
"Kesucian apa?" tanya Rendi semakin tak mengerti.
"Rendi! Kamu telah merenggutnya! Kamu melupakan itu? Tega sekali kamu, Rendi. Dan perlu kamu tau, aku tak akan bisa terima!" Suara Monica sangat lantang sambil menangis.
"Kapan aku melakukannya?" tanya Rendi. Dia meraih tangan Tania dan mengenggamnya erat.
Rendi tak mau Tania mempercayai omong kosong Monica. Lalu pergi meninggalkannya.
Sementara kondisi Rendi saat ini tak memungkinkan untuk mengejarnya.
"Tega kamu, Rendi! Kamu benar-benar tega!" Monica memandang wajah Tania dengan tajam.
Tania pun balas menatapnya.
"Kamu, tega akan merebut lelaki yang telah mengambil kesucianku? Kalau kamu wanita baik-baik, tinggalkan Rendi. Dan bukankah kamu istri papanya Rendi?" tanya Monica pada Tania dengan terisak.
"Hey! Jangan bawa-bawa soal papaku! Tania memang istrinya. Tapi dia akan mengembalikannya padaku!" sahut Rendi.
Tania? Jadi Tania ada di dalam? Jantung Sari berdegup dengan sangat kencang.
Sari ternyata mendengar dari luar kamar. Dia niatnya mau mengantarkan makanan untuk Dito yang akan menunggui Rendi malam ini.
Sari masih mencoba bertahan di balik pintu. Dia akan menunggu dulu apa yang akan terjadi. Dan Sari juga ingin mendengar pengakuan masing-masing.
"Dan kamu akan menerima barang bekas seperti itu, Ren? Kamu mau menerima seorang janda? Ingat, dia akan menjadi janda, Rendi! Dimana pikiranmu?" tanya Monica. Tangisnya sudah mulai reda.
"Memang apa salahnya aku menikahi seorang janda? Toh, dia janda dari papaku sendiri. Lagipula aku yang sudah mengambil kesuciannya!" sahut Rendi.
Rendi malah sengaja menarik tangan Tania, lalu menciumnya di hadapan Monica.
"Jadi kamu juga mengambil kesuciannya? Gila kamu, Rendi! Semua wanita kamu ambil kesuciannya!" seru Monica.
Tania menatap tak percaya ke arah Rendi. Rendi semakin mengeratkan genggamannya.
"Jangan asal bicara kamu, Monica! Lagi pula aku tak pernah mengambil..." Belum sempat Rendi menyelesaikan kalimatnya, Monica langsung menyambar.
"Jangan mengelak Rendi! Aku tak bisa terima! Dan aku akan mengatakan semuanya pada mama kamu!" ancam Monica.
Monica tahu kalau Sari tak menyukainya. Tapi dengan modal pengakuan kalau Rendi sudah mengambil kesuciannya, pasti Sari akan membelanya.
Sari yang sudah tak bisa lagi menahan diri, membuka pintu yang tak tertutup rapat.
"Aku sudah mendengar semuanya!" ucap Sari tiba-tiba.
Rendi sangat terkejut melihat kedatangan mamanya. Tania lebih terkejut lagi. Bahkan lebih dari terkejut. Tania takut Sari akan mengadu pada Tono, dan mengurungnya kembali.
"Tante...!"
Monica langsung berlari dan memeluk Sari. Dia pun kembali berakting menangis tersedu-sedu.
Rendi terus saja menggenggam tangan Tania. Dia takut mamanya akan memisahkan Tania darinya.
Sari juga terkejut saat tiba-tiba dipeluk oleh Monica. Tapi Sari tak menolaknya. Dia membalas pelukan Monica, meski dalam hatinya malas sekali.
__ADS_1
Lalu munculah ide buruk dari Sari. Dia akan memanfaatkan Monica untuk mengenyahkan Tania dari kehidupan Rendi.
"Tante....Aku...Aku....," ucap Monica sambil terisak.
"Iya, Tante tau. Kamu yang sabar, ya." Sari melepaskan pelukan Monica.
Lalu Sari memandangi Rendi dan Tania bergantian.
Tania hendak menarik tangannya, karena merasa tidak enak. Tapi Rendi malah semakin erat menggenggam.
"Rendi. Apa benar yang dikatakan Monica tadi?" tanya Sari pada Rendi.
"Enggak, Ma. Kami tak pernah melakukannya," jawab Rendi.
"Bohong, Tante! Rendi bilang begitu, karena ada dia!" Monica menunjuk ke arah Tania.
Tania terkesiap ditunjuk seperti itu. Tapi Tania yang kini sudah semakin kuat, tak merasa takut sedikitpun.
