HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 294 DITO MAKIN PUSING


__ADS_3

"Kamu enggak cemburu ama Mila, kan?" tanya Dito. Dito khawatir juga, karena barusan dia keceplosan.


"Enggaklah. Masa cemburu ama Mila. Enggak level!" jawab Mike.


Hhh!


Dito bernafas lega.


Dito dan Rendi punya sifat yang hampir sama. Suka asal ngomong kalau ada sesuatu yang tiba-tiba muncul.


Mulut mereka kadang suka lepas kontrol. Seperti tak ada remnya.


Tapi bagi Mike maupun Tania, hal itu sudah biasa. Mereka sudah cukup kebal.


Kecuali foto adegan yang sepertinya mesra antara Dito dan Tania. Entah mengapa membuat hati Mike panas juga.


Padahal Mike sadar kalau Tania adalah sahabatnya. Tak mungkin Tania melakukannya dengan Dito. Apalagi Dito adalah sahabat Rendi.


Memang kadang hati tak bisa diajak kompromi. Inginnya tak baper, tapi kenyataan berkata lain.


"Ya udah. Kita balik yuk. Enggak enak ama Rendi. Dia kan belum bisa kayak kita gini. Jalan-jalan menyusuri pantai," ajak Dito.


Dito berdiri duluan tanpa menunggu persetujuan Mike. Lalu mengulurkan tangannya membantu Mike berdiri.


"Makasih, sayang," ucap Mike setelah berdiri.


Dito merasa sangat lega karena Mike sudah mau memanggilnya sayang lagi. Itu artinya Mike sudah tak marah lagi.


Lalu Dito merangkul Mike dan mengajaknya berjalan ke arah Rendi.


Dari kejauhan terlihat Rendi dan Tania sedang duduk berduaan. Sepertinya mereka sedang menikmati suasana pantai dengan suara debur ombak dan angin yang bertiup cukup kencang.


"Lihat disana, sayang. Kasihan banget Rendi. Dia tak bisa kemana-mana." Dito menunjuk ke arah Rendi dengan tangan kanannya. Tangan kirinya merangkul lengan Mike dengan erat.


"Lebih kasihan lagi Tania. Dia jadi kayak baby sitternya Rendi," sahut Mike.


Mike salut dengan Tania yang begitu sabar menghadapi Rendi, yang entah kapan baru bisa pulih lagi.


"Itu resiko, sayang. Kamu pun pasti akan melakukan hal yang sama kan, kalau aku seperti Rendi?" tanya Dito.


"Enggak...Enggak!" jawab Mike.


"Kok enggak?" tanya Dito, lalu menoleh ke arah Mike.


"Maksudnya, aku enggak mau kamu sakit kayak Rendi. Apalagi...resikonya kan bisa cacat seumur hidup," jawab Mike lagi.


"Kalau aku cacat, kamu mau ninggalin aku, gitu?" Dito malah jadi baper.


"Jangan bilang gitu, ah. Pamali!' sahut Mike.


Ya. Siapa sih yang mau punya pasangan kemudian cacat. Kecuali garis nasib memang harus begitu.


Mereka pun berjalan semakin mendekati Tania dan Rendi.


"Darimana aja kalian?" tanya Rendi.

__ADS_1


"Biasa. Pacaran!" jawab Dito asal.


"Pacaran ama bini sendiri!" sahut Rendi. Dia tak bermaksud apa-apa.


"Emang suruh pacaran ama siapa? Sama pacar orang, gitu?" tanya Mike yang kembali jadi baper.


Dito menekan lengan Mike agar tak terpengaruh omongan Rendi.


"Boleh aja. Pasti sensasinya beda. Iya kan, Bro?" Kali ini Rendi malah menggoda Mike.


"Auk! Gue belum pernah!" sahut Dito dengan jujur. Tapi justru kejujurannya yang dimanfaatkan Rendi untuk kembali meledek mereka.


"Belum pernah, berarti kepingin pernah?" Rendi tergelak.


Tania yang melihat perubahan wajah Mike, menyenggol tangan Rendi.


"Udah, jangan diterusin," bisik Tania di telinga Rendi.


"Coba aja kalau berani! Gue bejek-bejek ceweknya!" sahut Mike dengan berapi-api.


Dito menahan tawanya.


Dalam hati berkata, tadi aja nangis-nangis. Padahal baru lihat foto yang jelas-jelas dimanipulasi oleh Monica.


Mike mendengar Dito yang sedang menahan tawa. Lalu menginjak kaki Dito dengan kencang.


