
Apa jangan-jangan Rendi dibawa ke rumahnya Tono ya? Tapi mau ngapain? Ditemuin sama Tania?
Aduh, gawat!
Sari malah jadi panik sendiri.
Mila dan Yadi juga Sri masuk ke dalam. Mereka berkumpul di dapur.
"Abis dari mana kalian?" Sri menginterogasi mereka seperti Sari tadi.
"Jalan-jalan dong. Emangnya kamu? Dasteran mulu di rumah!" sahut Yadi meledek Sri.
"Gimana aku enggak dasteran? Kalian enggak mau ngajakin. Kalian enak-enakan pergi berdua. Hhh! Menyebalkan!" Sri langsung cemberut.
"Sebel ya sebel. Tapi itunya dibungkus dulu. Bikin polusi mataku aja." Yadi melirik ke arah dada Sri.
Reflek Sri menutupnya dengan tangan.
"Matamu tuh, yang harusnya dijaga. Kelayapan kemana-mana!" sahut Sri.
Mila terkikik melihatnya.
"Eh, mana ada mata kelayapan? Dari dulu juga masih nempel di sini! Kamu aja yang suka bikin goyah iman!" sahut Yadi yang semakin membuat Mila ngakak.
"Iman kamu aja yang enggak kuat. Makanya rajin ibadah! Jangan mikir yang jorok-jorok melulu!" Sri pun tak mau kalah.
"Gimana mau ibadah? Kamunya gangguin mulu!"
Sri semakin kesal dengan Yadi.
"Udah...udah. Ini Mbak, tadi aku belikan kaos. Moga-moga cocok ukurannya. Soalnya kan..." Mila menatap dada Sri yang berukuran jumbo.
Sri semakin salah tingkah. Apalagi Yadi malah terkikik.
Sri meraih paksa kaos yang masih dipegang Mila. Lalu bergegas ke kamarnya.
Mila dan Yadi berpandang-pandangan. Lalu tertawa bersama.
"Heh! Kalian bukannya bantu nyariin Rendi, malah bercanda aja!" seru Sari dari pintu dapur.
Sari yang lagi kesal, makin kesal saja melihat dua anak buahnya bercanda terus.
"Kenapa harus dicari, Bu? Kan mas Rendi perginya sama bapak. Entar juga pulang," sahut Yadi.
"Kamu itu! Enggak tau apa kalau aku kuatir banget. Kalau sampai kenapa-napa sama Rendi gimana? Mila juga! Bukannya ikut, malah jalan-jalan sendiri!" Sari kembali ngomel.
Aduh...! Kirain udah selesai ngomelnya. Ternyata masih ada session kedua. Batin Mila. Diapun hanya bisa menunduk.
Kalau mau bilang yang sebenarnya, nanti malah disalahkan sama Tono. Karena dia sudah disogok dengan uang.
"Sekarang, kalian ikut aku nyariin Rendi!" ucap Sari.
Sri yang baru saja keluar dari kamarnya memakai kaos baru pemberian Mila, langsung terbelalak.
Mereka ikut bu Sari nyariin mas Rendi?
Terus aku?
__ADS_1
Ditinggal lagi? Apes amat nasibku. Enggak pernah keluar rumah. Paling banter ke warung dekat rumah. Itu pun kalau ada bahan di dapur yang kehabisan.
Untuk urusan dapur, Sari belanja sendiri di pasar. Sekalian dia menunggui toko batiknya.
"Ayo! Ngapain masih bengong aja?" bentak Sari pada Mila dan Yadi.
"I...Iya, Bu. Kita naik apa nyariinnya?" tanya Yadi.
"Naik mobillah. Masa naik motor? Terus kita bonceng tiga?" sahut Sari.
Mila jadi membayangkan kalau mereka benar-benar naik motor dan bonceng tiga. Terus Mila duduk di tengah.
Bisa gepeng aku, di himpit mereka berdua. Batin Mila.
Yadi yang mantan sopir angkot, tak perlu diragukan lagi keahliannya nyetir mobil. Meski sekarang alih profesi.
"Iya, Bu. Siap. Ayo, Mila," ajak Yadi pada Mila.
Di rumah Sari, Yadi tak berani lagi memanggil dek pada Mila. Kalau Mila sih, enggak masalah. Dia malah kagok kalau manggil Yadi dengan sebutan mas.
Sri rasanya ingin menangis melihatnya. Tapi untuk protes atau minta ikut, jelas tidak berani. Bisa ikutan diomelin sama Sari.
