
Suara ketukan berubah menjadi gedoran.
"Hay! Apa yang terjadi di dalam? Buka pintunya!" Terdengar suara teriakan seorang perawat.
"Tolong! Tolong aku!" Rendi semakin mengeraskan suaranya.
Monica jadi panik. Lalu dia hendak melakukan hal yang lebih brutal lagi. Monica ingin melukai Rendi dengan mencabut selang infusnya.
"Tolong! Tolong!" Rendi terus saja berteriak.
Dan saat tangan Monica hendak melepas selang infus, Rendi menendang dengan kaki kanannya yang tak terluka.
Monica pun terjengkang ke belakang. Bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka menggunakan kunci cadangan.
"Ada apa? Ya ampun...!" seru perawat dan seorang security yang kebetulan lewat.
Mereka melihat Monica terlentang dengan pakaian yang sudah berantakan.
"Dia memaksaku melakukannya, Suster!" ucap Monica secepatnya, sebelum Rendi menjawab pertanyaan perawat.
Lalu Monica berusaha bangkit dan mengancingkan kembali blousenya.
"Bohong! Dia yang akan melukaiku!" sahut Rendi.
Perawat melihat selang infus Rendi yang sudah terlepas, akibat tarikan tangan Monica.
Perawat itu menghampiri Rendi. Lalu memasangkan kembali selang infusnya.
Dia tak berani banyak komentar. Karena tak tahu persoalan yang sebenarnya.
"Jangan percaya, Suster. Dia wanita gila! Amankan dia!" ucap Rendi.
Security yang masih diam, menghampiri Monica yang sedang mengancingi blousenya.
"Sebaiknya anda keluar saja," ucap security sambil menelan ludahnya. Bagaimana tidak? Di depan matanya terpampang pemandangan indah.
"Sayang. Aku pulang dulu. Kalau kamu menginginkannya, bersabarlah sampai sembuh dulu," ucap Monica.
Lalu dia memunguti ponselnya yang berantakan.
"Jangan pernah kembali ke sini, wanita gila!" seru Rendi.
Monica tertawa seolah tak ada kejadian apa-apa.
"Oke. Kita lanjutkan nanti saja di rumah! Bye...!" Monica bergegas keluar dari kamar Rendi.
Monica berpapasan dengan Dito dan Mike di pintu.
Dito dan Mike menatap Monica yang berantakan, dengan heran. Rambut Monica berantakan. Bahkan kancing blousenya pun tak terpasang dengan baik.
Monica melengos, lalu segera meninggalkan ruangan Rendi.
Perawat yang sudah memasang kembali selang infus Rendi segera berpamitan.
"Kami keluar dulu. Tekan lagi tombol bantuan, kalau terjadi sesuatu," ucap perawat.
"Baik, Suster. Tolong jangan ijinkan wanita itu masuk ke ruangan saya," sahut Rendi.
"Baik. Kami permisi." Lalu perawat dan security itu keluar sambil menatap Mike dan Dito penuh curiga.
Mike yang merasa ditatap seperti itu, menatap ke arah Dito. Dito hanya mengangkat bahunya.
__ADS_1
Mike menutup pintu kamar Rendi, setelah dua orang itu keluar.
"Ada apaan, Bro? Kok ada security segala?" tanya Dito.
Mike meletakan makanan yang dibawanya di meja.
Rendi menghela nafasnya dengan lega.
"Tadi si Monica bikin ulah," jawab Rendi.
"Bikin ulah lagi?" tanya Dito.
Rendi mengangguk.
"Tania ada di rumah Mike?" tanya Rendi.
"Iya. Tania udah cerita. Terus kita buru-buru kesini," jawab Mike.
"Syukurlah kalau Tania ada di rumah Mike. Hh...! Drama yang sangat kejam dari seekor Monica," ucap Rendi.
"Seekor? Lu pikir kambing?" sahut Dito sambil ngakak.
"Gara-gara dia, nyokap gue pingsan dan masuk IGD. Mana dia terus mau memperkosa gue, lagi!" sahut Rendi.
"Hah? Memperkosa elu?" Mata Dito sampai melotot.
"Iya. Gila, kan?" sahut Rendi.
"Itu mah bukan gila lagi! Tapi sakit!" sahut Mike.
"Terus gimana?" tanya Dito.
"Kriminal bisa jadi!" sahut Mike.
"Nah, itu makanya sampe perawat dateng ama security. Dia kayak mau ngebunuh gue! Kan sarap!" sahut Rendi.
"Sadis!" ucap Mike.
