
"Udah! Udah! Jangan nanya-nanya lagi. Besok aku buatkan kamu kartu sendiri! Sekarang aku mau siap-siap pergi!"
Tono berdiri dan berjalan naik ke lantai dua. Linda mengikutinya.
"Aku ikut!"
Seperti biasanya, Linda selalu merengek untuk ikut kemana pun Tono pergi.
"Enggak! Kamu di rumah aja. Lihat itu Tania. Dia selalu menurut!" bentak Tono.
"Dia kan memang kuper. Bisanya cuma tidur aja di kamarnya. Jangan samain aku dengan dia," sahut Linda.
"Kamu kan bilang sendiri, minta apa-apa yang sama dengan Tania. Kalau begitu, kamu harus bisa bersikap yang sama juga kayak dia!"
Skak mat! Linda kemakan omongannya sendiri.
Linda tak bisa lagi membantah omongan Tono. Lalu dia merebahkan diri di tempat tidur. Dan membiarkan Tono pergi setelah bersiap-siap.
"Jangan berani-berani keluar rumah tanpa ijin dariku. Ada Tajab yang akan mengawasi kalian!" ucap Tono sebelum pergi.
Linda hanya mengangguk dengan malas. Karena badannya pun terasa lunglai. Seharian tadi dia digenjot oleh Tajab sampai tiga ronde.
Belum lagi sebelum pergi ke mall, Tono sudah mengerjainya lebih dulu meski hanya sebentar.
Linda tidur terlentang dengan rok pendek yang tersingkap ke atas. Hingga menampakan ****** ******** yang mencetak jelas isi di dalamnya.
Tono pergi tanpa Tajab. Karena kali ini Tajab punya tugas baru, menjaga kedua istri Tono.
Tono meluncur ke markas. Dia akan membawa serta dua anak buahnya yang lain.
Sementara, dua anak buah Tono lagi asik ngobrol sambil tiduran.
"Man! Gue kayak membaui sesuatu nih?" ucap Wardi. Hidungnya mengendus-endus sekitar kasur lantai yang mereka pakai tiduran.
"Bau apaan? Kemenyan?" tanya Diman.
"Kemenyan? Lu kira ini tempatnya genderuwo?" sahut Wardi.
"Lha terus bau apaan?" tanya Diman. Dia ikutan mengendus-endus di sekitar Wardi yang lagi merangkak mencari sumber bau.
"Di sini! Coba lu nyalain lampunya!" ucap Wardi.
Diman pun berdiri dan menyalakan lampu. Mereka tak pernah menyalakan lampu di siang hari. Alasan mereka karena gerah.
Dan mereka lebih nyaman kalau markas dalam kondisi redup. Meskipun jadi terkesan pengap dan serem.
"Gila! Apaan ini?" Wardi berteriak karena tangannya menyentuh sesuatu seperti ingus.
"Apaan?" Diman mendekat dan melihat tangan Wardi yang sedang diciumi sendiri.
__ADS_1
"Howek! Cuh!" Wardi meludah sembarangan karena tak tahan dengan bau di jarinya.
"Ini sih...Akh! Gila tuh orang!" Wardi langsung lari ke wastafel mencuci tangannya.
"Apaan sih?" Diman yang penasaran, mendekati cairan yang nyiprat ke mana-mana.
Diman tak menyentuhnya seperti Wardi. Tapi dia mendekatkan hidungnya ke cairan itu.
"Howek! Cuh!" Diman ikut-ikutan meludah juga.
"Gile si Tajab. Bini bos diembat juga!" ucap Diman.
"Bukan cuma Tajab yang gila! Si Lindanya juga gatel!" sahut Wardi.
"Iya juga. Emang dasar gatel tuh perempuan! Gue aja berkali-kali digodain ama dia," ucap Diman.
"Hah? Serius lu?" Wardi tak percaya.
"Iya!"
"Kok ama gue dia kagak berani godain?" tanya Wardi.
"Ye....mana mau die ama elu. Udah tua, bau lagi!" Diman malah mengejek Wardi.
Wardi memang jauh lebih tua daripada Tajab dan Diman. Tampangnya juga serem. Kulitnya hitam legam. Dan jarang mandi.
"Sialan, lu! Malah menghina gue!" Wardi tidak terima dihina oleh Diman.
"Hhh! Belagu, lu!" Wardi menoyor kepala Diman.
