HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 282 SALAH PAHAM


__ADS_3

Tania, Rendi dan Dito menuju ke kios bakso tempat Mike sedang makan dan menunggu mereka.


"Hay, Tania. Duduk sini," ucap Mike. Dia menunjuk ke bangku di depannya. Bangku sebelahnya tentu saja untuk duduk Dito.


"Hay, Mik. Asik bener makannya," sahut Tania. Lalu Tania pun duduk di bangku yang ditunjuk Mike.


Dito membantu Rendi duduk di sebelah Tania.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Dito.


Rendi menoleh ke arah Tania.


"Tadi kamu bilang haus, sayang. Mau pesan minuman atau mau makan juga kayak Mike?" tanya Rendi pada Tania.


Tania menatap sisa bakso di mangkuk Mike. Cukup menggiurkan. Tapi Tania ingat keinginannya tadi. Ingin makan bersama-sama sambil duduk di pinggiran pantai.


Kalau dia pesan bakso seperti Mike, perutnya bakal kekenyangan. Karena memang kapasitas perutnya tak banyak.


"Pesan minum aja deh," jawab Tania. Meski harus menelan ludah melihat Mike yang asik menyantap bakso.


"Ini enak banget loh, Tan. Nih, cobain." Mike menyuapkan satu potong bakso pada Tania.


Tania yang memang sangat menginginkannya, membuka mulut lebar-lebar.


Sejak sekolah dulu, Tania biasa berbagi makanan dan minuman dengan Mike. Kadang satu gelas es jeruk kesukaan mereka, dihabiskan berdua.


"Enak kan?" tanya Mike.


Tania mengunyah dan menelannya. Lalu mengangguk mengiyakan.


"Kalau mau, pesan saja, sayang," ucap Rendi pada Tania.


"Tapi nanti aku kekenyangan. Paroan sama kamu, ya," ucap Tania.


Rendi mengangguk mengiyakan. Siapa yang tak mau, makan semangkuk berdua dengan belahan jiwa.


"Jadi pesan bakso?" tanya Dito pada Tania.


Tania mengangguk bersemangat. Rendi pun tersenyum senang. Dia paham kalau Tania hanya takut kekenyangan dan kehilangan momen makan bersama nanti.


"Minumnya?" tanya Dito lagi.


"Es jeruk. Kamu, Ren?" tanya Tania pada Rendi.


"Samain aja. Tapi esnya jangan kebanyakan, Dit. Takut pilek," jawab Rendi.


"Pilek...kayak anak bocah aja!" sahut Dito.


"Gue kan emang masih bocah. Bocah ganteng," ucap Rendi dengan percaya diri.

__ADS_1


"Bocah ingusan iya!" sahut Dito dengan sebal.


Tapi meski sebal, Dito memesankan juga keinginan Rendi. Dia tahu kalau Rendi memang tak terlalu suka dengan minuman yang ada es batunya.


Maklum anak mami. Dari kecil Rendi dilarang minum es sembarangan. Kecuali mamanya membikin sendiri.


"Kenapa enggak pesan sendiri-sendiri aja, Tan?" tanya Mike.


"Nanti kita kan mau makan bersama di pinggir pantai. Bude udah masak banyak buat kita," jawab Tania.


"Nanti mah nanti aja. Yang penting sekarang kenyang," ucap Mike yang sekarang tak takut badannya bakalan melar kalau terlalu banyak makan.


"Masalahnya perutku gak akan muat, Mik. Kalau udah penuh dengan bakso, nanti makanannya mau ditaruh di sebelah mana lagi?" tanya Tania.


Mike sejenak menghentikan suapannya.


"Taruh di dengkul aja, Tan," sahut Dito yang sudah selesai memesankan pesanan Tania dan Rendi.


"Kok taruh di dengkul?" tanya Tania tak mengerti.


"Iya. Kan katanya perutmu udah gak muat lagi. Noh, si bayi sehat juga gitu. Ususnya sampai ke dengkul. Jadi perutnya kagak pernah keabisan tempat," jawab Dito sambil dagunya diarahkan ke Rendi.


"Ngaco aja usus gue sampai dengkul. Sampai mata kaki! Puas, lu?" sahut Rendi dengan kesal.


Dito tergelak puas. Karena bisa membuat sahabatnya bete. Tania dan Mike pun ikut tertawa meski tak sekeras tawa Dito.


"Kok kamu ikut ketawa, sayang?" protes Rendi pada Tania.


"Ya iyalah, Tania ikut ketawa. Abis jawaban kamu kocak banget!" Mike membela Tania.


