
Rendi mencari tempat tinggal Tania, sesuai dengan share lokasi yang diberikan Tania tadi siang.
Tak sulit bagi Rendi untuk menemukannya. Karena alamat yang diberikan oleh Tania, berada tak jauh dari kos-kosan Dito.
Sampai di sebuah rumah megah yang bentuknya mirip sekali dengan rumah mamanya, Rendi memarkirkan motornya.
Rendi yakin kalau itu rumah papanya. Dan dia berharap bisa menemukan Tania di dalam.
Rendi tak menemukan mobil yang sering dipakai papanya. Jadi Rendi berfikir dia bisa membawa kabur Tania lagi.
Rendi menekan bel yang ada di sebelah pintu masuk. Tak lama keluar seorang perempuan setengah baya.
"Permisi. Benar di sini rumah Pak Tono?" Rendi sengaja menyebutkan nama papanya. Seandainya papanya yang akan keluar menemuinya, Rendi sudah siap.
"Iya, betul," jawab perempuan itu yang tak lain adalah Asih. ART di rumah itu.
"Bisa saya ketemu?" tanya Rendi.
"Pak Tononya barusan saja keluar dengan istrinya," sahut Asih.
"Istrinya? Tania?" Rendi yang tak mau berbasa-basi, langsung menyebutkan nama Tania.
"Iya. Maaf, Masnya ini siapa ya?" tanya Asih. Dia meneliti penampilan Rendi dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Katakan pada pak Tono, Rendi mencarinya!" Lalu dengan kesal, Rendi meninggalkan rumah papanya.
Rasa cemburu di hati Rendi semakin memuncak. Bahkan dia sampai menendang sebuah pot bunga, sampai pecah berantakan.
Asih meneriakinya. Lalu Yahya, suami Asih keluar karena mendengar teriakan Asih.
"Ada apa, Bu?" tanya Yahya.
"Itu, Pak. Ada orang mencari pak Tono. Terus malah menendang pot itu."
Sayangnya Rendi sudah pergi dengan motornya.
"Memangnya kamu tadi bilang apa?" tanya Yahya. Dia khawatir kalau tamu itu akan kembali dan melakukan hal yang lebih nekat lagi.
"Ibu cuma bilang kalau pak Tononya lagi pergi dengan istrinya."
"Yakin kamu cuma bilang seperti itu?" Yahya masih khawatir istrinya salah bicara dan membuat orang tadi marah.
"Iya, Pak. Masa Ibu bohong sih?" Asih kesal karena suaminya tak mempercayainya. Lalu dia tak mau lagi meneruskan omongannya dan masuk ke dalam rumah.
Yahya berjalan ke tempat pot bunga yang pecah tadi dan membereskannya. Jangan sampai majikannya melihat pot itu berantakan.
"Jangan marah, Bu. Bukan Bapak tak mempercayaimu. Bapak cuma takut Ibu salah ngomong sama orang tadi. Kita di sini cuma berdua, Bu. Kalau dia kembali dan membawa teman-temannya kan kita juga yang akan jadi sasarannya," ucap Yahya setelah membersihkan tanah dan pot yang berantakan.
__ADS_1
Asih jadi ketakutan. Benar juga apa kata suaminya.
"Apa kita telpon juragan Tono saja ya, Pak?"
"Ya sudah. Sini hape kamu. Hapeku lagi dicas."
Lalu Yahya menelpon majikannya. Tapi sayangnya Tono tak mengangkat telpon dari Yahya.
Tono sedang ke rumah Danu atas permintaan Tania. Dan Tono meninggalkan hapenya di dalam mobil saat berada di rumah Danu.
Tono sengaja memenuhi permintaan Tania, karena Danu pun berkali-kali meminta bertemu dengan Tania.
Tono tak mau, baik Danu maupun Eni datang berkunjung ke rumahnya. Jadi dia yang membawa Tania ke rumah Danu.
"Sudah? Jangan lama-lama! Aku tidak punya banyak waktu!" Tono mengajak Tania pulang.
"Aku mau menginap di sini, malam ini saja," pinta Tania.
"Tidak! Enak saja! Ayo pulang!" sahut Tono dengan ketus.
Dengan berat hati Tania meninggalkan rumah pamannya. Tania tadi sempat mengambil ponsel lamanya.
