
"Udah siap semua?" tanya Danu.
"Udah!" jawab Eni dengan ketus. Eni masih kesal karena tidak boleh bawa barang banyak-banyak.
"Ya udah. Berarti tinggal ke rumah mbak Widya aja. Tania udah beres semua, kan?" Danu bertanya pada Tania.
"Udah, Paman. Nih." Tania memperlihatkan tasnya pada Danu. Tania hanya bawa tas yang tak terlalu besar. Tas yang dibawanya saat kabur dari rumah Tono.
"Ke salon juga. Ambil kompor sama panci kecil!" ucap Eni.
"Yaelah, Bu. Kan Tono udah kasih uang banyak. Tinggal berhenti di rest area. Beres, kan?" ucap Danu.
"Mahal, Pak!" sahut Eni. Eni tak mau tekor kalau sampai uang dari Tono kurang.
"Katanya pingin jadi orang kaya? Masa takut mahal! Nanti kan kamu bisa foto-foto di sana. Biar bisa pamer sama teman-teman kamu!" Danu berusaha merayu Eni.
Eni terdiam sejenak. Lalu mengangguk dengan semangat.
"Iya deh, Pak. Jadi aku enggak perlu repot-repot bikinin kopi sama mie instan di jalan," sahut Eni.
"Hhmm!" Danu melengos kesal.
Kalau soal pamer aja, semangat! Dasar norak! Gerutu Danu dalam hati.
Widya keluar. Dia sudah menenteng tas yang berisi pakaian juga. Tapi Widya mau menukar isinya dengan pakaian lain.
"Udah, ayo. Biar kita enggak kemaleman sampainya," ucap Widya.
Danu naik duluan ke mobil. Eni duduk di sebelah Danu. Tania dan Widya di jok tengah.
"Entar kita tidur di hotelnya mbak Lintang kan, Mbak Wid?" tanya Eni, setelah mobil melaju menuju rumah Widya.
"Ngaco aja, kamu! Emangnya murah harga kamar di sana?" sahut Widya.
Eni hanya diam. Karena dia tak tahu berapa harga sewa kamar di sana. Tapi sejujurnya, Eni sangat menginginkan menginap di hotel meski hanya semalam.
Tania menatap wajah Eni yang terlihat tak lagi bersemangat. Rasa iba muncul di hati Tania.
"Paman. Nanti kalau ada ATM, berhenti dulu, ya," pinta Tania.
"Kamu mau ngapain?" tanya Danu. Danu tak tahu kalau Tania memegang kartu ATM Tono.
Eni pun tak tahu. Dia menoleh ke belakang dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Cuma mau ngecek saldo aja, Paman," jawab Tania.
Selama ini Tania tak tahu berapa isi ATM yang dipegangnya. Dia hanya menggunakannya saja saat belanja.
"Kamu punya kartu ATM?" tanya Danu masih penasaran.
"Punya, Paman. Milik Tono sih," jawab Tania jujur.
Danu pun melajukan mobilnya perlahan. Sambil mencari ATM di pinggir jalan.
"Itu di minimarket ada, Paman." Tania menunjuk ke sebuah minimarket.
Danu pun menepikan mobilnya. Tania bersiap turun.
__ADS_1
"Bibi mau ikut turun?" tanya Tania.
"Tuh, En. Turun sana. Beli minuman sama makanan kecil sekalian," suruh Widya.
"Bu. Belikan aku minuman bersoda. Sama rokok jangan lupa. Nanti kalau di rest area harganya lebih mahal!" ucap Danu.
"Katanya pingin jadi orang kaya? Masa takut mahal!" balas Eni.
Danu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil nyengir.
Eni turun dan mengikuti Tania masuk ke minimarket.
"Bibi belanja aja. Tania mau cek saldo dulu," ucap Tania.
Eni mengangguk. Dan dengan gaya sok elegan, dia melangkah sambil menenteng keranjang belanjaan.
Tania menuju mesin ATM. Lalu segera mengecek isi kartunya.
Mata Tania terbelalak melihat angka yang tertera di layar monitor.
"Banyak sekali isinya. Enggak salah, Tono ngasih kartu ini buat aku?" gumam Tania pelan.
Tania tak mengambil uangnya. Saat ini dia memang sedang tak membutuhkan.
"Udah, Bi?" tanya Tania mengejutkan Eni yang sedang memilih minuman dingin di kulkas.
"Ah! Ngagetin aja, kamu! Sebentar lagi!" jawab Eni.
