya udah. Anggap di rumah sendiri ya. Jangan sungkan. Bibi mau mandi dulu. Gerah rasanya," ucap Eni.


"Di mobil kan pake AC, Bu. Kok bisa gerah?" tanya Danu.


"Biar kata pake AC, tetap aja kalau udah turun dari mobil, gerah lagi," jawab Eni.


Lalu Eni masuk ke dalam kamarnya dan keluar lagi membawa baju ganti.


"Abis mandi, terus tidur deh," ucap Eni lagi sambil berjalan ke kamar mandi.


"Belum puas tadi tidur di mobil sampai mangap?" ledek Danu.


"Ish! Sembarangan aja kalau ngomong!" Eni masuk ke kamar mandi.


Tania membuka lagi ponselnya. Dia mengirimkan chat pada Rendi. Mengabarkan kalau dia dan keluarganya sudah sampai di rumah.


Rendi tak membuka pesan chat dari Tania. Karena sore itu Mila sudah datang dan sedang membantunya turun dari tempat tidur.


Rendi meminta Mila membantunya juga ke kamar mandi. Tapi hanya sampai Rendi masuk saja. Mila harus keluar, karena Rendi akan melakukan aktifitasnya sendiri.

__ADS_1


Rendi ingin bisa cepat beraktifitas sendiri. Makanya dia tak mau perawat laki-laki yang akan membantunya sampai ke hal-hal kecil.


Rendi mau belajar melakukan sendiri. Rendi tak mau ketergantungan pada orang lain.


Meski masih kesulitan, tapi Rendi tetap berusaha sebisanya.


Sambil meringis menahan sakit, Rendi berpindah dari kursi roda ke closet. Kakinya masih terasa kaku dan ngilu.


Setelah selesai dan merasa lega, Rendi sebisa mungkin membersihkannya sendiri.


Sambil membersihkan, Rendi berkhayal andai saja ada Tania. Pasti dia akan meminta tolong pada Tania. Bukan pada orang lain.


Tania pasti akan mau menolongnya. Bahkan merawatnya dengan baik.


Rendi keluar dari kamar mandi dengan mendorong sendiri kursi rodanya perlahan.


"Udah?" tanya Mila.


"Udah. Aku mau keluar," jawab Rendi.


"Udah bersih?" Mila meragukan Rendi.


"Udah, Mila. Kalau enggak bersih, aku juga risi," jawab Rendi.


"Ambilkan hapeku!" perintah Rendi.


Mila mengambilkan hape Rendi yang diletakan di atas nakas. Dan kebetulan saat Mila memegangnya, ada notifikasi masuk. Hingga ponsel Rendi menyala.


Di wallpaper terpampang foto seorang gadis cantik. Mila menatapnya sekilas. Karena sebentar kemudian, ponsel Rendi mati lagi.


"Ini." Mila menyerahkannya pada Rendi. Lalu mendorong kursi roda Rendi keluar kamar.


"Di teras aja. Aku kepingin menikmati udara sore. Nanti kamu bikinin aku teh hangat, ya."


Mila mengangguk. Meskipun Rendi tak melihatnya.


Mila mendorong kursi roda Rendi ke teras depan.


"Tunggu sebentar. Aku buatin teh hangat dulu." Mila mengunci kursi roda Rendi biar tidak bergeser-geser.


Rendi membuka ponselnya, dan membaca pesan chat Tania.


Mila datang membawa secangkir teh hangat dan satu piring camilan.


"Chat sama siapa?" tanya Mila.


"Bukan urusan kamu. Jadi kamu enggak perlu nanya-nanya. Oke." Rendi tak suka urusannya dengan Tania diganggu.


Mila hanya bisa mengangguk dan diam.


Apa dengan cewek yang fotonya ada di wallpapernya? Pacarnya Rendi, kah?


Cantik.


Pantas saja Rendi enggak mau dengan Monica yang bajunya kurang bahan. Batin Mila.

__ADS_1


Mila pun bermain ponselnya sendiri. Tugasnya di rumah Sari hanya menjaga dan merawat Rendi. Jadi bagi Mila yang biasa bekerja sebagai perawat, sangatlah mudah.


Tak lama datanglah Dito dengan Mike. Rendi mengabari Dito kalau dirinya sudah pulang ke rumah lagi.


"Hallo,Bro. Udah sembuh?" tanya Dito sambil mendekap kepala Rendi yang masih terbalut perban.


"Aduh! Sakit, dodol!" Rendi menjauhkan badan Dito.


"Oh, sorry-sorry." Dito pun menjauh.


Lalu Mike menghampiri Rendi.


"Hay, Ren. Udah sembuh?" Mike menyalami Rendi sambil mengulang pertanyaan Dito.


"Udah. Gimana kabar kalian?" tanya Rendi.


"Ya begini ini. Selalu baik-baik aja. Masih sibuk kuliah," jawab Mike.


Mila yang dari tadi diacuhkan, menatap kagum pada Dito. Dito tak kalah ganteng dari Rendi.


Tapi kemudian Mila menunduk saat Mike meliriknya dengan sadis. Mike tak suka kalau ada wanita yang memperhatikan Dito terlalu lama. Apalagi mengagumi.


"Siapa dia?" tanya Mike pada Rendi.


"Oh. Mila. Perawat yang aku bilang pada Dito tadi," jawab Rendi.


"Ooh. Perawat," sahut Mike. Dari nada bicaranya, seolah Mike meremehkan Mila.


Mila pun mengangkat wajahnya, dan mengangguk dengan sopan.


"Mila. Buatkan minuman buat Dito dan Mike," ucap Rendi pada Mila.


"Kalian mau minum apaan?" tanya Rendi.


"Tumben-tumbenan lu, nawarin gue minum. Biasanya juga nyuruh ambil sendiri," sahut Dito.


"Mumpung ada yang buatin," sahut Rendi.


"Cie...udah punya asisten, ya?" ledek Dito.


Mila merasa ge er. Wajahnya merah merona kayak kepiting rebus.


"Cuma sebulan. Makanya, mumpung ada," sahut Rendi biasa saja.


Mila menundukan wajahnya. Karena jawaban Rendi, tak mendukung ledekan Dito.


"Oh, cuma sebulan doang? Yakin lu setelah sebulan, bisa ngapa-ngapain sendiri?" tanya Dito.


"Harus yakin lah!" jawab Rendi dengan percaya diri.


Rendi menatap Mila yang malah diam saja. Mila pun paham. Lalu masuk ke dalam, membuatkan minuman untuk kedua teman Rendi.


"Lu kagak salah pilih perawat, Bro?" tanya Dito pelan.


"Iya, Ren. Kenapa enggak pilih yang laki-laki aja?" Mike ikut bertanya.

__ADS_1


"Sstt. Kalian diem aja. Aku punya rencana sendiri. Makanya aku pilih dia."


Rendi memberikan tanda pada Dito dan Mike untuk mendekat. Lalu membisiki mereka sesuatu.


__ADS_2