HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 221 PESTA KEJUTAN


__ADS_3

Rendi serasa ingin berlari dan memeluk Tania. Tapi sayang, kakinya masih terasa sangat sakit. Jangankan berlari, berjalan pun Rendi meringis menahan perihnya.


Tania sendiri akhirnya digandeng oleh Eni. Agar bisa melangkah.


Tono berdiri di sebelah Rendi. Dia memegangi tangan Rendi, agar Rendi tak jatuh.


"Tania!" ucap Rendi.


"Rendi...!" Tania langsung menghambur ke pelukan Rendi. Tangisnya pecah di sana.


Rendi pun memeluk Tania dengan sebelah tangannya. Dan ikut menitikan air mata.


Pertemuan yang sangat mengharukan. Tono di sebelahnya, mendekap tubuh keduanya.


"Maafkan, Papa. Maafkan semua kesalahan Papa pada kalian. Papa salah. Papa egois. Maafkan, Papa!" Tono ikut terisak.


Danu dan Eni pun tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Mereka saling berpelukan. Tak kuasa melihat dua sejoli yang harus merasakan pedihnya cinta.


Asih juga ikut menangis. Begitu juga Yahya dan semua anak buah Tono.


Anak buah yang biasanya garang. Kini seperti anak TK yang cengeng.


Tono melepaskan pelukannya.


"Udah. Kita masuk, yuk," ajak Tono.


Tania melepaskan pelukannya. Lalu menghapus air matanya sendiri juga air mata Rendi.


Tono membantu Rendi berjalan. Tania juga ikut membantu, hingga sampai ke ruang tamu.


"Mau di sini aja? Atau mau dekat kolam renang?" tanya Tono.


Kolam renang ini yang membedakan rumah Tono dengan rumah yang ditempati Sari dan Rendi.


"Di dekat kolam renang aja, Pak. Kami sudah menyiapkan tempatnya," ucap Asih yang berjalan di belakang mereka.


Rupanya Asih dan anak buah Tono yang lainnya, menyiapkan sebuah acara kecil. Untuk menyambut kedatangan Tania dan Rendi.


Beberapa bangku ditata bak sebuah pesta kebun. Di sudut ruang ada meja prasmanan.


Kemarin Tono memberikan uang pada Asih untuk memasak. Tapi Tono tak mengira kalau acaranya akan diadakan seperti ini.


Pikir Tono, hanya sekedar makan bersama di meja makan saja.


"Siapa yang menyiapkan ini semua, Bik?" tanya Tania.


"Kami semua, Neng. Bibik bagian masak. Yang lainnya menyiapkan tempatnya," jawab Asih.


"Bagus sekali, Bik. Kalian hebat!" puji Tania. Dia kembali terisak. Tangisan kebahagiaan yang luar biasa.


Tania membantu Rendi duduk di bangku yang khusus disediakan untuk Rendi, biar nyaman.


Tadi mereka menggunakan Tajab sebagai modelnya. Kalau Tajab merasa nyaman, berarti Rendi juga nyaman. Karena mereka sama-sama kakinya patah.

__ADS_1


"Ren, gimana kalau Dito dan Mike kita undang. Kayaknya bik Asih masak banyak banget. Enggak akan habis kalau cuma kita saja yang makan," ucap Tania pada Rendi.


"Boleh, Sayang. Kalau itu yang kamu mau. Tapi, apa mereka mau datang? Ngundangnya kan dadakan?" tanya Rendi.


"Di coba aja dulu. Semoga aja mereka lagi enggak ada acara." Tania mengambil ponselnya di tas.


Tono melirik ponsel Tania sekilas. Dia masih hafal dengan iphone yang dibelikannya dahulu.


Oh, jadi Tania menggunakan iphone itu? Pantes aja Rendi selalu sibuk dengan ponselnya. Ternyata mereka berhubungan lewat telpon. Batin Tono.


Selama ini, Tono tak pernah tahu kalau Tania menggunakan hape. Karena Tania selalu menyembunyikan darinya.


Tania menghubungi nomor Mike. Untungnya Mike dan Dito lagi tidak ada acara. Jadi mereka bersedia datang saat itu juga.


Tania juga menghubungi Widya dan Lintang. Biar mereka ikut merasakan kebahagiaannya.


"Siapa lagi yang kamu hubungi?" tanya Rendi pada Tania.


"Budeku dan mbak Lintang. Kamu belum kenal mereka kan?" tanya Tania.


"Kalau bude kamu, udah. Tapi kalau Lintang, belum," jawab Rendi.


