
"Bawa sini hapemu," pinta Dito.
Tania pun menyerahkan ponselnya pada Dito. Lalu Dito mengetikan nomornya dan menyimpan di ponsel Tania.
Dan tak lupa Dito pun langsung mencari nomor kontak Rudi di daftar kontak ponsel Tania. Lalu mengirimkan ke nomornya dan menghapus riwayat pengiriman juga menghapus nomor kontak Rudi, bahkan memblokirnya terlebih dahulu.
Semua dilakukan Dito dengan sempurna. Hingga nama Rudi terhapus dari ponsel Tania.
Dito benar-benar tak mau hubungan Tania dengan Rendi, goyah hanya gara-gara hal sepele.
Karena bisa jadi bagi Rendi itu bukan masalah sepele.
Sejak sekolah dulu, Rendi sangat tidak suka pada sikap sombong Rudi. Dan Rudi pun sering sekali cari gara-gara dengan Rendi.
"Nih. Udah aman. Rudi enggak akan menghubungi kamu lagi. Nomornya udah aku blokir dan hapus," ucap Dito sambil menyerahkan kembali ponsel Tania.
Tania menerima ponselnya kembali dengan malas. Bukan apa-apa. Tania hanya tak suka kalau dibatas-batasi dalam bergaul.
Apalagi di matanya Rudi saat bertemu dengannya di mall, bersikap sangat baik. Malah menolongnya.
Ya meskipun beberapa kali saat Rudi menghubunginya, Tania terpaksa mengcancel. Karena pada saat itu ada Rendi di dekatnya.
Tak mungkin Tania menerima telpon dari teman. Apalagi seorang lelaki.
"Udah yuk. Jusnya udah jadi semua," ajak Dito agar mereka kembali ke rombongan.
Tania beranjak dari duduknya. Lalu berjalan mengikuti Dito. Mereka kembali berjalan beriringan.
Tanpa sepatah katapun dari mulut mereka, seperti saat berangkat tadi.
Tania sedang merasa tak enak hati. Entah karena apa. Tiba-tiba saja perasaannya jadi tak enak.
Dito pun diam. Dia sedang berencana akan menghubungi Rudi, nanti setelah pulang kembali ke rumah.
"Kalian lama banget?" tanya Mike dengan manja. Tujuannya pada Dito tentunya.
"Ini, sayang. Aku belikan kamu jus." Dito menyerahkan satu kantong plastik jus, yang berisi dua cup besar. Sedang kantong satunya dia berikan pada Tania.
"Kamu mau jus kan, Ren?" tanya Tania.
Tentu saja Rendi mengangguk. Cuaca sudah semakin panas. Rasanya jus segar itu akan mampu melelehkan panas yang menyengat kulit.
"Makasih, sayang," ucap Rendi setelah menerima satu cup besar dari Tania.
Rendi mencoblosnya dengan sedotan dan langsung meminumnya. Begitu juga yang lainnya. Tania, Dito dan Mike.
Mereka terlihat sangat menikmati minuman jus yang terlihat menyegarkan itu.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Rendi terbatuk-batuk.
"Ati-ati minumnya, Ren. Pelan aja," ucap Tania sambil menepuk bahu Rendi perlahan.
"Iya. Lu ngapain sih, buru-buru bener minumnya? Kagak ada yang minta!" ucap Dito.
__ADS_1
Rendi tak menghiraukannya. Dia masih fokus pada tenggorokannya yang terasa gatal.
"Aku ambilin air putih, ya."
Rendi mengangguk. Tania pun bergegas mengambilkan air mineral botol.
"Ini. Minum air putih dulu." Tania mengulurkan botol air mineral yang sudah dibukakan tutupnya.
"Untung lu punya malaikat yang siap tanggap!" ucap Dito lagi.
Rendi masih tetap tak menyahut. Dia menenggak air putih yang diberikan oleh Tania.
"Udah enakan?" tanya Tania.
Rendi memgangguk.
"Makasih, sayang," ucap Rendi.
Tania mengangguk. Lalu menyingkirkan cup jus milik Rendi.
"Udah. Jusnya jangan diminum lagi," ucap Tania.
Rendi pun mengangguk. Dia tak mau batuk lagi.
Rendi yang jarang minum minuman yang dijual di jalanan, tenggorokannya jadi sangat sensitif.
"Kamu kenapa, Ren?" tanya Tono yang melihat Rendi batuk-batuk.
"Enggak apa-apa, Pa. Cuma tersedak aja," jawab Rendi berbohong.
