
"Kok mati?" tanya Widya yang duduk di sebelah Tania.
Meski perlahan, Widya mendengar juga pembicaraan Tania dengan Rendi.
Tania melihat signal di ponselnya. Siapa tahu karena di perjalanan, signalnya hilang.
"Mungkin ada mamanya, Bude. Jadi Rendi mematikan penggilannya," jawab Tania. Sebab di pojok layar ponselnya, signal masih full.
Widya menghela nafasnya. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Selain pasrah dan berdoa, semoga Sari mau membuka hatinya untuk Tania.
Widya meraih tangan Tania.
"Kamu yang sabar, ya," ucap Widya mencoba menguatkan hati Tania.
"Iya, Bude. Tania udah pasrah, kok. Semua Tania serahkan pada Rendi. Kalau dia memang masih mau sama Tania, ya Alhamdulillah. Kalau enggak, ya mau gimana lagi," sahut Tania.
Tania pun tak bisa berbuat apa-apa. Semua keputusan tinggal di tangan Rendi.
"Iya, Tania. Jangan khawatir, kami akan selalu menemani kamu," sahut Widya.
Tania langsung menyandarkan kepalanya di lengan besar Widya.
Danu dan Eni yang mendengarnya, jadi berkaca-kaca. Mereka berdua kembali merasa sangat bersalah. Karena bagaimanapun, semua terjadi karena ulah mereka berdua.
"Masa depan kamu masih sangat panjang, Tania. Kamu harus kuat. Biar bisa mandiri kayak mbak Lintang," ucap Widya.
Bukannya Widya membanggakan Lintang. Tapi setidaknya, keberhasilan Lintang hidup mandiri di kota, bisa menjadi motivasi buat Tania.
"Iya, Bude. Makanya Tania kepingin kuliah. Biar bisa kayak mbak Lintang. Bisa bekerja di luar kota," sahut Tania.
"Apa? Kerja di luar kota? Enggak! Bibi enggak mau kamu jauh-jauh lagi dari kami!" seru Eni.
"Tania juga pingin sukses seperti mbak Lintang, Bi," sahut Tania.
"Sukses kan enggak perlu ke luar kota juga. Banyak kan, tetangga kita yang sukses. Di kota kita masih banyak pekerjaan!" Eni tetap menolak keinginan Tania.
"Iya, udah. Sekarang yang penting, kalian wujudkan dulu keinginan Tania buat kuliah," ucap Widya.
Eni menoleh ke arah Danu.
"Gimana, Pak?" tanya Eni. Sebab Eni tak mau ambil keputusan sendiri.
"Iya, nanti Paman usahakan, Tania!" sahut Danu.
"Kalau mau nguliahin Tania, kamu yang rajin dong narik angkotnya! Jangan malas-malasan!" ucap Eni dengan ketus.
__ADS_1
"Denger tuh, omongan istri kamu, Danu!"
Kali ini Widya membela Eni. Karena kenyataannya, Danu memang sangat malas bekerja.
Mungkin karena Eni sudah punya penghasilan yang lumayan. Juga Tono yang sering memberi mereka uang tutup mulut, agar tak menanyakan Tania lagi waktu itu.
"Iya. Aku janji bakal rajin narik. Kalau kemarin-kemarin malas kan, karena Tania enggak ada. Jadi seperti orang patah hati," sahut Danu sok melow.
"Ah, alasan aja kamu! Kalau memang rajin mah, rajin aja!" Widya mendorong lengan Danu dengan keras. Membuat mobil sedikit oleng. Karena Danunya juga oleng pegang setirnya.
"Jangan gitu dong, Mbak. Kalau nabrak gimana?" protes Danu.
"Iya, iya maaf," ucap Widya. Dia tak mengira, tenaganya sekuat itu dan bisa membuat oleng mobil.
"Nanti Tania cari kerja di sini aja dulu, Paman. Mulai tahun ajaran baru kan masih beberapa bulan lagi. Jadi Tania bisa ngumpulin uang dulu," ucap Tania.
Tania juga tak mau merepotkan paman dan bibinya terus. Bagi Tania, sudah cukup mereka menyekolahkannya sampai lulus SMA. Selanjutnya, dia akan upayakan sendiri.
"Jangan Tania. Kalau kamu sudah kembali lagi ke rumah, itu tandanya kamu jadi tanggung jawab kami lagi," ucap Danu.
"Iya, Tania. Bibi kan juga punya salon, walaupun cuma kecil. Kalau rajin buka, hasilnya juga lumayan kok," sahut Eni.
