
"Pak, gimana ini? Kalau sampai Tono kembali, apa yang harus kita katakan?" Eni sudah mulai panik.
"Udah biarin aja. Toh yang membawa kabur anaknya sendiri." Widya yang menjawab dengan santai, sambil menikmati makanan yang sudah dipesan oleh Eni.
"Tuh, udah mulai banyak tamu!" Widya menyuruh Eni dan Danu menemui tamu-tamu mereka.
"Kamu aja yang nemuin, Pak. Aku malu. Gimana kalau mereka nanya soal pengantinnya?"
"Bilang aja pengantinnya langsung bulan madu." Widya masih santai menjawabnya.
Padahal dalam hatinya dia sangat kesal pada pasangan nyeleneh ini. Cuma saat ini bukan waktu yang tepat buat marah-marah lagi.
Lagi pula dia merasa sangat lapar. Dari pagi tadi dia belum sempat makan.
Dengan menahan malu, Eni dan Danu menemui tamu-tamu mereka.
"Lho, mana ini pengantinnya?" tanya seorang tamu.
Dan seperti yang dikatakan oleh Widya tadi, Eni dan Danu menjawab kompak.
"Pengantinnya langsung bulan madu."
"Wah, hebat ya? Suaminya kaya raya sih."
Para tamu berbisik-bisik. Sebagian percaya, sebagian lagi yang melihat insiden tadi hanya tertawa mendengar alasan Eni dan Danu.
"Bulan madunya ke mana, Mbak?" tanya seorang ibu-ibu teman arisan panci Eni.
Eni bingung menjawabnya. Tadi dia lupa menanyakan pada kakak iparnya.
"Ke awan biru!" jawab yang lain, dan disambut dengan tawa semua orang.
Eni dan Danu mati kutu. Mau ngumpet juga tidak mungkin karena terlanjur banyak tamu yang datang.
"Udahlah, Bu. Tebelin muka aja. Nasi sudah menjadi bubur." Danu berbisik di telinga istrinya.
"Buburnya tinggal dikasih suwiran ayam. Jadi bubur ayam deh." Widya yang mendengar bisikan adiknya, menimpali.
"Mbak Widya bantuin kita dong. Jangan bisanya meledek terus. Tania kan juga keponakanmu, Mbak," pinta Danu.
"Kalau udah kayak gini aja kamu ingat kalau Tania juga keponakanku. Kemarin-kemarin kalian seenaknya aja ambil keputusan," ujar Widya yang masih kesal.
Eni dan Danu berpandangan. Lalu meninggalkan Widya untuk menemui tamu-tamu yang baru datang.
Mereka sibuk menjawab pertanyaan para tamu. Eni rasanya udah kepingin menyusul Tania buat kabur.
Sementara Rendi dan Tania sudah sampai di pantai tempat dulu Rendi menyatakan perasaannya pada Tania.
Sepanjang perjalanan tadi, mereka hanya diam dengan perasaan masing-masing.
Bahkan Tania lebih banyak memandang ke jendela di sampingnya, sambil menyembunyikan penyesalannya.
Rendi membawa Tania turun dan menuju ke sebuah hotel yang cukup besar.
"Mbak, masih ada kamar kosong?" tanya Rendi pada seorang resepsionis.
__ADS_1
Si mbak resepsionis memandang pakaian pengantin yang dipakai oleh Tania. Lalu memandang Rendi yang mengenakan baju batik formal.
"Kalian pasangan pengantin?" tanya si mbaknya.
Rendi mengangguk dan menggenggam tangan Tania untuk meyakinkan resepsionis itu.
"Kami mau menghabiskan malam pertama kami di sini." Rendi menjawab dengan percaya diri.
"Boleh. Mau saya pilihkan kamar yang spesial? Kebetulan masih ada beberapa."
Rendi mengangguk. Apa saja, yang penting dia bisa beristirahat dengan Tania.
"Boleh saya pinjam KTP-nya?"
Rendi menoleh kepada Tania. Rendi memang belum sempat membuat KTP meski usianya sudah lebih dari sembilan belas tahun.
Sedang Tania yang sudah memiliki KTP tak sempat membawanya, karena tadi mereka kabur begitu saja.
"Mm...KTP saya masih dipegang penghulunya tadi. Saya lupa mengambilnya."
Rendi berusaha mencari alasan. Si resepsionis nampak berfikir. Tapi begitu Rendi memberinya dua lembaran merah sebagai uang sogokan, dia langsung mengambil buku tamu dan mempersilakan Rendi menulis data dirinya.
Rendi sengaja tak menuliskan nama aslinya. Dia meminjam nama Dito sahabatnya.