"Auwh! Sakit, sayang." Dito meringis kesakitan.


Melihat Dito dianiaya oleh Mike, Rendi bukannya kasihan, tapi malah semakin menggoda mereka.


"Terus aja, Mik. Yang kenceng lagi. Kalau perlu, pakai tongkatku, nih." Rendi mengangkat tongkatnya dan memperlihatkannya pada Mike.


Dan saking kesalnya pada Rendi, Dito pun membalas bully-an Rendi.


Dia samber tongkat Rendi. Lalu melemparkannya jauh.


"Eh, kampret! Itu buat jalan gue. Malah elu buang. Ambil!" seru Rendi.


"Ambil aja sendiri!" sahut Dito tanpa rasa bersalah.


"Ih, kamu jahat banget sih, sayang," ucap Mike.


Mike melepaskan pelukan Dito. Lalu berniat mengambilkan tongkat Rendi. Tapi kalah cepat dengan Tania.


Tania sudah berdiri duluan dan langsung berjalan mengambil tongkat Rendi.


Tania tak mau tongkat Rendi diambil orang. Apalagi di sekitar situ banyak anak-anak berlarian. Nanti malah dikira tongkat yang sudah tak terpakai dan diambil mereka buat mainan.


"Untung gue punya bidadari dari surga!" ucap Rendi.


Rendi merasa bangga Tania mau mengurusnya dengan baik. Bahkan sangat baik.


"Gue juga punya, kali!" sahut Dito membanggakan Mike.


Mike hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


Mike melihat ke arah rombongannya yang tak jauh dari tempat mereka.


Makanan masih banyak tersaji di atas tikar.


Naluri Mike yang sedang getol-getolnya makan banyak, menuntunnya ke sana.


"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Dito.


"Ke sana." Mike hanya menunjuk dengan dagunya.


Dan tanpa mempedulikan Dito lagi, Mike berjalan ke arah tikar.


Dito pun membiarkannya. Dia malah duduk di sebelah Rendi. Tempat yang tadinya buat duduk Tania.


"Jangan duduk di sini! Entar Tania duduk di mana?" Rendi mengusir Dito.


"Aku nemenin Mike aja, Ren," sahut Tania yang mendengarnya.


Lalu Tania menyerahkan tongkat Rendi. Dan dia pun bergabung dengan para wanita di tikar.


"Gue heran ama Mike, bro," ucap Dito setelah di situ hanya ada mereka berdua.


"Heran kenapa?" tanya Rendi.


"Akhir-akhir ini makannya gila-gilaan," jawab Dito.


Lalu Dito menceritakan bagaimana nafsu makan Mike yang menurutnya tak masuk akal.


Beda dengan Mike yang dulu, bahkan dengan wanita pada umumnya.


"Mestinya elu seneng dong. Itu artinya Mike enggak jaim lagi kayak dulu," ucap Rendi.


"Atau elu takut nantinya keberatan ngasih makan Mike?" tanya Rendi.


"Ya kagaklah kalau itu. Sebagai suaminya, suatu saat gue bakalan penuhi apapun kemauan dia," jawab Dito.


Ya, itu janji Dito pada dirinya sendiri. Kalau sekarang untuk hidup mereka masih mengandalkan uang dari orang tua masing-masing.


Terutama orang tua Mike yang selalu memberi lebih.


"Lah, terus masalahnya dimana?" tanya Rendi dengan heran.


"Gue curiga aja, bro. Ada sesuatu yang beda di diri Mike," jawab Dito.


"Ada yang beda? Apaan?" tanya Rendi tak mengerti.


"Kalau gue tau mah, gue kagak usah curhat ama elu, dodol!" Dito menoyor kepala Rendi.


Rendi pun berusaha menjauhkan kepalanya. Meski satu toyoran sudah mendarat di kepalanya.


"Gini aja. Coba elu selidiki lagi. Kenapa Mike bisa berubah sedrastis itu," saran Rendi.


"Iya. Gue lagi kepingin nyelidiki. Apalagi sikapnya sekarang juga baperan. Dikit-dikit ngambeg. Cengeng. Cemburuan. Ah! Pokoknya beda lah sama Mike yang dulu," sahut Dito.


Dito tak mengatakan kalau tadi Mike ngambeg gara-gara cemburu dengan fotonya bersama Tania.

__ADS_1


Dito tak mau justru ceritanya itu malah memancing Rendi ikutan mencemburuinya.


Cukuplah tadi saja Rendi marah-marah padanya. Dito sudah cukup dipusingkan oleh sikap aneh Mike.


__ADS_2