HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 205 MEREDAKAN EMOSI


__ADS_3

Jam enam pagi, Tania mengetuk pintu kamar Eni. Rencananya mereka mau sarapan, terus mengantar Lintang memberesi barang-barangnya di kontrakan.


"Paman...! Bibi...!" Tania memanggil-manggil sambil terus mengetuk pintu. Tapi tetap tak ada reaksi apapun.


Tania malah jadi panik. Takut terjadi sesuatu dengan paman dan bibinya.


Tania kembali ke kamarnya.


"Bude, mereka belum bangun juga. Ada apa, ya?" Tania hampir saja menangis.


"Hh! Biar Bude yang bangunin. Kamu tenang aja dulu." Widya bangkit dan berjalan keluar. Tania dan Lintang pun ikut keluar.


Widya mengetuk pintu kamar Eni.


"En! Eni...! Danu! Bangun, udah siang!"


Berkali-kali Widya mengetuk sambil teriak-teriak, mereka tetap saja terlelap. Hingga Widya jadi panik.


Seorang karyawan hotel yang kebetulan melintas, menghampiri.


"Ada yang bisa saya bantu?"


Lintang menoleh. Ternyata Haryo.


"Lintang...!"


"Haryo....!"


"Ooh, ini yang namanya Haryo?" Widya menatap tajam wajah Haryo dan menelisik penampilannya dari atas sampai bawah.


Haryo yang belum mengenal Widya, membalas dengan tatapan tajam juga.


"Mm...Haryo, ini ibuku. Dan ini adikku." Lintang memperkenalkan Widya dan Tania.


"Oh, maaf. Saya tidak tahu. Maaf. Saya Haryo, Bu," ucap Haryo dengan sopan. Lalu Haryo mengulurkan tangannya.


Widya melengos. Widya merasa sangat benci pada Haryo. Laki-laki yang telah menodai anak gadisnya hingga hamil.


Haryo pun menarik lagi tangannya. Dia cukup tau diri. Haryo menyadari kesalahannya pada Lintang.


"Kamu yang telah menghamili anakku?" tanya Widya dengan ketus.


"Maaf, Bu. Saya akan mempertanggung jawabkan perbuatan saya," jawab Haryo.


"Mempertanggungjawabkan dengan cara apa?" tanya Widya lagi.


"Saya akan membiayai semua kebutuhan Lintang dan calon anaknya," jawab Haryo.


"Membiayai? Kamu pikir aku tidak sanggup membiayainya? Kamu pikir dengan membiayai saja masalahnya selesai? Kamu pikir...."


"Bu! Udah! Malu kalau didengar orang. Lagi pula ini di hotel, nanti mengganggu yang lainnya!" Lintang mencoba menghentikan perdebatan yang pasti bakal memanas.


"Apa kamu bilang? Udah? Belum! Buat Ibu, ini belum selesai! Dia akan aku laporkan ke polisi, dengan tuduhan pemerkosaan!" ucap Widya dengan lantang.


Rupanya kegaduhan mereka didengar Danu dan Eni. Mereka buru-buru bangun dan membuka pintu kamar.


"Siapa dia, Mbak?" tanya Danu yang keluar lebih dulu.


"Dia laki-laki yang telah memperkosa Lintang!" jawab Widya.


Tanpa berpikir panjang, Danu langsung melayangkan bogem mentahnya ke wajah Haryo.


Bugh!

__ADS_1


Haryo yang tidak siap, mundur beberapa langkah. Dari bibirnya mengalir darah segar.


Danu mendekati Haryo, dan kembali melayangkan bogem mentahnya lagi.


Bugh!


Kali ini lebih kenceng lagi. Hingga tubuh Haryo mundur lagi dan menabrak dinding kamar di depan kamar Danu.


Danu kembali menghampiri dan mencengkeram kerah baju Haryo.


"Paman, udah Paman! Lepasin dia!" Lintang mendekat dan berusaha melepaskan cengkeraman Danu.


"Biar! Biar Paman habisi dia sekalian!" sahut Danu.


"Pak, jangan Pak. Sabar...!" Eni pun ikut berusaha meredam emosi Danu.


Widya dan Tania hanya diam saja.


Kegaduhan mereka tentu saja mengundang perhatian beberapa orang, yang kebetulan sudah keluar dari kamar.


"Ada apa, ini?" Mereka bertanya-tanya.


Eni menarik lengan Danu agar melepaskan Haryo. Sementara Lintang, menjauhkan tubuh Haryo dari Danu.


"Udah, Pak. Udah!" seru Eni.


Beberapa security menghampiri.


"Ada apa, ini?" tanya seorang security.


"Em...Cuma salah paham saja, Pak Teguh," jawab Lintang yang mengenalnya.


Eni yang berhasil melepaskan tangan Danu dari tubuh Haryo, menariknya hingga masuk kembali ke dalam kamar.


