
"Tania? Kamu kenapa?" tanya Danu yang melihat wajah Tania pucat.
Eni juga yang ada satu ruangan dengan Tania, langsung melihatnya.
"Kamu pucet banget mukanya, laper?" tanya Eni asal.
Tania menggeleng. Dia merasa syok dengan omongan Widya tentang penyakit Tono yang mungkin saja menularinya.
Widya keluar dari dapur. Ikut melihat juga ke arah Tania.
"Kamu kenapa Tania?" tanya Widya dengan khawatir.
Tania menghela nafasnya.
"En, ambilin air putih buat Tania," perintah Widya. Padahal dia yang lebih dekat mengambilnya. Tapi Eni tak bisa menolak. Dia juga merasa kasihan pada Tania.
Setelah meminum air putih, Tania merasa sedikit lebih segar.
"Bude, apa kalau ketularan penyakitnya Tono, Tania bisa sembuh?" tanya Tania dengan khawatir.
"Semua penyakit pasti bisa disembuhkan, Tania. Asal kita mau berobat dan menjauhi penyebabnya," jawab Widya.
Widya langsung paham, kalau Tania pucet gara-gara mendengar omongannya tadi.
"Coba kamu cari infonya di internet tentang penyakit itu. Bude juga enggak begitu paham. Takutnya salah omong," lanjut Widya.
Ah, iya. Aku sampai enggak kepikiran cari tahu tentang penyakit itu. Aku juga terlalu percaya diri kalau tak akan tertular. Batin Tania.
Lalu Tania langsung searching di internet. Dia cari semua informasi tentang penyakit itu.
"Gimana, Tania?" tanya Eni dengan cemas sambil memotongi sayuran.
"Tania enggak punya tanda-tanda yang mengarah ke sana, Bi," jawab Tania.
"Iya. Tapi untuk memastikannya, kamu tetap harus periksa ke dokter. Mungkin saja dokter bakal kasih kamu obat atau apa. Kita kan enggak tau," sahut Widya.
Widya sangat khawatir kalau sampai Tania tertular.
"Iya, Bude. Besok kita ke dokter," sahut Tania.
"Besok aku antar pakai angkot," ucap Danu.
"Aku juga ikut." Eni tak mau ketinggalan.
"Iya. Besok ikut semua. Biar kita dikira rombongan pengantar haji!" sindir Widya.
"Aku kan juga khawatir, Mbak," sahut Eni.
Danu tak berani komentar. Tahu kalau kakaknya bakal makin panjang ocehannya.
"Mana sayurannya, En? Lama amat motong-motongnya?" tanya Widya.
"Bentar lagi, Mbak," jawab Eni. Padahal masih banyak yang belum dipotongi. Karena sedari tadi Eni lebih banyak diam.
Setelah semua masakan siap dan sudah dimasukan ke dalam dus, Widya menatanya di meja.
"Katanya mau dibagi-bagikan ke tetangga, Mbak?" tanya Eni.
__ADS_1
"Ya kita berdoa dulu. Biar semuanya berjalan lancar. Tania enggak diculik lagi oleh Tono. Enggak ketularan penyakitnya Tono juga," jawab Widya.
"Aamiin...!" ucap mereka bersamaan.
"Bude, Tania boleh nambah permintaan enggak?" tanya Tania.
"Permintaan apa?" tanya Widya.
"Biar Rendi cepat sembuh. Dan Rendi jadi jodoh Tania untuk selama-lamanya," jawab Tania.
"Boleh, Tania. Kamu boleh meminta apa saja sama Allah. Tapi jangan lupa berusaha dan sholat. Karena percuma saja meminta kalau enggak ada usahanya," sahut Widya.
"Iya, Bude. Kita juga mau memperjuangkan hubungan, biar mamanya Rendi mau menerima Tania," ucap Tania.
Ucapan Tania membuat trenyuh yang mendengarnya.
"Danu, kamu bisa memimpin doanya?" tanya Widya.
Danu langsung tercekat mendengarnya. Dia enggak bisa berdoa yang panjang-panjang dengan bahasa arab.
"Kenapa diam? Enggak bisa?" tanya Widya lagi.
Danu cuma nyengir.
"Kalau enggak bisa, Al Fatihah aja juga enggak apa-apa. Yang penting berdoa!" ucap Widya.
Danu mengangguk. Karena memang cuma surat itu yang dikuasainya. Sama Al Ikhlas yang lebih pendek.
Setelah selesai berdoa, Eni mulai mengambilinya untuk dibagikan ke tetangga.