Bahkan dia tak marah sama sekali dengan pengakuan Monica tadi. Tania berpikir, itu terjadi saat Rendi tak bersamanya. Jadi wajar saja kalau sampai melakukan hal-hal diluar batas.
Apalagi waktu itu Rendi pernah dihasut Tono, bahwa Tania sedang hamil. Pastinya Rendi merasa sangat terluka dan kecewa.
Bisa jadi, apa yang dilakukannya pada Monica adalah pelampiasannya saja.
Rendi menatap Monica dengan tajam. Bisa-bisa menuduhnya di depan Sari. Apalagi membawa-bawa Tania.
Kondisi Rendi saat ini memang tak memungkinkannya berbuat lebih. Dia hanya bisa bicara saja.
Monica kembali menangis tersedu-sedu mendengar omongan Rendi.
"Ren, kamu enggak boleh seperti itu. Kamu harus bertanggung jawab pada Monica," ucap Sari.
Meski Sari tak menyukai Monica pun, tapi dia harus memikirkan bagaimana kalau sampai Monica hamil.
Otak licik Monica langsung jalan.
"Iya, Tante. Bagaimana kalau saya nanti hamil? Hu...hu...hu..." ucap Monica sambil menangis.
Glek!
Sari menelan ludahnya.
Gila! Aku bakal punya cucu dari Monica? Batin Sari.
Sari menatap wajah Monica, lalu beralih ke bagian perutnya.
Monica langsung mengelus perutnya, seolah dia benar-benar lagi hamil.
"Jangan gila kamu, Monica!" seru Rendi.
Tania berusaha melepaskan tangan Rendi. Dia rasanya tak bisa lagi berlama-lama di situ.
Tania juga berpikir, bagaimana kalau Monica benar-benar hamil. Itu berarti dia harus mundur dari kehidupan Rendi.
__ADS_1
"Jangan percaya omongannya, Sayang. Semua itu bohong!" ucap Rendi pada Tania.
Tania hanya menghela nafasnya.
"Tania! Bisa kamu keluar dari sini! Ini masalah keluargaku. Biar kami selesaikan!" pinta Sari.
Tania menoleh ke arah Rendi. Dia ingin mengatakan kalau Sari tak menginginkannya di sini.
"Enggak! Jangan! Jangan pernah pergi, Tania!" seru Rendi. Pegangan tangannya semakin erat saja.
"Ren. Aku pergi dulu. Selesaikan semuanya dengan baik. Kamu bisa menghubungiku lagi nanti, kalau semuanya sudah selesai," ucap Tania dengan bijak.
Kehidupan yang menyakitkan selama ini, membuat Tania jadi semakin bijak dan berani menghadapi masalah.
"Enggak, Sayang. Kamu jangan pergi. Temani aku mengusir Monica," pinta Rendi.
"Rendi! Jangan ngaco kamu! Monica bisa saja mengandung anakmu. Kamu mau mempertahankan wanita itu? Dan bisa jadi, dia ketularan penyakit itu!" ucap Sari keceplosan.
Penyakit Tono yang mestinya dia rahasiakan, kini malah dia buka di depan Monica.
"Penyakit apa, Tante?" tanya Monica.
"Ah, tidak. Sudahlah. Sekarang kita selesaikan masalah kamu dulu," jawab Sari.
"Tidak, Ma! Tania tak pernah berhubungan badan dengan papa!' seru Rendi.
"Itu kan pengakuannya di depan kamu! Biar kamu mau menerimanya kembali. Jangan mudah percaya, Rendi!" sahut Sari.
"Tidak! Rendi percaya pada Tania, Ma!"
Tania berhasil lepas dari pegangan tangan Rendi.
"Tania jangan pergi, Tania!" Rendi berusaha menggapai tangan Tania lagi.
Kesempatan itu dimanfaatkan Monica untuk menarik tangan Tania agar semakin jauh dari jangkauan Rendi.
Tapi Tania langsung mengibaskan tangannya. Dia tak mau diperlakukan seenaknya oleh Monica. Misalnya pun dia pergi, dia akan pergi sendiri tanpa pakai acara menyeretnya.
"Pergilah kamu! Kami tak membutuhkan kamu!" ucap Sari dengan ketus.
"Mama!" teriak Rendi.
Tania menatap wajah Sari sekilas. Terlihat sekali kalau Sari tak menyukainya.
"Baik, Tante. Saya pergi. Saya titip Rendi!" sahut Tania.
"Rendi. Aku pulang dulu," ucap Tania pada Rendi.
"Tidak, Tania. Kamu jangan pergi!" seru Rendi. Ingin rasanya dia mengejar Tania, tapi apa daya kondisinya sangat tak memungkinkan.
Tania melangkah melewati Sari dan Monica. Dan sampai di depan pintu, Tania melihat Tono sedang berdiri menatapnya tajam.
Glek!
__ADS_1