
Widya meninggalkan Tania sendirian di kamarnya. Dia pun sangat kecewa dengan apa yang telah Tania dan Rendi lakukan kemarin.
Tapi bukan saatnya menyalahkan, apalagi memarahi Tania. Jiwanya sedang tertekan. Apalagi sebentar lagi Tono akan menjemputnya.
Widya duduk sendirian di ruang tamu. Danu dan Eni masih di kamar mereka. Tak ada yang mereka lakukan selain sibuk dengan pikiran masing-masing.
Baik Eni, Danu ataupun Widya membayangkan kemarahan Tono saat nanti mendapati istrinya sudah tidak perawan lagi.
Beda dengan Tania yang tak begitu memahami tuntutan seorang lelaki yang menikahi perempuan, kebanyakan mengharapkan istrinya masih perawan.
Selesai bersiap, Tania kembali tiduran. Dia tetap belum berani menyalakan ponselnya.
Tania khawatir Rendi akan menghubunginya. Dia tak tahu harus menjawab apa kalau sampai Rendi menanyakan tentang Tono padanya.
Danu dan Eni keluar dari kamarnya. Eni langsung duduk di sebelah kakak iparnya. Danu duduk di depannya lalu menyalakan sebatang rokok.
"Bagaimana, Mbak?" tanya Eni perlahan. Takut Tania mendengarnya.
"Entahlah. Kita lihat saja nanti." Widya memegangi kepalanya yang nyut-nyutan.
"Mau saya buatkan kopi, Mbak?"
"Boleh deh. Otakku lagi gak bisa diajak kompromi."
Eni bergegas membuatkan kopi di dapur. Setelah kopinya jadi, Eni segera membawanya keluar.
"Assalamualaikum...!" Suara salam dari Tono membuat kopi yang dibawa Eni nyaris tumpah.
"Waalaikumsalam...!" Widya dan Danu menjawab berbarengan tapi dengan suara seperti tercekat.
Eni hanya menjawabnya sambil komat-kamit. Dia berdoa, tapi tidak tahu apa yang akan dimintanya. Hanya kata Bismillah berkali-kali yang bisa dia ucapkan dalam hati.
"Masuklah." Danu mencoba bersikap tenang.
Tono datang sendirian. Dia langsung duduk di sebelah Danu.
"Mana Tania?"
Semua hanya terdiam mendengarnya. Eni meletakan kopi di depan Widya.
"Kamu mau kopi juga?" tanya Eni pada Tono.
Eni tak lagi memanggil Tono dengan embel-embel bang seperti dulu. Karena sekarang Tono adalah keponakannya juga.
"Aku tidak akan lama-lama. Bawa istriku keluar sekarang!" ucap Tono dengan ketus.
"Ba...baiklah." Dengan lesu Eni berjalan ke kamar Tania yang ada persis di sebelah ruang tamu.
Perlahan Eni membuka pintunya. Dia mendapatkan Tania tertidur. Tapi penampilannya sudah rapi.
"Tania. Tania. Bangun, Sayang. Tono sudah datang." Eni mengguncang bahu Tania.
Dengan malas Tania yang mendengar perkataan Eni, membuka matanya. Lalu beranjak dan duduk di tepi tempat tidurnya.
__ADS_1
"Tania takut, Bi." Tania memegangi tangan Eni yang berdiri di depannya.
"Tidak usah takut. Kalau dia menyakitimu, segera hubungi Bibi. Kami akan menjemputmu." Eni membelai kepala Tania.
"Ayo." Eni membimbing tangan Tania, setelah merapikan rambut keponakannya itu.
Tania berjalan di belakang Bibinya. Dia masih belum berani menghadapi Tono sendirian.
"Beri salam pada suami kamu, Tania," ucap Widya. Karena bagaimanapun Tania sudah dinikahi secara sah oleh Tono.
Tania pun menurut. Dia ulurkan tangannya yang disambut oleh Tono. Lalu mencium punggung telapak tangan Tono.
"Kita langsung saja ke rumahku. Tak usah bawa barang terlalu banyak. Nanti kita bisa membelinya setelah kamu di sana."
Tania hanya diam mendengar ucapan Tono. Eni kembali ke kamar Tania dan mengambilkan tas besar tempat pakaian Tania.
"Apa isi tas sebesar ini?" tanya Tono pada Eni.
"Pakaian dan beberapa barang keperluan Tania," jawab Eni yang tadi pagi memasuk-masukannya.
"Ya sudah. Ayo berangkat. Pamit pada mereka." Tania langsung memeluk bibinya sambil menangis sesenggukan.
Lalu beralih ke budenya dan terakhir memeluk paman yang sudah dianggap seperti bapaknya sendiri.