"Sebentar aku ambil kunci mobilnya. Kalian tunggu aja di luar. Sri! Kamu di rumah aja. Kalau bapak sama Rendi pulang, segera telpon aku!" perintah Sari.
Sri hanya bisa mengangguk lemah.
Yadi melirik Sri sambil terkikik.
Hhh! Rasanya pingin aku lempar sandal aja tuh orang. Ngeselin banget! Gerutu Sri dalam hati.
Yadi dan Mila berjalan keluar rumah. Dengan sengaja, Yadi menggandeng tangan Mila. Untuk memanas-manasi Sri.
Mila juga malah pasrah saja. Dan membuat Sri serasa ingin teriak.
Sari yang sudah mengambil kunci mobilnya, keluar lagi dari kamar.
"Yadi!" panggil Sari.
Sari pun geram melihat Yadi menggandeng Mila.
"I...Iya, Bu!" Yadi segera melepaskan tangan Mila.
"Kalian ngapain, gandeng2an? Kayak truk aja!" seru Sari.
Sri tertawa puas mendengarnya.
"Eng....Enggak, Bu. Enggak sengaja," sahut Yadi. Lalu matanya melotot ke arah Sri.
Mila hanya bisa diam. Malu ketahuan Sari.
"Enggak sengaja...Nih! Panasin dulu mobilnya!" Sari memberikan kunci mobilnya pada Yadi.
"Siap, Bu!" Yadi buru-buru meraihnya. Biar enggak kena marah Sari lagi.
Mila berjalan keluar. Sari juga mengikuti. Disusul Sri yang kembali cemberut.
"Sri. Siapin makan siang. Nanti kalau bapak sama Rendi pulang, biar langsung makan!" ucap Sari pada Sri.
__ADS_1
"Iya, Bu."
Sri mengangguk patuh. Padahal dia belum masak untuk makan siang.
"Mila! Kamu jadi perempuan jangan ganjen. Yadi itu sudah punya istri. Anaknya lima. Dan sekarang istrinya lagi hamil lagi. Kamu mau dilabrak sama istrinya? Atau mau mengurus anak-anak Yadi yang kayak kucing itu?"
Yadi yang mau masuk ke mobil, menoleh sebentar ke arah Sari.
Yaelah, Bu. Gitu aja pake dijelasin. Enggak bisa liat orang seneng aja. Gerutu Yadi. Lalu masuk ke dalam mobil.
Mila hanya mengangguk saja. Dia tak ada niat sama sekali untuk menjadi kandidat istri simpanannya Yadi.
Gimana mau naksir Yadi. Udah tua, tampangnya pas-pasan. Bokek pula.
Main ke mal aja semua yang bayarin Mila. Sampai naik angkot pulangnya pun Yadi enggak keluar duit. Meskipun uang yang dipakai Mila, pemberian Tono.
Setelah mesin mobil dirasa cukup pemanasannya, Sari naik di tengah.
"Kamu di depan, sama Yadi!" ucap Sari pada Mila.
Sari enggan duduk satu deret dengan Mila. Apalagi dengan Yadi.
"Iya, Bu." Mila mengangguk. Lalu naik di depan.
Sri memandanginya dengan kesal. Lalu berlari ke dapur.
Rasa kesal Sri dilampiaskan dengan menendang tutup panci yang kebetulan ada di lantai.
Krompyang!
Menyebalkan!
Kemana-mana aku enggak diajak!
"Kita ke arah mana, Bu?" tanya Yadi.
"Mana aku tau. Kalian yang mestinya mikir. Kan kalian yang enggak becus menjaga Rendi. Disuruh jagain Rendi, malah kelayapan!" jawab Sari.
"Kalau saya tugasnya kan bersihin kebon, Bu. Bukan jagain mas Rendi," sahut Yadi.
Mila melirik Yadi dengan geram. Kata-kata Yadi sama saja dengan menjerumuskannya.
Yadi hanya terkikik saja. Bagaimanapun Yadi juga perlu menyelamatkan diri. Biar enggak diomelin terus sama Sari.
"Udah tau tugasmu bersihin kebon. Kenapa terus ikut Mila jalan-jalan?"
Mampus lu! Kena juga. Kini gantian Mila yang terkikik.
"Sekali-kali, Bu. Mumpung...."
"Mumpung apa? Mumpung aku enggak ada? Mumpung bapak juga enggak ada?"
Belum sempat Yadi menjawab sudah dibantai lagi oleh Sari.
Yadi hanya bisa menghela nafasnya.
Susah memang kalau ngadepin wanita yang lagi emosi. Selalu merasa paling benar.
__ADS_1