HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 22 KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN


__ADS_3

Dito membuka ponselnya. Dia mengirimkan pesan whatsapp pada Rendi.


Dito:


Ren, gue ketemu Tania di restauran Alamanda.


Tak menunggu lama, Rendi membaca pesan singkat dari Dito, sahabatnya.


Rendi:


Oh ya? Sama siapa dia?


Dito:


Sama bibinya dan seorang lelaki tua. Tapi gue yakin itu bukan pamannya.


Rendi:


Terus siapa dong?


Dito:


Mana gue tau, dodol! Masa gue mesti nyamperin? Entar elo cemburu!


Rendi:


Kampret lu! Awas aja kalau berani ngedeketin Tania lagi. Gue kepret lu!


Dito yang membaca pesan dari Rendi, tertawa sendiri.


"Ih, apaan sih ketawa sendiri?" tanya Mike bete karena Dito malah asik dengan ponselnya.


"Ini baca pesan dari Rendi. Tuh liat." Dito memperlihatkan chat-nya dengan Rendi ke Mike.


Mike mengerutkan keningnya.


"Memangnya kamu masih kepingin deketin Tania?" tanya Mike.


Mike tau kalau dulu Dito pernah suka dengan Tania. Bahkan kata Tania, Dito pernah menembaknya. Tapi Tania menolaknya dengan alasan tidak mau berpacaran dulu.


"Eng...Enggak. Rendi saja yang asal ketik. Dasar dodol!" Dito berusaha membela diri.


Padahal dalam hatinya membenarkan omongan Mike. Jika saja tak keduluan Rendi, pasti dia akan mendapatkan Tania.


Sementara Rendi yang sudah kangen dengan Tania, mencoba menghubungi nomor Tania lagi. Tapi Tania masih belum juga mengaktifkan ponselnya. Karena Tania juga belum pulang ke rumah.


Tania memang sengaja mematikan ponselnya, dan meninggalkannya di rumah.


Tania tidak mau kalau Rendi menghubunginya saat dia masih bersama calon suaminya.


Rendi makin gelisah. Dia kepingin datang ke rumah Tania, tapi semalam bibinya Tania bilang, Tania mau pergi ke rumah saudaranya.


Dan barusan juga Dito mengabarkan kalau dia bertemu Tania di restauran Alamanda.


Akhirnya Rendi memutuskan untuk pergi saja ke tempat karaoke langganannya dan Dito.


Pas saat Rendi memarkirkan motornya, Dito yang memboncengkan Mike sampai di tempat yang sama.


"Eh, kampret! Ngapain lu ke sini? Kecil-kecil pacaran lagi!" Seru Rendi kepada Dito yang baru selesai menyetandarkan motornya.

__ADS_1


"Sirik aje, Lu!" Dito langsung menarik tangan Mike dan membawanya masuk.


Bukan Rendi namanya kalau tidak menjahili sahabatnya. Dia mengikuti Dito dan Mike.


Merasa ada yang mengikuti, Dito menoleh ke belakang. Dito menghentikan langkahnya dan menghadap pada Rendi.


"Lu ngapain ngikutin gue, Dodol?" ucap Dito sambil berkacak pinggang.


Rendi hanya cengar cengir saja.


"Gue kan sahabat elo, Dit. Masa elo tega sih membiarkan sahabat lo yang paling ganteng ini sendirian?" Rendi menaik turunkan alisnya.


Mike menatap Rendi dengan pandangan kurang suka. Wah bisa gagal nih acara mesra-mesraannya dengan Dito.


"Elo cari room sendiri deh. Entar gue yang bayar!" sahut Dito yang tak mau acara kencannya terganggu.


"Ogah! Gue mau gabung sama kalian. Boleh ya? Please." Rendi pura-pura memohon.


"Gak bisa! Enak aja! Yang ada elo gangguin kita pacaran! Ayo sayang, jangan hiraukan nying-nying satu ini," ajak Dito pada Mike.


"Eit. Kagak bisa. Kalian gak bisa pergi tanpa gue!" Rendi menahan tangan Dito.


Dito menepiskan tangan Rendi.


"Ih, apaan sih pegang-pegang. Najis." Dito lalu menggandeng tangan Mike, membuat Rendi makin kesal.


Tiba-tiba ponsel Rendi berbunyi. Dia segera membuka ponselnya. Ada notifikasi dari Tania.


Tania:


Aku sudah ada di rumah.