"Kamu kenal bude di mana?" tanya Tania sambil mendial nomor Widya.


"Rahasia dong," jawab Rendi cengengesan.


Tono melihatnya dengan bahagia. Rendi kembali menemukan keceriaannya.


Tono memgajak yang lainnya untuk duluan makan. Tapi Eni menolaknya.


"Eh, Pak. Kenapa tadi makanannya yang di mobil, enggak dibawa?" tanya Eni.


"Lha, kan kamu tadi enggak nyuruh," jawab Danu dengan santainya.


"Yaelah, Pak. Masa begituan aja pake disuruh. Ambil sana!" perintah Eni dengan seenaknya.


"Kamu aja yang ambil. Aku kan lagi merokok," tolak Danu.


"Ish! Alasan aja!" ucap Eni dengan kesal.


"Mbak Asih. Antar aku ambil makanan yuk," ajak Eni pada Asih.


"Di mana?" tanya Asih. Dipikirnya Eni mau mengambil makanannya jauh di toko atau di pasar.


"Di angkot," jawab Eni dengan santai.


"Ooh. Kirain di mana. Kalau cuma di angkot sih, suruh si Wardi aja yang ngambilin," sahut Asih.


Kebetulan Wardi baru saja masuk sambil mendorong kursi rodanya Tajab.


Kondisi Tajab lebih parah dari Rendi. Karena dia jatuhnya lebih tinggi.


Dan Tajab belum bisa menggerakan kakinya sama sekali. Beda dengan Rendi yang sudah bisa menggunakan tongkat.

__ADS_1


"Udah, biar aku sendiri aja deh, yang ambil." Eni tak tega melihat kondisi Tajab. Meskipun yang akan disuruh adalah Wardi.


Asih mengikuti Eni juga ke depan. Tapi Eni pura-pura tidak tahu. Dia terus saja melangkah tanpa menoleh.


Tadi diminta nganterin, enggak mau. Sekarang ngikutin. Gerutu Eni dalam hati.


Asih mengikuti Eni, karena merasa tidak enak. Bagaimanapun Eni adalah orang tuanya Tania. Meskipun hanya orang tua angkat.


Dan Asih harus menghormatinya. Karena Asih yakin, suatu saat Tania bakal kembali ke rumah ini dan menjadi majikannya.


"Kamu bikin sendiri, Mbak?" tanya Asih pada Eni.


Asih melihat banyak kue di dalam angkot.


"Enggak. Tadi beli di jalan," jawab Eni.


Eni menyerahkan beberapa dus pada Asih.


"Ini buat makan kita. Kalau yang ini, buat Rendi. Spesial dipilihkan oleh Tania."


Eni memisahkannya. Dia membawanya sendiri biar tidak tertukar.


Mereka pun kembali ke ruangan dan mulai menyantap kue yang dibeli Eni.


"Makan ini aja dulu. Nanti kalau udah pada dateng, baru kita makan besar," ucap Eni.


Asih mengedarkan kue-kue itu.


"Ini punyamu, Tania." Eni memberikan satu dus milik Tania.


"Lho, kok dibedakan?" tanya Rendi.


"Iya. Ini khusus buat kamu, Rendi. Tadi Tania yang milih," jawab Eni.


Tania mengangguk sambil tersenyum. Lalu membuka dusnya dan mulai menyuapi kue ke mulut Rendi.


Semua mata menatap ke arah mereka. Dan semua sepakat mengatakan kalau mereka adalah pasangan yang serasi.


Dan semestinya mereka bisa segera menikah, setelah urusan Tania dan Tono selesai.


Acara pesta kejutan yang dibuat Asih dan yang lainnya, semakin meriah setelah Mike dan Dito datang. Juga Widya dan Lintang.


"Dalam rangka apaan ini?" tanya Mike.


"Enggak ada apa-apa, Mik. Kumpul-kumpul aja. Kita makan rame-rame," jawab Tania.


"Mau ngomongin hari pernikahan elu, Bro?" tanya Dito.


"Enggaklah. Masa ngomong gituan ama elu. Emangnya elu orang tua gue?" jawab Rendi.


"Mewakili deh. Gue mau kok," sahut Dito.


"Enak aja. Gue masih punya orang tua!" ucap Rendi dengan suara keras.

__ADS_1


Dito melirik ke arah Tono, lalu tersipu malu. Orang-orang malah menertawakan Dito.


"Ayo sekarang kita makan," ajak Tono. Biar Dito tak kelamaan malunya.


__ADS_2