Si resepsionis yang sudah disogok oleh Rendi, tidak curiga. Dan langsung memberikan kunci kamar kepada Rendi.
"Ini kuncinya. Kamarnya ada di lantai dua. Lewat tangga sana." Si resepsionis menunjuk sebuah tangga.
Rendi langsung mengambil kunci itu dan menggandeng tangan Tania.
Tania yang sempat mendengarnya, menoleh. Tapi Rendi terus menariknya.
"Udah, gak usah didengerin."
Rupanya Rendi juga mendengar gumaman resepsionis itu.
Sampai di kamar nomor 201, Rendi memutar anak kuncinya. Dan membawa Tania masuk ke dalam.
Ruangan yang cukup besar dan mewah. Rendi menyuruh Tania duduk di sebuah sofa besar yang ada di situ.
Rendi menatap wajah Tania. Tania menundukan wajahnya. Tak berani menatap wajah Rendi.
Rendi mengangkat wajah Tania. Dia tatap lagi wajah kekasih yang selama dua hari ini membuatnya kehilangan semangat.
"Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi," pinta Rendi.
"Kamu tidak marah?" tanya Tania perlahan.
"Tidak, kalau kamu menceritakan yang sebenarnya. Aku tak mau kamu berbohong lagi."
Glek. Tania menelan ludahnya. Dia merasa bersalah karena sudah membohongi Rendi.
Tapi kali ini, Tania tidak bisa berbohong lagi. Dan sudah saatnya dia menceritakan semua yang terjadi.
Rendi menyimak dengan baik cerita Tania. Dan menjadi geram. Bukan pada Tania, tapi pada papanya sendiri.
__ADS_1
"Sumpah, Ren. Aku tak pernah menginginkan pernikahan itu. Aku hanya tak ingin pamanku dipenjara karena tidak bisa membayar hutangnya pada si bandot tua itu. Ah, maksudku papa kamu. Maaf." Tania menutup mulut dengan telapak tangannya karena keceplosan.
Rendi memakluminya. Meski Tono adalah papanya, tapi apa yang dilakukan Tono sangat membuat Rendi kecewa.
"Andai saja aku bisa mencabut kesepakatanku dengan papamu, Ren. Aku sangat menyesalinya. Sumpah Rendi."
Rendi memeluk tubuh Tania. Dia bisa mengerti perasaan Tania saat ini.
"Apa yang sudah papaku lakukan padamu?"
Tania melepaskan pelukan Rendi. Dia memandang wajah Rendi karena tidak faham maksud pertanyaan Rendi.
"Apa dia pernah menyentuhmu?"
Tania menundukan wajahnya. Rendi mengangkat dagu Tania.
"Katakan apa yang sudah dilakukan oleh papaku?"
Rendi mulai dibakar api cemburu. Dia tak rela kekasihnya disentuh, meski oleh papanya sendiri.
Tania lalu menceritakan saat Tono berusaha memperkosanya.
"Waktu itu rumah sepi. Paman dan bibi sedang pergi. Dan papamu tiba-tiba memelukku dan..." Tania tak berani melanjutkan kalimatnya.
"Dan apa?" Rendi tak sabar mendengar cerita Tania.
"Dan dia mencium bibirku..." Tania menundukan kembali wajahnya.
Rendi menghela nafasnya kasar.
"Dasar bandot tua!" rutuk Rendi.
Rendi jadi membenci papanya. Selama ini dia tak mau peduli dengan kabar papanya yang suka kawin cerai dengan perempuan lain.
Tapi saat kekasihnya yang dinikahi papanya, bahkan dicium paksa, Rendi tak akan tinggal diam.
"Hanya itu?" tanya Rendi memastikan. Jantung Rendi berpacu dengan cepat. Dia takut kalau papanya telah melakukan lebih dari itu.
Tania mengangguk. Rendi merasa lega.
"Dia tidak melakukan apa pun lagi?"
Bukannya Rendi tak percaya pada Tania yang polos. Tapi Rendi ingin memastikannya lagi.
"Aku lari masuk ke kamarku dan menguncinya. Kamu tak percaya padaku?"
Mata Tania menghiba. Tania pun takut Rendi tak mempercayainya lagi.
"Aku ingin bukti..." sahut Rendi.
"Bukti apa?" Tania malah bingung.
"Bukti bahwa papaku tak melakukan lebih dari sekedar menciummu."
"Ren. Dia memaksaku. Nada bicaramu seolah aku juga menikmatinya."
__ADS_1
"Terserah apa pendapatmu. Aku cuma mau bukti, Tania."