"Kenapa kamu belum membelikan pamanku rumah? Bukankah perjanjiannya kamu akan membelikannya setelah kita menikah?" tanya Tania di perjalanan.
"Apa? Rumah? Untuk perempuan yang sudah tidak perawan lagi? Jangan harap!" sahut Tono dengan kasar.
"Masih untung kamu tidak aku kembalikan pada pamanmu yang dungu itu!" lanjut Tono.
Meski Tania hanya anak angkat, tapi Tania sangat menyayangi paman dan bibinya. Dia tak terima kalau ada orang yang menghina mereka.
"Jangan menjelek-jelekan pamanku!" sahut Tania dengan ketus.
"Oh. Kamu sudah berani melawanku, hah?" Tono menoyor kepala Tania.
Reflek Tania menoleh ke arah Tono dengan kesal.
"Turunkan aku di sini!" seru Tania.
Tono menghentikan mobilnya. Lalu menghadap ke Tania.
"Turun?" tanya Tono.
Tania mengangguk dengan cepat.
"Bayar dulu hutang pamanmu dan semua uang yang kalian pakai!" ucap Tono dengan tegas.
Tania langsung menghempaskan punggungnya ke sandaran jok mobil. Selalu itu yang jadi senjata bagi Tono.
__ADS_1
"Bukankah kamu sudah menikahiku?" tanya Tania.
"Menikahi perempuan yang sudah tidak perawan lagi? Terlalu mahal untuk semua yang sudah aku keluarkan!"
Ucapan Tono sangat menusuk perasaan Tania. Dia merasa seperti barang dagangan saja.
Tono tersenyum penuh kemenangan. Dia berhasil membuat sakit hati Tania. Perempuan yang telah mengecewakannya.
Lalu Tono kembali melajukan mobilnya. Tania berusaha sekuat mungkin menahan air matanya. Dia tak mau terlihat lemah di depan Tono.
Hanya dadanya saja yang naik turun menahan kekesalan.
Sampai di depan pintu gerbang rumah, Yahya membukakannya. Dan Asih siap menyambut majikannya. Dia akan mengatakan tentang kejadian tadi.
"Pak, tadi ada tamu yang mencari Bapak," ucap Asih saat Tono dan Tania baru masuk ke dalam rumah.
Tania yang merasa tak hubungan dengan masalah itu, berjalan duluan ke lantai dua.
"Siapa?" Tono merasa tak pernah memberikan alamat rumahnya ini pada siapapun.
"Seorang anak muda. Namanya kalau tidak salah Rendi," jawab Asih.
Tania yang mendengarnya, langsung menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Rendi?" tanya Tono.
"Iya, Pak. Saya bilang Bapak sedang pergi sama istri. Lalu dia pergi begitu saja dan menendang pot bunga di depan sana, sampai hancur berantakan."
"Baguslah." Tono lalu menyusul Tania.
Asih malah heran. Bukannya marah, malah dibilang bagus. Asih menggelengkan kepalanya.
"Kenapa berhenti? Kamu yang memberitahu alamat rumah ini pada Rendi?" tanya Tono yang sudah ada di belakang Tania.
Tania tak mau menjawab pertanyaan Tono. Dia kembali berjalan menaiki anak tangga.
"Heh! Jawab pertanyaanku! Kamu yang memberitahukan pada Rendi?" tanya Tono dengan kasar setelah sampai di dalam kamar.
"Aku tidak punya nomor telponnya Rendi! Bukankah kamu yang memberikan ponsel baru itu?" sahut Tania.
"Mana ponselnya?" Tono langsung menarik tas Tania dan mengambil dua ponsel Tania.
Tania berusaha merebutnya. Tapi kalah cepat. Tono langsung keluar dari kamar dan mengunci pintunya dari luar.
Tania berlari ke arah pintu dan menggedor-gedornya. Tapi Tono tak mempedulikannya. Dia turun ke bawah dan mulai membuka hape Tania.
Tono geram, mengetahui Tania menyimpan nomor Rendi di hape barunya dengan nama samaran.
__ADS_1
Lalu Tono langsung memblokir nomor Rendi dan menghapus semua jejak digitalnya. Termasuk akun sosmed Tania. Karena dia sempat membaca chat Tania dengan temannya yang memberikan nomor hape Rendi.
Tono benar-benar mereset hape Tania. Dan menyimpannya di kamar bawah. Dia tak akan memberikan hape lagi pada Tania.