
Rombongan Rendi sampai di rumah Tania. Mereka semua sudah siap luncur.
"Yaelah, siang amat, Bro!" protes Dito pada Rendi.
"Kan nunggu nyokap gue berangkat dulu," sahut Rendi.
Dito manggut-manggut.
"Bokap lu kagak ikut?" tanya Dito.
"Papa lagi check up ke rumah sakit. Entar kalau bisa selesai cepet, nyusul kesana," jawab Rendi.
"Tania udah siap, sayang?" tanya Rendi pada Tania.
"Udah, Ren. Kita semua udah siap kok," jawab Tania.
"Ya udah, kalau begitu kita berangkat sekarang," ucap Rendi.
Tania mengangguk. Lalu Rendi menoleh pada Dito.
"Udah siap kan, Bro?" tanya Rendi.
"Gue udah siap dari tadi. Elu aja yang kagak nyampe-nyampe," jawab Dito.
"Ya udah. Ayo Tania," ajak Rendi.
Dan semua pun masuk ke dua mobil yang siap mengantar mereka healing.
Tak ada drama lagi. Danu pun sudah dijemput Tania dan Mike tanpa banyak protes kayak biasanya.
Eni juga sudah berpakaian ala anak pantai. Karena mereka memang mau pergi ke pantai.
Dua mobil melaju beriringan. Mobil Rendi berada di depan. Mobil yang dibawa Dito mengikutinya.
Tak ada yang mengetahui kalau di belakang mereka ada sebuah mobil juga yang mengikuti.
Tania duduk sebelahan dengan Rendi. Mila duduk sendirian di jok belakang.
Harapannya bisa bersebelahan dengan Rendi yang hari ini terlihat ganteng abis, gagal sudah.
Tapi Mila tak terlalu memusingkannya. Dia cukup tahu diri. Meski Tania bukanlah dari keluarga kaya, tapi kecantikan Tania tak mungkin bisa ditandinginya.
Sri yang baru sekali ini melihat langsung wajah Tania pun, sempat ternganga.
Pantas saja pak Tono tergila-gila dan mengabaikan aku. Cantiknya luar biasa. Cocok sekali dengan mas Rendi yang juga ganteng maksimal. Batin Sri.
Padahal saat itu Tania hanya mengoles tipis wajahnya. Tak terlalu berlebihan. Tapi justru kecantikan alaminya terpancar. Terutama dari senyum bahagianya.
"Mas Rendi sama mbak Tania serasi banget, ya," komentar Sri.
"Iya, Sri. Kayak kita. Hehehe," ledek Yadi sambil terkekeh.
"Ish. Apaan sih!" Sri mencubit tangan Yadi yang lagi pegang stir.
"Eeh....! Jangan pegang-pegang sekarang, Sri. Nanti aku gak konsen." Yadi kembali meledek Sri.
__ADS_1
"Siapa yang pegang-pegang? Aku nyubit, Pak Yadi jelek....!" seru Sri.
"Oh, tadi nyubit, ya. Aku merasakannya kayak lagi dipegang-pegang kamu. Hahaha."
Yadi paling suka menggoda Sri ataupun Mila. Siapapun yang ada di dekatnya, pasti bakalan jadi korban.
"Mau yang lebih kenceng lagi?" tanya Sri dengan kesal.
"Jangan sekarang sayang...!" jawab Yadi dengan mesra.
Semua yang ada di dalam mobil pun, tertawa ngakak. Mereka hafal sekali dengan sikap usil Yadi.
Tania yang baru sekali ini bersama mereka pun tak menganggap itu serius. Tania sudah pernah diceritain Rendi juga Mila, tentang siapa Yadi dan juga Sri.
"Jangan kaget ya, sayang. Mereka cuma bercanda," ucap Rendi sambil menggenggam tangan Tania.
"Tapi kalau pak Yadi mau serius juga, aku dukung kok," lanjut Rendi.
"Apaan sih Mas Rendi, ih!" sahut Sri dengan malu-malu.
"Kok pada sayang-sayangan, sih? Aku kan sendirian di sini!" seru Mila dari jok belakang.
"Biar enggak sendirian, sini aku pangku, Mil!" ucap Yadi.
"Mana muat?" tanya Mila.
"Muatlah. Aku tahan nafas, deh. Hahaha." Yadi tertawa puas.
"Mati kamu kalau kelamaan nahan nafas!" ucap Sri.