"Memangnya kamu ikutan malas juga, kayak Danu?" tanya Widya pada Eni.
"Ya enggak sih, Mbak," jawab Eni berbohong. Karena kenyataannya, Eni sering juga tidak buka, karena bangun kesiangan. Apalagi penyebabnya, kalau bukan bertempur semalam suntuk dengan Danu.
Eni langsung melotot ke arah Danu. Danupun langsung terdiam.
"Hhm. Kalian itu sama aja! Sama-sama pemalas!" ucap Widya.
"Mas Danu tuh, Mbak. Yang suka bikin aku bangun kesiangan." Eni malah menyalahkan Danu.
"Enak aja, nyalahin aku. Kan kamu juga yang kadang minta sampai pagi," balas Danu.
"Udah! Udah! Malah bahas begituan! Kalian emang sama aja! Pokoknya mulai besok pulang dari jalan-jalan, aku mau kontrol pekerjaan kalian! Awas aja kalau sampai malas-malasan. Aku suruh Lintang bawa Tania pergi!" ancam Widya.
"Eh jangan, Mbak. Nanti kami enggak punya anak lagi!" ucap Eni dengan tegas.
"Makanya yang rajin cari duitnya! Biar bisa buat nguliahin Tania! Aku juga dulu bisa nguliahin Lintang, walaupun single parent," ucap Widya.
Sejak suaminya kabur, Widya harus banting tulang sendiri menghidupi dan menyekolahkan Lintang.
Setelah lulus SMK jurusan boga, Lintang sempat kuliah sebentar. Meski hanya satu tahun. Tapi cukup untuk bekal mencari pekerjaan di kota besar. Seperti impian Lintang dahulu.
Lintang bercita-cita menjadi chef terkenal, seperti yang sering dia lihat di televisi.
__ADS_1
Ya, meskipun tidak terkenal seperti para chef itu, setidaknya Lintang dapat pekerjaan yang bagus di hotel, sesuai dengan keinginannya.
"Iya, Mbak. Kami janji akan rajin nyari duit. Tapi Tania juga harus janji, jangan pergi jauh dari kami," ucap Danu.
"Iya, Paman. Tania janji tak akan pergi jauh dari kalian," ucap Tania. Dia merasa tak tega dengan paman dan bibinya yang telah mengasuh sejak kecil.
Tapi bagaimana kalau Rendi mengajak kabur? Mereka berdua sudah menyepakati kalau tak dapat restu dari Sari.
Tania langsung termenung. Sebuah pilihan yang sulit baginya.
Widya kembali meraih tangan Tania, dan menggenggamnya erat.
Meski tak tahu apa yang sedang dipikirkan Tania, setidaknya Widya ingin memberikan dukungan agar Tania kuat menjalani semua ini.
"Tenang aja, Tania. Nanti Bude juga akan bantu buat biaya kuliah kamu. Bude juga ingin kamu sukses dan mandiri. Kamu juga anak Bude. Tanggung jawab Bude juga," ucap Widya.
"Terima kasih, Bude," ucap Tania. Lalu membalas genggaman tangan Widya dengan erat.
"Bude, bisa minta nomornya mbak Lintang?" tanya Tania.
Di ponsel dan nomor barunya, Tania tak lagi punya nomornya Lintang.
"Eh, Bude juga belum menyimpan nomor baru kamu." Lalu mereka berbagi nomor telpon.
Diam-diam, Tania menanyakan harga kamar di hotel tempat Lintang bekerja.
Setelah Lintang membalas chatnya dan memberikan informasi harga kamar, Tania meminta pada Lintang untuk memesankan dua kamar.
Satu untuk paman dan bibinya. Satu lagi buat dirinya dan Widya.
Tania tak tega pada Eni yang ingin sekali menginap di hotel tempat Lintang bekerja. Dan kebetulan, saldo di ATM Tono yang dipegang Tania, sangat cukup untuk membayarnya.
Rupanya Lintang mengatakan itu pada Widya lewat pesan chat.
"Tania. Kamu pesan dua kamar hotel?" tanya Widya.
"Iya, Bude," jawab Tania.
"Dua kamar? Buat siapa?" tanya Eni.
"Paman dan bibi satu, Tania sama Bude satu," jawab Tania.
"Serius kamu, Tania?" tanya Eni dengan mata berbinar.
Tania mengangguk.
__ADS_1
"Pak! Kita menginap di hotel, Pak! Aduh...! Mimpi apa aku semalam, ya?" Eni bersorak bahagia, karena keinginannya bisa terwujud.