"Gue kagak jadi gabung sama elo! Tania udah pulang!" ucap Rendi lalu berlari keluar dari tempat karaoke itu.


"Udahlah. Biarin aja. Namanya juga orang lagi bucin," ucap Mike.


"Kayak kamu." Dito meledek Mike. Muka Mike merah merona.


"Tapi gak apa-apa kok, aku suka."


Maksud Dito ingin menghibur Mike biar tidak malu, tapi malah membuat Mike semakin malu.


"Muka kamu merah, Mik? Kamu alergi ya?" tanya Dito dengan khawatir.


Mike malah bengong. Orang lagi malu malah dibilang alergi.


"Yee, malah bengong. Entar kesambet lho," ucap Dito.


Mike malah memeluk lengan Dito dengan kencang.


"Memang di sini ada setannya?"


"Ada. Noh." Dito menunjuk seorang security yang pernah menangkapnya beberapa hari yang lalu.


Dito tak pernah kapok datang ke tempat ini, meski dia pernah bermasalah. Karena tempat ini paling nyaman buat dia dan teman-temannya berkaraoke.


Dito mengajak Mike masuk ke sebuah Room.


Ah, akhirnya aku bisa di sini lagi. Mike meraih sebuah mic dan mulai menyanyi.

__ADS_1


"Suaramu bagus juga, Mik," ucap Dito.


"Kita duet?" ajak Mike.


"Boleh." Dito meraih mic satunya dan mulai berduet bersama pacar barunya.


Kemudian Dito memilih sebuah lagu tentang patah hati.


Mike tak pernah tahu, Dito sedang terluka mengingat Rendi bersama Tania.


Rasa cintanya pada Tania belum juga hilang, meski dia mencoba mendekati Mike.


Rasa cemburunya pada Rendi dia lampiaskan pada Mike. Sahabat Tania.


Mike yang memang sangat menyukai Dito dari sekolah dulu, tak menolak Dito.


Rendi melajukan motor sportnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tidak sabar lagi bertemu dengan pujaan hatinya.


Rendi memang sedang bucin banget pada Tania. Baru semalam dia mengajak Tania bermesraan, siang ini rasa kangen sudah sampai ke ubun-ubunnya.


Sampai di depan rumah Tania, Rendi langsung mengucap salam. Kebiasaan yang diajarkan oleh kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Tania yang memang sedang menunggu Rendi, sudah siap dengan pakaian lain.


Tania berganti pakaian saat pulang dari pergi dengan Tono. Dia tidak mau Rendi mencium bau Tono di bajunya. Walau pun Tono tidak melakukan apa-apa pada Tania.


"Hay, Ayang." Rendi langsung masuk ke dalam rumah Tania dan mau langsung menyosor.


"Sstt...ada paman dan bibi," ucap Tania lirih. Sambil menahan tubuh Rendi yang akan menubruknya.


Rendi langsung kecut mukanya. Lalu Tania mempersilakan Rendi duduk.


"Aku bikinin minum ya?" Tania bangkit dari kursinya.


"Udah, gak usah. Duduk saja di sini." Rendi menarik tubuh Tania hingga terjatuh di sebelahnya.


"Ih, gak enak kalau ketauan paman dan bibi." Tania berusaha berdiri dan duduk agak jauh dari Rendi.


"Kok duduknya di situ sih?" tanya Rendi.


"Ada paman dan bibi," jawab Tania sambil meletakan satu jarinya di depan bibir.


Rendi tak tahu kalau paman Tania kurang menyukai kehadirannya. Rendi hanya tahu bibi Tania yang selalu baik padanya.


Dan Rendi berfikir sudah ada lampu hijau untuknya. Makanya dia main sosor saja pada Tania.


"Tan, kita keluar yuk. Cari tempat yang enak."


Rendi ingat Dito yang pastinya sedang enak-enakan dengan Mike di tempat karaoke.


"Nanti saja. Sebentar lagi paman dan bibi mau pergi," sahut Tania.


Wah, kalau mereka pergi sih tak perlu nyari tempat lagi. Tinggal makan di tempat. Otak kotor Rendi mulai bekerja.


"Kenapa senyam senyum?" tanya Tania.


"Enggak. Cuma...." Rendi sengaja tak melanjutkan omongannya.

__ADS_1


"Cuma apa?"


"Cuma bakal ada kesempatan dalam kesempitan." Rendi tertawa terbahak namun segera ditahan dengan tangannya.


__ADS_2