"Ogah...! Yang ada aku malah pingsan!" sahut Mila.
"Pingsan di pelukanku kan enak, sayang." Yadi kembali menyahut.
"Tuh, Mil. Udah dipanggil sayang ama pak Yadi," ucap Rendi.
"Ogah!" sahut Mila.
"Lah terus maunya yang manggil sayang siapa, Mil?" tanya Yadi.
"Jangan bilang kalau yang manggil sayang, mas Rendi ya!" ancam Sri.
Tania menoleh ke arah Rendi. Rendi nengangkat bahunya.
"Eh! Maaf bercanda, Mbak Tania. Kita biasa bercanda, kok," ucap Sri merasa tak enak pada Tania.
"Omelin aja tuh, Tan. Biar kapok!" Mila malah manas-manasi Tania.
Tania hanya tersenyum saja. Karena Rendi pun sudah cerita padanya tentang status Mila yang hanya sebagai perawatnya saja.
Dan Tania sangat percaya pada omongan Rendi daripada baper dengan candaan Sri.
"Eh, Mil. Mbak Tania itu orang yang baik. Enggak kayak kamu!" ucap Sri.
"Emangnya aku kurang baik gimana?" tanya Mila. Mila merasa selama ini sudah jadi orang baik-baik.
__ADS_1
Sebenarnya Sri juga tak menuduh Mila bukan orang yang baik. Sri hanya memuji Tania sebagai orang yang baik. Meskipun Sri baru ketemu Tania secara langsung hari ini.
Tapi dari cerita tentang Tania yang sering didengarnya, membuat Sri ternganga melihat kecantikan maksimal Tania.
Sri hanya diam. Dia lagi berpikir, mau menjawab bagaimana.
"Udah. Enggak usah dipikirin, Mil. Kalau emang kamu mau dianggap baik, kita nikah yuk," ucap Yadi meledek Mila.
"Pak Yadi.....!" teriak Mila persis di belakang antara Tania dan Rendi. Hingga keduanya pun terlonjak.
"Mila! Apaan sih, kamu!" seru Rendi saking kagetnya.
"Pak Yadi itu loh!" sahut Mila tak mau disalahkan.
"Kok aku sih? Aku kan cuma nawarin doang." Yadi pun tak mau disalahkan.
"Kaget ya kamu, sayang?" tanya Rendi dengan lembut pada Tania.
"Hhhh...!" Mila malah makin bete mendengarnya. Lalu menyandarkan kepalanya dengan keras.
Mila bukan bete karena cemburu, tapi bete karena tak ada yang memanjakannya seperti Tania.
"Enggak apa-apa, Ren," jawab Tania.
Rendi merengkuh kepala Tania. Tak urung Tania menyandarkan kepalanya di lengan Rendi.
"Kamu harus terbiasa dengan ulah Mila yang suka bikin sport jantung, sayang," ucap Rendi sambil membelai lembut kepala Tania. Lalu mengecupnya dengan lembut.
Bagi Tania hal seperti itu sudah biasa. Di rumahnya, bukan hal yang mengejutkan lagi. Eni bisa berteriak lebih kencang dari teriakan Mila.
Dan kalau sudah begitu, Danu akan lari tunggang langgang. Lari keluar dan nongkrong di warung kopi terdekat.
Danu baru akan kembali setelah Tania menyusulnya atas perintah Eni.
"Iya, enggak apa-apa, Ren," sahut Tania.
Iih...bisa enggak sih, jangan bermesraan di depan jomblo? Menyakitkan sekali! Gerutu Mila dalam hati.
Ternyata sikap Mila yang lagi kesel, terlihat oleh Yadi dari kaca mobil.
Yadi yang memang hobinya iseng, kepingin membuat Mila makin kesal lagi.
Yadi memberikan kode pada Sri. Sri pun menoleh sedikit ke belakang. Meski pandangannya terhalang Rendi dan Tania yang sedang berpelukan, tapi Sri bisa melihat sekilas wajah bete Mila.
Sri pun terkikik.
Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Yadi untuk ngelaba pada Sri, sekaligus mengerjai Mila.
"Sini Sri sayang, aku peluk juga." Yadi memberikan satu tangannya pada Sri.
Sri pun pura-pura menurut. Dia rebahkan kepalanya persis seperti yang dilakukan Tania.
Mila melihatnya dengan kesal. Lalu kembali berteriak.
"Kalian jahat....!"
__ADS_1