"Tania pergi dulu, Paman," ucap Tania yang masih memeluk erat tubuh pamannya.
"Iya. Baik-baiklah kamu di sana." Lalu Danu melepaskan pelukannya. Dia tahu Tono sudah tidak sabar menunggu.
Danu menyerahkan Tania pada Tono. Matanya menatap tajam pada Tono yang usianya jauh di atasnya.
"Tenang saja. Aku akan menjadikannya Ratu di rumahku," sahut Tono dengan yakin.
"Kalau kamu sampai menyia-nyiakannya, kamu tahu kan nanti berhadapan sama siapa?" Widya mengancam Tono. Karena Widya tidak yakin Tono bisa menerima Tania, setelah tahu Tania sudah tidak perawan lagi.
"Iya, aku tahu! Dasar gajah." Suara Tono langsung pelan saat menyebutkan kata gajah.
Tono menggandeng tangan Tania menuju ke mobilnya. Jantung Tania berdegup sangat kencang.
"Tidak usah tegang. Aku tidak akan memakanmu sekarang," ucap Tono karena merasakan tangan Tania yang dingin.
Tania hanya diam saja. Tak berani menjawab apalagi menatap wajah suaminya.
"Naiklah." Tono membukakan pintu mobil untuk Tania.
Tania naik dengan perasaan bersalah pada Rendi. Rendi berkali-kali memintanya agar tidak pergi bersama dengan Tono.
Tapi kenyataannya, Tania tidak bisa menolak ajakan Tono. Karena dia takut pamannya yang akan menerima akibatnya kalau dia menolak.
"Kita ke rumahku. Kamu nanti akan tinggal di sana," ucap Tono saat mobil sudah melaju.
Tania masih diam saja. Dia masih canggung berbicara dengan Tono.
Mobil Tono melaju tanpa ada pembicaraan lagi. Tania hanya memandang ke arah jendela.
__ADS_1
Sementara... Rendi yang semalaman tidak pulang, memarkirkan motor di halaman rumahnya.
Dia berniat setelah mandi dan berganti pakaian akan pergi ke rumah Tania.
"Rendi...." Sari langsung menyambut anaknya yang baru saja pulang.
"Darimana saja kamu, Nak?" tanya Sari sambil mengikuti langkah anaknya ke lantai dua di mana kamar Rendi berada.
"Rendi menginap di kosan Dito, Ma," jawab Rendi. Dia terus melangkah menuju kamarnya.
Rendi masih kesal karena mamanya tidak mendukung keinginannya.
"Kenapa tidak pulang, Nak? Mama sangat khawatir." Sari masih terus mengikuti langkah anaknya.
"Rendi sudah dewasa, Ma. Rendi bisa menjaga diri."
"Iya Mama tahu. Tapi kamu semalam pergi tidak pamit pada Mama. Hape kamu juga tidak aktif."
Rendi langsung ingat kalau dia belum mengaktifkan hapenya lagi.
Begitu sampai di kamarnya, Rendi langsung mengaktifkan hapenya.
Mamanya duduk di tepi tempat tidurnya. Dia memperhatikan penampilan anaknya yang acak-acakan.
"Kamu mau telpon siapa?" tanya Sari. Karena tidak biasanya Rendi asik dengan hapenya saat diajak bicara.
"Tania!" jawab Rendi singkat. Tapi nomor Tania tidak aktif.
"Ren. Ingat! Tania sudah menjadi istri orang." Sari mencoba mengingatkan.
"Tidak! Tania akan segera menjadi istri Rendi. Si tua bangka itu harus segera menceraikan Tania!"
Rendi yang sudah sangat membenci papanya, lebih suka menyebutnya begitu.
"Ren! Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Dosa. Mengharapkan perceraian orang lain."
"Tania bukan orang lain, Ma. Tania kekasih Rendi!" Lalu Rendi langsung masuk ke kamar mandi. Karena dia harus segera ke rumah Tania.
Sari yang merasa dicuekin, keluar dari kamar Rendi. Hatinya sangat hancur dengan kejadian ini.
Suaminya menikahi kekasih anaknya.
Saat ini, Sari sudah ikhlas kalau harus kehilangan suami. Tapi dia tidak akan ikhlas kalau anaknya nanti menikahi janda dari suaminya.
Meski Rendi mengaku telah mengambil kesucian Tania lebih dulu.
"Kamu mau ke mana lagi, Ren?" tanya Sari melihat Rendi terburu-buru pergi.
"Ke rumah Tania!" seru Rendi yang terus berjalan keluar sambil merapikan pakaiannya.
"Rendi! Dengarkan Mama dulu! Tania sudah diboyong papamu pagi tadi!"
Rendi terpaku di tempatnya.
__ADS_1