"Ya udah, Bro. Sekarang lu konsen aja ama kesembuhan elu dulu. Kalau soal Tania, itu urusan kita. Aman lah di rumah Mike," ucap Dito.
"Iya. Elu enggak usah kuatir soal Tania. Dia aman," ucap Mike juga. Membuat Rendi jadi sedikit tenang.
"Tapi ada masalah lagi, Bro," ucap Rendi.
"Masalah apaan lagi?" tanya Dito.
"Nyokap gue. Dia enggak setuju hubungan gue ama Tania. Malah tadi nyokap membela Monica di depan Tania. Ya, makin gede kepala tuh si Monyet!" maki Rendi.
"Monyet juga udah elu naikin! Hahaha," ledek Dito sambil ketawa.
"Sembarangan, lu! Siapa yang pernah naikin dia? Enak aja!" sahut Rendi.
"Iya, bukan elu yang naikin dia. Tapi dia yang naikin elu. Hahaha." Dito terus saja meledek Rendi.
Mike hanya senyum-senyum mendengarnya. Obrolan laki-laki dewasa.
"Kagak ada dia naikin-naikin gue!" bantah Rendi.
"Kan enak kalau naikin ya, Sayang?" Dito melirik ke arah Mike.
Mike yang merasa sering menaiki Dito, tersenyum malu.
__ADS_1
"Tuh, kan. Dia malu. Malu-malu tapi mau!" Dito malah meledek Mike.
"Iih, apaan sih kamu, Sayang! Malah ngeledekin aku!" Mike merajuk.
"Iya, deh. Enggak ngeledekin lagi. Entar ngambek repot gue. Kagak ada yang naik lagi!" sahut Dito.
Mike semakin tersipu malu. Karena Rendi juga jadi ikutan tersenyum.
Rendi sedang membayangkan hubungan Dito dan Mike, yang hampir tak ada masalah.
Kedua orang tua Mike malah memasrahkan anaknya pada Dito. Bahkan kabarnya mereka sudah menikah siri di kampung orang tuanya Mike.
Mereka bebas berhubungan badan, asal jangan sampai punya anak dulu. Karena takutnya akan mengganggu kuliah mereka.
Ah, andai saja hubunganku dengan Tania bisa semulus itu. Pasti tiap hari mereka bakal naik kuda-kudaan. Rendi jadi tersenyum sendiri.
"Eh, ngapain lu senyum-senyum? Lagi bayangin yang jorok-jorok, ya?" Dito kembali meledek Rendi.
"Tau aja!" sahut Rendi.
"Tau lah! Otak elu kan kagak jauh-jauh dari hal ginian!" Dito memberi tanda dengan jarinya.
"Ih, kalian ngapain sih? Ngomongnya jorok melulu!" Mike malah jadi risi mendengarnya.
"Emang enggak enak kalau cuma diomongin, Sayang. Enaknya langsung dilakuin! Hahaha." Dito tertawa ngakak.
Rendi pun yang tadi sempat tegang akibat ulah Monica jadi merasa terhibur oleh sifat konyol Dito.
"Eh, terus kabar nyokap elu gimana, Bro?" tanya Dito.
"Belum tau gue. Bokap gue yang nungguin di IGD," jawab Rendi.
"Iya. Iya. Bro. Gue ikut prihatin ya sama penyakit bokap elu," ucap Dito.
"Tania yang cerita?" tanya Rendi.
Dito dan Mike mengangguk.
"Ya begitulah. Itu pelajaran buat kita juga. Jangan pernah ganti-ganti pasangan yang enggak jelas. Akibatnya, kalian tau sendiri, kan?"
Dito dan Mike kembali mengangguk.
"Iya. Gue cukup satu ini aja, Bro. Sehidup sematilah pokoknya. Iya kan, Sayang?" Dito yang sudah duduk di sebelah Mike, mengecup puncak kepalanya.
"Iya, Sayang. Kecuali kalau mau aku potong burung kamu!" ancam Mike.
"Wah, mau nyaingi Monica nih? Kriminal! Hahaha," ledek Dito pada Mike.
"Enak aja, nyama-nyamain aku sama si mon-mon." Mike langsung memonyongkan bibirnya.
"Ngegemesin kan Bro, kalau monyong-monyong begini. Bikin pingin nyosor guenya." Dito menyentuh bibir Mike dengan lembut.
Mike langsung melendot mesra di lengan Dito.
"Panggilin Tania, dong!" pinta Rendi.
"Mau lu apain, Ren?" tanya Dito.
Belum sempat Rendi menjawab, pintu kamar terbuka.
Sari sedang digandeng oleh Tono.
__ADS_1