Tono tiba-tiba muncul di pintu rumah Danu. Reflek Tania langsung berlari masuk ke dalam kamar.
Eni sampai hampir saja menjatuhkan dus yang dibawanya.
Widya dan Danu langsung pasang badan.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Widya.
"Tania sudah ketemu?" Tono malah balik bertanya.
Rupanya Tono tak tahu kalau Tania sudah pulang kembali ke rumah Danu.
"Sudah. Kamu udah lihat sendiri, kan?" jawab Widya. Dia tak mungkin berbohong. Karena nyatanya Tono sudah melihat Tania.
"Ya udah. Syukurlah kalau begitu. Tadinya aku mau jemput kalian mencari Tania lagi," sahut Tono.
"Terus, Tania mau kamu kurung lagi?" tanya Widya dengan ketus.
"Jangan berpikiran buruk dulu. Boleh aku duduk?" tanya Tono dengan sopan.
Mereka bertiga sampai terkejut. Biasanya tanpa permisi, Tono akan nyelonong keluar masuk seenaknya.
"Duduklah! Kenapa? Kamu udah enggak kuat berdiri lagi?" Widya masih saja bersikap sinis pada Tono.
Tanpa mempedulikan pertanyaan Widya, Tono duduk. Kondisinya yang belum terlalu sehat, membuatnya tak kuat berdiri terlalu lama.
Mestinya dia masih menjalani rawat inap. Tapi dasarnya Tono bandel dan ngeyel, dia tetap minta pulang. Dengan menandatangani surat perjanjian tentunya.
__ADS_1
Tania yang ngumpet di kamar belakang, berusaha mendengarkan apa yang akan Tono katakan.
Eni pun sudah siap pasang badan. Dia siap melawan Tono kalau sampai berbuat macam-macam.
"Sekarang, katakan apa mau kamu?" tanya Widya dengan ketus.
"Aku mau menceraikan Tania," jawab Tono.
Widya, Danu dan Eni terperangah. Mereka tak mengira Tono akan menceraikan Tania tanpa diminta.
Tania yang mendengarnya dari dalam pun tak kalah terperangahnya.
"Kamu...serius?" tanya Danu.
"Iya. Aku serius. Dan aku juga akan menyerahkan Tania pada anakku, Rendi. Aku ingin mereka bisa hidup bahagia. Aku tak akan menghalanginya lagi," jawab Tono.
"Lalu, bagaimana dengan....semua yang kamu berikan pada kami?" tanya Danu. Di dalam hatinya tetap saja ada perasaan cemas, kalau-kalau Tono mengambil lagi semuanya.
Tono menghela nafasnya.
Danu malah menahan nafasnya. Dia begitu sangat khawatir. Meskipun siap tidak siap, dia akan merelakan semuanya.
"Aku enggak akan mengambilnya. Silakan kalian pakai, selama itu untuk kebahagiaan Tania," jawab Tono.
Danu bernafas lega.
"Tapi kalau kamu mau mengambilnya lagi, silakan. Buat kami, yang penting Tania bisa kembali," ucap Eni.
Danu menoleh ke arah Eni.
Gila ini istriku! Kalau semuanya diambil, darimana kita bisa dapetin uang buat melanjutkan hidup.
Salonnya bakal tutup dan dia tak punya penghasilan lagi. Begitu juga kalau angkotku diambil. Aku bakal jadi pengangguran lagi.
Terus kami mau tinggal di mana? Ngontrak lagi? Harus mikir bayar uang kontrakan setiap bulan?
Oh, bodoh sekali. Bukankah kita bisa minta kompensasi?
Ah, tapi sudahlah. Aku pasrah aja. Batin Danu.
"Tidak. Aku tak akan mengambilnya lagi. Pakai saja. Aku tak membutuhkannya," sahut Tono.
Jelas saja Tono tak membutuhkannya lagi. Rumah yang ditempati Danu dan keluarganya ini, tak seberapa kalau dibandingkan rumah mewahnya.
Kios yang dipakai Eni pun, berukuran sangat kecil. Hanya angkot yang dipakai Danu saja yang terlihat masih baru, meski Tono membelikannya yang second.
"Mana Tania?" tanya Tono.
Widya masih tak percaya apa yang dikatakan oleh Tono. Dia menatap tajam wajah mantan teman sekolahnya itu.
"Panggilkan dia!" ucap Tono.
Tania keluar tanpa dipanggil. Dia berjalan perlahan dan menatap Tono sambil berdiri di samping Danu.
Tono menatap wajah istri kecilnya itu. Tanpa rasa ingin memiliki lagi.
"Tania. Hari ini aku talak kamu!"
__ADS_1