"Namanya juga bayi semok. Kalau ngomong pasti bikin orang pingin ketawa!" sahut Dito.


"Bayi semok! Elu tuh, bayi kurang gizi!" sahut Rendi pada Dito.


Mereka selalu saling meledek. Badan Dito yang susah gemuk selalu dikatai Rendi sebagai anak yang kurang gizi. Bahkan kadang mengatai Dito cacingan.


Pesanan Tania dan Rendi pun datang. Tania menyambut mangkuk bakso pesanannya dengan mata berbinar.


Tampilan bakso super besarnya membuat siapapun yang melihatnya bakalan ngiler.


"Udah dimakan, sayang. Enggak usah dengerin omongan si kampret itu," ucap Rendi pada Tania.


Tania pun mengangguk penuh semangat.


"Dimakan sendiri aja, Tan. Bayi semok gak usah dibagi. Entar makin berat nuntunnya!" ucap Dito.


Mike kembali tertawa mendengar ledekan Dito pada Rendi. Sedang Tania tak berani lagi ketawa. Lagi pula Tania lebih fokus pada mangkuk baksonya.


"Suka-suka Tania lah. Bakso-baksonya dia, kenapa elu yang ribet, kampret!" sahut Rendi.

__ADS_1


Rendi pun sebenarnya tertarik dengan tampilan bakso itu. Tapi karena tadi Tania sudah mengatakan kalau mau paroan, Rendi menahan perasaannya yang ingin memesan sendiri.


"Kamu suka pedas kan, Ren?" tanya Tania sambil memegangi tempat sambal.


"Jangan terlalu pedas, ah," jawab Rendi.


Rendi yang memang anak mama, sejak kecil tak dibiasakan makan makanan yang terlalu pedas. Sari selalu melarangnya.


"Kenapa? Takut kurus, lu? Enak kali, kalau makan yang pedas nampol!" sahut Dito.


Padahal Dito sendiri tak terlalu menyukai pedas. Tapi dasar mulutnya lemes, apapun akan jadi bahan untuk mencemooh sahabatnya itu.


"Yoi. Gue kagak mau jadi bayi cacingan kayak elu!" sahut Rendi.


"Sembarangan. Gue bukan cacingan! Gue tuh menjaga berat badan biar kagak overweight kayak elu!" Dito pun tak mau kalah.


Jawaban Dito, sontak membuat Mike tersinggung. Dia merasa Dito sedang menyindirnya yang tak lagi menjaga berat badan.


Akhir-akhir ini nafsu makan Mike naik drastis. Dia tak peduli lagi dengan tubuh idealnya. Mau malam atau tengah malam pun, kalau sedang kepingin makan, Mike akan melahap apapun yang ada.


"Kamu lagi nyindir aku ya, sayang?" Mike merajuk pada Dito.


"Nah loh. Ibu negara tersinggung. Mampus lu!" ucap Rendi menakut-nakuti Dito.


"Enggak sayang. Aku cuma lagi bercanda tuh ama si dodol. Kamu mah istimewa. Bodimu aduhay!" puji Dito.


Walaupun sebenarnya Dito juga merasa badan Mike makin berat saja.


"Hahaha. Takut entar malem kagak dapet jatah, ya?" ledek Rendi pada Dito.


"Eh, jatah gue mah kagak pernah absen. Iya kan, sayang?" Dito menoleh ke arah Mike.


"Asal kamu enggak nyindir-nyindir berat badan lagi," sahut Mike.


"Enggaklah, sayang. Itu kan khusus buat si dodol itu," sahut Dito.


"Udah, Ren. Ayo kita abisin baksonya berdua. Biar aku enggak kekenyangan," ucap Tania pada Rendi.


Tania menyuapkan dahulu pada Rendi. Rendi pun menerima suapan Tania dengan semangat.


Mike malah semakin tersindir dengan ucapan Tania.


Ya. Mike sekarang sudah mulai kekenyangan. Dan dia dibayangkan badannya nanti yang bakalan mekar seperti layaknya emak-emak yang udah beranak.


Mangkuk bakso yang sudah nyaris kosong, diangsurkannya ke depan Dito.


"Mau nambah lagi?" tanya Dito pada Mike.


Padahal maksud pertanyaan Dito baik. Tapi karena tiba-tiba Mike jadi sensitif, Mike malah menangis sesenggukan.

__ADS_1


Loh....!


Tania, Rendi dan Dito saling berpandangan tak mengerti.


__ADS_2