"Eh, terus lu udah pernah main sama si Linda itu?" Wardi mulai kepo.
"Belum ada kesempatan! Tajab ngikutin gue mulu. Kayaknya Tajab emang udah ngincer tuh perempuan!" sahut Diman dengan kesal.
"Tolol sih elu! Tajab aja bisa ngibulin kita!"
"Ngibulin gimana?" Diman belum paham maksud omongan Wardi.
"Yaelah! Emang bener-bener tolol, elu! Lu kagak sadar, tadi dia nyuruh kita nyuciin mobilnya juragan Tono? Mana nyuruhnya ke tempat cucian yang jauh lagi!" sahut Wardi.
"Iya, ya. Kena kita dikibulin Tajab. Dasar bangsat tuh orang!" maki Diman. Karena dia belum dapat kesempatan mencicipi tubuh seksi Linda.
"Kapan-kapan gue mau juga ah. Mau enggak ya, kira-kira si Linda ama gue?" Wardi mulai berkhayal.
"Mandi dulu, lu! Biar kagak bau! Linda juga ogah kali, ama laki-laki bau!"
Diman mendorong lengan Wardi. Dia tak berani menoyor kepala. Karena bagaimana pun Wardi lebih tua. Takut kuwalat.
"Wardi! Diman! Ikut aku!" perintah Tono. Setelah sampai di markas.
__ADS_1
Dua anak buah Tono yang lagi tiduran, sambil membayangkan bodi Linda yang seksi, langsung berdiri.
"Siap, Juragan!" jawab keduanya.
"Kita ke luar kota. Kamu Wardi, bawa mobil!"
"Saya, Juragan?" tanya Wardi. Meskipun dia pernah nyopir angkot, tapi selama ini yang selalu bawa mobil Tono adalah Tajab.
"Iya, kamu! Siapa lagi? Tajab lagi aku perintahkan jagain istri-istriku di rumah!" sahut Tono.
Wardi dan Diman melongo.
"Kalian siap-siap. Aku mau ke kamar mandi dulu." Tono masuk ke dalam kamar mandi markas.
"Gila! Menang banyak tuh, si Tajab," komentar Wardi.
"Iya. Bisa gulat di kasur empuknya juragan Tono. Hadeh...kapan ya, giliran gue?" harap Diman.
"Huu....! Ngarep lu!" Wardi menoyor lagi kepala Diman.
"Kayak elu enggak aja!" sahut Diman.
"Ayo buruan! Kita mesti ngejar waktu. Biar malam ini bisa langsung pulang. Capek aku, kalau harus tidur di mobil lagi!" ucap Tono.
Setiap kali harus lembur menunggu targetnya, Tono tak pernah menginap di hotel. Dia selalu menunggu di mobil sampai targetnya didapat.
"Diman! Jangan lupa kunci markasnya!" Tono langsung naik ke mobil.
"Siap, Juragan!" Diman buru-buru mengunci rolling door. Lalu menyusul masuk ke mobil.
Diman menemani Wardi yang menyetir di depan. Sedangkan Tono di jok tengah.
"Kalian ini, markas dibersihin dong! Masa markas baunya langu gitu. Kalau istriku Linda ikut, terus masuk ke dalam, bisa muntah-muntah dia!"
Wardi dan Diman menahan tawanya. Dalam hati mereka ingin bilang, kalau yang bikin bau langu itu si Linda sama Tajab!
"Kalian kalau dibilangin denger enggak, sih?" tanya Tono dengan kesal.
"Denger, Juragan. Denger!" sahut Wardi.
Diman masih belum bisa menghilangkan rasa ingin ketawanya.
"Udah, kamu nyetir yang bener. Ini alamatnya. Aku mau tidur!" Tono memberikan secarik kertas berisi alamat targetnya.
Sementara Tajab yang merasa aman, karena juragannya sudah pergi, naik ke lantai dua.
Tajab melihat ke pintu kamar yang katanya sekarang dipakai Tania. Memastikan kalau pintunya tertutup.
Lalu dia melihat ke dalam kamar Tono yang pintunya sedikit terbuka.
__ADS_1
Dilihatnya Linda sedang tertidur dengan posisi menantang. Tanpa pikir panjang lagi, Tajab langsung masuk dan mengunci pintunya dari dalam.
Ceklek!