"Kamu mau minum apa, buat di jalan nanti?" tanya Eni.
"Udah yuk. Entar paman sama bude kamu pada ngomel, kalau Bibi belanja kebanyakan," ucap Eni.
Tania tersenyum mendengarnya.
"Nanti kalau habis, beli lagi Bi. Di rest area kan banyak minimarket," ucap Tania.
Meski tak pernah pergi jauh, tapi Tania sering melihat di televisi bagaimana situasi di dalam rest area.
"Kata pamanmu, di sana harganya mahal-mahal!" sahut Eni dengan ketus.
"Jangan khawatir, nanti Tania yang bayar, Bi. Uang yang dari Tono, buat beli bensin aja," sahut Tania.
Eni masih bertanya-tanya dalam hati. Apa Tono memberikan banyak uang pada Tania?
Tapi Eni tak berani bertanya langsung. Karena takut dianggap terlalu mencampuri urusan Tania.
Dulu sebelum Tania menikah, memang semua urusan Tania, dia harus tahu. Tapi setelah Tania menikah, apalagi mengalami hal yang buruk, Eni memilih diam. Tak mau ikut campur lagi.
Eni menuju ke kasir membawa keranjang belanjaannya.
Setelah kasir menghitung semua belanjaan Eni, Tania mengulurkan kartu ATM-nya.
"Biar Tania yang bayar, Bi," ucap Tania.
"Bayar pakai kartu ATM?" tanya Eni.
Tania mengangguk.
__ADS_1
"Emang bisa?" tanya Eni lagi.
"Bisa, Bi," jawab Tania.
Sebenarnya Tania juga baru menggunakannya beberapa kali. Sebelumnya dia hanya tahu dari medsos. Saat teman-temannya memposting belanja dengan menggunakan kartu itu.
Eni memperhatikannya dengan cermat. Mulai dari saat kasir menerimanya, memasukan ke dalam mesin kecil, lalu Tania memencet beberapa angka.
Bahkan Eni melihat angka-angka yang dipencet dengan cepat oleh Tania.
Eni terus saja memperhatikannya. Sampai kasir menyerahkan kembali kartu ATM Tania.
"Tadi kamu memencet angka apa?" tanya Eni setelah keluar dari minimarket.
"Itu angka pin, Bi. Bibi kan juga punya kartu ATM, kan," sahut Tania.
"Emang punya Bibi bisa dipakai buat belanja juga?" tanya Eni.
"Bisa. Asal ada saldonya. Dan belanjanya jangan melebihi jumlah saldo Bibi. Karena ini kartu debit. Bukan kartu kredit," jawab Tania menjelaskan.
"Nah, kalau kartu kredit, gimana tuh?" tanya Eni lagi.
"Nanti Tania jelasin, Bi. Kita naik mobil dulu." Tania naik lagi ke dalam mobil.
Eni juga ikut naik. Lalu menghadap ke belakang.
"Kamu ngapain madep ke belakang?" tanya Danu yang sudah siap melajukan lagi mobil mereka.
"Aku mau nanya soal kartu kredit sama Tania," jawab Eni.
"Kamu pikir Tania itu sales kartu kredit?" sahut Widya.
"Emang kartu kredit ada salesnya juga?" tanya Eni makin penasaran.
"Ya adalah. Emangnya cuma panci aja yang pake sales!" jawab Widya.
"Udahlah, enggak usah nanya-nanya! Entar kamu kepingin, lagi!" ucap Danu.
"Ya enggak apa-apa kan, Pak. Aku kan juga pingin punya kartu kredit!" sahut Eni.
"Terus kamu mau bayat tagihannya pake apa?" tanya Widya.
"Ya pake uanglah, Mbak. Masa pake daun!" jawab Eni.
"Nah, itu tahu! Maksud mbak Widya, emang kamu punya uang buat bayarnya?" tanya Danu.
"Aku kan punya usaha, Pak. Biar salonku kecil, tapi kan ada hasilnya!" jawab Eni.
"Yang ada kamu belanjanya khilaf. Giliran bayar tagihan, gulung tikar tuh salon kamu!" sahut Widya.
"Eh, sembarangan! Di salonku enggak pake tiker, Mbak. Lantainya aku pasangin karpet semua!"
Widya berpandang-pandangan dengan Tania. Lalu tertawa bersama.
"Dasar kuper! Udah, ayo madep depan. Pasang sabuk pengaman kamu!" ucap Widya sambil ketawa.
Danupun langsung tancap gas.
__ADS_1