Rendi tak mau kalau Tono tau penyebab batuknya adalah minuman yang dibeli oleh Tania. Walaupun sebenarnya minuman itu bukan Tania yang beli.
"Mama!" Mata Rendi terbelalak melihat siapa yang berlari ke arahnya.
Tono dan Tania pun tak kalah kagetnya. Bahkan reflek Tono mendekati Tania. Lalu menarik tangan Tania agar agak menjauh dari Sari.
"Kamu kenapa? Batuk?" tanya Sari.
Tadi dari kejauhan Sari melihat Rendi sedang minum sesuatu dari gelas plastik yang masih dipegang oleh Tania.
Mata Sari langsung menatap Tania juga gelas yang dipegangnya.
"Kamu mau meracuni anakku, hah!" bentak Sari pada Tania.
Tono semakin mengeratkan genggaman tangannya. Tania pun tak berniat mengelak.
Saat ini Tania sangat butuh dukungan. Dan genggaman tangan Tono adalah wujud dari dukungannya pada Tania.
"Bukan, Ma. Rendi cuma tersedak aja," ucap Rendi tak mau kalau Tania disalahkan.
"Kamu itu enggak boleh minum minuman murahan kayak gitu!" Sari menunjuk sisa minuman yang masih dipegang Tania.
Semua mata rombongan Tania pun menatap ke arah Sari.
"Pak..." ucap Eni pelan pada Danu. Tangannya mrncari tangan Danu.
__ADS_1
"Tenang, Bu," sahut Danu.
Lalu Danu perlahan berdiri. Widya pun ikut berdiri. Dia akan menghadapi Sari kalau sampai Tania diapa-apain.
Eni hanya terdiam di tempatnya. Menghadapi Sari memang Eni agak ciut nyalinya. Sebab Sari sering selalu menghinanya.
"Heh! Kalau enggak mampu beli minuman yang sehat, jangan asal ngasih ke anakku, ya! Awas aja kamu, kalau sampai anakku kenapa-napa!" ancam Sari.
Dada Tania terasa sesak dan nafasnya memburu. Emosinya langsung naik. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Tania berpikir, bagaimanapun Sari adalah mamanya Rendi. Dan dia harus menghormatinya.
"Ma...! Bukan salah Tania! Lagian Rendi juga enggak kenapa-napa!" ucap Rendi.
"Kamu masih membelanya?" tanya Sari dengan ketus.
"Saya yang beli minuman itu, Tante. Bukan Tania!" ucap Dito. Dia berjalan maju mendekati Sari dan Rendi.
Sari dan Rendi menatap ke arah Dito.
Dito mengangguk.
"Iya. Saya yang membelinya. Tadi setelah mengantar Tania ke toilet!" lanjut Dito.
"Dito! Bagus sekali kamu. Pagar makan tanaman!" ucap Sari dengan sengit.
Dito mengerutkan keningnya. Terkejut mendengar kalimat yang diucapkan Sari.
"Maksud Tante apa?" tanya Dito.
Sari tak menjawab. Dia hanya menatap sengit pada Dito. Tak disangkanya kalau Dito sahabat Rendi, ternyata ada main dengan Tania. Wanita yang sangat digandrungi Rendi.
Lalu tatapannya beralih ke Tania. Kini tatapannya menjadi tatapan jijik.
"Dan kamu! Wanita menjijikan!" umpat Sari.
Tania semakin naik darah. Dia yang tak tau apa-apa malah terus saja dimaki-maki.
"Apa maksud Mama?" tanya Rendi pada Sari.
"Sekarang kamu pulang sama Mama. Nanti Mama kasih tau kamu. Betapa bejadnya mereka berdua!" Sari menuding pada Tania dan Dito.
Tania dan Dito saling bertatapan. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mike pun seakan tak terima makian Sari. Dia berjalan mrndekati Dito.
"Ada apa, Tante?" tanya Mike memberanikan diri.
"Kamu. Kasihan sekali nasibmu! Diselingkuhi sama suami!" ucap Sari pada Mike.
"Diselingkuhi? Apa maksud Tante?" tanya Mike.
"Kalian mau tau apa yang dilakukan mereka berdua di toilet tadi?" tanya Sari dengan penuh kebencian dan rasa jijik.
Semua yang ada di sana terdiam.
__ADS_1
Lalu Sari membuka galeri ponselnya. Dan memperlihatkannya pada Rendi.
Mata Rendi kembali terbelalak.