Sementara Haryo, mengelap bibirnya yang pecah dan berdarah. Bahkan pelipisnya pun terasa perih.


Lintang tak tega melihatnya. Dia hendak mengelapnya. Tapi Widya langsung menarik tangan Lintang.


"Masuk kamu! Masuk!" Widya menarik tangan Lintang sampai ke dalam kamarnya. Tania pun ikut masuk.


"Ada apa, Haryo?" tanya Teguh. Salah satu security hotel.


"Enggak apa-apa, Pak," jawab Haryo. Lalu dia segera pergi dan kembali ke pantry.


Widya mendudukan Lintang di sofa.


"Kamu masih mau membelanya, hah?" tanya Widya dengan geram.


Widya menginginkan Danu menghajar Haryo sampai babak belur. Kalau perlu sampai mati.


"Enggak, Bu. Lintang cuma..."


"Cuma apa? Cuma mau melindungi dia, kan?" bentak Widya.


"Bu! Ini di hotel. Tempat umum. Dan paman bakal kena masalah. Apalagi kalau Haryo kenapa-napa," sahut Lintang.


"Ooh, kamu udah berani melawan Ibu?" tanya Widya makin geram.


"Enggak,Bu. Lintang cuma tidak ingin paman kena masalah," jawab Lintang.


"Masalah apa? Paman kamu enggak salah! Dia menghajar orang yang memang pantas untuk dihajar!" sahut Widya.


"Bude, sudah Bude. Enggak usah permasalahkan dia lagi. Sekarang mending kita siap-siap pulang aja," ucap Tania berusaha meredam emosi Widya.

__ADS_1


"Awas aja kamu, kalau masih belain laki-laki brengsek itu!" ancam Widya pada Lintang.


Lintang pun memilih diam, daripada terus berdebat dengan Widya.


Sementara di kamar sebelah, Eni ngoceh tak karuan.


"Kamu ngapain sih, Pak? Pake nonjok-nonjok kayak gitu! Kalau sampai kenapa-napa gimana?" tanya Eni.


"Biarin aja! Biar dia mati sekalian!" jawab Danu.


"Mati? Memangnya kamu mau masuk penjara, hah? Dulu aja kamu takut masuk penjara, terus mengorbankan Tania. Sekarang, kamu mau mengorbankan siapa lagi?" Eni sangat geram dengan Danu yang suka menggunakan kekerasan.


"Bu! Jangan bawa-bawa masalah Tania! Ini masalah Lintang!" sahut Danu.


"Sama aja! Ancamannya sama-sama masuk penjara, kalau kamu pakai kekerasan!" ucap Eni.


"Hhh! Aku enggak peduli! Mau dipenjara kek, mau dihukum mati kek! Yang penting manusia satu itu mati!" Danu mengacak rambutnya.


"Hhh! Dasar keras kepala!" Eni yang tak mau semakin emosi, masuk ke kamar mandi.


Eni menyalakan shower, lalu membasahi sekujur tubuhnya.


Hhh! Acara healing malah jadi kacau. Kenapa juga mbak Lintang kena masalah kayak gini, sih? Batin Eni.


Danu menyusul Eni ke kamar mandi. Niatnya mau mandi juga biar emosinya mereda.


Dan begitu melihat tubuh bohay Eni yang polos, emosi Danu benar-benar reda.


"Mau ngapain, Pak?" tanya Eni.


"Meredakan emosi, Bu." Danu pun langsung menyerang Eni dengan buas.


Di kamar Tania, suasana sudah agak dingin. Tidak sepanas tadi. Widya sudah bisa meredam emosinya.


"Bude, kita cari sarapan, yuk. Tania lapar," ajak Tania.


Tania berharap, dengan mengajak Widya keluar, emosi Widya benar-benar reda.


"Di sini dapat free makan pagi. Ada di dekat roof top. Di lantai bawah dekat lobby juga ada," ucap Lintang.


"Ayo, Bude. Tania juga kepingin melihat roof topnya. Kata bibi bagus banget tempatnya," ajak Tania.


Lintang mengangguk.


"Kita bisa makan di roof top juga kan, Mbak?" tanya Tania pada Lintang.


Lintang kembali mengangguk, lalu berdiri.


"Ayo, aku antar ke sana," ajak Lintang.


"Mbak Lintang ikut makan juga, kan?" tanya Tania.


"Iya. Ayo."


Mereka pun keluar dari kamar.


"Paman sama bibi gimana?" tanya Tania.


"Coba panggil sana," jawab Widya.


Tania memanggil mereka sambil mengetuk pintunya. Seperti tadi, tak ada reaksi apapun dari dalam.


"Pasti mereka lagi olah raga lagi!" ucap Widya.

__ADS_1


"Biarinlah, Bude. Biar paman enggak emosi lagi," sahut Tania.


Hhmm...! Widya hanya menghela nafasnya saja.


__ADS_2